Minggu, 23 Maret 2014

AKU MEMILIH SETIA


Seorang gadis manis terlihat sedang duduk termenung di sebuah bangku taman. Di sebelah kanannya ada beberapa orang anak yang asyik bermain lari-larian. Terlihat juga ada beberapa keluarga dan muda-mudi yang sedang bersantai di taman itu. Memang setiap hari libur atau sore seperti ini, taman itu selalu ramai di kunjungi oleh keluarga atau para remaja untuk bersantai melepaskan rasa lelah mereka setelah seharian bekerja dan beraktivitas. Tak terkecuali gadis manis ini. Gadis manis itu bernama Kirana Citra Lestari.
                “Hei, ngelamun aja nanti kesambet loh,” kata seorang Aldo, teman Kirana.
                “Eh, kamu Do. Ngagetin aja Syifa mana?” tanya Kirana.
                “Tuh lagi beli es krim. Tadi aku sama Syifa ke rumah kamu tapi kata mamah kamu, kamu di sini ya udah aku sama Syifa nyusul kamu ke sini,” kata Aldo.
                “Emang kamu sama Syifa ke rumah ada apa?” tanya Kirana bingung.
                “Kita ke rumah kamu, soalnya Aldo mau ngomongin sesuatu sama kamu. Tadinya aku gak mau ikut, tapi dia maksa banget buat aku nganterin dia ke rumah kamu. Ya udah aku antar, abisnya kasihan mukanya memelas banget,” jawab Syifa sambil memberikan satu es krim kepada Kirana.
                Thanks ya Syifa. Emang kamu mau ngomong apa Do? Kayaknya penting banget,” tanya Kirana sambil mengambil es krim pemberian Syifa.
                “Sebenarnya aku mau pamitan sama kalian berdua. Besok aku dan keluarga akan pindah ke Palembang soalnya ayahku di pindah tugaskan ke sana,” kata Aldo sedih.
                “Nanti kita gak akan sekolah dan sekelas lagi dong?” tanya Syifa. Aldo mengangguk.
                “Nanti gak ada yang jagain aku sama Syifa lagi dong, kan kamu satu-satunya teman cowok yang bisa jagain kita,” sambung Kirana.
                “Bener, Do. Kenapa kamu harus pindah sih?” tanya Syifa.
                “Ya aku sih sebenarnya gak mau pindah tapi ayah aku gak tega ninggalin aku sama mamah di Jakarta. Makanya ayah ngajak aku sama mamah pindah ke sana. Mau enggak mau, kau sama mamah mesti pindah ke Palembang. Tapi kalian tenang aja, aku janji nanti akan kuliah di sini bareng kalian,” kata Aldo.
                “Bener ya kamu akan kuliah di sini?” kata Syifa.
                “Iya Syifa, aku janji,” kata Aldo sambil mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji persahabatan.
                “Janji harus di tepati. Kalau enggak di tepati jadi hutang ya,” kata Kirana dan mengaitkan kelingkingnya di kelingking Aldo. Begitu juga Syifa yang mengaitkan kelingkingnya di kelingking Aldo.
***
Esok harinya Syifa dan Kirana mengantarkan Aldo ke Bandara Soekarno-Hatta. Ini lah hari terakhir mereka bertemu, walaupun begitu mereka akan tetap menjadi sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.
                “Mah, Aldo, kita ke ruang pemeriksaan yuk. Sebentar lagi pesawatnya datang. Kirana, Syifa makasih ya udah mau antar om, tante sama Aldo ke sini,” kata om Indra.
                “Iya sama-sama om, mudah-mudahan om, tante dan Aldo selamat sampai sana,” kata Kirana.
                “Ya udah kita masuk ke ruang pemeriksaan dulu ya Kirana, Syifa. Ayo Do,” kata tante Tamara. 
                “Mamah duluan aja, aku mau pamitan dulu sama Kirana dan Syifa,” kata Aldo.
                “Ya udah papa dan mamah duluan ya. Sekali lagi makasih ya Syifa, Kirana,” kata om Indra dan berlalu menuju ruang pemeriksaan bersama tante Tamara.
                “Iya sama-sama om, tante. Do, kamu hati-hati ya. Kalau udah nyampe sana kabari kita,” kata Syifa.
                “Iya pasti Syifa. Ki ada yang mau aku omongin,” kata Aldo.
                “Kamu mau ngomong apa Do?” tanya Kirana penasaran. Belum sempat Aldo mengungkapkan perasaannya, dia sudah di telepon oleh mamahnya karena pesawat jurusan Palembang sudah datang.
                “Nanti aja deh kalau aku udah pulang dari Palembang Ki, tadi mamah telepon katanya pesawat udah datang dan aku harus cepat-cepat ke sana. Sampai ketemu lagi ya sahabat-sahabatku tersayang, Bye,” kata Aldo sambil berlari menuju ruang pemeriksaan.
                “Nanti tetap teleponan, smsan sama whatsapp ya Do, hati-hati,” teriak Kirana.
                “Siap,” kata Aldo sambil mengacungkan jempolnya dan menghilang dari balik kaca ruang pemeriksaan. Setelah Aldo menghilang dari pandangan Kinara dan Syifa, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
***
Sudah dua tahun lebih Aldo berada di Palembang. Walaupun Kirana, Syifa dan Aldo tidak bertemu mereka masih saling berkomunikasi melalui telepon-teleponan, smsan dan whatsapp. Mereka pun sekarang sudah masuk ke bangku kuliah. Di bangku kuliah pula Kirana menemukan orang yang mencintai dirinya.
                “Sory, aku gak sengaja kamu enggak apa-apa kan?” kata seorang cowok yang tidak sengaja menabrak Kirana.
                “Enggak apa-apa kok, salah aku juga tadi buru-buru jadi gak lihat-lihat kalau ada orang di depanku. Maaf ya aku ada kelas, aku duluan ya,” kata Kirana sambil berlalu dari cowok itu.
                “Hey tunggu,” kata cowok itu.
                “Iya ada apa?” tanya Kirana.
                “Mau tanya kalau kelas jurusan akuntansi sebelah mana ya? Soalnya saya baru di sini jadi saya belum tau tentang kampus ini.”
                “Oh, kebetulan aku juga mahasiswi akuntansi. Gimana kalau kita bareng aja ke kelasnya.”
                “Alhamdulillah kalau kamu juga jurusan akuntansi, jadi kamu enggak usah repot-repot antar aku. Oh iya namaku Andi,” kata cowok yang bernama Andi itu sambil mengulurkan tangannya.
                “Aku Kirana, ya udah kita ke kelas aja. Takut telat,” kata Kirana sambil menyambut uluran tangan Andi. Andi hanya mengangguk dan mereka pun berjalan menuju kelas.
***
Sejak saat itu hubungan Kirana dan Andi semakin dekat. Benih-benih cinta pun tumbuh di hati keduanya. Selama sekitar lima bulan lebih mereka berteman akhirnya Andi mengutarakan perasaannya kepada Kirana. Malam ini Andi menyediakan makan malam romantis di pinggir danau untuk mengutarakan perasaanya kepada Kirana.
                “Di, kita sebenarnya mau kemana sih? Mataku sampai di tutup kayak gini?” tanya Kirana.
                “Udah sebentar lagi sampai, kamu pasti suka,” kata Andi. Tak beberapa lama mereka pun sudah sampai di tempat yang sudah di persiapkan Andi.
                “Udah sampai. Sekarang kamu boleh buka mata kamu,” kata Andi sambil melepaskan pentup mata Kirana.
                “Wah, bagus banget Di,” kata Kirana takjub melihat keindahan danau yang sekelilingnya di hiasi
                “Kamu suka?”
                “Suka banget Di, ini semua kamu yang bikin?”
                “Sebenarnya bukan aku juga sih, tapi dibantuin sama teman-teman. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” kata Andi sambil tersenyum.
                “Mau ngomong apa?”
                “Sebenarnya aku sayang sama kamu, kamu mau enggak jadi pacar aku?” kata Andi sambil menggenggam tangan Kirana.
                Kirana kaget mendengar pernyataan cinta Andi. “Kamu sayang sama aku? Kenapa kamu suka dan sayang sama aku?”
                “Karena kamu cantik, kamu baik, kamu care sama sahabat-sahabat kamu, sama orang lain. Makanya aku suka dan perasaan itu makin bertambah sejak aku dekat sama kamu.”
                “Makasih ya atas pujiannya. Tapi kamu tau kan aku manusia gak sempurna dan banyak kekurangan. Dan aku yakin kamu bisa melengkapi kekurangan aku. Aku mau jadi pacar kamu,” kata Kirana.
                “Benar kamu mau jadi pacar aku?” tanya Andi tak percaya. Kirana hanya mengangguk dan anggukan Kirana disambut pelukan hangat Andi.
                “Makasih ya. Insya Allah aku akan melengkapi semua kekurangan kamu,” kata Andi.
***
Disaat hubungan Andi dan Kirana makin mesra dan menginjak first anniversary, Aldo kembali ke Jakarta menemui sahabat-sahabatnya Kirana dan Syifa. Kirana dan Syifa tidak mengetahui kalau sahabat cowok  mereka mau datang. Makanya pas Aldo datang mereka kaget dan tidak percaya kalau sahabat yang sudah lama tak ketemu kembali lagi.
                “Halo gadis-gadis cantik,” sapa Aldo kepada Syifa dan Kirana.
                “Aldo, kamu kapan sampai ke Jakarta? Kok kamu enggak ngabarin kita sih. Kan kita bisa jemput,” kata Syifa  tak percaya.
                “Kan aku mau ngasih kejutan sama kalian. Kalian pasti kangen banget kan sama aku?” kata Aldo sambil memeluk kedua sahabatnya itu.
                “Iya lah kita kangen, kan kamu sahabat kita yang paling ganteng,” kata Kirana.
                “Ya iyalah aku paling ganteng, kalian kan cewek dan aku cowok. Masa dibilang cantik,” kata Aldo. Tak lama kemudian Andi datang menemui Kirana.
                “Hai sayang,” kata Andi sambil mencium kening Kirana. Hal itu membuat Aldo cemburu.
                “Hai, oh iya kenalin ini sahabat aku Aldo, dia baru pulang dari Palembang. Dan Aldo ini Andi pacar aku,” kata Kirana.
                “Andi, kamu teman Kirana sejak kecil kan? Kirana sering cerita tentang persahabatan kalian,” kata Andi sambil mengulurkan tangannya.
                “Aldo, Ki kok kamu gak cerita kalau udah punya pacar?” tanya Aldo.
                Sory Do, lagian setiap di telepon sama sms gak di jawab ya udah makanya aku gak cerita. Sory ya,” kata Kirana.
                “Oh. Ya udah gak apa-apa,” kata Aldo.
                “Oh iya Syifa, Aldo, aku duluan ya soalnya aku mau nemenin mamah ke rumah saudara. Yuk Di,” kata Kirana. Andi hanya mengangguk dan mereka berlalu dari hadapan Syifa dan Aldo.
***
Sejak saat itu Aldo merasa cemburu melihat kemesraan antara Andi dan Kirana. Makin hari dia memendam perasaannya, makin bertambah rasa cemburunya kepada Andi. Akhirnya Aldo pun memutuskan untuk mengungkapkan semua perasaannya kepada Kirana, walaupun dia tau Kirana tidak akan menjadikan dia lebih dari sekedar sahabatnya.
                “Ki, ada yang mau aku omongin sama kamu,” kata Aldo.
                “Kamu emang mau ngomong apa Do?” kata Kirana.
                “Kamu ingat gak waktu kamu sama Syifa antar aku ke Bandara? Waktu itu aku mau bilang sesuatu sama kamu, tapi gak jadi karena pesawatnya udah datang dan aku harus berangkat ke Palembang.”
                “Iya emang kenapa?”
                “Sebenarnya waktu itu aku mau bilang kalau aku suka sama kamu, tapi gak jadi karena aku harus berangkat ke Palembang. Tapi aku boleh kan bilang itu ke kamu sekarang?”
                Kirana hanya tertawa. “Oh, waktu itu kamu mau bilang gitu sama aku?”
                “Kok kamu malah ketawa sih Ki? Aku serius, aku udah lama suka sama kamu, tapi aku suka sama kamu itu lebih dari sekedar sahabat Ki. Dari dulu aku mau bilang kayak gitu, tapi ada aja halangannya.”
                “Jadi kamu serius Do, kamu benar suka sama aku lebih sekedar teman?”
                “Iya, aku sayang banget sama kamu Ki. Aku mau kamu jadi pacar aku.”
                “Tapi kan kamu  tau aku udah punya Andi. Dia sayang sama aku dan aku juga sayang sama dia. Aku gak mungkin ngecewain Andi. Maafin aku ya Do, aku gak bisa jadiin kamu lebih dari sekedar sahabat.”
                “Iya aku ngerti Ki, aku juga udah ngira kamu bakal bilang gitu, aku bilang kayak gini sama kamu karena aku enggak mau terus-terusan mendam perasaan aku.”
                “Maafin aku ya Do, tapi kamu masih mau jadi sahabat aku kan?”
                “Ya pastilah. Sampai kapan pun aku tetap jadi sahabat kamu. Tapi kamu bahagia sama Andi?” kata Aldo sambil tersenyum.
“Aku bahagia punya pacar kayak Andi. Dia baik, perhatian, pengertian dan dewasa banget. Yang paling penting dia juga sayang sama keluarga aku.”
“Ya, kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia Ki. Semoga hubungan kamu sama Andi langgeng ya sampai pernikahan.”
“Amin. Thanks ya kamu udah mau ngertiin.”
“Iya sama-sama,” kata Andi sambil tersenyum. Tak lama Andi datang menghampiri Aldo dan Kirana.
                “Ki, pulang yuk,” ajak Andi, Kirana hanya mengangguk.
                “Do, mau bareng gak?”
                “Gak usah Di, aku pulang sendiri aja.”
                “Ya udah duluan ya,” kata Andi dan berlalu dari hadapan Aldo. Aldo hanya mengangguk.
                Cinta memang tak harus memiliki, asalkan kita bahagia melihat orang yang kita sayang juga bahagia. Karena itu arti cinta sesungguhnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar