Rabu, 12 Maret 2014

IBU TERHEBAT


Seorang wanita paruh baya terlihat sedang mengayuh becak miliknya. Pekerjaan yang identik dengan kaum lelaki ini dia kerjakan untuk membiayai sekolah dan pengobatan anaknya. Wanita itu bernama Ibu Sulastri. Ibu Sulastri merupakan istri dari Bapak Iman yang bekerja menjadi seorang tukang becak tetapi karena lima bulan lalu Bapak Iman mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua kakinya harus di amputasi dan tidak bisa menarik becak lagi, Ibu Sulastri yang menggantikan tugas Bapak Iman sebagai tukang becak. Anak sulungnya bernama Nani yang masih bersekolah di SD Pelita Putri kelas VI, anak keduanya bernama Indra yang masih duduk di bangku kelas III SD, sedangkan yang bungsu bernama Ani yang masih duduk di bangku kelas I SD. Selain menjadi tukang becak, setiap sore Ibu Sulastri bekerja menjadi buruh cuci dan menyetrika. Sebenarnya Bapak Iman melarang Ibu Sulastri untuk menjadi seorang tukang becak karena Bapak Iman takut istrinya sakit akibat kelelahan bekerja serta mengurus Bapak Iman dan anak-anaknya. Ibu Sulastri pun juga tidak tega meninggalkan suaminya sendirian di rumah dalam keadaan seperti itu, tetapi Ibu Sulastri terpaksa melakukan hal itu karena pendapatannya sebagai buruh cuci dan menyetrika saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Apalagi dua bulan terakhir ini Ani, anak bungsunya sering batuk-batuk yang di sertai muntah darah.
            Setiap pukul 7 pagi setelah menyiapkan sarapan untuk suami dan ketiga anaknya, Ibu Sulastri sudah keluar dari rumahnya dengan mengayuh becak yang setiap hari menemaninya mencari sesuap nasi. Setiap hari Ibu Sulastri terus mengayuh becaknya tanpa kenal lelah untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Memang, Ibu Sulastri tidak mematok harga bagi penumpang yang naik becaknya. Uang berapa pun yang di berikan oleh penumpangnya dia terima dengan rasa syukur.
            “Bu, tolong antar saya ke pasar ya,” kata seorang Ibu, pelanggan pertama Ibu Sulastri hari ini setelah beberapa meter keluar dari rumahnya.
            “Baik Bu, silahkan naik,” kata Ibu Sulastri dengan senyuman. Ibu yang menjadi penumpangnya pun naik ke becak Ibu Sulastri. Setelah Ibu itu  naik, Ibu Sulasri segera mengayuh becaknya.
Jarak dari depan gang rumah Ibu Sulastri menuju pasar cukup jauh. Melewati beberapa tanjakan yang membuat Ibu Sulastri berusaha lebih keras mengayuh becaknya. Walaupun begitu Ibu Sulastri tidak pernah mengeluh melakukan hal itu. Setelah setengah jam Ibu Sulastri mengayuh becaknya, akhirnya mereka sampai ke pasar yang di tuju pelanggan pertamanya itu.
“Udah sampai Bu,” kata Ibu Sulastri sambil turun dari sadel becaknya. Ibu itu hanya mengangguk dan turun dari becak Ibu Sulastri.
“Berapa Bu?” tanya Ibu itu sambil mengambil beberapa lembar uang dari tasnya.
“Berapa aja Bu, saya tidak pernah mematok harga takutnya kemahalan. Terserah Ibu aja,” jawab Ibu Sulastri.
“Loh kok berapa aja. Nanti saya kasih dikit Ibu juga yang rugi, kan jarak dari pasar dan tempat tadi kan lumayan jauh,” kata Ibu itu.
“Enggak apa-apa Bu, berapa pun uang yang Ibu kasih saya berterima kasih. Saya yakin Allah akan kasih rezeki lagi untuk saya hari ini,” kata Bu Sulastri.
“Ibu baik banget. Saya salut sama Ibu, Ibu mau melakukan pekerjaan jadi tukang becak. Padahal jarang loh ada tukang becak perempuan, kan rata-rata tukang becak itu laki-laki. Lagian pekerjaan jadi tukang becak itu berat banget, apalagi pas lewati tanjakan tadi. Ibu pasti lelah, tapi saya tidak mendengar Ibu mengeluh.”
“Yah saya melakukan ini demi keluarga saya Bu. Ini semua udah jadi takdir dan jalan hidup saya. Kalau saya tidak menjadi tukang becak, darimana saya bisa makan dan membiayai pengobatan dan sekolah anak saya.”
“Maaf Bu, memangnya anak Ibu sakit apa? Dan suami Ibu kemana? Harusnya kan suami Ibu yang bekerja.”
“Kedua kaki suami saya di amputasi sehingga dia tidak bisa bekerja sebagai tukang becak lagi, karena kecelakaan waktu sedang menarik becak ini. Waktu itu ketika suami saya sedang mengendarai becak ini, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melintas dan menabrak Bapak. Dan karena kecelakaan itu becak yang dikendarai Bapak rusak dan selama sebulan saya tidak bisa menggantikan Bapak sebagai tukang becak, padahal waktu itu saya butuh uang untuk biaya rumah sakit dan operasi amputasi Bapak,” cerita Bu Sulastri.
“Ya Allah, terus gimana keadaan suami Ibu?” tanya Ibu itu.
“Alhamdulillah orang yang menabrak Bapak mau bertanggung jawab membiayai semua pengobatan Bapak dan kondisi Bapak sekarang sudah membaik. Tapi sekarang anak saya yang bungsu, Ani sakit. Dia sering batuk-batuk dan terkadang muntah darah.”
“Batuk-batuk terus sama muntah darah Bu? Yang saya tau ya kalau batuk-batuk terus apalagi sampai muntah darah itu gejala kanker paru-paru Bu. Anak Ibu udah dibawa ke dokter?”
“Gejala kanker paru-paru? Saya belum bawa Ani ke dokter, lagian Ani itu orangnya susah diajak ke dokter.”
“Iya yang saya tau gitu, soalnya saudara saya pernah menderita penyakit kanker paru-paru. Tapi untuk lebih jelasnya, Ibu bawa anak Ibu ke dokter, biar bisa di tangani oleh ahlinya. Daritadi kita ngobrol terus, sampai lupa saya mau belanja. Saya masuk ke pasar dulu ya Bu. Ini uangnya, makasih udah mau antar saya ke pasar,” kata Ibu itu sambil memberikan uang lima puluh ribu selembar.
“Oh iya, maaf juga saya jadi curhat ke Ibu. Terima kasih atas sarannya Bu, tapi maaf Bu, jumlah uangnya terlalu besar dan saya tidak ada kembaliannya, kan saya baru keluar,” kata Ibu Sulastri ingin mengembalikan uang itu tapi di tolak.
“Udah gak usah di kembalian Bu, kan tadi Ibu juga yang bilang berapapun yang saya kasih Ibu terima, iya kan? Anggap aja ini rezeki untuk Ibu dan keluarga Ibu hari ini.”
“Alhamdulillah, terima kasih ya Bu,” kata Ibu Sulastri sambil menyalami tangan Ibu pelanggan pertamanya yang baik hati.
“Iya. Sama-sama,” kata Ibu itu sambil berlalu masuk ke dalam pasar. Sedangkan Ibu Sulastri kembali mengayuh becaknya untuk menjemput pelanggan-pelanggannya yang lain.
***
Hari sudah menjelang sore hari, Ibu Sulastri segera pulang untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain yaitu menjadi buruh cuci dan menyetrika.
“Assallamu alaikum,” sapa Ibu Sulastri lalu masuk ke dalam rumahnya tetapi tak ada satu pun orang yang menjawab.
“Bapak, Ani, Ibu pulang Pak. Pada kemana ya kok gak ada orang? Bapak juga gak ada. Nani, Ani dan Indra juga gak ada kemana ya mereka?” gumam Ibu Sulastri sambil terus mencari suami dan anak-anaknya.
Ibu Sulastri terus mencari dan memanggil anaknya. Di kamar tidur, kamar mandi, dapur sampai halaman belakang rumah, Ibu Sulastri cari tapi tak ada Bapak dan anak-anaknya. Tak lama Nani dan Indra datang yang ternyata mereka baru pulang sekolah.
“Assallamu alaikum,” sapa Nani dan Indra.
Mendengar sapaan Nani dan Indra, Ibu Sulastri segera menghampiri kedua anaknya itu. “Waalaikum salam. Nani, Indra kalian baru pulang? Kalian lihat Bapak dan Ani gak?”
“Iya Bu, tadi kami ada pelajaran tambahan. Gak ngelihat Bu, emang Bapak sama Ani kemana?” jawab Nani sambil mencium tangan Ibunya.
“Ibu juga gak tau Nan, tadi pas Ibu pulang mereka udah gak ada.”
“Ibu udah cari di kamar, di halaman belakang rumah atau Ani dan Bapak lagi ke rumah Pak Andi?” tanya Indra.
“Ibu udah cari ke kamar, kamar mandi sama halaman belakang rumah tapi gak ada Dri. Kamu itu ada-ada lagian ngapain Bapak ke rumah Pak Andi?”
“Ya udah gini aja, kita tanya sama tetangga atau ke rumah Pak Andi, siapa tau aja mereka ngeliat Bapak sama Ani,” saran Nina.
“Ya udah, yuk. Ibu kunci dulu,” kata Ibu Sulastri. Tapi ketika Ibu Sulastri hendak mengunci pintu, mereka bertemnu dengan Ibu Andi.
“Assallamu alaikum, Bu Sulastri,” kata seseorang yang ternyata Bu Andi.
“Waalaikum salam, kebetulan Ibu datang ke sini. Tadinya saya , Nina dan Indra mau ke rumah Ibu. Oh iya apakah Bapak dan Ani ada di rumah Ibu? Tadi saya baru pulang habis narik becak, tapi Bapak dan Ani sudah tidak ada,” kata Ibu Sulastri to the point.
“Itu juga yang akan saya bicarakan Bu, tadi Bapak Andi telepon kalau Bapak Iman dan Ani ada di rumah sakit,” kata Ibu Andi.
“Di rumah sakit? Emangnya ada apa sama Bapak dan Ani Bu?” tanya Ibu Sulastri.
“Lebih baik kita ke rumah sakit aja, nanti di jalan saya jelasin semuanya,” kata Ibu Andi.
“Ya udah yuk.” Mereka pun pergi ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit, Ibu Sulastri, Nina, Indra, dan Ibu Andi segera mencari keberadaan Bapak Iman, dan Ani. Setelah bertanya kepada suster rumah sakit, mereka pun segera menemui Bapak Iman, Ani dan Pak Andi.
“Pak sebenarnya apa yang terjadi Pak?” tanya Ibu Sulastri kepada Bapak Iman.
“Tadi tiba-tiba Ani pingsan, untungnya tadi ada Pak Andi di rumah. Langsung aja Bapak sama Pak Andi bawa Ani ke sini,” jelas Bapak Iman.
“Lalu gimana keadaan Ani Pak?” tanya Nina.
“Belum tau Nin, dokternya belum keluar,” jawab Pak Iman. Tak lama kemudian dokter yang merawat Ani keluar dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan anak saya dokter?” tanya Ibu Sulastri.
“Anak Ibu menderita kanker paru-paru stadium lanjut. saya sarankan anak Ibu untuk menjalani kemoterapi,” kata dokter itu dan berlalu pergi.
“Memang tidak ada jalan lain dok, selain kemoterapi?” tanya Pak Iman.
“Bisa saja operasi tapi kemungkinannya sangatlah kecil, ya jalan satu-satunya itu anak Ibu harus menjalani kemoterapi. Maaf saya permisi dulu,” kata dokter sambil berlalu pergi.
“Gimana Bu, biaya kemoterapi pasti mahal,” kata Pak Iman.
“Kebetulan Ibu punya sedikit simpanan, kita pakai aja itu dulu Pak. Sisanya nanti Ibu akan bekerja lebih giat lagi.”
“Ibu kalau boleh Nina bisa bantu jualan gorengan Bu, buat nambah-nambah biaya kemoterapi Ani,” kata Nina.
“Jangan Nin, kamu sama Indra focus aja sama sekolah kalian. Lagian sebentar lagi kamu ujian nasional, Ibu takut konsentrasimu terganggu. Biar Ibu saja yang mencari uang untuk biaya pengobatan adik dan sekolah kalian,” kata Ibu Sulastri.
“Maafin Bapak, Bu. Harusnya Bapak yang bekerja, bukannya Ibu,” kata Pak Iman.
“Enggak apa-apa Pak, Ibu melakukan semua ikhlas Pak. Lagian ini juga buat keluarga kita,” kata Ibu Sulastri.
***
Sudah seminggu Ani menjalani kemoterapi. Ibu Sulastri juga lebih telaten dalam merawat Ani. Karena kata dokter, pasien kemoterapi harus memperhatikan kebersihan diri. Ward untuk menjaga sirkulasi udara, UV didesinfeksi sekali sehari, disemprot dengan desinfektan dan menghapus tanah. Ibu Sulastri pun lebih giat menarik becaknya, semua itu dia lakukan untuk keluarganya.
Inilah bukti kasih sayang seorang Ibu terhadap keluarga dan anak-anaknya. Walaupun dia lelah karena seharian bekerja, tetapi dia masih bisa memperhatikan anak dan suaminya.
Nina menatap Ibunya penuh haru, “Terima kasih Ibu, engkau memang ibu terhebat yang pernah aku punya. Ibu, you are my everything.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar