Seorang gadis manis terlihat sedang
duduk termenung di sebuah bangku taman. Di sebelah kanannya ada beberapa orang
anak yang asyik bermain lari-larian. Terlihat juga ada beberapa keluarga dan
muda-mudi yang sedang bersantai di taman itu. Memang setiap hari libur atau
sore seperti ini, taman itu selalu ramai di kunjungi oleh keluarga atau para
remaja untuk bersantai melepaskan rasa lelah mereka setelah seharian bekerja
dan beraktivitas. Tak terkecuali gadis manis ini. Gadis manis itu bernama
Kirana Citra Lestari.
“Eh,
kamu Do. Ngagetin aja Syifa mana?” tanya Kirana.
“Tuh
lagi beli es krim. Tadi aku sama Syifa ke rumah kamu tapi kata mamah kamu, kamu
di sini ya udah aku sama Syifa nyusul kamu ke sini,” kata Aldo.
“Emang
kamu sama Syifa ke rumah ada apa?” tanya Kirana bingung.
“Kita
ke rumah kamu, soalnya Aldo mau ngomongin sesuatu sama kamu. Tadinya aku gak
mau ikut, tapi dia maksa banget buat aku nganterin dia ke rumah kamu. Ya udah
aku antar, abisnya kasihan mukanya memelas banget,” jawab Syifa sambil
memberikan satu es krim kepada Kirana.
“Thanks ya Syifa. Emang kamu mau ngomong
apa Do? Kayaknya penting banget,” tanya Kirana sambil mengambil es krim
pemberian Syifa.
“Sebenarnya
aku mau pamitan sama kalian berdua. Besok aku dan keluarga akan pindah ke
Palembang soalnya ayahku di pindah tugaskan ke sana,” kata Aldo sedih.
“Nanti
kita gak akan sekolah dan sekelas lagi dong?” tanya Syifa. Aldo mengangguk.
“Nanti
gak ada yang jagain aku sama Syifa lagi dong, kan kamu satu-satunya teman cowok
yang bisa jagain kita,” sambung Kirana.
“Bener,
Do. Kenapa kamu harus pindah sih?” tanya Syifa.
“Ya
aku sih sebenarnya gak mau pindah tapi ayah aku gak tega ninggalin aku sama
mamah di Jakarta. Makanya ayah ngajak aku sama mamah pindah ke sana. Mau enggak
mau, kau sama mamah mesti pindah ke Palembang. Tapi kalian tenang aja, aku
janji nanti akan kuliah di sini bareng kalian,” kata Aldo.
“Bener
ya kamu akan kuliah di sini?” kata Syifa.
“Iya
Syifa, aku janji,” kata Aldo sambil mengacungkan jari kelingkingnya sebagai
tanda janji persahabatan.
“Janji
harus di tepati. Kalau enggak di tepati jadi hutang ya,” kata Kirana dan
mengaitkan kelingkingnya di kelingking Aldo. Begitu juga Syifa yang mengaitkan
kelingkingnya di kelingking Aldo.
***
Esok harinya Syifa dan Kirana
mengantarkan Aldo ke Bandara Soekarno-Hatta. Ini lah hari terakhir mereka
bertemu, walaupun begitu mereka akan tetap menjadi sahabat yang selalu ada
dalam suka dan duka.
“Mah,
Aldo, kita ke ruang pemeriksaan yuk. Sebentar lagi pesawatnya datang. Kirana,
Syifa makasih ya udah mau antar om, tante sama Aldo ke sini,” kata om Indra.
“Iya
sama-sama om, mudah-mudahan om, tante dan Aldo selamat sampai sana,” kata
Kirana.
“Ya
udah kita masuk ke ruang pemeriksaan dulu ya Kirana, Syifa. Ayo Do,” kata tante
Tamara.
“Mamah
duluan aja, aku mau pamitan dulu sama Kirana dan Syifa,” kata Aldo.
“Ya
udah papa dan mamah duluan ya. Sekali lagi makasih ya Syifa, Kirana,” kata om
Indra dan berlalu menuju ruang pemeriksaan bersama tante Tamara.
“Iya
sama-sama om, tante. Do, kamu hati-hati ya. Kalau udah nyampe sana kabari
kita,” kata Syifa.
“Iya
pasti Syifa. Ki ada yang mau aku omongin,” kata Aldo.
“Kamu
mau ngomong apa Do?” tanya Kirana penasaran. Belum sempat Aldo mengungkapkan
perasaannya, dia sudah di telepon oleh mamahnya karena pesawat jurusan
Palembang sudah datang.
“Nanti
aja deh kalau aku udah pulang dari Palembang Ki, tadi mamah telepon katanya
pesawat udah datang dan aku harus cepat-cepat ke sana. Sampai ketemu lagi ya
sahabat-sahabatku tersayang, Bye,”
kata Aldo sambil berlari menuju ruang pemeriksaan.
“Nanti
tetap teleponan, smsan sama whatsapp
ya Do, hati-hati,” teriak Kirana.
“Siap,”
kata Aldo sambil mengacungkan jempolnya dan menghilang dari balik kaca ruang
pemeriksaan. Setelah Aldo menghilang dari pandangan Kinara dan Syifa, mereka
pun pulang ke rumah masing-masing.
***
Sudah dua tahun lebih Aldo berada di
Palembang. Walaupun Kirana, Syifa dan Aldo tidak bertemu mereka masih saling
berkomunikasi melalui telepon-teleponan, smsan dan whatsapp. Mereka pun sekarang sudah masuk ke bangku kuliah. Di
bangku kuliah pula Kirana menemukan orang yang mencintai dirinya.
“Sory,
aku gak sengaja kamu enggak apa-apa kan?” kata seorang cowok yang tidak sengaja
menabrak Kirana.
“Enggak
apa-apa kok, salah aku juga tadi buru-buru jadi gak lihat-lihat kalau ada orang
di depanku. Maaf ya aku ada kelas, aku duluan ya,” kata Kirana sambil berlalu
dari cowok itu.
“Hey
tunggu,” kata cowok itu.
“Iya
ada apa?” tanya Kirana.
“Mau
tanya kalau kelas jurusan akuntansi sebelah mana ya? Soalnya saya baru di sini
jadi saya belum tau tentang kampus ini.”
“Oh,
kebetulan aku juga mahasiswi akuntansi. Gimana kalau kita bareng aja ke
kelasnya.”
“Alhamdulillah
kalau kamu juga jurusan akuntansi, jadi kamu enggak usah repot-repot antar aku.
Oh iya namaku Andi,” kata cowok yang bernama Andi itu sambil mengulurkan
tangannya.
“Aku
Kirana, ya udah kita ke kelas aja. Takut telat,” kata Kirana sambil menyambut
uluran tangan Andi. Andi hanya mengangguk dan mereka pun berjalan menuju kelas.
***
Sejak saat itu hubungan Kirana dan Andi
semakin dekat. Benih-benih cinta pun tumbuh di hati keduanya. Selama sekitar
lima bulan lebih mereka berteman akhirnya Andi mengutarakan perasaannya kepada
Kirana. Malam ini Andi menyediakan makan malam romantis di pinggir danau untuk
mengutarakan perasaanya kepada Kirana.
“Di,
kita sebenarnya mau kemana sih? Mataku sampai di tutup kayak gini?” tanya
Kirana.
“Udah
sebentar lagi sampai, kamu pasti suka,” kata Andi. Tak beberapa lama mereka pun
sudah sampai di tempat yang sudah di persiapkan Andi.
“Udah
sampai. Sekarang kamu boleh buka mata kamu,” kata Andi sambil melepaskan pentup
mata Kirana.
“Wah,
bagus banget Di,” kata Kirana takjub melihat keindahan danau yang sekelilingnya
di hiasi
“Kamu
suka?”
“Suka
banget Di, ini semua kamu yang bikin?”
“Sebenarnya
bukan aku juga sih, tapi dibantuin sama teman-teman. Aku mau ngomong sesuatu
sama kamu,” kata Andi sambil tersenyum.
“Mau
ngomong apa?”
“Sebenarnya
aku sayang sama kamu, kamu mau enggak jadi pacar aku?” kata Andi sambil
menggenggam tangan Kirana.
Kirana
kaget mendengar pernyataan cinta Andi. “Kamu sayang sama aku? Kenapa kamu suka
dan sayang sama aku?”
“Karena
kamu cantik, kamu baik, kamu care
sama sahabat-sahabat kamu, sama orang lain. Makanya aku suka dan perasaan itu
makin bertambah sejak aku dekat sama kamu.”
“Makasih
ya atas pujiannya. Tapi kamu tau kan aku manusia gak sempurna dan banyak
kekurangan. Dan aku yakin kamu bisa melengkapi kekurangan aku. Aku mau jadi
pacar kamu,” kata Kirana.
“Benar
kamu mau jadi pacar aku?” tanya Andi tak percaya. Kirana hanya mengangguk dan
anggukan Kirana disambut pelukan hangat Andi.
“Makasih
ya. Insya Allah aku akan melengkapi semua kekurangan kamu,” kata Andi.
***
Disaat hubungan Andi dan Kirana makin
mesra dan menginjak first anniversary, Aldo
kembali ke Jakarta menemui sahabat-sahabatnya Kirana dan Syifa. Kirana dan
Syifa tidak mengetahui kalau sahabat cowok
mereka mau datang. Makanya pas Aldo datang mereka kaget dan tidak
percaya kalau sahabat yang sudah lama tak ketemu kembali lagi.
“Halo
gadis-gadis cantik,” sapa Aldo kepada Syifa dan Kirana.
“Aldo,
kamu kapan sampai ke Jakarta? Kok kamu enggak ngabarin kita sih. Kan kita bisa
jemput,” kata Syifa tak percaya.
“Kan
aku mau ngasih kejutan sama kalian. Kalian pasti kangen banget kan sama aku?”
kata Aldo sambil memeluk kedua sahabatnya itu.
“Iya
lah kita kangen, kan kamu sahabat kita yang paling ganteng,” kata Kirana.
“Ya
iyalah aku paling ganteng, kalian kan cewek dan aku cowok. Masa dibilang
cantik,” kata Aldo. Tak lama kemudian Andi datang menemui Kirana.
“Hai
sayang,” kata Andi sambil mencium kening Kirana. Hal itu membuat Aldo cemburu.
“Hai,
oh iya kenalin ini sahabat aku Aldo, dia baru pulang dari Palembang. Dan Aldo
ini Andi pacar aku,” kata Kirana.
“Andi,
kamu teman Kirana sejak kecil kan? Kirana sering cerita tentang persahabatan
kalian,” kata Andi sambil mengulurkan tangannya.
“Aldo,
Ki kok kamu gak cerita kalau udah punya pacar?” tanya Aldo.
“Sory Do, lagian setiap di telepon sama
sms gak di jawab ya udah makanya aku gak cerita. Sory ya,” kata Kirana.
“Oh.
Ya udah gak apa-apa,” kata Aldo.
“Oh
iya Syifa, Aldo, aku duluan ya soalnya aku mau nemenin mamah ke rumah saudara.
Yuk Di,” kata Kirana. Andi hanya mengangguk dan mereka berlalu dari hadapan
Syifa dan Aldo.
***
Sejak saat itu Aldo merasa cemburu melihat
kemesraan antara Andi dan Kirana. Makin hari dia memendam perasaannya, makin
bertambah rasa cemburunya kepada Andi. Akhirnya Aldo pun memutuskan untuk
mengungkapkan semua perasaannya kepada Kirana, walaupun dia tau Kirana tidak
akan menjadikan dia lebih dari sekedar sahabatnya.
“Ki,
ada yang mau aku omongin sama kamu,” kata Aldo.
“Kamu
emang mau ngomong apa Do?” kata Kirana.
“Kamu
ingat gak waktu kamu sama Syifa antar aku ke Bandara? Waktu itu aku mau bilang
sesuatu sama kamu, tapi gak jadi karena pesawatnya udah datang dan aku harus
berangkat ke Palembang.”
“Iya
emang kenapa?”
“Sebenarnya
waktu itu aku mau bilang kalau aku suka sama kamu, tapi gak jadi karena aku
harus berangkat ke Palembang. Tapi aku boleh kan bilang itu ke kamu sekarang?”
Kirana
hanya tertawa. “Oh, waktu itu kamu mau bilang gitu sama aku?”
“Kok
kamu malah ketawa sih Ki? Aku serius, aku udah lama suka sama kamu, tapi aku
suka sama kamu itu lebih dari sekedar sahabat Ki. Dari dulu aku mau bilang
kayak gitu, tapi ada aja halangannya.”
“Jadi
kamu serius Do, kamu benar suka sama aku lebih sekedar teman?”
“Iya,
aku sayang banget sama kamu Ki. Aku mau kamu jadi pacar aku.”
“Tapi
kan kamu tau aku udah punya Andi. Dia
sayang sama aku dan aku juga sayang sama dia. Aku gak mungkin ngecewain Andi.
Maafin aku ya Do, aku gak bisa jadiin kamu lebih dari sekedar sahabat.”
“Iya
aku ngerti Ki, aku juga udah ngira kamu bakal bilang gitu, aku bilang kayak
gini sama kamu karena aku enggak mau terus-terusan mendam perasaan aku.”
“Maafin
aku ya Do, tapi kamu masih mau jadi sahabat aku kan?”
“Ya
pastilah. Sampai kapan pun aku tetap jadi sahabat kamu. Tapi kamu bahagia sama
Andi?” kata Aldo sambil tersenyum.
“Aku bahagia punya pacar kayak Andi.
Dia baik, perhatian, pengertian dan dewasa banget. Yang paling penting dia juga
sayang sama keluarga aku.”
“Ya, kalau kamu bahagia, aku juga ikut
bahagia Ki. Semoga hubungan kamu sama Andi langgeng ya sampai pernikahan.”
“Amin. Thanks ya kamu udah mau ngertiin.”
“Iya sama-sama,” kata Andi sambil
tersenyum. Tak lama Andi datang menghampiri Aldo dan Kirana.
“Ki,
pulang yuk,” ajak Andi, Kirana hanya mengangguk.
“Do,
mau bareng gak?”
“Gak
usah Di, aku pulang sendiri aja.”
“Ya
udah duluan ya,” kata Andi dan berlalu dari hadapan Aldo. Aldo hanya
mengangguk.
Cinta
memang tak harus memiliki, asalkan kita bahagia melihat orang yang kita sayang
juga bahagia. Karena itu arti cinta sesungguhnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar