Aku sudah mengenal rokok saat aku kelas satu SMP.
Teman-temanku yang mengenalkan aku dengan tembakau itu. Awalnya aku hanya
coba-coba, bahkan aku sampai terbatuk-batuk saat pertama kali menghisap rokok.
“Gila, ini apaan? Nggak enak tau,” tanyaku sambil terbatuk-batuk.
“Itu karena lo belum terbiasa, Bro.
Coba sekali lagi dan nikmati setiap asap yang keluar dari mulut lo, lama-lama
juga lo terbiasa,” kata Angga, sahabatku sambil menghisap kembali rokoknya.
Aku menuruti semua perkataan Angga, dan menikmati setiap hisapan dari rokok
itu. Tiba-tiba saja ada rasa tenang setiap kali aku menghisap rokok itu,
akhirnya aku mulai terbiasa dengan si garet itu. Awalnya aku merokok hanya di
kala sedang stres atau bersama teman-temanku saja. Lama kelamaan rokok sudah
menjadi kebutuhan pokok hidupku. Aku bisa sehari tanpa makan, tapi tidak akan
sanggup tanpa merokok.
Setiap hari aku bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Tapi kalau aku sedang
stres dan banyak pikiran, aku bisa merokok sampai dua bungkus. Entah mengapa
aku jadi kecanduan merokok, sehari saja tanpa rokok ada rasa kehilangan dalam
diriku.
“Ya ampun Dri, kenapa kamu menghabiskan rokok sebanyak itu? Rokok itu nggak
baik untuk kesehatan kamu. Ibu sudah siapkan kamu makanan, kamu makan malam
dulu dan berhentilah merokok, Nak,” nasihat Ibu ketika melihatku sudah
menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari.
“Sudah Ibu tenang saja, aku nggak akan kenapa-kenapa kok. Lihatlah aku baik-baik
saja kan? Justru dengan merokok aku merasa lebih sehat dan segar,” bantahku setiap
kali Ibu menasehatiku tentang bahaya merokok.
“Mungkin kamu tidak merasakannya sekarang, Nak. Tapi nanti kamu akan
merasakannya, jadi berhentilah merokok sebelum terjadi sesuatu di dalam tubuh
kamu,” nasihat Ayahku. Aku hanya tersenyum mendengar nasihat Ibu dan Ayah, aku
juga tidak begitu peduli dengan nasihat itu. Yang aku tau, kondisiku sekarang
baik-baik saja.
***
Sudah lima tahun aku menjadi perokok aktif, selama itu juga
aku tidak mengalami hal-hal aneh di tubuhku. Tapi selama dua minggu terakhir
ini ada sesuatu yang aneh di tenggorokanku. Awalnya aku kira aku hanya
mengalami gejala panas dalam. Tapi entah mengapa sudah hampir memasuki satu
bulan ini, aku masih merasa sakit di tenggorokanku saat menelan makanan, serta
ketika aku batuk, batuk itu mengeluarkan darah dan aku juga merasa ada benjolan
aneh di daerah leherku yang semakin lama semakin membesar. Berat badanku juga
semakin turun, aku juga sering mengeluarkan bunyi melengking saat bernapas, dan
juga sering mengalami sakit pada bagian telinga. Hal ini membuat orang tuaku
semakin khawatir dengan keadaanku dan akhirnya aku diketahui menderita sakit
kanker tenggorokan stadium lanjut.
Di sinilah aku sekarang, disebuah ruangan serba putih dengan alat-alat
kedokteran yang menempel pada tubuhku. Sudah hampir setahun aku berada di rumah
sakit. Aku sekarang sudah seperti Zombigaret, ya aku sudah tidak berdaya. Aku
sudah menjadi zombie akibat si garet itu. Aku juga sudah tidak bisa bekerja
seperti dulu, uang tabunganku yang hanya tersisa sedikit sudah habis untuk
biaya rumah sakit dan kemoterapi.
Sejak aku di
vonis dokter mengidap kanker tenggorokan, aku sudah tidak menyentuh si garet
itu lagi. Awalnya aku berat melepaskan si garet, tapi ketika aku melihat wajah
Ibuku yang begitu sedih melihat keadaanku, aku jadi merasa bersalah. Aku
menyesal karena aku tidak mendengarkan nasihat Ibuku, karena si garet pula aku
menjadi Zombigaret seperti ini.
“Maafkan aku
Ayah, Ibu, aku menyesal. Dariawal aku tidak pernah mendengarkan nasihat Ayah
dan Ibu. Andai saja aku mendengarkan nasehatmu, aku tidak akan seperti ini.
Maafkan aku, Ayah, Ibu. Maaf.”
Ibu menangis dipelukan Ayah
mendengar penyesalanku. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, penyesalan tidak ada
gunanya. Sekarang aku sudah menjadi Zombigaret dan aku hanya berharap aku bisa
sembuh dari penyakit ini, tapi kalau tidak aku hanya bisa pasrah. Penyesalan
selalu datang diakhir cerita. Setelah semuanya terjadi, kita tidak bisa kembali
ketempat semula untuk mengubahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar