Seorang wanita paruh baya terlihat
sedang mengayuh becak miliknya. Pekerjaan yang identik dengan kaum lelaki ini
dia kerjakan untuk membiayai sekolah dan pengobatan anaknya. Wanita itu bernama
Ibu Sulastri. Ibu Sulastri merupakan istri dari Bapak Iman yang bekerja menjadi
seorang tukang becak tetapi karena lima bulan lalu Bapak Iman mengalami
kecelakaan yang mengakibatkan kedua kakinya harus di amputasi dan tidak bisa
menarik becak lagi, Ibu Sulastri yang menggantikan tugas Bapak Iman sebagai
tukang becak. Anak sulungnya bernama Nani yang masih bersekolah di SD Pelita
Putri kelas VI, anak keduanya bernama Indra yang masih duduk di bangku kelas
III SD, sedangkan yang bungsu bernama Ani yang masih duduk di bangku kelas I
SD. Selain menjadi tukang becak, setiap sore Ibu Sulastri bekerja menjadi buruh
cuci dan menyetrika. Sebenarnya Bapak Iman melarang Ibu Sulastri untuk menjadi
seorang tukang becak karena Bapak Iman takut istrinya sakit akibat kelelahan
bekerja serta mengurus Bapak Iman dan anak-anaknya. Ibu Sulastri pun juga tidak
tega meninggalkan suaminya sendirian di rumah dalam keadaan seperti itu, tetapi
Ibu Sulastri terpaksa melakukan hal itu karena pendapatannya sebagai buruh cuci
dan menyetrika saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
keluarganya. Apalagi dua bulan terakhir ini Ani, anak bungsunya sering
batuk-batuk yang di sertai muntah darah.
Setiap
pukul 7 pagi setelah menyiapkan sarapan untuk suami dan ketiga anaknya, Ibu
Sulastri sudah keluar dari rumahnya dengan mengayuh becak yang setiap hari
menemaninya mencari sesuap nasi. Setiap hari Ibu Sulastri terus mengayuh
becaknya tanpa kenal lelah untuk memberi jasanya kepada orang yang naik
becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan
uang sekedarnya. Memang, Ibu Sulastri tidak mematok harga bagi penumpang yang
naik becaknya. Uang berapa pun yang di berikan oleh penumpangnya dia terima
dengan rasa syukur.
“Bu,
tolong antar saya ke pasar ya,” kata seorang Ibu, pelanggan pertama Ibu
Sulastri hari ini setelah beberapa meter keluar dari rumahnya.
“Baik
Bu, silahkan naik,” kata Ibu Sulastri dengan senyuman. Ibu yang menjadi
penumpangnya pun naik ke becak Ibu Sulastri. Setelah Ibu itu naik, Ibu Sulasri segera mengayuh becaknya.
Jarak dari depan gang rumah
Ibu Sulastri menuju pasar cukup jauh. Melewati beberapa tanjakan yang membuat
Ibu Sulastri berusaha lebih keras mengayuh becaknya. Walaupun begitu Ibu
Sulastri tidak pernah mengeluh melakukan hal itu. Setelah setengah jam Ibu
Sulastri mengayuh becaknya, akhirnya mereka sampai ke pasar yang di tuju
pelanggan pertamanya itu.
“Udah sampai Bu,” kata
Ibu Sulastri sambil turun dari sadel becaknya. Ibu itu hanya mengangguk dan
turun dari becak Ibu Sulastri.
“Berapa Bu?” tanya Ibu
itu sambil mengambil beberapa lembar uang dari tasnya.
“Berapa aja Bu, saya
tidak pernah mematok harga takutnya kemahalan. Terserah Ibu aja,” jawab Ibu
Sulastri.
“Loh kok berapa aja.
Nanti saya kasih dikit Ibu juga yang rugi, kan jarak dari pasar dan tempat tadi
kan lumayan jauh,” kata Ibu itu.
“Enggak apa-apa Bu,
berapa pun uang yang Ibu kasih saya berterima kasih. Saya yakin Allah akan kasih
rezeki lagi untuk saya hari ini,” kata Bu Sulastri.
“Ibu baik banget. Saya
salut sama Ibu, Ibu mau melakukan pekerjaan jadi tukang becak. Padahal jarang
loh ada tukang becak perempuan, kan rata-rata tukang becak itu laki-laki.
Lagian pekerjaan jadi tukang becak itu berat banget, apalagi pas lewati
tanjakan tadi. Ibu pasti lelah, tapi saya tidak mendengar Ibu mengeluh.”
“Yah saya melakukan ini
demi keluarga saya Bu. Ini semua udah jadi takdir dan jalan hidup saya. Kalau
saya tidak menjadi tukang becak, darimana saya bisa makan dan membiayai
pengobatan dan sekolah anak saya.”
“Maaf Bu, memangnya
anak Ibu sakit apa? Dan suami Ibu kemana? Harusnya kan suami Ibu yang bekerja.”
“Kedua kaki suami saya
di amputasi sehingga dia tidak bisa bekerja sebagai tukang becak lagi, karena
kecelakaan waktu sedang menarik becak ini. Waktu itu ketika suami saya sedang
mengendarai becak ini, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melintas dan menabrak
Bapak. Dan karena kecelakaan itu becak yang dikendarai Bapak rusak dan selama
sebulan saya tidak bisa menggantikan Bapak sebagai tukang becak, padahal waktu
itu saya butuh uang untuk biaya rumah sakit dan operasi amputasi Bapak,” cerita
Bu Sulastri.
“Ya Allah, terus gimana
keadaan suami Ibu?” tanya Ibu itu.
“Alhamdulillah orang
yang menabrak Bapak mau bertanggung jawab membiayai semua pengobatan Bapak dan
kondisi Bapak sekarang sudah membaik. Tapi sekarang anak saya yang bungsu, Ani
sakit. Dia sering batuk-batuk dan terkadang muntah darah.”
“Batuk-batuk terus sama
muntah darah Bu? Yang saya tau ya kalau batuk-batuk terus apalagi sampai muntah
darah itu gejala kanker paru-paru Bu. Anak Ibu udah dibawa ke dokter?”
“Gejala kanker
paru-paru? Saya belum bawa Ani ke dokter, lagian Ani itu orangnya susah diajak
ke dokter.”
“Iya yang saya tau
gitu, soalnya saudara saya pernah menderita penyakit kanker paru-paru. Tapi
untuk lebih jelasnya, Ibu bawa anak Ibu ke dokter, biar bisa di tangani oleh
ahlinya. Daritadi kita ngobrol terus, sampai lupa saya mau belanja. Saya masuk
ke pasar dulu ya Bu. Ini uangnya, makasih udah mau antar saya ke pasar,” kata
Ibu itu sambil memberikan uang lima puluh ribu selembar.
“Oh iya, maaf juga saya
jadi curhat ke Ibu. Terima kasih atas sarannya Bu, tapi maaf Bu, jumlah uangnya
terlalu besar dan saya tidak ada kembaliannya, kan saya baru keluar,” kata Ibu
Sulastri ingin mengembalikan uang itu tapi di tolak.
“Udah gak usah di
kembalian Bu, kan tadi Ibu juga yang bilang berapapun yang saya kasih Ibu
terima, iya kan? Anggap aja ini rezeki untuk Ibu dan keluarga Ibu hari ini.”
“Alhamdulillah, terima
kasih ya Bu,” kata Ibu Sulastri sambil menyalami tangan Ibu pelanggan pertamanya
yang baik hati.
“Iya. Sama-sama,” kata
Ibu itu sambil berlalu masuk ke dalam pasar. Sedangkan Ibu Sulastri kembali
mengayuh becaknya untuk menjemput pelanggan-pelanggannya yang lain.
***
Hari sudah menjelang
sore hari, Ibu Sulastri segera pulang untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain
yaitu menjadi buruh cuci dan menyetrika.
“Assallamu alaikum,”
sapa Ibu Sulastri lalu masuk ke dalam rumahnya tetapi tak ada satu pun orang
yang menjawab.
“Bapak, Ani, Ibu pulang
Pak. Pada kemana ya kok gak ada orang? Bapak juga gak ada. Nani, Ani dan Indra
juga gak ada kemana ya mereka?” gumam Ibu Sulastri sambil terus mencari suami
dan anak-anaknya.
Ibu Sulastri terus
mencari dan memanggil anaknya. Di kamar tidur, kamar mandi, dapur sampai
halaman belakang rumah, Ibu Sulastri cari tapi tak ada Bapak dan anak-anaknya.
Tak lama Nani dan Indra datang yang ternyata mereka baru pulang sekolah.
“Assallamu alaikum,”
sapa Nani dan Indra.
Mendengar sapaan Nani
dan Indra, Ibu Sulastri segera menghampiri kedua anaknya itu. “Waalaikum salam.
Nani, Indra kalian baru pulang? Kalian lihat Bapak dan Ani gak?”
“Iya Bu, tadi kami ada
pelajaran tambahan. Gak ngelihat Bu, emang Bapak sama Ani kemana?” jawab Nani
sambil mencium tangan Ibunya.
“Ibu juga gak tau Nan,
tadi pas Ibu pulang mereka udah gak ada.”
“Ibu udah cari di
kamar, di halaman belakang rumah atau Ani dan Bapak lagi ke rumah Pak Andi?”
tanya Indra.
“Ibu udah cari ke
kamar, kamar mandi sama halaman belakang rumah tapi gak ada Dri. Kamu itu
ada-ada lagian ngapain Bapak ke rumah Pak Andi?”
“Ya udah gini aja, kita
tanya sama tetangga atau ke rumah Pak Andi, siapa tau aja mereka ngeliat Bapak
sama Ani,” saran Nina.
“Ya udah, yuk. Ibu
kunci dulu,” kata Ibu Sulastri. Tapi ketika Ibu Sulastri hendak mengunci pintu,
mereka bertemnu dengan Ibu Andi.
“Assallamu alaikum, Bu
Sulastri,” kata seseorang yang ternyata Bu Andi.
“Waalaikum salam,
kebetulan Ibu datang ke sini. Tadinya saya , Nina dan Indra mau ke rumah Ibu.
Oh iya apakah Bapak dan Ani ada di rumah Ibu? Tadi saya baru pulang habis narik
becak, tapi Bapak dan Ani sudah tidak ada,” kata Ibu Sulastri to the point.
“Itu juga yang akan
saya bicarakan Bu, tadi Bapak Andi telepon kalau Bapak Iman dan Ani ada di
rumah sakit,” kata Ibu Andi.
“Di rumah sakit?
Emangnya ada apa sama Bapak dan Ani Bu?” tanya Ibu Sulastri.
“Lebih baik kita ke
rumah sakit aja, nanti di jalan saya jelasin semuanya,” kata Ibu Andi.
“Ya udah yuk.” Mereka
pun pergi ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah
sakit, Ibu Sulastri, Nina, Indra, dan Ibu Andi segera mencari keberadaan Bapak
Iman, dan Ani. Setelah bertanya kepada suster rumah sakit, mereka pun segera
menemui Bapak Iman, Ani dan Pak Andi.
“Pak sebenarnya apa
yang terjadi Pak?” tanya Ibu Sulastri kepada Bapak Iman.
“Tadi tiba-tiba Ani
pingsan, untungnya tadi ada Pak Andi di rumah. Langsung aja Bapak sama Pak Andi
bawa Ani ke sini,” jelas Bapak Iman.
“Lalu gimana keadaan
Ani Pak?” tanya Nina.
“Belum tau Nin,
dokternya belum keluar,” jawab Pak Iman. Tak lama kemudian dokter yang merawat
Ani keluar dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan anak
saya dokter?” tanya Ibu Sulastri.
“Anak Ibu menderita
kanker paru-paru stadium lanjut. saya sarankan anak Ibu untuk menjalani
kemoterapi,” kata dokter itu dan berlalu pergi.
“Memang tidak ada jalan
lain dok, selain kemoterapi?” tanya Pak Iman.
“Bisa saja operasi tapi
kemungkinannya sangatlah kecil, ya jalan satu-satunya itu anak Ibu harus
menjalani kemoterapi. Maaf saya permisi dulu,” kata dokter sambil berlalu
pergi.
“Gimana Bu, biaya
kemoterapi pasti mahal,” kata Pak Iman.
“Kebetulan Ibu punya
sedikit simpanan, kita pakai aja itu dulu Pak. Sisanya nanti Ibu akan bekerja
lebih giat lagi.”
“Ibu kalau boleh Nina
bisa bantu jualan gorengan Bu, buat nambah-nambah biaya kemoterapi Ani,” kata
Nina.
“Jangan Nin, kamu sama
Indra focus aja sama sekolah kalian. Lagian sebentar lagi kamu ujian nasional,
Ibu takut konsentrasimu terganggu. Biar Ibu saja yang mencari uang untuk biaya
pengobatan adik dan sekolah kalian,” kata Ibu Sulastri.
“Maafin Bapak, Bu.
Harusnya Bapak yang bekerja, bukannya Ibu,” kata Pak Iman.
“Enggak apa-apa Pak,
Ibu melakukan semua ikhlas Pak. Lagian ini juga buat keluarga kita,” kata Ibu
Sulastri.
***
Sudah seminggu Ani
menjalani kemoterapi. Ibu Sulastri juga lebih telaten dalam merawat Ani. Karena
kata dokter, pasien kemoterapi harus memperhatikan kebersihan diri. Ward untuk
menjaga sirkulasi udara, UV didesinfeksi sekali sehari, disemprot dengan
desinfektan dan menghapus tanah. Ibu Sulastri pun lebih giat menarik becaknya,
semua itu dia lakukan untuk keluarganya.
Inilah bukti kasih
sayang seorang Ibu terhadap keluarga dan anak-anaknya. Walaupun dia lelah
karena seharian bekerja, tetapi dia masih bisa memperhatikan anak dan suaminya.
Nina menatap Ibunya
penuh haru, “Terima kasih Ibu, engkau memang ibu terhebat yang pernah aku punya.
Ibu, you are my everything.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar