Karin
duduk termenung di balkon teras kamarnya sambil menatap langit yang cerah di
taburi oleh bintang-bintang. Sinarnya yang indah dapat menenangkan hati setiap
orang yang memandangnya, tapi mungkin hal ini tak mempengaruhi suasana hati Karin
malam ini. Dia masih termenung sambil menatap kosong ke arah bintang yang
melihatnya dengan wajah ceria. Karin kembali teringat seseorang yang hampir di
tabraknya tadi pagi. Orang yang sangat dia kenal dan ingin dia temui selama lebih
dari 10 tahun ini. Ryan Adrian adalah nama orang yang hampir ditabraknya tadi
pagi, Karin tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Ryan. Cowok yang menjadi sahabat akrabnya waktu SD,
tetapi Karin harus berpisah dengan Ryan karena Ryan harus pindah ke Singapura
mengikuti ayahnya yang bertugas disana.
“Kirain
gue, gue enggak akan bertemu lagi sama lo Yan,” gumam Karin masih menatap
bintang. “Tapi mengapa lo enggak kenal sama gue? Atau elo sudah lupa sama gue Yan?
Gue mau elo kembali kayak dulu Yan,” lanjutnya sambil menghela napasnya
panjang.
Seorang
gadis yang lebih tua satu tahun dari Karin menghampiri Karin yang masih
termenung. “Rin, sudah malam. Kamu belum tidur?,” tanya gadis yang bernama
Alia, kakak Karin, membuyarkan lamunan Karin.
“Eh,
kak, ngagetin saja. Belum ngantuk kak. Kakak sendiri kok belum tidur?,” jawab Karin.
“Belum,
soalnya kakak masih ngerjain tugas. Kakak lihat daritadi kamu melamun saja. Ada
apa?”
“Enggak
ada apa-apa kak. Oh, iya, kakak ke kamarku ada perlu apa?”
“Kakak
mau pinjam buku akuntansi kamu waktu SMA, soalnya buku kakak sudah enggak ada,
enggak tau kemana.”
“Oh,
kakak cari saja di meja belajarku.”
“Ya,
sudah, kakak cari dulu ya,” kata Alia sambil melangkah masuk ke kamar adiknya. Sedangkan
Karin meneruskan lamunannya.
“Rin,
kakak kembali ke kamar ya mau ngelanjutin tugasnya. Kamu jangan tidur
malam-malam,” kata Alia di depan pintu yang menghubungkan balkon dengan kamar Karin.
“Iya
kak, bukunya memang sudah ketemu?,” tanya Karin.
“Sudah.
Oh, iya, jangan lupa tutup jendela dan pintu balkonnya sebelum tidur,” kata
Alia mengingatkan dan melangkah keluar kamar Karin.
“Iya
kak,” jawab Karin.
***
Karin
melangkahkan kakinya terburu-buru di koridor kampus. Bukkkk…. Karin menabrak seorang
cowok yang berada di depannya hingga terjatuh. “Awww….,” rintih cowok itu.
“Sory….
Gue enggak sengaja, lo enggak kenapa-kenapa kan? Sini gue bantu elo berdiri,”
kata Karin sambil mengulurkan tangannya.
Cowok
itupun menyambut uluran tangan Karin lalu berdiri, tetapi saat dia menatap Karin
dia tertegun sejenak seperti mengingat sesuatu. “Elo kan yang kemarin hampir
tabrak gue juga kan, yang ngaku teman SD gue. Namanya…..,” kata cowok yang bernama
Ryan terputus karena tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
“Elo
sekarang sudah ingat gue kan Yan? Gue Karin teman SD elo. Tapi muka elo kok
pucat sih? Elo enggak apa-apa kan?,” tanya Karin panik.
“Gue
enggak apa-apa, kepala gue pusing dikit, tapi nanti juga sembuh. Oh, iya, nama
elo Karin ya? Emang elo teman SD gue ya? Sory dari kemarin gue ketemu elo dan
elo bilang kalau elo itu teman SD gue, gue masih belum ingat,” kata Ryan sambil
memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
“Oke
enggak apa-apa, gue ngerti kok. Ya wajarlah kalau elo masih lupa sama teman
lama, gue juga kalau ketemu teman SD yang lain, gue juga bakalan kaya elo
ingat-ingat lupa,” kata Karin tersenyum. “Oh, iya, kalau elo memang enggak
apa-apa, gue ke kelas dulu ya. Soalnya gue sudah telat nih,” lanjut Karin
sambil melangkah pergi.
“Iya
gue enggak apa-apa kok,” jawab Ryan sambil tersenyum. Karin pun melanjutkan
langkahnya menuju kelas. Tapi baru beberapa langkah Karin meninggalkan Ryan,
tiba-tiba ada suara orang terjatuh dari belakangnya, Karin pun menoleh ke
sumber suara. Ternyata suara orang terjatuh itu adalah Ryan, yang sudah
tertidur lemas di lantai. Karin pun berlari menghampiri Ryan dan melihat
keadaannya.
“Yan,
elo enggak apa-apa kan? Ryan tolong jawab gue,” kata Karin mengguncang-guncang
badannya dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Ryan. “Tolong….
Tolong….,” Karin berteriak minta tolong. Kania, mahasiswa dan mahasisiwi yang
ada di sekitar segera menolong Ryan dan membawanya ke rumah sakit.
***
Sekitar 30 menit Karin sudah sampai
di rumah sakit ditemani sahabatnya, Kania. Ryan pun segera di larikan ke UGD.
“Duh… Ka, gimana keadaan Ryan ya?,”
tanya Karin gelisah.
“Elo berdoa saja supaya dia enggak
apa-apa Rin. Elo sudah hubungi keluarganya?,” tanya Kania.
Karin menggeleng. “Gue enggak tau
Ka, gue kira elo tau.”
“Gue juga enggak tau. Kan kemarin
elo bilang kalau dia teman elo waktu kecil. Kirain saja elo tau keluarganya
dimana.”
“Ih…. Kan gue juga bilang ke elo,
kalau gue sudah 10 tahun enggak ketemu sama dia. Gimana sih elo?,” kata Karin
kesal. Kania hanya tersenyum.
Tak lama kemudian datang sepasang
suami istri menanyai keadaannya Ryan. “Kalian yang menolong anak kami Kamu….
Karin kan temannya Ryan waktu SD? Apa kabar Karin?,” kata tante Ana, ibunya
Ryan ketika melihat wajah Karin.
“Kabar aku baik-baik saja tan, gimana
kabar tante dan om?,” tanya Karin sambil menyalami tangan tante Ana dan om
Agung.
“Alhamdulillah baik, Rin. Oh, iya,
bagaimana keadaan Ryan?,” tanya om Agung.
“Enggak tau om. Soalnya dokternya daritadi
belum keluar dari ruang UGD,” jawab Karin. Tak lama dokter yang menangani Ryan
pun keluar.
“Anda keluarga dari pasien yang
bernama Ryan?,” tanya sang dokter.
“Iya, Dok, kami orang tuanya Ryan.
Bagaimana keadaan anak kami dok?,” tanya tante Ana.
“Anak bapak dan ibu tidak apa-apa,
dia hanya kelelahan saja. Hari ini dia bisa segera pulang ke rumah.”
“Alhamdulillah.. boleh kami menemui
anak kami?.”
“Tentu saja boleh. Silahkan. Saya
permisi dulu,” kata sang dokter sambil berlalu dari hadapan orang tua Ryan.
Tante Ana, om Agung, Karin dan Kania pun menemui Ryan yang terbaring lemah di
UGD.
***
Walaupun Karin sudah bertemu dengan
om Ana dan tante Agung, tetap saja Ryan tak mengenali Karin sebagai teman masa
kecilnya. Karin sangat berharap kalau Ryan akan seperti dulu lagi, yang selalu
temani dia, yang selalu ada saat Karin membutuhkannya. Bukan Ryan yang tak
mengenali Karin.
“Tan, kok Ryan enggak kenal sama aku
ya. Apa Ryan sudah melupakan aku?,” tanya Karin ketika dia sedang mengantarkan
Ryan pulang dari rumah sakit.
“Karin kamu enggak tau ya, kalau
Ryan itu menderita amnesia permanent?,” jelas tante Ana.
“Amnesia permanent?,” tanya Karin
kaget.
Tante Ana mengangguk. “Sebulan yang
lalu, tepatnya dua hari saat kami pindah kembali ke Indonesia Ryan mengalami
kecelakaan motor. Waktu itu dia habis dari rumah omanya di Bandung. Kata dokter
yang waktu itu menangani Ryan dia menderita amnesia permanent, yang menyebabkan
memory masa lalunya hilang semua. Tadinya dia juga enggak ingat sama tante, om
dan dirinya tapi Alhamdulillah sekarang dia sudah sedikit-sedikit mengenali
tante dan om sebagai orang tuanya. Tapi kalau untuk mengingat semuanya dia
belum bisa,” jelas tante Ana.
“Pantas dia enggak ingat sama aku,
tan. Apa yang harus aku lakukan, biar dia ingat lagi sama aku? Aku sedih tan,
melihat dia yang enggak kenal sama aku. Padahal aku sudah nunggu dia lama dan
aku ingin dia yang dulu tan,” kata Karin sedih.
“Sabar iya Rin, yang sekarang bisa
kamu lakukan itu dekati dia pelan-pelan, terus tunjukkin semua barang kenangan
kalian, tapi jangan terlalu memaksa dia mengingat semuanya ya. Soalnya tante
kasihan kalau melihat dia sakit karena dia terlalu berusaha mengingat
semuanya,” saran tante Ana.
***
Karin mengikuti saran yang diberikan
oleh tante Ana, diapun mulai mendekati Ryan. Menceritakan semua masa lalu
mereka, tapi usaha Karin gagal. Tak satupun dari cerita Karin yang membuat Ryan
ingat bahwa Karin adalah teman lamanya. Teman yang sudah hampir 10 tahun
menunggunya kembali dengan perasaan yang sangat menyakitkan. Perasaan yang
sangat dalam dengan Ryan.
Kembali Karin termenung menatap
cahaya bintang yang menerangi gelap malam ini. Dengan setitik harapan agar
sahabat yang sangat dia sayang kembali seperti dulu, walaupun tidak sepenuhnya.
Karin hanya ingin Ryan mengetahui bahwa dia sangat menyanyanginya dan ingin dia
kembali seperti dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar