Hampir setiap hari aku selalu melihat lelaki
paruh baya itu. Umurnya sekitar enam puluh tahunan lebih. Dia selalu lewat di
depan rumahku sambil memanggul dua keranjang besar yang disatukan dengan
sebatang kayu. Setiap hari dia selalu mengambil sampah yang ada di sekitar
tempat tinggalku, dia tak pernah lelah mengambil dan mengumpulkan sisa material
atau barang-barang tidak berguna bagi kebanyakan orang. Tapi baginya
sampah-sampah itu merupakan sumber penghasilan untuk dia dan keluarganya. Dia
juga tak pernah mengeluh ketika dia menghampiri tempat sampah yang kadang
mengeluarkan bau yang sangat menyengat, tetapi dia tetap semangat mengambil
sampah-sampah itu.
Setiap kali aku
membersihkan halaman rumah sebelum berangkat kerja, aku selalu melihat Pak
Samidi itu yang sedang bekerja mengambil sampah di depan rumahku. Tepatnya jam
enam pagi, Pak Samidi sudah dengan sigap mengambil sampah-sampah plastik yang
ada di tempat sampah depan rumahku. Pak Samidi adalah nama lelaki paruh baya
yang bekerja sebagai pemulung di sekitar tempat tinggalku. Aku mengetahui
namanya dari Ani tetanggaku. Aku selalu merasa kasihan setiap kali melihatnya,
karena seharusnya orang seumuran Pak Samidi duduk santai di rumah sambil
menunggu uang pesiunan yang datang setiap bulannya, bukan setiap hari bekerja
mengambil dan mengumpulkan sampah seperti ini. Tak jarang pula ketika ada
sampah botol plastik bekas minuman yang ada di rumahku, aku selalu memberikan
sampah botol plastik itu kepada Pak Samidi, walaupun hanya satu atau dua botol
plastik itu.
