Kamis, 13 Februari 2014

DUKA PENGUMPUL BARANG BEKAS


Hampir setiap hari aku selalu melihat lelaki paruh baya itu. Umurnya sekitar enam puluh tahunan lebih. Dia selalu lewat di depan rumahku sambil memanggul dua keranjang besar yang disatukan dengan sebatang kayu. Setiap hari dia selalu mengambil sampah yang ada di sekitar tempat tinggalku, dia tak pernah lelah mengambil dan mengumpulkan sisa material atau barang-barang tidak berguna bagi kebanyakan orang. Tapi baginya sampah-sampah itu merupakan sumber penghasilan untuk dia dan keluarganya. Dia juga tak pernah mengeluh ketika dia menghampiri tempat sampah yang kadang mengeluarkan bau yang sangat menyengat, tetapi dia tetap semangat mengambil sampah-sampah itu.
Setiap kali aku membersihkan halaman rumah sebelum berangkat kerja, aku selalu melihat Pak Samidi itu yang sedang bekerja mengambil sampah di depan rumahku. Tepatnya jam enam pagi, Pak Samidi sudah dengan sigap mengambil sampah-sampah plastik yang ada di tempat sampah depan rumahku. Pak Samidi adalah nama lelaki paruh baya yang bekerja sebagai pemulung di sekitar tempat tinggalku. Aku mengetahui namanya dari Ani tetanggaku. Aku selalu merasa kasihan setiap kali melihatnya, karena seharusnya orang seumuran Pak Samidi duduk santai di rumah sambil menunggu uang pesiunan yang datang setiap bulannya, bukan setiap hari bekerja mengambil dan mengumpulkan sampah seperti ini. Tak jarang pula ketika ada sampah botol plastik bekas minuman yang ada di rumahku, aku selalu memberikan sampah botol plastik itu kepada Pak Samidi, walaupun hanya satu atau dua botol plastik itu.