Kamis, 21 April 2016

SCREET ADMIRER DEVA

Terlihat seekor kucing berwarna abu-abu dengan bulu lebat, Louis yang masih nyaman tertidur berbantalkan kaki tuannya yang tampan seperti dirinya. Harus diakui tak sepenuhnya ketampanan Louis itu sama seperti tuannya, Deva Mahenra, seorang aktor multitalenta yang ramah, baik, dan murah senyum.

Justru ketampanan kucing itu menunjukan sifat jutek dan angkuh. Meskipun ketampanan kucing itu memberikan kesan menyebalkan, tetapi Louis tetap merupakan seekor kucing Persia yang lucu dan menggemaskan dengan hidung peseknya.

"Louis bangun," ucap Deva mengguncang-guncangkan kakinya kearah Louis yang masih setia menjadikan kakinya sebagai bantal.

Merasa terganggu, dengan masih mengantuk Louis mengangkat kepalanya lalu merenggangkan badan dan berjalan kearah tangan kanan Deva yang sudah duduk dipinggir kasur dan kembali merebahkan kepalanya di atas punggung tangan Deva.

Deva menggelengkan kepalanya melihat kelakuan manja kucingnya.

"Louis sejak kapan kamu menjadi kucing manja seperti ini?" tanya Deva heran melihat sikap kucingnya yang biasanya sombong dan tidak mau bermanja-manja dengannya harus menjadi kucing manja hanya karena mengantuk.

Sementara Louis tetap memejamkan mata di punggung tangan Deva yang hangat dan membuatnya nyaman.

"Ah sudahlah, aku harus mandi dan siap-siap beraktivitas lagi."

Perlahan Deva menarik  punggung tangannya yang menjadi bantalan Louis. Setelah berhasil menarik tangannya, Deva mengelus-ngelus kepala Louis yang membuat Louis kembali tertidur dengan nyaman.

Setelah tiga puluh menit bersiap-siap termasuk mandi, sarapan, dan menyiapkan makan untuk Louis. Saat ini Deva sudah siap untuk beraktivitas memakai baju kasualnya, kaos berlengan panjang berwarna abu-abu, celana bahan berwarna krem serta sebuah jam tangan dengan tali hitam dan sebuah gelang hitam yang menghiasi tangan kirinya.

Deva memakai sepatu kets putihnya, dan sebuah tas yang sudah ada dipunggungnya siap-siap melangkah keluar unit apartemennya.

"Louis aku berangkat ya, makananmu sudah aku siapkan di tempat biasa. Assallamualaikum," ucap Deva setelah membuka pintu unit apartemennya lalu keluar berjalan menuju mobilnya yang terparkir di lantai bawah.

Louis sudah terbangun saat Deva sudah selesai mandi, tapi dia hanya guling-guling di kasur Deva yang empuk, tidak berniat untuk meninggalkan tempat nyaman itu.

Setelah mendengar suara pintu tertutup, Louis melompat dari kasur Deva lalu menuju dapur untuk memakan makanan yang sudah Deva siapkan seperti biasa.

***

Tidak jauh dari gedung apartemen yang Deva tempati, seorang gadis berambut panjang bergelombang pada bagian ujungnya dengan topi berwarna pink yang menutupi sebagian rambut indahnya. Pakaian kasual, jaket bahan berwana sama dengan topinya yang menutupi kaos berwarna hijau sebagai dalamannya serta celana jeans dan sepatu kets berwarna biru yang terbalut santai menutupi tubuh indahnya terlihat berjalan memasuki gedung apartemen.

Kalian pasti bertanya darimana gadis itu bisa mengetahui tempat tinggal Deva? Sama seperti fans seorang pengagum rahasia atau screet admirer yang sudah bertahun-tahun mengagumi seseorang, pasti akan mencari tau apa saja tentang sosok orang yang dia kagumi.

Oh bukan, gadis itu bukan hanya mengagumi Mister Galileo -sebutan gadis itu untuk Deva- tetapi gadis itu mencintainya. Tapi gadis itu bukan seorang penguntit ya.

Dia melangkah menuju sebuah lift yang tidak jauh dari pintu kaca gedung apartemen. Setelah menekan tombol tanda panah keatas yang berada di dinding kanan lift, pintu lift terbuka. Gadis itu melangkah memasuki ruangan kecil itu bersama satu orang yang juga ingin menuju unit apartemennya dilantai atas dan dia tidak menyadari bahwa seorang pemuda yang sudah lama gadis itu kagumi dan cintai tanpa berani dia mengungkapkan perasaannya saat ini keluar dari lift dan melewatinya begitu saja. Setelah menekan tombol angka 4 yang berada di dinding kanan lift, gadis itu menghembuskan napasnya perlahan berusaha mengontrol jantungnya yang saat ini berdetak cepat.
            "Ya ampun, kenapa jantungku berdetak begitu cepat? Padahal aku sama sekali belum bertemu dengan kak Deva," gumam gadis itu sangat pelan karena dia takut seorang pria paruh baya yang ada disampingnya mendengarkan ucapannya. Lift yang dia tempati begitu sepi hanya ada dia dan seorang paruh baya yang berdiri di samping kanannya.
TING
            Pintu lift terbuka. Sang gadis melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift yang beberapa menit lalu menemaninya. Dia melangkah menelusuri lorong gedung apartemen untuk menuju unit apartemen yang Deva tempati. Setelah beberapa menit melangkah, sang gadis sudah berada di depan pintu unit apartemen berwarna hitam, berbeda dengan warna pintu unit apartemen lain yang ada di gedung apartemen ini. Gadis itu yakin bahwa pintu yang ada dihadapannya ini merupakan pintu unit apartemen Deva karena warna cat pada pintu ini merupakan salah satu warna favorit Deva. Gadis itu menghirup napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya dan mengontol detak jantungnya yang lagi-lagi berdetak cepat. Entah kenapa setiap kali memikirkan Deva, jantung gadis ini berdebar begitu cepat. Apakah dia mempunyai serangan jantung? Oh tentu tidak. Jika dia mempunyai serangan jantung, dia pasti sekarang akan berada di rumah sakit bukan di depan pintu unit apartemen Deva.
            Gadis itu perlahan menghembuskan napasnya. Setelah merasa tenang dan jantung berdetak dengan normal dibanding beberapa detik lalu, gadis itu mengetuk pintu hitam itu dengan harapan Deva belum pergi menjalankan aktivitasnya yang super padat.
TOK
TOK
TOK
            Sudah tiga kali dia mengetuk pintu hitam itu tetapi tidak ada jawaban. Dia menundukan kepalanya dan menghembuskan napas kecewa menyadari pemuda yang dicintainya sudah pergi dari unit apartemen itu. Tanpa sengaja matanya menatap gagang pintu, tanpa dia sadari dia meraih dan memutar gagang pintu itu.
CEKLEK
            "Tidak dikunci," gumam gadis itu. Mata indahnya membulat ketika tiba-tiba saja pikiran buruk melintas dikepala cantiknya tentang Deva. Dengan ragu dia membuka pintu hitam itu. "Apakah tidak apa-apa aku masuk begitu saja? Bagaimana jika ada CCTV atau salah satu penghuni apartemen ini yang melihatnya dan mengira aku pencuri? Tapi jika aku tidak masuk, aku takut terjadi apa-apa dengan Deva di dalam. Huft."
            Selama semenit gadis itu masih termenung di depan pintu yang sudah dia buka dan menimang-nimang apakah dia masuk kedalam atau tidak. Pada akhirnya dia memasuki unit apartemen Deva dengan alasan dia tidak ingin Deva kenapa-napa mengingat Deva hanya tinggal seorang diri di dalam unit apartemen itu sedangkan keluarganya berada di Makassar. Tidak, Deva tidak tinggal sendiri dia tinggal berdua dengan kucing Persia kesayangannya, Louis. Tapi apa yang bisa Louis lakukan jika Deva sakit selain berada disampingnya dan menjaganya? Kucing itu tidak akan bisa menyuapi Deva atau memasak makanan untuk Deva, jika tubuh pemuda jangkung itu lemas dan tak sanggup melakukannya kecuali kucing berhidung pesek itu berubah menjadi manusia. Dengan alasan itulah gadis itu memilih masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu utama.
            "Assallamualaikum," sapa gadis itu.
***
            Louis tidak menyadari ada seseorang yang memasuki unit apartemen tuannya. Bukannya dia tidak mendengar ketukan pintu yang dilakukan oleh seseorang, tetapi dia tidak bisa melakukan itu. Bukan. Bukan tidak bisa, dia bisa saja membuka pintu itu selama pintu itu tidak dikunci seperti yang biasa dia lakukan terhadap pintu kamar Deva, tetapi dia mengetahui Deva selalu mengunci pintu utama dan mengurungnya di dalam. Meskipun dia dikurung didalam unit apartemen itu seharian tetapi dia tidak akan merasa bosan karena Deva sudah memberi kucing kesayangannya itu tempat untuk bermain. Pengecualian jika Deva meninggalkan kucing kesayangannya itu berhari-hari seperti ketika dia harus syuting di Lombok untuk film Romeo dan Rinjani, dia akan menitipkan Louis di tempat penitipan hewan atau di rumah kakaknya, Fairuz.
            "Hai Louis apa kabarmu? Sudah lama ya aku tidak melihatmu berkeliaran atau sekadar foto bareng dengan kak Deva di instagram. Apakah kamu baik-baik saja? Oh sudah pasti kamu baik-baik saja karena aku yakin kak Deva merawatmu dengan baik," sapa gadis itu ketika dia melihat Louis sedang melamun menghadap jendela di ruang keluarga. Gadis itu mengelus-ngelus puncak kepala Louis sambil melihat sekeliling unit apartemen itu. Nuansa hitam putih mendominasi ruang keluarga dengan satu sofa panjang berwana putih yang menghadap sebuah televisi layar datar ukuran 40 inch yang tertancap di dinding serta dua sofa single yang terletak di sisi kanan dan kiri sofa panjang yang di susun berhadapan dan satu meja berwarna hitam.
            "Oh iya kak Deva mana?" tanya gadis itu ketika dia tidak menemukan batang hidung Deva lantas dia tertawa menyadari bahwa pertanyaannya tidak akan dijawab Louis mengingat Louis adalah seekor kucing. Unit apartemen Deva memang tidak terlalu luas, hanya ada satu kamar tidur yang terpisah dengan ruang lainnya jadi memungkinkan bagi Deva mendengar ada seseorang yang berbicara di dalam unit apartemennya jika saja pemuda jangkung itu ada di dalam kamar.
            Louis terkejut mendengar sapaan gadis itu dan mengalihkan pandanganya kepada seorang gadis yang tersenyum kearahnya dengan tampang sombong dan siap menerkam siapa saja. "Deva sudah pergi. Siapa kamu? Mengapa kamu bisa masuk bukannya pintu di kunci?"
            Keningnya berkerut hingga mata besarnya meyipit ketika mendengar Louis berbicara dengannya memakai bahasa manusia bukannya mengeong seperti kebanyakan kucing lainnya atau memang dia mengerti apa yang dikatakan Louis mengingat hampir setiap hari dia berinteraksi dengan kucing dan selalu berkhayal jika semua kucing bisa berbicara bahasa manusia. Dengan cepat dia menghapus semua khayalan yang selamanya tidak akan terjadi itu kemudian tertawa, lalu dia mengusap lembut punggung Louis agar dia tenang karena dia bisa melihat ada kilat kemarahan di mata kucing abu-abu itu.
            "Tenang Louis, kau tidak perlu menatapku seperti itu aku bukan orang jahat. Aku kesini hanya ingin bertemu kak Deva. Oh iya kamu tau hari ini hari apa Louis?"
            "Sudahlah tidak usah berbasa-basi. Mengapa kamu bisa masuk ke sini bukannya pintunya sudah dikunci oleh Deva? Kamu mau mencuri ya? Cepat jawab sebelum aku mencakarmu." Masih berbicara bahasa manusia, Louis menegakkan badannya dan hendak mencakar gadis itu.
            Refleks, tangan gadis itu menjauh dari tubuh Louis yang tadi dia sentuh dan dia berjalan mundur satu langkah. Matanya membulat ketika dia menyadari bahwa khayalannya tadi menjadi kenyataan. Louis benar-benar berbicara dengannya memakai bahasa manusia. "Kamu bisa berbahasa manusia Louis? Kamu benar-benar berbicara denganku memakai bahasa manusia?"
            Kucing berbulu abu-abu itu diam. Tak lagi ada aura kemarahan seperti tadi dan wajah tampan, lucu, serta menggemaskan khas kucingnya berubah menjadi wajah penuh keangkuhan seperti biasa. "Ya aku memang bisa dan biasa berbicara sendiri memakai bahasa manusia ketika Deva tidak ada, dan kau gadis aneh yang bisa berbicara denganku. Kau juga manusia pertama yang bisa mendengar dan mengerti ucapanku."
            Gadis itu perlahan tersenyum dan mendekati Louis. Tak ada aura kebingungan, ketakutan, dan ketegangan yang beberapa detik lalu dia rasakan. "Aku sering berkhayal kalau semua kucing bisa berbicara memakai bahasa manusia jadi kita dapat mengerti apa yang kucing itu rasakan--" Ucapan gadis itu terhenti ketika dia mendengar handphonenya berbunyi. "Sebentar ya Louis aku akan memberitahumu untuk apa aku ke sini," lanjut gadis itu lalu menggerakan tangannya pada layar touchscreen handphonenya.
            "Halo."
            "......"
            "Iya bawel, sekitar tiga puluh menit lagi aku nyampe kesana. Bye."
            Gadis itu memutuskan panggilan teleponnya kemudian membuka tas tanselnya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam dengan pita berwarna putih yang menghiasi kotak itu. Gadis itu meletakan kotak itu disamping kanan tempat Louis bersantai sambil menjilat-jilat tangannya.
            "Apa ini?" tanya Louis bingung menatap kotak yang berada di sampingnya dan gadis itu bergantian.
            "Hari ini kak Deva ulang tahun dan itu kado untuk kak Bara -di sinetron Saranghae, I Love You-, kak Riko -di mini series Pembantu dan Tukang Ojek-, kak Abdee -di film Slank Enggak Ada Matinya-, kak Andre -di film Crush-, kak Deon -di film Aku, Kau, dan KUA-, Pak Soekarno -di film Guru Bangsa Tjokroaminoto-, kak Romeo -di film Romeo dan Rinjani-, kak Cakra -di film Sabtu Bersama Bapak, kak Arifin -di film Jakarta Bangkit-, dan kak Bastian -di Sitkom terkenal Tetangga Masa gitu- ya ampun nama lain kak Deva banyak banget ya dan dengan mudahnya aku bisa hapal sama nama karakter yang kak Deva mainkan," jawab gadis itu tertawa dan menutup mulutnya seakan lucu apa yang telah diucapkannya tadi. Louis hanya menolehkan kepalanya menghadap jendela melihat sikap aneh gadis itu
            "Kenapa kamu tidak memberikan langsung kepada Deva? Bukannya kamu kesini untuk melakukan hal itu?"
            Gadis itu menggeleng. "Kamu saja yang memberitahunya Louis. Aku hanya seorang screet admirer Deva Mahenra, aku juga tidak berani memberikan kado ini langsung kepadanya. Jantungku akan berdetak lebih cepat jika aku berdekatan langsung dengannya, aku tidak mau kak Deva mengetahui hal itu. Aku kesini hanya ingin melihat wajahnya, seperti tahun lalu. Biasanya aku meletakan kado ini di depan pintu ketika aku sudah mengetuk pintu sebanyak dua kali dan sudah terdengar derap langkah dan suara kak deva, aku cepat-cepat lari dan bersembunyi di balik lorong. Tapi entah kenapa hari ini ada sesuatu yang mendorongku untuk membuka dan masuk ke unit apartemen ini. Aku pamit ya Louis." Gadis itu membalikan badannya dan melangkah menuju pintu utama unit apartemen.
            Louis loncat dari tempat dia bersantai dan mengikuti langkah gadis itu menuju pintu utama. Setelah membuka pintu bercat hitam itu, sang gadis berbalik lalu berjongkok dihadapan Louis. "Oh iya aku tadi hampir lupa memberitahumu, aku bisa masuk karena entah mengapa pintunya tidak dikunci. Mungkin kak Deva lupa menguncinya, untung saja gedung apartemen ini salah satu gedung apartemen yang aman. Memang tuanmu pintar memilih apartemen. Louis, tolong bilang ke kak Deva aku akan mendoakan yang terbaik untuknya karena semua yang akan aku ucapkan sama seperti Devalova lainnya. Jaga dan lindungi kak Deva ya, kalau ada yang akan berbuat jahat dan menyakiti kak Deva cakar saja dia. Dikaki, ditangan, kalau perlu dimuka." Gadis itu terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
            "Kamu orang pertama yang mengajarkan tidak baik padaku. Jangan-jangan jika kamu punya peliharaan kamu akan mengajarkan peliharaanmu seperti itu juga?"
            Gadis itu tersenyum. "Kak Deva memang pemuda yang santun dan baik, bukan hanya sesama manusia tetapi terhadap binatang termasuk kamu, hewan peliharaannya. Aku yakin kak Deva selalu mengajarkanmu sopan santun terhadap teman-temannya. Oh iya ralat ucapanmu yang tadi! Aku tidak berniat mengajarkanmu tidak baik dan aku juga punya hewan peliharaan, kucing sejenismu yang aku ajarkan secara baik. Aku bicara begitu untuk mengingatkanmu saja karena semua jenis hewan pasti memiliki naluri membunuh apalagi ketika orang atau hewan lainnya yang dia sayang terancam. Sampai jumpa lagi Louis, jaga apartemen ini baik-baik. Assallamualaikum." Gadis itu mengelus puncak kepala Louis sebentar lalu berdiri dan berjalan keluar unit apartemen Deva dengan perasaan lega dengan tak lupa menutup kembali  pintu hitam itu.
***
Deva berjalan menuju lorong gedung apartemennya ketika bulan sudah menggantikan tugas sang tata surya yang saat ini sedang bertugas menyinari belahan bumi yang lain. Terlihat wajah lelah di paras tampannya dan sebuah kantong plastik hitam besar yang dia jinjing ditangan kanannya. Kantong plastik itu berisi beberapa kado dari para fansnya yang tadi datang untuk merayakan hari kelahirannya di lokasi syuting. Tak lama dia berjalan, dia sudah sampai di pintu dengan warna yang berbeda dengan pintu unit apartemen lain. Dia mengganti warna cat pintu itu bukan karena ingin memberitahukan ke orang lain atau menandakan bahwa unit apartemen itu miliknya, dia hanya ingin menyesuaikan warna yang ada di dalam unit apartemennya hitam dan putih. Dia segera masuk, ingin secepatnya menyandarkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Entah mengapa hari ini dia merasa sangat lelah sekaligus membahagiakan untuknya. Dia bahkan tak menyadari bahwa sejak dia berangkat, pintu hitam itu tidak dikunci.
CEKLEK
            Mendengar suara pintu dan lampu menyala menyinari ruang yang tadi gelap gulita, Louis melompat dari tempat yang seharian ini dia pakai bersantai untuk melihat kesibukan kota Jakarta bahkan sampai ketiduran. Saking semangatnya melompat, tanpa sengaja dia menjatuhkan kotak hitam pemberian gadis itu yang berada di sampingnya. Dia sempat kaget tapi tidak mempedulikannya dan tetap berjalan menuju tuannya yang sedang melepaskan sepatunya tak jauh dari pintu.
            "Meong." Louis menggesekkan kepalanya di tas ransel sang aktor kemudian beralih ke lengan kekar Deva.
            "Hai. Uh manja banget sih kamu." Deva mengelus kepala dan punggung kucing kesayangannya setelah meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat pintu. Dia menggendong kucing abu-abunya dan mengambil kantong plastik hitam lalu berjalan menuju kamarnya.
            Sampai di kamar, Deva meletakan kantong plastik itu di sebelah  nakas yang terletak disamping kanan tempat tidurnya sedangkan Louis langsung melompat menuju kasur empuk dan merebahkan tubuhnya disana. Deva melepaskan tas ranselnya dan meletakkannya di samping kantong plastik hitam. Sesaat kemudian Deva merebahkan dirinya disamping Louis. Deva menghela napas.
            "Kamu sudah makan Louis? Maaf aku tidak membelikanmu makanan, lagipula makananmu masih banyak." Louis tak menghiraukan ucapan Deva, dia makin mendekatkan tubuhnya kearah Deva. Deva mengelus bulu abu-abu nan lembut peliharaan sekaligus sahabatnya itu lalu mendekap Louis. Hanya sebentar, karena setelah itu dia mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah. Louis hanya menatap tuannya sebentar lalu menjilat-jilat tangannya.
***
Beberapa menit kemudian Deva sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi sebagian rambutnya yang basah lalu berjalan menuju dapur untuk membuat coklat panas. Setelah beberapa menit berkutat di dapur, dia duduk di sofa untuk melihat acara berita sambil menikmati coklat panas yang dia buat. Belum sepuluh menit dia menonton televisi, mata Deva sudah tidak bisa diajak kompromi ingin diistirahatkan selaras dengan tubuhnya yang butuh istirahat. Deva meletakkan cangkir coklat panasnya diatas meja didepan sofa lalu mematikan televisinya. Sebelum menuju kamarnya, Deva menutup gorden yang daripagi belum dia tutup. Tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu, Deva mengalihkan pandangannya ke bawah. Dia mengernyit ketika melihat sebuah kotak hitam dengan pita putih menghiasinya. Penasaran, Deva mengambil kotak itu lalu menatapnya sesaat setelah itu dia menutup gorden dan mematikan lampu ruang keluarga.
            Deva berjalan kearah kamarnya. Deva menggeleng dan terkekeh pelan saat melihat Louis sudah tertidur dengan posisi menurut Deva seperti ulat bulu. Deva menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kasur lalu menaiki kasurnya yang nyaman. Deva menata bantalnya dan merebahkan badannya disamping Louis. Dia menatap kotak hitam yang tadi diambilnya di ruang keluarga. "Apakah hadiah dari kamu Louis?" tanya Deva dan menatap kucing abu-abu itu. Deva menggeleng sesaat kemudian tersenyum. "Mana mungkin seekor kucing bisa memberikan hadiah berupa benda?"
            Deva membuka ikatan pita putih yang berada di atas kotak berukuran sedang itu dan membukanya. Deva mengambil sebuah amplop terlipat yang ada di atas menutupi benda yang ada di dalam kotak itu, mata Deva membulat ketika dia melihat sebuah jam tangan bermerk Patek Philip Geneve yang diinginkannya. Deva sebenarnya bisa saja membeli jam tangan itu sendiri, tapi Deva sadar kalau harga jam tangan itu sangat mahal dan Deva tidak mau menghamburkan uangnya hanya untuk membeli sebuah jam tangan dengan harga semahal itu. Lebih baik uangnya dia sedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Pemikiran yang bijak dan dapat menambah pahala untuk dirinya.
            Deva mengambil jam tangan bertali kulit berwarna hitam dengan guratan berbentuk ketupat dan benang merah yang berada disisi kanan dan kirinya. Deva mencoba jam tangan itu di tangan kirinya, dia tersenyum melihat jam tangan mewah yang nampak elegan di tangannya. Deva mengambil amplop terlipat yang tadi dia simpan di kotak jam tangan ketika dia sudah mengambil jam tangan itu. Dia membuka amplop berwarna senada dengan warna kotak dan tali kulit jam tangan mahal itu dan mengambil dua lembar kertas yang ada di dalamnya. Dia membuka sebuah kertas yang bertulis "Untuk kak Deva" diatas kertas yang terlipat itu.
Assallamualaikum
Hai kakak aktor, DJ, penyanyi, mister Galileo, dan mister multitalenta. Huah, banyak sekali sebutanmu. Tapi memang pantas sih kamu dipanggil dengan sebutan seperti itu, sesuai dengan kepribadianmu. Kamu pasti bingung, oh tidak mungkin bisa dibilang bosan karena beberapa kali saat ulang tahunmu kamu mendapatkan kado misterius yang tergeletak di depan pintu apartemenmu. Maafkan aku, bukannya aku tidak ingin memberikan hadiah ini secara langsung kepadamu tapi aku malu jika harus bertatapan denganmu. Ah, aku memang gadis jelek yang tidak pantas untuk kau lihat. Walaupun kau tidak akan mengatakanku seperti itu secara serius, tapi aku cukup tau diri. Tau diri? Kayak lagunya Maudy Ayunda ya? Aku suka lagu itu. Eh kenapa aku jadi curhat? Pasti kak Deva baca surat ini sambil ketawa ya?Aku juga yang nulis surat ini aja geli sendiri ketika baca bahasanya yang agak alay, ya sudahlah.
            Deva mengerutkan keningnya lalu terkekeh membaca paragraf pertama kartu ucapan yang bisa disebut surat itu. "Gadis yang aneh tapi unik dan bikin penasaran," gumam Deva lalu dia melanjutkan membaca surat dari gadis pengagum rahasianya itu.
Selamat ulang tahun kak Deva. Semoga panjang umur, sehat selalu, semakin sukses, dan makin dewasa. Mungkin ucapan ini sering kamu dengar, lihat, dan baca dari kesayangan kamu Devalova, sahabat, dan orang yang mengenal kamu. Agak mainstream ya? Ya mau gimana lagi doa dan harapan aku buat kamu sama kayak yang lainnya. Oh iya kamu pasti kaget karena hadiah yang aku kasih kali ini tidak seperti biasa dari tahun sebelumnya. Kamu juga pasti berpikir aku menghamburkan banyak uang untuk membeli jam tangan mahal itu. Benar kan? Tenang kak, jam tangan itu aku beli bukan dari uangku sendiri tapi dikasih dari pamanku. oleh-oleh dari Swiss. Tapi tenang aja kak, jam tangan itu original, masih baru, dan masih bergaransi soalnya belum pernah aku pakai. Kalau nggak percaya lihat aja kartu garansinya yang aku selipin sama surat ini. Lagian nggak enak kalau aku kasih kado berupa barang bekas untuk seorang Deva Mahenra. :) Gimana sekarang percaya kan? Aku mah tidak pernah bohong kak.
            Deva tersenyum dengan tulisan yang ada di surat itu yang seakan sang gadis itu tau dan melihat wajahnya ketika membaca surat darinya. Deva mengambil selembar kertas lainnya yang merupakan kartu garansi jam tangan merk terkenal itu. Ternyata benar apa yang gadis itu bilang disurat itu. Jam tangan itu masih memiliki kartu garansi.
Kak Deva jangan marah ya karena aku udah lancang kasih jam tangan itu. Aku nggak ada niat sedikitpun untuk menghina kak Deva dengan memberikan jam tangan Patek Philippe Geneva yang mahal dan bisa kak Deva beli sendiri, tapi karena jam itu nggak aku pakai mendingan aku kasih ke kak Deva sebagai hadiah ulang tahun. Lagian kan sayang kalau enggak dipakai. Aku tau kak Deva sudah memiliki berbagai jenis jam tangan dan malahan ada sering kak Deva pakai karena memang kak Deva suka dan nyaman pakai jam tangan itu. Tapi sekali-kali dipakai ya jam tangan pemberian aku.
            "Ini lagi aku pakai, terimakasih ya," gumam Deva sambil memperlihatkan jam tangan itu di depan surat yang dia baca seakan-akan menunjukan kepada gadis yang memberikan jam tangan itu.
Udah dulu ya surat dari akunya. Aku yakin kak Deva baca surat ini malam hari setelah melakukan aktivitas seharian. Sekali lagi selamat ulang tahun Mister Deva "Galileo" Mahenra. Semoga semua harapan dan doa kakak dikabulkan Allah SWT. Doa yang terbaik aja dari aku buat kamu karena semua doa dan harapan yang mainstream pasti sudah kesayangan kamu ucapkan. Tetap semangat dan jangan pernah tinggalkan sholat ya kak Deva. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu langsung. Oh iya hampr aja lupa. Oh iya hampir saja lupa, kakak jangan lupa bahagia ya. Kita juga harus membahagiakan diri sendiri setelah membahagiakan orang lain. Tapi dengan melakukan hal positif. Tapi bukan aku tidak percaya kakak akan selalu melakukan hal positif, ini cuma untuk mengingatkan saja kalau sewaktu-waktu lupa. Selamat istirahat Mister Galileo.
Wassallamualaikum
Your Screet Admirer
            Tiada hentinya Deva tersenyum membaca surat itu. Semua lelah yang dia rasakan tadi hilang begitu saja. Semua gadis itu berikan menjadi mood booster bagi Deva untuk tetap berusaha mewujudkan semua keinginannya. Mungkin lelah yang dia rasakan hilang, tetapi tidak dengan rasa kantuknya. Matanya benar-benar ingin diistirahatkan. Deva menguap dan melipat kembali surat dari gadis itu dan memasukan kembali kedalam amplop hitam bersama dengan kartu garansi. Dia meletakan amplop dan kotak hitam itu di nakas samping kiri tempat tidurnya.

            "Terimakasih untuk hadiah dan suratnya my screet admirer. Sungguh, aku penasaran ingin bertemu denganmu, semoga suatu saat nanti kita masih bisa dipertemukan ya. Selamat istirahat my screet admirer, kamu juga jangan lupa bahagia," kata Deva sambil melihat jam tangan Patek Philip Geneve yang sudah dia lepaskan. Deva menaruh jam tangan itu di nakas dekat amplop dan kotaknya setelah itu dia menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya. "Good night, Louise," ucap Deva sambil mendekap kucing kesayangannya yang masih tertidur pulas disampingnya.

***

Cerpen pertama di tahun 2016. Yipiii, akhirnya bisa nulis lagi. Cerpen ini hanya aku share di wattpad aku dan blog ini ya. Di media sosial lain mah nggak ada. Happy Reading...

Selasa, 03 Maret 2015

RUMAH BERSAMA

Aku adalah seorang musisi, meski belum menjadi musisi besar tapi aku yakin suatu saaat nanti aku akan berada di tengah-tengah musisi besar dan menjadi bagian dari mereka. Umurku 25 tahun, dan telah memiliki seorang istri yang cantik dan sangat menyayangiku, kami belum memiliki anak, kami menundanya, kami berpikir bahwa jika kami memiliki anak di kondisi kami sekarang, kami takut tidak dapat merawat anak kami dengan baik. Istriku sehari-hari bekerja menjaga warnet, kami membuka warnet di tempat kontrakan kami, meski hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.
Aku dan istriku bekerja bersama di warnet kecil kami, disaat aku harus pergi manggung atau sekedar berlatih musik di kamarku, keberadaan istriku sangat membantu untuk menjaga agar warnet kami tetap berjalan.

Senin, 04 Agustus 2014

GAZA

Gaza, sebuah kota kecil yang di lewati oleh sebuah jalur yang bernama jalur Gaza dan merupakan bagian dari Palestina. Hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan dan terjepit antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Di sinilah Alina Saskia Dewi dan Sita Aisah, sahabatnya sejak SD berada sekarang. Alina dan Sita merupakan mahasiswi fakultas kedoteran yang merelakan waktu liburan semester mereka menjadi relawan asal Indonesia di Gaza.

Bukan tanpa sebab mereka menjadi relawan di Gaza, selain rasa kemanusiaan yang tinggi untuk menolong sesama, mereka juga membawa beberapa barang dan uang yang sudah mereka kumpulkan dari teman-teman serta saudara-saudara mereka yang ada di Indonesia dan telah diberikan kepada yang berhak.

Selain itu mereka juga ingin melihat lebih dekat bagaimana saudara-saudara kita berjuang memperoleh haknya untuk menjadikan kota kecil yang bernama Gaza ini menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk ditinggali.

Bukan tempat yang setiap hari dan setiap waktu dibisingkan oleh suara rudal dan roket dari Zionis Israel yang juga menewaskan ribuan orang terutama wanita dan anak-anak dan menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di kota kecil itu.
 
DUAR.. DOR.. DOR.. DOR..

Senin, 28 April 2014

TELAH BERAKHIR


Seorang gadis cantik terlihat sedang termenung di bangku taman kota. Gadis itu memang sering berkunjung ke taman itu. Bukan tanpa tujuan gadis itu sering berkunjung ke taman yang mempunyai banyak kenangan tersendiri untuknya, tapi dia mempunyai harapan untuk bertemu kembali dengan orang yang sangat dicintainya. Seseorang yang sudah tiga tahun ini meninggalkannya karena dia harus meneruskan kuliahnya di negeri Paman Sam. Orang itu pula yang berjanji akan menemuinya di taman itu.  Maka setiap tahun gadis itu selalu duduk di bangku yang berhadapan dengan air mancur di taman kota, tapi setiap tahun juga orang yang selama ini di tunggunya tidak pernah muncul.
            “Maafkan aku yang sayang, aku harus ninggalin kamu. Aku harus melanjutkan kuliahku di Amerika. Tapi aku janji sama kamu, setiap tahun aku akan pulang dan kita akan bersama lagi seperti dulu,”  kata cowok tampan yang bernama Christian Adinata, cowok yang selama tiga tahun ini ditunggu oleh gadis itu.

Jumat, 18 April 2014

SI GARET PENYIKSA



Aku sudah mengenal rokok saat aku kelas satu SMP. Teman-temanku yang mengenalkan aku dengan tembakau itu. Awalnya aku hanya coba-coba, bahkan aku sampai terbatuk-batuk saat pertama kali menghisap rokok.
           “Gila, ini apaan? Nggak enak tau,” tanyaku sambil terbatuk-batuk.

Minggu, 23 Maret 2014

AKU MEMILIH SETIA


Seorang gadis manis terlihat sedang duduk termenung di sebuah bangku taman. Di sebelah kanannya ada beberapa orang anak yang asyik bermain lari-larian. Terlihat juga ada beberapa keluarga dan muda-mudi yang sedang bersantai di taman itu. Memang setiap hari libur atau sore seperti ini, taman itu selalu ramai di kunjungi oleh keluarga atau para remaja untuk bersantai melepaskan rasa lelah mereka setelah seharian bekerja dan beraktivitas. Tak terkecuali gadis manis ini. Gadis manis itu bernama Kirana Citra Lestari.
                “Hei, ngelamun aja nanti kesambet loh,” kata seorang Aldo, teman Kirana.

Selasa, 18 Maret 2014

LOVE IN VENICE

Love In Venice

Para Penulis
Ardini N Wijaya, Desy Sundaryanti, Dkk

Penerbit
Sembilan Mutiara Publishing Trenggalek
Email : sembilanmutiara@ymail.com
Web: www.sembilanmutiara.com
Hp: 081 335 865 671

 

Daftar Isi :
1. Nama Hanyalah Sebuah Panggilan 1| 2. Tolong Jangan Saat Ini 7 | 3. Sepatu-sepatu Berbeda 15 | 4. Pesan Eliana 21 | 5. Si Pencabut Rambut Putih 27 | 6. Love In Venice 33 | 7. A Pussy War 45 | 8. Awan Pertamaku 51 | 9. Nasib Mujur Seorang Buta 55 | 10. Karena Arjuna 57 | 11. Amiiin 69 | 12. Sepatu Roda Sang Dianella 81 | 13. The Plitvice Path 93 | 14. Manik-manik Cinta 103 | 15. Petualangan Di Luar Angkasa 113 | 16. Di balik Teropong Klasik 121 | 17. Lighthouse 129 | 18. Amazing Of Kangean 135 | 19. Sosok Hitam 147 | 20. Ini Tentang Cinta 155 | 21. Kereta Api Maut 163

Halo teman-teman semuanya, aku mau cerita sedikit nih. Beberapa bulan yang lalu aku ikut lomba menulis cerpen tentang cerita unik dunia yang diadakan penerbit "SEMBILAN MUTIARA PUBLISHING" dan aku jadi salah satu kontributor buku kumpulan cerpen yang berjudul "LOVE IN VENICE" dan di atas adalah foto buku kumpulan cerpen itu. awalnya kau senang karena cerpenku jadi judul buku kumpulan cerpen itu yaitu "Love In Venice" tapi sayang di cover buku itu penulisan namaku salah.
 
Dan hari ini aku mau share cerpenku yang ada di dalam buku itu.. dan asli original karyaku sendiri, kalau ada orang yang ngaku-ngaku itu cerpen dia, aku akan kasih bukti blog ini dan email yang aku kirim ke penerbit itu. Judul cerpen yang aku buat 'LOVE IN VENICE'.

 Happy Reading..


Seorang gadis manis terlihat sedang duduk di ruang tunggu penerbangan Internasional bandara Soekarno-Hatta. Dia menunggu pesawat yang akan membawanya menuju kota Venesia, Italia. Memang, gadis itu akan pergi ke salah satu kota cantik yang ada di benua Eropa untuk meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Berkat kecerdasannya, dia merupakan salah satu siswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa kuliah di Venesia, tepatnya di Universitas Venesia.
            Setelah menunggu setengah jam akhirnya pesawat yang akan mengantarkannya ke kota Venesia pun datang. Dengan sigap, dia melangkah menuju bagian pemeriksaan. Dia pun mengantre untuk melakukan pemeriksaan kelengkapan passport, visa, tiket, dan dokumen penting lainnya. Saat dia sedang mengantre, tiba-tiba saja ada seorang cowok bertubuh tinggi dan berkulit putih menyerobot antreannya.