Selasa, 18 Maret 2014

LOVE IN VENICE

Love In Venice

Para Penulis
Ardini N Wijaya, Desy Sundaryanti, Dkk

Penerbit
Sembilan Mutiara Publishing Trenggalek
Email : sembilanmutiara@ymail.com
Web: www.sembilanmutiara.com
Hp: 081 335 865 671

 

Daftar Isi :
1. Nama Hanyalah Sebuah Panggilan 1| 2. Tolong Jangan Saat Ini 7 | 3. Sepatu-sepatu Berbeda 15 | 4. Pesan Eliana 21 | 5. Si Pencabut Rambut Putih 27 | 6. Love In Venice 33 | 7. A Pussy War 45 | 8. Awan Pertamaku 51 | 9. Nasib Mujur Seorang Buta 55 | 10. Karena Arjuna 57 | 11. Amiiin 69 | 12. Sepatu Roda Sang Dianella 81 | 13. The Plitvice Path 93 | 14. Manik-manik Cinta 103 | 15. Petualangan Di Luar Angkasa 113 | 16. Di balik Teropong Klasik 121 | 17. Lighthouse 129 | 18. Amazing Of Kangean 135 | 19. Sosok Hitam 147 | 20. Ini Tentang Cinta 155 | 21. Kereta Api Maut 163

Halo teman-teman semuanya, aku mau cerita sedikit nih. Beberapa bulan yang lalu aku ikut lomba menulis cerpen tentang cerita unik dunia yang diadakan penerbit "SEMBILAN MUTIARA PUBLISHING" dan aku jadi salah satu kontributor buku kumpulan cerpen yang berjudul "LOVE IN VENICE" dan di atas adalah foto buku kumpulan cerpen itu. awalnya kau senang karena cerpenku jadi judul buku kumpulan cerpen itu yaitu "Love In Venice" tapi sayang di cover buku itu penulisan namaku salah.
 
Dan hari ini aku mau share cerpenku yang ada di dalam buku itu.. dan asli original karyaku sendiri, kalau ada orang yang ngaku-ngaku itu cerpen dia, aku akan kasih bukti blog ini dan email yang aku kirim ke penerbit itu. Judul cerpen yang aku buat 'LOVE IN VENICE'.

 Happy Reading..


Seorang gadis manis terlihat sedang duduk di ruang tunggu penerbangan Internasional bandara Soekarno-Hatta. Dia menunggu pesawat yang akan membawanya menuju kota Venesia, Italia. Memang, gadis itu akan pergi ke salah satu kota cantik yang ada di benua Eropa untuk meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Berkat kecerdasannya, dia merupakan salah satu siswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa kuliah di Venesia, tepatnya di Universitas Venesia.
            Setelah menunggu setengah jam akhirnya pesawat yang akan mengantarkannya ke kota Venesia pun datang. Dengan sigap, dia melangkah menuju bagian pemeriksaan. Dia pun mengantre untuk melakukan pemeriksaan kelengkapan passport, visa, tiket, dan dokumen penting lainnya. Saat dia sedang mengantre, tiba-tiba saja ada seorang cowok bertubuh tinggi dan berkulit putih menyerobot antreannya.
            “Gak sopan banget sih, main serobot aja. Maaf mas, saya duluan yang ngantre di sini jangan main serobot aja,” kata gadis itu. Tapi owok yang ada di depannya hanya diam
            Karena cowok itu hanya diam saja, gadis itu pun berpikir bahwa cowok yang di depannya itu bukan orang Indonesia. Akhirnya dia pun berbicara dengan bahasa Inggris. “I’m sorry Sir, can you speak English?”
            “Apaan sih elo, jangan sok-sokan pakai bahasa Inggris. Gue tadi dengar elo ngomong…..,” kata cowok itu terpotong karena dia kaget melihat siapa yang ada di depannya saat ini.
            “Elo? Ngapain elo ada di sini? Kalau elo bisa bahasa Indonesia, berarti elo ngerti kan apa yang tadi gue bilang? Dan elo juga bisa baca kan tulisan yang ada di sana?” kata gadis itu sambil menunjuk papan pengumuman yang bertuliskan “Harap Mengantre”.
            “Gue ada di sini karena gue mau ke Venesia lah, gue dapat beasiswa untuk kuliah di sana. Iya, gue bisa baca. Tapi kan ini Indonesia yang orang-orangnya paling gak suka sama hal-hal yang menunggu lama, apalagi mengantre. Elo sendiri ngapain di sini?” kata cowok itu beralasan.
“Elo dapat beasiswa kuliah di Venesia? Hahaha… gue gak percaya, cowok pemalas kayak elo dapat beasiswa kuliah ke Venesia,” kata gadis itu tak percaya.
“Terserah elo deh mau percaya atau enggak. Elo sendiri mau pergi ke mana, sampai elo ada di sini?”
“Iya gue mau ke Venesia lah, gue juga dapat beasiswa kuliah di Universitas Venesia. Gue harap, gue enggak akan sekampus sama cowok nyebelin kayak elo.”
Cowok itu tersenyum licik. “Sayang, harapan elo gak di kabulin, gue juga akan kuliah di universitas Venesia. Kayaknya gue akan lebih sering ngerjain elo di sana.”
Seketika mata gadis itu membulat, tanda tak percaya. “Mudah-mudahan gue hanya mimpi bisa sekampus sama elo.”
“Lihat aja nanti,” kata cowok itu. Gadis itu hanya diam sambil mendengus kesal terhadap apa yang dikatakan cowok itu tadi, dia memilih untuk tidak memperpanjang debatnya dengan cowok itu. Akhirnya pemeriksaan pun selesai dan dia bisa segera naik ke dalam pesawat. Di dalam pesawat gadis itu memilih duduk di dekat jendela pesawat sesuai denga nomor bangku yang ada di tiket. Tak lama kemudian datang cowok yang tadi menyerobot antreannya.
“Yah, kenapa sih gue duduk sama cewek aneh kaya elo?” gerutu cowok itu.
“Ih, siapa juga yang mau duduk dekat elo,” kata gadis itu sinis. Cowok itu pun duduk di samping gadis itu. Tak lama kemudian pesawat pun mulai berjalan, dan ketika ada guncangan kecil karena pesawat akan segera take off, tanpa sadar gadis itu memegang tangan cowok yang duduk di sampingnya erat banget sambil berdoa supaya tidak terjadi apa-apa.
“Segitu aja takut. Elo baru pertama kali ya naik pesawat sampai megang tangan gue kencang banget kayak gini?” kata cowok itu.
“Eh, sory gue gak sengaja. Iya, gue emang baru naik pesawat, makanya pas tadi mau take off gue takut terjadi apa-apa,” kata gadis itu sambil mengambil brosur universitas Venesia yang ada di tasnya.
***
Keisha Aisah adalah nama lengkap gadis itu. Keisha adalah gadis manis, baik, cantik, supel, dan juga pintar. Karena kepintarannya itu dia mendapatkan beasiswa kuliah di universitas Venesia, Italy. Dia adalah salah satu murid paling beruntung mendapatkan beasiswa itu. Hobi Keisha itu fotography, banyak sekali koleksi fotonya ketika dia berkunjung ke berbagai kota.
Farel Anugrah adalah nama cowok yang selalu bertengkar dengan Keisha. Sebenarnya Farel ini sosok cowok yang baik, ganteng, supel, dan juga pintar. Tapi entah kenapa kalau udah ketemu sama Keisha, dia jadi sosok cowok yang super nyebelin bagi Keisha. Farel dianggap musuh bebuyutan Keisha sejak SMP, dan mungkin sampai kuliah, kalau mereka kuliah di kampus yang sama di universitas Venesia.
***
Setelah 18 jam lebih 10 menit perjalanan yang harus mereka tempuh untuk menuju kota Venesia. Sekitar jam 14.10 waktu Venesia, pesawat pun mendarat dengan lancar di bandara Venice Marco Polo, kota Venesia. Para penumpang pun segera turun dari pesawat, termasuk Keisha dan Farel. Setelah melewati bagian pemeriksaan agar tidak ada barang yang tertinggal, Keisha dan Farel pun keluar dari airport. Tak lama Keisha keluar dari airport, handphone Keisha pun berbunyi.
“Assallamu alaikum, Kei. Gimana elo udah sampai di Venesia?” kata Kaliza, sepupu Keisha yang tinggal di Venesia.
“Waalaikum salam, Kal. Iya gue udah nyampe di bandara Marco Polo nih, elo ada di mana?” jawab Keisha.
“Oh, Alhamdulillah kalau udah sampai mah. Elo tungu di sana sebentar ya, sebentar lagi gue jemput elo disana, oke?”
“Iya, gue tunggu, tapi jangan lama-lama,” kata Keisha.
“Oke. Assallamu alaikum,” kata Kaliza.
“Waalaikum salam,” jawab Keisha. Telepon pun terputus. Sambil menunggu Kaliza menjemputnya, Keisha pun mengabadikan keindahan kota Venesia di luar bandara dengan kamera Canon miliknya.
“Kei, elo belum di jemput? Kalau belum, elo bareng gue aja ya. Kebetulan gue udah di jemput sama saudara gue,” tanya Farel.
“Enggak usah deh, sepupu gue juga sebentar lagi datang jemput gue,” jawab Keisha sambil melihat foto yang sudah diabadikannya. Tak lama kemudian, datang sebuah mobil berhenti di depannya. Seorang gadis seumuran Keisha pun keluar dari mobil itu.
“Keisha, gue kangen banget sama elo,” kata Kaliza berlari memeluk Keisha.
“Iya, udah tiga tahun lebih kita gak ketemu. Elo makin cantik aja, Kal,” kata Keisha membalas pelukan Kaliza.
“Ah, bisa aja. Elo juga tambah cantik Kei, ya udah kita pulang yuk. Elo pasti capek karena hampir seharian duduk di pesawat terus,” ajak Kaliza sambil menggamit lengan Keisha, hendak mengajaknya masuk mobil. Tapi langkahnya terhenti karena melihat Farel. “Kei, bukannya dia Farel musuh bebuyutan elo semenjak SMP, ngapain dia ada di sini?” bisik Kaliza.
“Katanya sih, dia juga kuliah di sini tapi gak tau benar, gak tau enggak,” jawab Keisha sinis.
“Elo Kaliza kan, sepupunya Keisha? Udah lama ya enggak ketemu, jadi pangling lihatnya. Elo apa kabar?” tanya Farel.
“Alhamdulillah baik, elo sendiri apa kabar? Kata Keisha elo kuliah di sini juga ya?”
“Alhamdulillah baik. Iya gue juga keterima di universitas Venesia, sama kayak Keisha,” jawab Farel.
“Universitas Venesia? Gue juga kuliah di sana. Asyik kita bisa sama-sama lagi kayak waktu SMP. By the way elo sama Keisha udah baikan nih?”
“Enggak, ngapain gue baikan sama orang nyebelin kayak dia. Ih, amit-amit,” jawab Keisha sinis.
“Ih, siapa juga yang mau baikan sama cewek aneh kaya elo? Gue juga gak sudi baikan sama elo. Kal, gue duluan ya, kasihan saudara gue udah nunggu daritadi,” kata Farel sambil berlalu dari hadapan Keisha dan Kaliza menghampiri saudaranya.
“Ya udah, kita juga pulang yuk Kei,” ajak Kaliza. Keisha hanya mengangguk dan berjalan menuju mobil Kaliza.
***
Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari bandara menuju rumah Kaliza, Keisha tak henti-hentinya mengabadikan keindahan kota Venesia dengan kameranya.
“Gila, ini kota benar-benar cantik banget ya. Pantas aja elo betah tinggal di sini,” kata Keisha.
“Ini mah belum seberapa Kei, besok elo lihat deh di sekeliling universitas Venesia jauh lebih indah dari ini. By the way, elo sama Farel kok sekolahnya sama terus ya?”
“Gak tau ah, gue sih enggak percaya kalau dia juga kuliah di universitas Venesia, secara dia itu anak nakal dan pemalas.”
“Eh, jangan salah loh, anak nakal dan pemalas kayak dia itu bukan berarti dia bodoh loh. Kan banyak tuh yang waktu masih sekolahnya nakal, sekarang jadi orang sukses.”
“Iya, sih. Tapi gue udah bosen dari SMP sampai sekarang kuliah sama dia terus.”
“Kenapa sih, elo gak baikan aja sama dia? Emangnya elo berdua enggak capek berantem terus kayak Tom and Jerry?”
“Capek sih, tapi gak tau kenapa setiap ngeliat dia, gue bawaannya kesal mulu. Dia juga sih bikin gara-gara mulu sama gue.”
“Iya-iya, tapi elo jangan nyesel ya kalau suatu saat nanti elo jatuh cinta sama dia. By the way besok kita berangkat ke kampusnya bareng yuk, tapi naik gondola. Elo belum pernah kan naik gondola?”
“Jatuh cinta sama cowok rese itu? Gak mungkin. Ya iyalah elo harus berangkat bareng sama gue, gue kan belum tau daerah sini. Naik gondola? Kayaknya seru tuh. Gue gak sabar cepat-cepat besok,” kata Keisha riang.
***
Venesia memang salah satu kota cantik yang ada di benua Eropa. Tak heran, jika orang-orang seluruh dunia mendaftarkan kota ini sebagai salah satu kota yang wajib di kunjungi jika mereka berlibur ke Italia. Kota Venesia ini banyak sekali bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya kota itu.
Keesokkan paginya, Kaliza dan Keisha berangkat ke kampus dengan menggunakan gondola. Memang untuk menuju universitas Venesia ini harus menggunakan gondola, atau taksi air karena tidak adanya kendaraan bermotor untuk menuju universitas Venesia. Sepanjang perjalanan menuju kampus, tak hentinya Keisha melihat pemandangan yang menakjubkan di sekeliling sungai yang di lewati mereka. Mulai dari bangunan-bangunan yang unik dan memiliki nilai sejarah yang tinggi sampai sungainya dengan air yang mengalir jernih. Universitas Venesia (Bahasa Italia: Università Ca' Foscari Venezia) merupakan sebuah perguruan tinggi yang berada di kota Venesia, Italia Utara. Universitas ini berdiri pada tahun 1868 sebagai sekolah bisnis pertama di Italia. Bangunan utama universitas ini terletak di tempat yang strategis dekat Grand Canal, di jantung kota. Saat ini, Universitas Venesia menawarkan 4 bidang pendidikan dan kegiatan penelitian, yaitu: ekonomi, bahasa, ilmu pengetahuan alam dan humaniora.
“Wah,benar kata elo Kal. Di sini jauh lebih indah di banding yang gue lihat kemarin. Sungainya juga jernih banget, beda banget sama sungai di Indonesia yang air kotor dan keruh. Walaupun ada beberapa sungai di Indonesia yang airnya masih jernih juga sih, tapi jauh banget dibanding sungai di sini,” komen Keisha takjub.
“Benar kata elo, Kei. Di Indonesia kebanyakan warganya sering buang sampah di sungai sih, makanya air sungai di Indonesia jadi kotor, padahal sungai juga bermanfaat loh buat warga Indonesia. Sayangnya saudara-saudara kita yang di sana masih kurang paham tentang fungsi sungai,” kata Kaliza. Keisha hanya mengangguk sambil mengabadikan keindahan kota Venesia.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di jalan menuju universitas Venesia, mereka pun turun dari gondola dan berjalan beberapa kilometer menuju kampus. Sekitar 15 menit Kaliza dan Keisha berjalan menuju kampus, mereka pun sampai di gerbang kampus yang memiliki arsitektur dan seni yang sangat penting seperti : sebuah ruangan dengan lantai gantungan abad ke-15 dan dihiasi atap abad ke-16, sebuah ruangan dengan plesteran kerja abad ke-16 oleh patung Venetian Alessandro Vittoria ( 1525-1608 ), sebuah aula besar yang dirancang oleh arsitek Venetian Carlo Scarpa (1906-1978) , dengan dua mural oleh Mario Sironi dan Mario de Luigi. Antara 2004 dan 2006, Ca' Foscari menjalani program pemulihan, yang dianugerahi Premio Torta pada tahun 2007.
Welcome to my university, semoga elo betah ya jadi mahasiswa di sini sampai lulus,” kata Kaliza.
“Harus dong Kal, Insya Allah gue lulus dari universitas ini,” kata  Keisha.
“Ya udah masuk yuk, nanti di dalam gue jelasin seluk beluk kampus ini,” kata Kaliza. Mereka pun memasuki gedung kampus.
***
Sudah hampir enam bulan, Keisha berada di kota Venesia dan kuliah di universitas Venesia. Keisha pun sudah akrab dan mendapatkan banyak teman di kampusnya. Tapi ada lima orang teman yang paling dekat dengannya yaitu Kimberly dari Paris, Nagasawa dari Jepang, Indra dan Lina dari Indonesia, Antonio dari Inggris, dan tentu saja Kaliza yang menjadi sahabat dan sepupu Keisha. Memang, orang yang kuliah di universitas Venesia ini bukan hanya orang lokal dari Venesia atau Italia, tapi orang-orang dari negara lain juga berminat kuliah di sini. Maklum universita Venesia merupakan universitas paling terkenal di kota Venesia ini.
Berbeda dengan hubungan Keisha dan kelima sahabat barunya yang makin dekat, hubungan Keisha dan Farel agak sedikit berbeda. Dulu, saat masih SMP dan SMA mereka yang setiap hari saling bertengkar ataupun saling jahil-jahilan, kali ini tidak ada lagi hal itu. Mungkin karena kesibukan mereka yang sangat padat, dan jarang bertemu membuat sifat jahil mereka perlahan menurun. Tapi di balik semua itu, ada sebersit rasa aneh di hati keduanya. Entah kangen atau apa, hanya Keisha, Farel dan Allah yang tau.
“Cie.. yang udah baikan sama Farel, perasaan selama elo di sini elo sama Farel kok gak berantem lagi ya. Ada yang aneh,” goda Kaliza.
“Apaan sih elo? Gue berantem sama Farel di ceramahin suruh baikan. Sekarang gue gak berantem lagi sama Farel, elo malah bingung dan ngerasa aneh. Bagus dong, kalau gue gak berantem lagi sama dia? Lagian gue udah capek,” kata Keisha sambil terus memperhatikan buku yang di bacanya.
“Iya juga sih, tapi bagus deh pertahanin ya.”
“Siap, by the way besok kan libur. Jalan-jalan yuk,” kata Keisha.
“Boleh, besok gue bakalan ajak elo ke bangunan yang punyanilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi di sini,” kata Kaliza. Keisha hanya mengangguk.
***
Keesokkan harinya Kaliza mengajak Keisha ke Katedral St. Maria yang berada di Pulau Torcello (sekitar satu jam dari Venesia). Untuk sampai di Pulau Torcello Keisha dan Kaliza  harus beberapa kali berganti bus air di Pulau Murano. Di pulau kecil yang dijuluki sebagai pulau kaca ini kami bisa melihat proses pembuatan kaca hias oleh ahlinya secara langsung. Setibanya Kaliza dan Keisha di lokasi Katedral St. Maria, Keisha dan Kaliza melihat bagian interior yang mengagumkan dengan seni kerajinan mozaik yang membentuk lukisan pada beberapa dinding gereja.
Setelah mengunjungi Katedral St. Maria, Kaliza dan Keisha pun melanjutkan jalan-jalannya ke salah satu maskot Venesia yaitu Gereja Basilica San Marco. Gereja berasitektur Bizantium ini dijuluki sebagai Chiesa d’Oro atau gereja emas karena kubahnya yang didominasi lapisan emas, sebagai simbol status kekayaan dan kekuasaan Venesia pada abad ke-11.
Tepat di sebelah kanan Basilica San Marco terdapat Palazzo Ducale atau istana dari penguasa tertinggi Venesia zaman dahulu. Istana yang dijadikan pusat pemerintahan ini dibangun sekitar tahun 1340. Namun sejak tahun 1923 Palazzo Ducale dibuka sebagai museum untuk umum. Terdapat dua pintu masuk yaitu Porta della Carta sebagai pintu masuk utama sebelah barat dan Porta del Fruminto sebelah selatan yang kini menjadi pintu masuk bagi pengunjung museum. Bangunan Palazzo Ducale terdiri dari beberapa tingkatan. Pada tingkatan Basement terdapat penjara untuk para tahanan, penjara ini juga dihubungkan oleh Bridge of Sighs dengan ruang interogasi Palazzo Ducale. Jembatan ini dinamakan Bridge of Sighs karena disinilah tahanan melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum memasuki ruang tahanan yang gelap.
Ruangan yang menarik lainnya adalah Sala del Collegio. Disini merupakan ruang tunggu duta besar yang hendak bertemu dengan Duke. Ruangan ini tampak sangat luas dengan dekorasi yang terkesan mewah. Pada dinding terpampang lukisan-lukisan untuk menunjukkan kejayaan dan kekuatan Venesia pada masa tersebut.
Kolaborasi seni dan sejarah Venesia tidak perlu diragukan lagi. Gallerie dell`Accademia misalnya adalah salah satu galeri lukisan terbaik di Eropa. Disini dapat ditemui karya-karya pelukis ternama seperti Bellini, Titian, Veronese ataupun Tintoretto. Terdapat sekitar ratusan lukisan yang menggambarkan sejarah perjalanan seni Venesia dari abad ke-14 hingga 18.
Jalan-jalan Keisha dan Kaliza pun berakhir di Caffe Florian yang satu lokasi dengan tempat kerumunan burung. Ada live musik yang dimainkan oleh pemusik lokal saat itu. Permainan alat musik yang sungguh apik, terdiri dari piano, flute, biola, dan accordion. Tak jarang pengunjung berdansa di depan kafe atau sekadar melihat dari dekat. Keisha dan Kaliza pun duduk tak jauh dari panggung musik, Kaliza dan Keisha pun memesan dua Pizza Florian dan dua Coffee Latte. Tak jauh dari tempat mereka duduk, mereka melihat ada seorang cowok yang mereka kenal yaitu Farel bersama seorang perempuan bule.
“Kei, itu bukannya Farel ya? Tapi sama siap tuh, kayak cewek bule gitu?” kata Kaliza.
“Iya, biarin lah dia mau sama bule atau pacarnya sekalipun, enggak ada hubungannya sama kita. Cuekin aja,” kata Keisha santai.
***
Di kamar, entah kenapa Keisha teringat Farel dan cewek bulenya itu. Entah mengapa saat dia melihat Farel bersama cewek bule itu ada perasaan dia enggak rela kalau Farel dekat dengan cewek lain, padahal yang dia tau selama ini dia benci banget sama Farel. Atau dia cemburu melihat kedekatan Farel dan cewek bule itu? Entahlah.
***
Entah mengapa selama satu bulan ini Farel selalu bersikap manis setiap Keisha bertemu dengannya, tak jarang Farel selalu memberikan senyumnya kepada Keisha. Hal itu membuat perasaan Keisha semakin tak menentu, ada perasaan senang dan heran melihat tingkah laku Farel itu.
“Hai, Kei. Nanti pulang bareng yuk. Ada sesuatu yang mau gue tunjukin sama elo,” kata Farel beberapa hari kemudian.
“Elo kenapa sih akhir-akhir ini selalu bersikap manis sama gue? Elo mau ngerjain gue lagi ya, setelah sekian lama elo gak ngerjain gue?” tanya Keisha curiga.
“Ya, ampun Kei, elo negative thinking mulu sama gue. Oke, gue minta maaf atas semua kesalahan yang gue lakuin sama elo semenjak SMP. Gue tulus mau baikan sama elo Kei, gue capek berantem terus sama elo,” kata Farel.
“Seorang Farel tulus minta maaf sama gue? Gue gak percaya. Tapi gue terima pemintaan maaf dari elo.”
Thanks ya Kei, udah maafin gue. Tapi entar elo gak boleh nolak ajakan gue, kalau elo nolak ajakan gue, elo bakalan nyesel. Sampai ketemu nanti sore ya, Kei,” kata Farel sambil berlalu pergi.
***


Sore harinya Keisha pun pulang bareng Farel, mereka pun pulang memakai gondola yang merupakan alat transportasi di kota Venesia. Venesia memang selalu identik dengan Gondola. Gondola merupakan sebuah perahu khas Venesia yang dapat disewa oleh turis untuk mengelilingi kota Venesia. Sebagai tambahan, para turis juga dapat meminta sang driver untuk menyanyikan lagu ketika kalian berada di atas gondola. Sekarang Keisha dan Farel sedang duduk manis berdampingan di gondola.
“Kei, gue boleh ngomong sesuatu enggak sama elo?” tanya Farel.
“Ya boleh lah, emang elo mau bilang apa?”
Sesaat Farel menghela napas panjang, hatinya benar-benar tak menentu saat ini. “Sebenarnya aku suka sama kamu, Kei. Sikap nyebelin aku selama ini, itu hanya untuk menutupi perasaan aku sama kamu. Maafin aku ya, selama ini aku udah nyebelin banget sama kamu. Kalau gak kayak gitu, aku gak mungkin bisa dekat sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?” tanya Farel sambil menggenggam tangan Keisha.
“Farel, gue udah maafin lo kok. Maafin gue  juga ya, kalau sikap gue nyebelin. Tapi kenapa lo nembak gue? Bukannya lo udah punya pacar ya?” jawab dan tanya Keisha.
“Pacar? Kan kamu tau kalau aku udah lama ngejomblo dan semenjak aku putus sama Diana, aku emang dekat sama cewek tapi itu hanya sebatas teman,” jelas Farel sambil mengerutkan keningnya.
“Terus cewek bule yang gue lihat sebulan yang lalu di Caffe Florian dan  setiap hari lo berangkat dan pulang bareng lo. siapa?”
Farel hanya tertawa. “Lo malah ketawa sih? Gue serius nanya juga,” kata Keisha cemberut.
“Oh itu? Dia itu sepupu aku namanya Charlotte dan aku juga tinggal sama dia karena keluarga dia adalah satu-satunya saudara aku di sini. Ya mau gak mau aku selalu berangkat dan pulang bareng sama dia. Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Farel dengan senyuman jahilnya.
“Eh, ngapain gue cemburu sama dia? Lagian gue bukan siapa-siapa lo, terus emang dia gak apa-apa kalau lo pulang bareng sama gue?”
“Ya gak apa-apa, lagian aku udah cerita sama dia tentang perasaan aku sama kamu. Dan dia adalah orang pertama yang setuju kalau aku jadian sama kamu. Malahan dia yang nyuruh aku untuk nembak kamu,” kata Farel tersenyum manis.
Senyuman manis Farel membuat Keisha terpesona, apalagi tatapan mata Farel yang menembus manik matanya membuat pipi Keisha merona. “Jadi gimana kamu mau kan terima cinta aku?” tanya Farel lagi.
Sesaat Keisha terdiam, dia tidak tau kenapa mulutnya tidak bisa bergerak saat mata Farel masih menatapnya. Tatapan mata itu berhasil membuat Keisha membeku.
“Hai Kei, kok malah bengong sih? Terus kenapa lagi pipi kamu itu tambah merah?”
Mendengar pertanyaan Farel membuat Keisha makin salah tingkah. Ah gue malu banget sekarang, pasti muka gue udah kayak tomat busuk nih. Ah.. Kaliza tolongin gue, batin Keisha.
“Eh, gu… gue gak apa-apa kok,” kata Keisha gugup tak berani menatap Farel dan memandang ke arah lain. Melihat Keisha yang semakin salah tingkah membuat Farel tersenyum geli.
“Kamu lucu banget sih Kei, kalau kamu kayak gini aku makin gemes sama kamu,” kata Farel sambil mencubit pipi Keisha.
“Ah, Farel sakit tau,” rintih Keisha tanpa mengalihkan pandangannya kearah Farel, dia yakin mukanya masih kayak tomat busuk.
“Uh, sakit ya? Maaf ya Kei. Oh iya, ngeliat kamu kayak gini kayaknya kamu gak usah jawab apa-apa deh karena aku tau jawabannya,” kata Farel.
“Emang apa jawabannya?” tanya Keisha sambil mengalihkan pandangannya ke arah Farel.
Farel tersenyum. “Kamu juga sayang sama aku kan? Dan itu berarti kamu mau jadi pacar aku.”
“Sok tau,” kata Keisha mencibir.
“Kalau kamu gak punya perasaan sama aku, kenapa tadi muka kamu merah saat aku tatap mata kamu? Dan kamu malah melihat ke arah lain. Kalau kamu gak punya perasaan sama aku, harusnya kamu berani tatap mata aku sambil bilang ‘Farel aku gak suka sama kamu’ tapi kamu malah salah tingkah kayak gitu,” jelas Farel.
“Eh, gue.. gue emang gak suka sama lo. Gue gak lihat lo soalnya gue mau lihat pemandangan di sekitar sini. Bagus-bagus ya? Gue kagum sama bangunan di sini,” kata Keisha sambil menatap sekeliling.
Farel tersenyum dan menarik Keisha ke dalam pelukannya. Sesaat tubuh Keisha menegang karena perlakuan tiba-tiba Farel. Karena perlakuan itupun kepala Keisha membentur pelan dada bidang Farel. Perlahan Farel membelai lembut rambut Keisha dan mencim puncak kepala Keisha.
“Udah kamu gak usah ngeles lagi sama aku. Aku senang banget, kamu mau terima cinta aku. Aku janji, aku gak akan nyakitin kamu. Makasih ya Kei, I love you my princess,” bisik Farel.
Tiba-tiba saja ada perasaan hangat yang menjalar di tubuh Keisha saat mendengar perkataan Farel dan Keisha pun mempererat pelukan Farel. “Sama-sama. Farel, lihat deh matahari udah mulai terbenam tuh. Indah banget ya,” kata Keisha sambil menunjuk kearah matahari yang terbenam itu.
“Iya, Kei. Makanya aku ngajak kamu pulang bareng, aku mau tunjukin itu ke kamu,” kata Farel.
“Farel, makasih banget ya. Ini adalah kado istimewa di hari jadian kita, i love you Farel,” kata Keisha.
Farel mencium kembali puncak kepala Keisha, di bawah matahari terbenam dan di atas gondola itu menjadi saksi cinta Farel dan Keisha. Di kota Venesia yang indah ini adalah tempat menyatunya dua insan yang dulu saling bermusuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar