Jumat, 18 April 2014

SI GARET PENYIKSA



Aku sudah mengenal rokok saat aku kelas satu SMP. Teman-temanku yang mengenalkan aku dengan tembakau itu. Awalnya aku hanya coba-coba, bahkan aku sampai terbatuk-batuk saat pertama kali menghisap rokok.
           “Gila, ini apaan? Nggak enak tau,” tanyaku sambil terbatuk-batuk.

          “Itu karena lo belum terbiasa, Bro. Coba sekali lagi dan nikmati setiap asap yang keluar dari mulut lo, lama-lama juga lo terbiasa,” kata Angga, sahabatku sambil menghisap kembali rokoknya.
            Aku menuruti semua perkataan Angga, dan menikmati setiap hisapan dari rokok itu. Tiba-tiba saja ada rasa tenang setiap kali aku menghisap rokok itu, akhirnya aku mulai terbiasa dengan si garet itu. Awalnya aku merokok hanya di kala sedang stres atau bersama teman-temanku saja. Lama kelamaan rokok sudah menjadi kebutuhan pokok hidupku. Aku bisa sehari tanpa makan, tapi tidak akan sanggup tanpa merokok.
            Setiap hari aku bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Tapi kalau aku sedang stres dan banyak pikiran, aku bisa merokok sampai dua bungkus. Entah mengapa aku jadi kecanduan merokok, sehari saja tanpa rokok ada rasa kehilangan dalam diriku.
            “Ya ampun Dri, kenapa kamu menghabiskan rokok sebanyak itu? Rokok itu nggak baik untuk kesehatan kamu. Ibu sudah siapkan kamu makanan, kamu makan malam dulu dan berhentilah merokok, Nak,” nasihat Ibu ketika melihatku sudah menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari.
            “Sudah Ibu tenang saja, aku nggak akan kenapa-kenapa kok. Lihatlah aku baik-baik saja kan? Justru dengan merokok aku merasa lebih sehat dan segar,” bantahku setiap kali Ibu menasehatiku tentang bahaya merokok.
            “Mungkin kamu tidak merasakannya sekarang, Nak. Tapi nanti kamu akan merasakannya, jadi berhentilah merokok sebelum terjadi sesuatu di dalam tubuh kamu,” nasihat Ayahku. Aku hanya tersenyum mendengar nasihat Ibu dan Ayah, aku juga tidak begitu peduli dengan nasihat itu. Yang aku tau, kondisiku sekarang baik-baik saja.
***
Sudah lima tahun aku menjadi perokok aktif, selama itu juga aku tidak mengalami hal-hal aneh di tubuhku. Tapi selama dua minggu terakhir ini ada sesuatu yang aneh di tenggorokanku. Awalnya aku kira aku hanya mengalami gejala panas dalam. Tapi entah mengapa sudah hampir memasuki satu bulan ini, aku masih merasa sakit di tenggorokanku saat menelan makanan, serta ketika aku batuk, batuk itu mengeluarkan darah dan aku juga merasa ada benjolan aneh di daerah leherku yang semakin lama semakin membesar. Berat badanku juga semakin turun, aku juga sering mengeluarkan bunyi melengking saat bernapas, dan juga sering mengalami sakit pada bagian telinga. Hal ini membuat orang tuaku semakin khawatir dengan keadaanku dan akhirnya aku diketahui menderita sakit kanker tenggorokan stadium lanjut.
            Di sinilah aku sekarang, disebuah ruangan serba putih dengan alat-alat kedokteran yang menempel pada tubuhku. Sudah hampir setahun aku berada di rumah sakit. Aku sekarang sudah seperti Zombigaret, ya aku sudah tidak berdaya. Aku sudah menjadi zombie akibat si garet itu. Aku juga sudah tidak bisa bekerja seperti dulu, uang tabunganku yang hanya tersisa sedikit sudah habis untuk biaya rumah sakit dan kemoterapi.
            Sejak aku di vonis dokter mengidap kanker tenggorokan, aku sudah tidak menyentuh si garet itu lagi. Awalnya aku berat melepaskan si garet, tapi ketika aku melihat wajah Ibuku yang begitu sedih melihat keadaanku, aku jadi merasa bersalah. Aku menyesal karena aku tidak mendengarkan nasihat Ibuku, karena si garet pula aku menjadi Zombigaret seperti ini.
            “Maafkan aku Ayah, Ibu, aku menyesal. Dariawal aku tidak pernah mendengarkan nasihat Ayah dan Ibu. Andai saja aku mendengarkan nasehatmu, aku tidak akan seperti ini. Maafkan aku, Ayah, Ibu. Maaf.”
            Ibu menangis dipelukan Ayah mendengar penyesalanku. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, penyesalan tidak ada gunanya. Sekarang aku sudah menjadi Zombigaret dan aku hanya berharap aku bisa sembuh dari penyakit ini, tapi kalau tidak aku hanya bisa pasrah. Penyesalan selalu datang diakhir cerita. Setelah semuanya terjadi, kita tidak bisa kembali ketempat semula untuk mengubahnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar