Rabu, 12 Maret 2014

AKU INGIN DIA KEMBALI


Karin duduk termenung di balkon teras kamarnya sambil menatap langit yang cerah di taburi oleh bintang-bintang. Sinarnya yang indah dapat menenangkan hati setiap orang yang memandangnya, tapi mungkin hal ini tak mempengaruhi suasana hati Karin malam ini. Dia masih termenung sambil menatap kosong ke arah bintang yang melihatnya dengan wajah ceria. Karin kembali teringat seseorang yang hampir di tabraknya tadi pagi. Orang yang sangat dia kenal dan ingin dia temui selama lebih dari 10 tahun ini. Ryan Adrian adalah nama orang yang hampir ditabraknya tadi pagi, Karin tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Ryan.  Cowok yang menjadi sahabat akrabnya waktu SD, tetapi Karin harus berpisah dengan Ryan karena Ryan harus pindah ke Singapura mengikuti ayahnya yang bertugas disana.
“Kirain gue, gue enggak akan bertemu lagi sama lo Yan,” gumam Karin masih menatap bintang. “Tapi mengapa lo enggak kenal sama gue? Atau elo sudah lupa sama gue Yan? Gue mau elo kembali kayak dulu Yan,” lanjutnya sambil menghela napasnya panjang.
Seorang gadis yang lebih tua satu tahun dari Karin menghampiri Karin yang masih termenung. “Rin, sudah malam. Kamu belum tidur?,” tanya gadis yang bernama Alia, kakak Karin, membuyarkan lamunan Karin.
“Eh, kak, ngagetin saja. Belum ngantuk kak. Kakak sendiri kok belum tidur?,” jawab Karin.
“Belum, soalnya kakak masih ngerjain tugas. Kakak lihat daritadi kamu melamun saja. Ada apa?”
“Enggak ada apa-apa kak. Oh, iya, kakak ke kamarku ada perlu apa?”
“Kakak mau pinjam buku akuntansi kamu waktu SMA, soalnya buku kakak sudah enggak ada, enggak tau kemana.”
“Oh, kakak cari saja di meja belajarku.”
“Ya, sudah, kakak cari dulu ya,” kata Alia sambil melangkah masuk ke kamar adiknya. Sedangkan Karin meneruskan lamunannya.
“Rin, kakak kembali ke kamar ya mau ngelanjutin tugasnya. Kamu jangan tidur malam-malam,” kata Alia di depan pintu yang menghubungkan balkon dengan kamar Karin.
“Iya kak, bukunya memang sudah ketemu?,” tanya Karin.
“Sudah. Oh, iya, jangan lupa tutup jendela dan pintu balkonnya sebelum tidur,” kata Alia mengingatkan dan melangkah keluar kamar Karin.
“Iya kak,” jawab Karin.
***
Karin melangkahkan kakinya terburu-buru di koridor kampus. Bukkkk…. Karin menabrak seorang cowok yang berada di depannya hingga terjatuh. “Awww….,” rintih cowok itu.
“Sory…. Gue enggak sengaja, lo enggak kenapa-kenapa kan? Sini gue bantu elo berdiri,” kata Karin sambil mengulurkan tangannya.
Cowok itupun menyambut uluran tangan Karin lalu berdiri, tetapi saat dia menatap Karin dia tertegun sejenak seperti mengingat sesuatu. “Elo kan yang kemarin hampir tabrak gue juga kan, yang ngaku teman SD gue. Namanya…..,” kata cowok yang bernama Ryan terputus karena tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
“Elo sekarang sudah ingat gue kan Yan? Gue Karin teman SD elo. Tapi muka elo kok pucat sih? Elo enggak apa-apa kan?,” tanya Karin panik.
“Gue enggak apa-apa, kepala gue pusing dikit, tapi nanti juga sembuh. Oh, iya, nama elo Karin ya? Emang elo teman SD gue ya? Sory dari kemarin gue ketemu elo dan elo bilang kalau elo itu teman SD gue, gue masih belum ingat,” kata Ryan sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
“Oke enggak apa-apa, gue ngerti kok. Ya wajarlah kalau elo masih lupa sama teman lama, gue juga kalau ketemu teman SD yang lain, gue juga bakalan kaya elo ingat-ingat lupa,” kata Karin tersenyum. “Oh, iya, kalau elo memang enggak apa-apa, gue ke kelas dulu ya. Soalnya gue sudah telat nih,” lanjut Karin sambil melangkah pergi.
“Iya gue enggak apa-apa kok,” jawab Ryan sambil tersenyum. Karin pun melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tapi baru beberapa langkah Karin meninggalkan Ryan, tiba-tiba ada suara orang terjatuh dari belakangnya, Karin pun menoleh ke sumber suara. Ternyata suara orang terjatuh itu adalah Ryan, yang sudah tertidur lemas di lantai. Karin pun berlari menghampiri Ryan dan melihat keadaannya.
“Yan, elo enggak apa-apa kan? Ryan tolong jawab gue,” kata Karin mengguncang-guncang badannya dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Ryan. “Tolong…. Tolong….,” Karin berteriak minta tolong. Kania, mahasiswa dan mahasisiwi yang ada di sekitar segera menolong Ryan dan membawanya ke rumah sakit.
***
            Sekitar 30 menit Karin sudah sampai di rumah sakit ditemani sahabatnya, Kania. Ryan pun segera di larikan ke UGD.
            “Duh… Ka, gimana keadaan Ryan ya?,” tanya Karin gelisah.
            “Elo berdoa saja supaya dia enggak apa-apa Rin. Elo sudah hubungi keluarganya?,” tanya Kania.
            Karin menggeleng. “Gue enggak tau Ka, gue kira elo tau.”
            “Gue juga enggak tau. Kan kemarin elo bilang kalau dia teman elo waktu kecil. Kirain saja elo tau keluarganya dimana.”
            “Ih…. Kan gue juga bilang ke elo, kalau gue sudah 10 tahun enggak ketemu sama dia. Gimana sih elo?,” kata Karin kesal. Kania hanya tersenyum.
            Tak lama kemudian datang sepasang suami istri menanyai keadaannya Ryan. “Kalian yang menolong anak kami Kamu…. Karin kan temannya Ryan waktu SD? Apa kabar Karin?,” kata tante Ana, ibunya Ryan ketika melihat wajah Karin.
            “Kabar aku baik-baik saja tan, gimana kabar tante dan om?,” tanya Karin sambil menyalami tangan tante Ana dan om Agung.
            “Alhamdulillah baik, Rin. Oh, iya, bagaimana keadaan Ryan?,” tanya om Agung.
            “Enggak tau om. Soalnya dokternya daritadi belum keluar dari ruang UGD,” jawab Karin. Tak lama dokter yang menangani Ryan pun keluar.
            “Anda keluarga dari pasien yang bernama Ryan?,” tanya sang dokter.
            “Iya, Dok, kami orang tuanya Ryan. Bagaimana keadaan anak kami dok?,” tanya tante Ana.
            “Anak bapak dan ibu tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja. Hari ini dia bisa segera pulang ke rumah.”
            “Alhamdulillah.. boleh kami menemui anak kami?.”
            “Tentu saja boleh. Silahkan. Saya permisi dulu,” kata sang dokter sambil berlalu dari hadapan orang tua Ryan. Tante Ana, om Agung, Karin dan Kania pun menemui Ryan yang terbaring lemah di UGD.
            ***
            Walaupun Karin sudah bertemu dengan om Ana dan tante Agung, tetap saja Ryan tak mengenali Karin sebagai teman masa kecilnya. Karin sangat berharap kalau Ryan akan seperti dulu lagi, yang selalu temani dia, yang selalu ada saat Karin membutuhkannya. Bukan Ryan yang tak mengenali Karin.
            “Tan, kok Ryan enggak kenal sama aku ya. Apa Ryan sudah melupakan aku?,” tanya Karin ketika dia sedang mengantarkan Ryan pulang dari rumah sakit.
            “Karin kamu enggak tau ya, kalau Ryan itu menderita amnesia permanent?,” jelas tante Ana.
            “Amnesia permanent?,” tanya Karin kaget.
            Tante Ana mengangguk. “Sebulan yang lalu, tepatnya dua hari saat kami pindah kembali ke Indonesia Ryan mengalami kecelakaan motor. Waktu itu dia habis dari rumah omanya di Bandung. Kata dokter yang waktu itu menangani Ryan dia menderita amnesia permanent, yang menyebabkan memory masa lalunya hilang semua. Tadinya dia juga enggak ingat sama tante, om dan dirinya tapi Alhamdulillah sekarang dia sudah sedikit-sedikit mengenali tante dan om sebagai orang tuanya. Tapi kalau untuk mengingat semuanya dia belum bisa,” jelas tante Ana.
            “Pantas dia enggak ingat sama aku, tan. Apa yang harus aku lakukan, biar dia ingat lagi sama aku? Aku sedih tan, melihat dia yang enggak kenal sama aku. Padahal aku sudah nunggu dia lama dan aku ingin dia yang dulu tan,” kata Karin sedih.
            “Sabar iya Rin, yang sekarang bisa kamu lakukan itu dekati dia pelan-pelan, terus tunjukkin semua barang kenangan kalian, tapi jangan terlalu memaksa dia mengingat semuanya ya. Soalnya tante kasihan kalau melihat dia sakit karena dia terlalu berusaha mengingat semuanya,” saran tante Ana.
***
            Karin mengikuti saran yang diberikan oleh tante Ana, diapun mulai mendekati Ryan. Menceritakan semua masa lalu mereka, tapi usaha Karin gagal. Tak satupun dari cerita Karin yang membuat Ryan ingat bahwa Karin adalah teman lamanya. Teman yang sudah hampir 10 tahun menunggunya kembali dengan perasaan yang sangat menyakitkan. Perasaan yang sangat dalam dengan Ryan.
            Kembali Karin termenung menatap cahaya bintang yang menerangi gelap malam ini. Dengan setitik harapan agar sahabat yang sangat dia sayang kembali seperti dulu, walaupun tidak sepenuhnya. Karin hanya ingin Ryan mengetahui bahwa dia sangat menyanyanginya dan ingin dia kembali seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar