Terlihat seekor kucing
berwarna abu-abu dengan bulu lebat, Louis yang masih nyaman tertidur berbantalkan
kaki tuannya yang tampan seperti dirinya. Harus diakui tak sepenuhnya
ketampanan Louis itu sama seperti tuannya, Deva Mahenra, seorang aktor
multitalenta yang ramah, baik, dan murah senyum.
Justru ketampanan kucing itu
menunjukan sifat jutek dan angkuh. Meskipun ketampanan kucing itu memberikan
kesan menyebalkan, tetapi Louis tetap merupakan seekor kucing Persia yang lucu
dan menggemaskan dengan hidung peseknya.
"Louis bangun," ucap Deva
mengguncang-guncangkan kakinya kearah Louis yang masih setia menjadikan kakinya
sebagai bantal.
Merasa terganggu, dengan masih mengantuk Louis mengangkat
kepalanya lalu merenggangkan badan dan berjalan kearah tangan kanan Deva yang
sudah duduk dipinggir kasur dan kembali merebahkan kepalanya di atas punggung tangan
Deva.
Deva menggelengkan kepalanya melihat kelakuan manja kucingnya.
"Louis sejak kapan kamu menjadi kucing manja seperti
ini?" tanya Deva heran melihat sikap kucingnya yang biasanya sombong dan
tidak mau bermanja-manja dengannya harus menjadi kucing manja hanya karena
mengantuk.
Sementara Louis tetap memejamkan mata di punggung tangan Deva yang
hangat dan membuatnya nyaman.
"Ah sudahlah, aku harus mandi dan siap-siap
beraktivitas lagi."
Perlahan Deva menarik punggung tangannya yang menjadi bantalan
Louis. Setelah berhasil menarik tangannya, Deva mengelus-ngelus kepala Louis
yang membuat Louis kembali tertidur dengan nyaman.
Setelah tiga puluh menit bersiap-siap termasuk mandi,
sarapan, dan menyiapkan makan untuk Louis. Saat ini Deva sudah siap untuk
beraktivitas memakai baju kasualnya, kaos berlengan panjang berwarna abu-abu,
celana bahan berwarna krem serta sebuah jam tangan dengan tali hitam dan sebuah
gelang hitam yang menghiasi tangan kirinya.
Deva memakai sepatu kets putihnya,
dan sebuah tas yang sudah ada dipunggungnya siap-siap melangkah keluar unit apartemennya.
"Louis aku berangkat ya, makananmu sudah aku siapkan di tempat biasa.
Assallamualaikum," ucap Deva setelah membuka pintu unit apartemennya lalu
keluar berjalan menuju mobilnya yang terparkir di lantai bawah.
Louis sudah
terbangun saat Deva sudah selesai mandi, tapi dia hanya guling-guling di kasur
Deva yang empuk, tidak berniat untuk meninggalkan tempat nyaman itu.
Setelah
mendengar suara pintu tertutup, Louis melompat dari kasur Deva lalu menuju
dapur untuk memakan makanan yang sudah Deva siapkan seperti biasa.
***
Tidak jauh dari gedung apartemen
yang Deva tempati, seorang gadis berambut panjang bergelombang pada bagian
ujungnya dengan topi berwarna pink yang menutupi sebagian rambut indahnya. Pakaian kasual, jaket bahan berwana sama dengan topinya yang menutupi kaos
berwarna hijau sebagai dalamannya serta celana jeans dan sepatu kets berwarna
biru yang terbalut santai menutupi tubuh indahnya terlihat berjalan memasuki gedung
apartemen.
Kalian pasti bertanya darimana gadis itu bisa mengetahui tempat
tinggal Deva? Sama seperti fans seorang pengagum rahasia atau screet admirer yang sudah bertahun-tahun
mengagumi seseorang, pasti akan mencari tau apa saja tentang sosok orang yang
dia kagumi.
Oh bukan, gadis itu bukan hanya mengagumi Mister Galileo -sebutan
gadis itu untuk Deva- tetapi gadis itu mencintainya. Tapi gadis itu bukan
seorang penguntit ya.
Dia melangkah menuju sebuah lift yang tidak jauh dari
pintu kaca gedung apartemen. Setelah menekan tombol tanda panah keatas yang
berada di dinding kanan lift, pintu lift terbuka. Gadis itu melangkah memasuki
ruangan kecil itu bersama satu orang yang juga ingin menuju unit apartemennya
dilantai atas dan dia tidak menyadari bahwa seorang pemuda yang sudah lama
gadis itu kagumi dan cintai tanpa berani dia mengungkapkan perasaannya saat ini
keluar dari lift dan melewatinya begitu saja. Setelah menekan tombol angka 4
yang berada di dinding kanan lift, gadis itu menghembuskan napasnya perlahan
berusaha mengontrol jantungnya yang saat ini berdetak cepat.
"Ya ampun, kenapa jantungku berdetak begitu cepat?
Padahal aku sama sekali belum bertemu dengan kak Deva," gumam gadis itu
sangat pelan karena dia takut seorang pria paruh baya yang ada disampingnya
mendengarkan ucapannya. Lift yang dia tempati begitu sepi hanya ada dia dan
seorang paruh baya yang berdiri di samping kanannya.
TING
Pintu lift terbuka. Sang gadis melangkahkan kakinya untuk
keluar dari lift yang beberapa menit lalu menemaninya. Dia melangkah menelusuri
lorong gedung apartemen untuk menuju unit apartemen yang Deva tempati. Setelah
beberapa menit melangkah, sang gadis sudah berada di depan pintu unit apartemen
berwarna hitam, berbeda dengan warna pintu unit apartemen lain yang ada di
gedung apartemen ini. Gadis itu yakin bahwa pintu yang ada dihadapannya ini
merupakan pintu unit apartemen Deva karena warna cat pada pintu ini merupakan
salah satu warna favorit Deva. Gadis itu menghirup napas dalam-dalam untuk
menghilangkan rasa gugupnya dan mengontol detak jantungnya yang lagi-lagi
berdetak cepat. Entah kenapa setiap kali memikirkan Deva, jantung gadis ini
berdebar begitu cepat. Apakah dia mempunyai serangan jantung? Oh tentu tidak.
Jika dia mempunyai serangan jantung, dia pasti sekarang akan berada di rumah
sakit bukan di depan pintu unit apartemen Deva.
Gadis itu perlahan menghembuskan napasnya. Setelah merasa
tenang dan jantung berdetak dengan normal dibanding beberapa detik lalu, gadis
itu mengetuk pintu hitam itu dengan harapan Deva belum pergi menjalankan
aktivitasnya yang super padat.
TOK
TOK
TOK
Sudah tiga kali dia
mengetuk pintu hitam itu tetapi tidak ada jawaban. Dia menundukan kepalanya dan
menghembuskan napas kecewa menyadari pemuda yang dicintainya sudah pergi dari
unit apartemen itu. Tanpa sengaja matanya menatap gagang pintu, tanpa dia
sadari dia meraih dan memutar gagang pintu itu.
CEKLEK
"Tidak
dikunci," gumam gadis itu. Mata indahnya membulat ketika tiba-tiba saja
pikiran buruk melintas dikepala cantiknya tentang Deva. Dengan ragu dia membuka
pintu hitam itu. "Apakah tidak apa-apa aku masuk begitu saja? Bagaimana
jika ada CCTV atau salah satu penghuni apartemen ini yang melihatnya dan
mengira aku pencuri? Tapi jika aku tidak masuk, aku takut terjadi apa-apa
dengan Deva di dalam. Huft."
Selama semenit gadis itu masih termenung di depan pintu
yang sudah dia buka dan menimang-nimang apakah dia masuk kedalam atau tidak.
Pada akhirnya dia memasuki unit apartemen Deva dengan alasan dia tidak ingin
Deva kenapa-napa mengingat Deva hanya tinggal seorang diri di dalam unit
apartemen itu sedangkan keluarganya berada di Makassar. Tidak, Deva tidak
tinggal sendiri dia tinggal berdua dengan kucing Persia kesayangannya, Louis.
Tapi apa yang bisa Louis lakukan jika Deva sakit selain berada disampingnya dan
menjaganya? Kucing itu tidak akan bisa menyuapi Deva atau memasak makanan untuk
Deva, jika tubuh pemuda jangkung itu lemas dan tak sanggup melakukannya kecuali
kucing berhidung pesek itu berubah menjadi manusia. Dengan alasan itulah gadis
itu memilih masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu utama.
"Assallamualaikum," sapa gadis itu.
***
Louis tidak menyadari ada seseorang yang memasuki unit
apartemen tuannya. Bukannya dia tidak mendengar ketukan pintu yang dilakukan
oleh seseorang, tetapi dia tidak bisa melakukan itu. Bukan. Bukan tidak bisa,
dia bisa saja membuka pintu itu selama pintu itu tidak dikunci seperti yang
biasa dia lakukan terhadap pintu kamar Deva, tetapi dia mengetahui Deva selalu
mengunci pintu utama dan mengurungnya di dalam. Meskipun dia dikurung didalam
unit apartemen itu seharian tetapi dia tidak akan merasa bosan karena Deva
sudah memberi kucing kesayangannya itu tempat untuk bermain. Pengecualian jika
Deva meninggalkan kucing kesayangannya itu berhari-hari seperti ketika dia
harus syuting di Lombok untuk film Romeo dan Rinjani, dia akan menitipkan Louis
di tempat penitipan hewan atau di rumah kakaknya, Fairuz.
"Hai Louis apa kabarmu? Sudah lama ya aku tidak
melihatmu berkeliaran atau sekadar foto bareng dengan kak Deva di instagram.
Apakah kamu baik-baik saja? Oh sudah pasti kamu baik-baik saja karena aku yakin
kak Deva merawatmu dengan baik," sapa gadis itu ketika dia melihat Louis
sedang melamun menghadap jendela di ruang keluarga. Gadis itu mengelus-ngelus
puncak kepala Louis sambil melihat sekeliling unit apartemen itu. Nuansa hitam
putih mendominasi ruang keluarga dengan satu sofa panjang berwana putih yang
menghadap sebuah televisi layar datar ukuran 40 inch yang tertancap di dinding
serta dua sofa single yang terletak di sisi kanan dan kiri sofa panjang yang di
susun berhadapan dan satu meja berwarna hitam.
"Oh iya kak Deva mana?" tanya gadis itu ketika
dia tidak menemukan batang hidung Deva lantas dia tertawa menyadari bahwa
pertanyaannya tidak akan dijawab Louis mengingat Louis adalah seekor kucing. Unit
apartemen Deva memang tidak terlalu luas, hanya ada satu kamar tidur yang
terpisah dengan ruang lainnya jadi memungkinkan bagi Deva mendengar ada
seseorang yang berbicara di dalam unit apartemennya jika saja pemuda jangkung
itu ada di dalam kamar.
Louis terkejut mendengar sapaan gadis itu dan mengalihkan
pandanganya kepada seorang gadis yang tersenyum kearahnya dengan tampang
sombong dan siap menerkam siapa saja. "Deva sudah pergi. Siapa kamu?
Mengapa kamu bisa masuk bukannya pintu di kunci?"
Keningnya berkerut hingga mata besarnya meyipit ketika
mendengar Louis berbicara dengannya memakai bahasa manusia bukannya mengeong
seperti kebanyakan kucing lainnya atau memang dia mengerti apa yang dikatakan
Louis mengingat hampir setiap hari dia berinteraksi dengan kucing dan selalu
berkhayal jika semua kucing bisa berbicara bahasa manusia. Dengan cepat dia
menghapus semua khayalan yang selamanya tidak akan terjadi itu kemudian
tertawa, lalu dia mengusap lembut punggung Louis agar dia tenang karena dia
bisa melihat ada kilat kemarahan di mata kucing abu-abu itu.
"Tenang Louis, kau tidak perlu menatapku seperti itu
aku bukan orang jahat. Aku kesini hanya ingin bertemu kak Deva. Oh iya kamu tau
hari ini hari apa Louis?"
"Sudahlah tidak usah berbasa-basi. Mengapa kamu bisa
masuk ke sini bukannya pintunya sudah dikunci oleh Deva? Kamu mau mencuri ya?
Cepat jawab sebelum aku mencakarmu." Masih berbicara bahasa manusia, Louis
menegakkan badannya dan hendak mencakar gadis itu.
Refleks, tangan gadis itu menjauh dari tubuh Louis yang
tadi dia sentuh dan dia berjalan mundur satu langkah. Matanya membulat ketika
dia menyadari bahwa khayalannya tadi menjadi kenyataan. Louis benar-benar
berbicara dengannya memakai bahasa manusia. "Kamu bisa berbahasa manusia
Louis? Kamu benar-benar berbicara denganku memakai bahasa manusia?"
Kucing berbulu abu-abu itu diam. Tak lagi ada aura
kemarahan seperti tadi dan wajah tampan, lucu, serta menggemaskan khas
kucingnya berubah menjadi wajah penuh keangkuhan seperti biasa. "Ya aku
memang bisa dan biasa berbicara sendiri memakai bahasa manusia ketika Deva
tidak ada, dan kau gadis aneh yang bisa berbicara denganku. Kau juga manusia
pertama yang bisa mendengar dan mengerti ucapanku."
Gadis itu perlahan tersenyum dan mendekati Louis. Tak ada
aura kebingungan, ketakutan, dan ketegangan yang beberapa detik lalu dia
rasakan. "Aku sering berkhayal kalau semua kucing bisa berbicara memakai
bahasa manusia jadi kita dapat mengerti apa yang kucing itu rasakan--"
Ucapan gadis itu terhenti ketika dia mendengar handphonenya berbunyi.
"Sebentar ya Louis aku akan memberitahumu untuk apa aku ke sini,"
lanjut gadis itu lalu menggerakan tangannya pada layar touchscreen handphonenya.
"Halo."
"......"
"Iya bawel, sekitar tiga puluh
menit lagi aku nyampe kesana. Bye."
Gadis itu memutuskan panggilan teleponnya kemudian
membuka tas tanselnya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam
dengan pita berwarna putih yang menghiasi kotak itu. Gadis itu meletakan kotak
itu disamping kanan tempat Louis bersantai sambil menjilat-jilat tangannya.
"Apa ini?" tanya Louis bingung menatap kotak
yang berada di sampingnya dan gadis itu bergantian.
"Hari ini kak Deva ulang tahun dan itu kado untuk
kak Bara -di sinetron Saranghae, I Love
You-, kak Riko -di mini series Pembantu dan Tukang Ojek-, kak Abdee -di
film Slank Enggak Ada Matinya-, kak Andre -di film Crush-, kak Deon -di film
Aku, Kau, dan KUA-, Pak Soekarno -di film Guru Bangsa Tjokroaminoto-, kak Romeo
-di film Romeo dan Rinjani-, kak Cakra -di film Sabtu Bersama Bapak, kak Arifin
-di film Jakarta Bangkit-, dan kak Bastian -di Sitkom terkenal Tetangga Masa
gitu- ya ampun nama lain kak Deva banyak banget ya dan dengan mudahnya aku bisa
hapal sama nama karakter yang kak Deva mainkan," jawab gadis itu tertawa
dan menutup mulutnya seakan lucu apa yang telah diucapkannya tadi. Louis hanya
menolehkan kepalanya menghadap jendela melihat sikap aneh gadis itu
"Kenapa kamu tidak memberikan langsung kepada Deva?
Bukannya kamu kesini untuk melakukan hal itu?"
Gadis itu menggeleng. "Kamu saja yang memberitahunya
Louis. Aku hanya seorang screet admirer
Deva Mahenra, aku juga tidak berani memberikan kado ini langsung kepadanya.
Jantungku akan berdetak lebih cepat jika aku berdekatan langsung dengannya, aku
tidak mau kak Deva mengetahui hal itu. Aku kesini hanya ingin melihat wajahnya,
seperti tahun lalu. Biasanya aku meletakan kado ini di depan pintu ketika aku
sudah mengetuk pintu sebanyak dua kali dan sudah terdengar derap langkah dan
suara kak deva, aku cepat-cepat lari dan bersembunyi di balik lorong. Tapi
entah kenapa hari ini ada sesuatu yang mendorongku untuk membuka dan masuk ke
unit apartemen ini. Aku pamit ya Louis." Gadis itu membalikan badannya dan
melangkah menuju pintu utama unit apartemen.
Louis loncat dari tempat dia bersantai dan mengikuti
langkah gadis itu menuju pintu utama. Setelah membuka pintu bercat hitam itu,
sang gadis berbalik lalu berjongkok dihadapan Louis. "Oh iya aku tadi
hampir lupa memberitahumu, aku bisa masuk karena entah mengapa pintunya tidak
dikunci. Mungkin kak Deva lupa menguncinya, untung saja gedung apartemen ini
salah satu gedung apartemen yang aman. Memang tuanmu pintar memilih apartemen. Louis,
tolong bilang ke kak Deva aku akan mendoakan yang terbaik untuknya karena semua
yang akan aku ucapkan sama seperti Devalova lainnya. Jaga dan lindungi kak Deva
ya, kalau ada yang akan berbuat jahat dan menyakiti kak Deva cakar saja dia.
Dikaki, ditangan, kalau perlu dimuka." Gadis itu terkekeh mendengar
ucapannya sendiri.
"Kamu orang pertama yang mengajarkan tidak baik
padaku. Jangan-jangan jika kamu punya peliharaan kamu akan mengajarkan
peliharaanmu seperti itu juga?"
Gadis itu tersenyum. "Kak Deva memang pemuda yang
santun dan baik, bukan hanya sesama manusia tetapi terhadap binatang termasuk
kamu, hewan peliharaannya. Aku yakin kak Deva selalu mengajarkanmu sopan santun
terhadap teman-temannya. Oh iya ralat ucapanmu yang tadi! Aku tidak berniat
mengajarkanmu tidak baik dan aku juga punya hewan peliharaan, kucing sejenismu
yang aku ajarkan secara baik. Aku bicara begitu untuk mengingatkanmu saja
karena semua jenis hewan pasti memiliki naluri membunuh apalagi ketika orang
atau hewan lainnya yang dia sayang terancam. Sampai jumpa lagi Louis, jaga apartemen
ini baik-baik. Assallamualaikum." Gadis itu mengelus puncak kepala Louis
sebentar lalu berdiri dan berjalan keluar unit apartemen Deva dengan perasaan
lega dengan tak lupa menutup kembali
pintu hitam itu.
***
Deva berjalan menuju
lorong gedung apartemennya ketika bulan sudah menggantikan tugas sang tata
surya yang saat ini sedang bertugas menyinari belahan bumi yang lain. Terlihat
wajah lelah di paras tampannya dan sebuah kantong plastik hitam besar yang dia
jinjing ditangan kanannya. Kantong plastik itu berisi beberapa kado dari para
fansnya yang tadi datang untuk merayakan hari kelahirannya di lokasi syuting.
Tak lama dia berjalan, dia sudah sampai di pintu dengan warna yang berbeda
dengan pintu unit apartemen lain. Dia mengganti warna cat pintu itu bukan
karena ingin memberitahukan ke orang lain atau menandakan bahwa unit apartemen
itu miliknya, dia hanya ingin menyesuaikan warna yang ada di dalam unit
apartemennya hitam dan putih. Dia segera masuk, ingin secepatnya menyandarkan
tubuhnya di atas kasur yang empuk. Entah mengapa hari ini dia merasa sangat
lelah sekaligus membahagiakan untuknya. Dia bahkan tak menyadari bahwa sejak
dia berangkat, pintu hitam itu tidak dikunci.
CEKLEK
Mendengar suara pintu dan lampu menyala menyinari ruang
yang tadi gelap gulita, Louis melompat dari tempat yang seharian ini dia pakai
bersantai untuk melihat kesibukan kota Jakarta bahkan sampai ketiduran. Saking
semangatnya melompat, tanpa sengaja dia menjatuhkan kotak hitam pemberian gadis
itu yang berada di sampingnya. Dia sempat kaget tapi tidak mempedulikannya dan
tetap berjalan menuju tuannya yang sedang melepaskan sepatunya tak jauh dari
pintu.
"Meong." Louis menggesekkan kepalanya di tas
ransel sang aktor kemudian beralih ke lengan kekar Deva.
"Hai. Uh manja banget sih kamu." Deva mengelus
kepala dan punggung kucing kesayangannya setelah meletakkan sepatunya di rak
sepatu dekat pintu. Dia menggendong kucing abu-abunya dan mengambil kantong
plastik hitam lalu berjalan menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Deva meletakan kantong plastik itu di
sebelah nakas yang terletak disamping
kanan tempat tidurnya sedangkan Louis langsung melompat menuju kasur empuk dan
merebahkan tubuhnya disana. Deva melepaskan tas ranselnya dan meletakkannya di
samping kantong plastik hitam. Sesaat kemudian Deva merebahkan dirinya
disamping Louis. Deva menghela napas.
"Kamu sudah makan Louis? Maaf aku tidak membelikanmu
makanan, lagipula makananmu masih banyak." Louis tak menghiraukan ucapan
Deva, dia makin mendekatkan tubuhnya kearah Deva. Deva mengelus bulu abu-abu
nan lembut peliharaan sekaligus sahabatnya itu lalu mendekap Louis. Hanya
sebentar, karena setelah itu dia mengambil handuk dan berjalan menuju kamar
mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah. Louis hanya menatap tuannya
sebentar lalu menjilat-jilat tangannya.
***
Beberapa menit kemudian
Deva sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi sebagian
rambutnya yang basah lalu berjalan menuju dapur untuk membuat coklat panas.
Setelah beberapa menit berkutat di dapur, dia duduk di sofa untuk melihat acara
berita sambil menikmati coklat panas yang dia buat. Belum sepuluh menit dia
menonton televisi, mata Deva sudah tidak bisa diajak kompromi ingin
diistirahatkan selaras dengan tubuhnya yang butuh istirahat. Deva meletakkan
cangkir coklat panasnya diatas meja didepan sofa lalu mematikan televisinya.
Sebelum menuju kamarnya, Deva menutup gorden yang daripagi belum dia tutup.
Tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu, Deva mengalihkan pandangannya ke
bawah. Dia mengernyit ketika melihat sebuah kotak hitam dengan pita putih
menghiasinya. Penasaran, Deva mengambil kotak itu lalu menatapnya sesaat
setelah itu dia menutup gorden dan mematikan lampu ruang keluarga.
Deva berjalan kearah kamarnya. Deva menggeleng dan
terkekeh pelan saat melihat Louis sudah tertidur dengan posisi menurut Deva
seperti ulat bulu. Deva menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kasur lalu
menaiki kasurnya yang nyaman. Deva menata bantalnya dan merebahkan badannya
disamping Louis. Dia menatap kotak hitam yang tadi diambilnya di ruang
keluarga. "Apakah hadiah dari kamu Louis?" tanya Deva dan menatap
kucing abu-abu itu. Deva menggeleng sesaat kemudian tersenyum. "Mana
mungkin seekor kucing bisa memberikan hadiah berupa benda?"
Deva membuka ikatan pita putih yang berada di atas kotak
berukuran sedang itu dan membukanya. Deva mengambil sebuah amplop terlipat yang
ada di atas menutupi benda yang ada di dalam kotak itu, mata Deva membulat
ketika dia melihat sebuah jam tangan bermerk Patek Philip Geneve yang
diinginkannya. Deva sebenarnya bisa saja membeli jam tangan itu sendiri, tapi
Deva sadar kalau harga jam tangan itu sangat mahal dan Deva tidak mau
menghamburkan uangnya hanya untuk membeli sebuah jam tangan dengan harga
semahal itu. Lebih baik uangnya dia sedekahkan kepada orang yang lebih
membutuhkan. Pemikiran yang bijak dan dapat menambah pahala untuk dirinya.
Deva mengambil jam tangan bertali kulit berwarna hitam
dengan guratan berbentuk ketupat dan benang merah yang berada disisi kanan dan
kirinya. Deva mencoba jam tangan itu di tangan kirinya, dia tersenyum melihat
jam tangan mewah yang nampak elegan di tangannya. Deva mengambil amplop
terlipat yang tadi dia simpan di kotak jam tangan ketika dia sudah mengambil
jam tangan itu. Dia membuka amplop berwarna senada dengan warna kotak dan tali
kulit jam tangan mahal itu dan mengambil dua lembar kertas yang ada di
dalamnya. Dia membuka sebuah kertas yang bertulis "Untuk kak Deva"
diatas kertas yang terlipat itu.
Assallamualaikum
Hai
kakak aktor, DJ, penyanyi, mister Galileo, dan mister multitalenta. Huah,
banyak sekali sebutanmu. Tapi memang pantas sih kamu dipanggil dengan sebutan
seperti itu, sesuai dengan kepribadianmu. Kamu pasti bingung, oh tidak mungkin
bisa dibilang bosan karena beberapa kali saat ulang tahunmu kamu mendapatkan
kado misterius yang tergeletak di depan pintu apartemenmu. Maafkan aku,
bukannya aku tidak ingin memberikan hadiah ini secara langsung kepadamu tapi
aku malu jika harus bertatapan denganmu. Ah, aku memang gadis jelek yang tidak
pantas untuk kau lihat. Walaupun kau tidak akan mengatakanku seperti itu secara
serius, tapi aku cukup tau diri. Tau diri? Kayak lagunya Maudy Ayunda ya? Aku
suka lagu itu. Eh kenapa aku jadi curhat? Pasti kak Deva baca surat ini sambil
ketawa ya?Aku juga yang nulis surat ini aja geli sendiri ketika baca bahasanya
yang agak alay, ya sudahlah.
Deva mengerutkan keningnya lalu terkekeh membaca paragraf
pertama kartu ucapan yang bisa disebut surat itu. "Gadis yang aneh tapi
unik dan bikin penasaran," gumam Deva lalu dia melanjutkan membaca surat
dari gadis pengagum rahasianya itu.
Selamat
ulang tahun kak Deva. Semoga panjang umur, sehat selalu, semakin sukses, dan
makin dewasa. Mungkin ucapan ini sering kamu dengar, lihat, dan baca dari
kesayangan kamu Devalova, sahabat, dan orang yang mengenal kamu. Agak
mainstream ya? Ya mau gimana lagi doa dan harapan aku buat kamu sama kayak yang
lainnya. Oh iya kamu pasti kaget karena hadiah yang aku kasih kali ini tidak
seperti biasa dari tahun sebelumnya. Kamu juga pasti berpikir aku menghamburkan
banyak uang untuk membeli jam tangan mahal itu. Benar kan? Tenang kak, jam
tangan itu aku beli bukan dari uangku sendiri tapi dikasih dari pamanku.
oleh-oleh dari Swiss. Tapi tenang aja kak, jam tangan itu original, masih baru,
dan masih bergaransi soalnya belum pernah aku pakai. Kalau nggak percaya lihat
aja kartu garansinya yang aku selipin sama surat ini. Lagian nggak enak kalau
aku kasih kado berupa barang bekas untuk seorang Deva Mahenra. :) Gimana
sekarang percaya kan? Aku mah tidak pernah bohong kak.
Deva tersenyum dengan tulisan yang ada di surat itu yang
seakan sang gadis itu tau dan melihat wajahnya ketika membaca surat darinya.
Deva mengambil selembar kertas lainnya yang merupakan kartu garansi jam tangan
merk terkenal itu. Ternyata benar apa yang gadis itu bilang disurat itu. Jam
tangan itu masih memiliki kartu garansi.
Kak
Deva jangan marah ya karena aku udah lancang kasih jam tangan itu. Aku nggak
ada niat sedikitpun untuk menghina
kak Deva dengan memberikan jam tangan Patek
Philippe Geneva yang mahal dan bisa kak Deva beli sendiri, tapi karena jam itu
nggak aku pakai mendingan aku kasih ke kak Deva sebagai hadiah ulang tahun.
Lagian kan sayang kalau enggak dipakai. Aku tau kak Deva sudah memiliki
berbagai jenis jam tangan dan malahan ada sering kak Deva pakai karena memang
kak Deva suka dan nyaman pakai jam tangan itu. Tapi sekali-kali dipakai ya jam
tangan pemberian aku.
"Ini lagi aku pakai, terimakasih
ya," gumam Deva sambil memperlihatkan jam tangan itu di depan surat yang
dia baca seakan-akan menunjukan kepada gadis yang memberikan jam tangan itu.
Udah dulu ya surat dari akunya. Aku yakin kak Deva baca surat
ini malam hari setelah melakukan aktivitas seharian. Sekali lagi selamat ulang
tahun Mister Deva "Galileo" Mahenra. Semoga semua harapan dan doa
kakak dikabulkan Allah SWT. Doa yang terbaik aja dari aku buat kamu karena
semua doa dan harapan yang mainstream pasti sudah kesayangan kamu ucapkan.
Tetap semangat dan jangan pernah tinggalkan sholat ya kak Deva. Semoga suatu
saat nanti kita bisa bertemu langsung. Oh iya hampr aja lupa. Oh iya hampir saja lupa, kakak jangan lupa bahagia ya. Kita
juga harus membahagiakan diri sendiri setelah membahagiakan orang lain. Tapi
dengan melakukan hal positif. Tapi bukan aku tidak percaya kakak akan selalu
melakukan hal positif, ini cuma untuk mengingatkan saja kalau sewaktu-waktu
lupa. Selamat istirahat
Mister Galileo.
Wassallamualaikum
Your Screet Admirer
Tiada hentinya Deva tersenyum membaca surat itu. Semua
lelah yang dia rasakan tadi hilang begitu saja. Semua gadis itu berikan menjadi
mood booster bagi Deva untuk tetap
berusaha mewujudkan semua keinginannya. Mungkin lelah yang dia rasakan hilang,
tetapi tidak dengan rasa kantuknya. Matanya benar-benar ingin diistirahatkan.
Deva menguap dan melipat kembali surat dari gadis itu dan memasukan kembali
kedalam amplop hitam bersama dengan kartu garansi. Dia meletakan amplop dan
kotak hitam itu di nakas samping kiri tempat tidurnya.
"Terimakasih untuk hadiah dan suratnya my screet admirer. Sungguh, aku
penasaran ingin bertemu denganmu, semoga suatu saat nanti kita masih bisa
dipertemukan ya. Selamat istirahat my
screet admirer, kamu juga jangan lupa bahagia," kata Deva sambil
melihat jam tangan Patek Philip Geneve yang sudah dia lepaskan. Deva menaruh jam
tangan itu di nakas dekat amplop dan kotaknya setelah itu dia menarik
selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya. "Good night, Louise," ucap Deva sambil mendekap kucing
kesayangannya yang masih tertidur pulas disampingnya.
***
Cerpen pertama di tahun 2016. Yipiii, akhirnya bisa nulis lagi. Cerpen ini hanya aku share di wattpad aku dan blog ini ya. Di media sosial lain mah nggak ada. Happy Reading...



