Selasa, 18 Maret 2014

SEMUA UNTUK IBU

Buku KAS #2

Kontributor
Argita Maya Fauzi | Rausyan Fikri | Riska Ayu Purnama Sari | Nu-Riel | Kartini | Alflailwalail | Deela n’Erth | Zainuddin | Rosarila | Erputri | Luthvey Nurutdinova | Putri Arum Islami | Ukhtyan Muhibbah Firdaus [UMF] | Nabila Al Qoshwa | Indah Kiki Yuliana | Ikha Inayatul Markhumah | Nina Nurjanah | Mayang Anglingsari Putri | Rere Zivago | Retno Budi Arti | Inggrid Widya Pitaloka | Juliana | Mutia Ulfah | Redi Awal Maulana | Linda Mustika Hartiwi | De Minnie | Anna Rosdiana | Siti Nur Indah Sari | Desy Sundaryanti | Jay Wijayanti
— 




  
Halo teman-teman semuanya, aku mau cerita sedikit nih. Beberapa bulan yang lalu aku ikut lomba menulis cerpen tentang keluarga yang diadakan penerbit "EL-NISA PUBLISHER" dan aku jadi salah satu kontributor buku kumpulan cerpen yang berjudul "KELUARGA ADALAH SEGALANYA" dan di atas adalah foto buku kumpulan cerpen itu.
Dan hari ini aku mau share cerpenku yang ada di dalam buku itu.. Judul cerpen yang aku buat 'SEMUA UNTUK IBU'

 
Happy Reading..


Seorang gadis manis terlihat sedang menawarkan senampan kue kepada pengguna jalan di depan toko kue Minions Cake. Gadis itu bernama Kania Rahma atau yang biasa di panggil Kania. Kania merupakan anak dari seorang ayah bernama Ramdan yang hanya bekerja sebagai penjual somay, dan ibunya bernama Aisah seorang buruh cuci dan menyetrika. Kania merupakan anak sulung dari tiga bersaudara, adik pertamanya bernama Andi Ramadan, dia sekolah kelas IV SD dan yang bungsu bernama Aini, dia sekolah kelas III SD, sedangkan Kania sendiri sekolah kelas dua SMA. Setiap pulang sekolah, Kania selalu bergegas pergi ke toko kue itu, untuk melaksanakan tugasnya sebagai karyawan di toko kue itu. Hal itu biasa dia lakukan sejak kelas 2 SMP. Sebenarnya orang tua Kania melarang dia bekerja paruh waktu dan hanya menyuruhnya belajar dan sekolah supaya dia bisa menjadi orang sukses di masa depannya. Tapi, Kania melakukan hal itu ikhlas, karena ingin membantu ayah dan ibunya. Terlebih lagi, sebulan yang lalu dia mengetahui bahwa ibunya menderita kanker darah atau leukimia stadium lanjut, mau tak mau dia harus bekerja lebih giat untuk membantu ayahnya membiayai sekolah kedua adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang tidak murah.
            “Silahkan Ibu, Bapak, kuenya di coba,” kata Kania kepada Bapak dan Ibu yang sedang melintas di depannya. Tapi si Ibu dan Bapak itu hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi dari hadapan Kania. Kania hanya mengangguk tanda mengerti. Dia pun menawarkan kue yang ada di tangannya kembali kepada sepasang pemuda-pemudi seusianya karena mereka memakai seragam SMA. Mungkin mereka sepasang kekasih.
            “Sayang, kayaknya kuenya enak deh. Bentuknya juga lucu,” kata cewek cantik berambut sebahu manja.
            “Silahkan, kak, di cobain kuenya. Kuenya enak loh kak, silahkan coba kak,” kata Kania menawarkan kue yang ada di tangannya.
            “Ini gratis kan? Kuenya ada bentuk apa saja?,” tanya cewek cantik itu sambil mengambil salah satu kue minion rasa coklat.
            “Iya gratis kak. Karena ini hanya untuk sample, yang ada hanya bentuk minions saja, dan rasanya juga hanya ada keju, coklat, dan strawberry, tapi kalau kakak mau rasa dan bentuk lain yang lebih lucu, silahkan kakak lihat ke dalam. Di dalam ada rasa vanilla, anggur, durian juga ada kak,” kata Kania promosi.
            “Enak nih sayang, coba deh,” kata cewek itu sambil menyuapi cowok yang ada di sebelahnya. “Enak kan?” tanya cewek itu.
            “Iya enak,” jawab cowok tampan, berkulit putih dan rambut pendek ikal.
            “Ya sudah kita beli yuk, sekalian aku mau beliin untuk adikku, dia pasti senang banget. Mbak kita boleh masuk ke dalam kan untuk melihat-lihat bentuk dan rasa yang lain?” tanya cewek itu kepada Kania.
            “Ya boleh kak, silahkan masuk,” kata Kania sambil mempersilahkan sepasang kekasih itu masuk ke dalam toko kue tempat kerjanya. Tak lama setelah sepasang kekasih SMA itu masuk, banyak Bapak, Ibu bahkan anak kecil yang mencicipi sample yang ada di tangan Kania, dan satu persatu orang yang tadi mencicipi sample memasuki toko dan membeli semua kue yang ada di toko.
            Setelah sample yang ada di tangannya habis, Kania pun masuk ke toko itu dan berjalan menuju dapur untuk membantu chef Marwan. Memang, tugas Kania di toko kue ini selain jadi sales yang menawarkan sample kue di depan toko, dia juga bertugas sebagai asisten chef Marwan yang membantu Chef Marwan mengaduk tepung, menyiapkan bahan untuk adonan kue, maupun mencuci peralatan dapur yang kotor. Kegiatan ini biasa di lakukan Kania setiap hari, hanya satu  minggu sekali Kania terbebas dari rutinitasnya sebagai pekerja. Walaupun begitu, Kania tak merasa jenuh atau bosan, karena semua itu untuk keluarganya.
***
Seperti biasa, Kania pulang saat toko sudah tutup dan sampai rumah sekitar setengah sebelas malam. Di rumah, Kania biasa di sambut oleh ayahnya.
            “Assalamu alaikum,” sapa Kania sambil membuka pintu tapi tak ada jawaban dari siapa pun. “Hmmm… mungkin ayah sudah tidur,” lanjut Kania sambil mengunci pintu dan bergegas masuk kamar. Tapi saat ingin masuk kamar, Kania bertemu dengan ayahnya dari kamar.
            “Ka, sudah pulang?,” tanya ayah Kania.
            “Sudah Yah, Ibu, Andi, dan Aini sudah tidur Yah?” tanya Kania sambil mencium tangan ayahnya.
            “Sudah, tapi…” kata Ayahnya menggantung.
            “Tapi apa Yah?” tanya Kania penasaran.
            “Tadi siang, waktu ibumu kerja di tempat Bu Ani, Ibumu pingsan lagi. Tapi kamu enggak usah khawatir Ka, tadi waktu ibumu pingsan Bu Ani langsung bawa Ibu ke rumah sakit. Sekarang Ibu sudah tidur habis minum obat.”
            “Alhamdulillah kalau Ibu tidak apa-apa. Ayah, apakah Ibu bisa sembuh dari penyakitnya?,” tanya Kania sedih.
            “Insya Allah, Ibu akan sembuh Kania. Kita hanya perlu berusaha dan bertawakal kepada Allah. Ya sudah sekarang kamu istirahat, besok kan kamu harus sekolah,” kata Ayah Kania sambil mengelus rambut panjang anaknya. Kania hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Tanpa sepengetahuan Kania, Ayahnya menyimpan kesedihan yang amat dalam tentang penyakit istrinya itu.
***
            Hari ini adalah hari gajian Kania, untung saja hari ini dia bisa pulang lebih sore karena tukaran shif sama Nina, temannya. Kania pulang ke rumah dengan riang, gaji yang dia dapat hari ini jadi tambahan tabungan Kania untuk biaya sekolah adiknya dan biaya pengobatan ibunya.
            “Assallamu alaikum,” sapa Kania sambil membuka pintu. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika dia masuk, dia melihat Ibunya sudah terbaring di lantai. Rupanya Ibunya pingsan dan di rumah tidak ada siapa-siapa, kedua adiknya belum pulang karena mereka ada kegiatan ekstrakurikuler  di sekolahnya sedangkan Ayahnya masih bekerja berjualan somay.
            “Ibu, Ibu kenapa? Bangun Bu,” kata Kania panik sambil mengguncang-guncang tubuh Ibunya. Tetapi Ibunya belum juga bangun dari pingsannya, Kania pun berteriak meminta tolong, dan ternyata ada Andre yang kebetulan lewat depan rumahnya dan mendengar teriakan Kania. Andre pun buru-buru masuk ke dalam rumah Kania.
            “Ada apa Ka?” tanya Andre ketika melihat Kania sedang menangis di samping Ibunya.
            “Dre, tolong gue Dre, Ibu gue pingsan,” jawab Kania.
            “Ya sudah, yuk kita bawa Ibu elo ke rumah sakit,” kata Andre sambil menggendong tubuh Ibu Kania dan membawanya ke jalan besar. Sesampainya di sana Kania pun segera menyetop taksi pertama yang datang. Secepat kilat taksi itu berlari menuju rumah sakit.
            Sesampainya di rumah sakit, Ibunya segera di bawa ke ruang unit gawat darurat untuk di periksa. Tak lama kemudian Ayah dan kedua adiknya, Aini, dan Andi pun datang. Mereka pun menanyakan perihal keadaan Ibunya.
            “Ibumu kenapa Kania? Sekarang keadaanya gimana?” tanya Ayah Kania.
            “Ibu tadi pingsan Yah, aku sama Andre langsung bawa Ibu ke sini. Aku belum tau sekarang keadaan Ibu gimana, soalnya belum ada dokter dan suster yang keluar dari UGD” jawab Kania.
            “Tenang ya Pak Ramdan, Aini, Andi, Kania, mudah-mudahan saja Ibu Aisah tidak apa-apa. Sebaiknya kita berdoa supaya Ibu Aisah baik-baik saja,” kata Andre menenangkan. Kania hanya mengangguk. Sedangkan Ayah Ramdan larut dalam tangis yang dia tahan.
            Ya Allah, aku mohon kepada-Mu sembuhkan penyakit Ibuku. Aku ingin melihatnya bahagia ya Allah, batin Kania. Tak lama, dokter yang menangani Ibu Kania keluar dari ruang UGD.
            “Gimana keadaan istri saya dok?” tanya Ayah Kania.
            “Maaf, istri Bapak saat ini mengalami kritis. Kanker yang ibu Aisah derita sudah memasuki stadium akhir, karena sel kanker yang ada di tubuh istri bapak sudah menyebar ke seluruh tubuh. Istri Bapak harus segera menjalani operasi pecangkokan sumsum tulang belakang, kalau tidak kemungkinan hidup istri Bapak sangatlah kecil,” kata dokter yang mengani Ibunya Kania.
            “Jadi maksud dokter istri saya akan meninggal?”
            “Maafkan kami,” jawab dokter itu sedih.
            “Dokter, segera operasi Ibu saya dok. Saya bersedia jadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Ibu saya dok,” kata Kania.
            “Iya kalau begitu silahkan adik ikut saya untuk di periksa apakah sumsum tulang belakang adik cocok atau tidak dengan Ibu adik,” kata dokter sambil berlalu dari hadapan Ayah Ramdan, Kania, kedua adik Kania, dan Andre.
            “Kania, kamu…,” kata Ayah Kania terpotong.
            “Tenang saja Yah, aku akan baik-baik saja. Ini semua untuk kesembuhan Ibu. Doain aku sama Ibu ya Yah, supaya operasinya berjalan lancar dan Ibu bisa sembuh, soal biaya Kania yang bayar, soalnya tadi Kania baru gajian,” kata Kania meyakinkan Ayahnya sambil menggenggam tangan Ayahnya dan pergi dari hadapan Ayahnya.
            Setelah menjalani pemeriksaan, ternyata sumsum tulang belakang Kania cocok dengan sumsum tulang belakang Ibunya. Esok harinya Kania menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang  untuk Ibunya. Semua keluarga Kania cemas dengan operasi pecangkokan sumsum tulang belakang yang di jalani Kania. Ayah, Andre dan kedua adiknya menunggu dengan gelisah di luar kamar operasi.
            Ya Allah, selamatkanlah putri sulung dan istriku. Berilah kelancaran dalam menjalani operasi itu, ya Allah. Amin, itulah sepenggal doa yang di panjatkan Ayah Kania untuk putri sulung dan istrinya. Setelah tiga jam menunggu. Akhirnya dokter keluar dari kamar operasi.
            “Gimana keadaan istri dan anak saya dok?” tanya Ayah Kania.
            “Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, sekarang istri Bapak dalam masa pemulihan,” jawab dokter.
            “Alhamdulillah, boleh saya menemui istri dan anak saya?.”
            “Boleh, sebentar lagi istri dan anak Bapak akan di pindahkan ke kamar inap,” kata dokter. Tak lama kemudian Kania dan Ibunya keluar dari ruang operasi dan di pindahkan ke kamar inap. Sudah seminggu Kania dan Ibunya berada di rumah sakit, kata dokter Kania dan Ibunya bisa pulang esok harinya. Kania terlihat bahagia karena Ibunya sudah sembuh.
Terima kasih ya Allah telah menyembuhkan Ibuku dari penyakitnya, aku berjanji akan selalu menuruti nasihat kedua orang tuaku dan selalu menyayanginya. Aku melakukan apapun untuk mereka karena bagiku keluarga adalah segalanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar