Aku
ingin bertemu ayah. Merasakan lagi hangatnya kasih sayang ayah, belai lembut
ayah terhadapku. Ayah, aku rindu sekali
dengan ayah.
***
“Ya
Allah aku ingin bertemu dengan ayahku walaupun itu hanya di dalam mimpi, sudah
lama aku tidak bertemu dengannya. Aku ingin memeluk ayahku kembali, ya Allah.
Kabulkanlah permohonanku ini ya Allah.” itulah sepenggal do’aku untuk ayah
setiap sehabis sholat.
Sudah
lebih dari 15 tahun aku kehilangan sosok seorang ayah dalam hidupku. Waktu itu
aku masih berumur 7 tahun, usia yang masih kecil dan masih membutuhkan kasih
sayang kedua orang tua, tetapi Allah dengan cepat memanggil ayahku dengan cara
yang tak terduga.
Aku
masih ingat bagaimana detik-detik kejadian saat ayahku dipanggil menghadap-Nya.
Waktu itu hari minggu, hari yang dipakai semua manusia untuk berkumpul bersama
keluarganya. Seperti biasa setelah sholat subuh ayah memberitahu ibu, aku dan
kakakku bahwa beliau akan berangkat untuk bermain bola bersama teman-temanya,
hal yang biasa beliau lakukan saat hari libur seperti ini. Seperti biasa pula
setelah main bola, ayahku selalu datang ke perusahaan kecil-kecilannya di Joglo
untuk sekedar melihat para pegawainya bekerja. Waktu sudah menunjukkan jam 8
pagi, seperti biasa mamah dan kakakku sedang memasak di dapur untuk kamu
sarapan sedangkan aku hanya menonton tv, maklum waktu itu aku masih kecil belum
bisa membantu ibuku memasak, bukannya membantu yang ada aku malah berantakin.
Hehehe… tak lama kemudian kak Didi keponakan dari mamah datang dengan membawa
satu ojek di belakangnya.
“Bi, mang Eso pingsan,” kata kak
Didi to the point saat memasuki rumah kami.
“Pingsan bagaimana maksudmu?,” tanya
ibu tak percaya.
“Nanti saya jelasin Bi, yang penting
bibi harus kesana,” kata kak Didi tak sabar.
“Iya.. iya.. Lis kamu terusin
masaknya ya, ibu mau ke Joglo ayahmu pingsan,” kata ibu kepada Lilis kakakku.
“Sudah enggak usah lanjutin
masaknya, matiin kompornya Lis, kamu sama adikmu juga harus ikut kesana,” kata
a Didi sambil mematikan kompor kami. Aku hanya bisa terdiam, bingung, kamipun
segera meluncur ke Joglo dengan motor, tiba di tempat usaha ayahku sudah penuh
dengan orang-orang. Kamipun mencari ayahku yang ternyata ada di rumah pemilik
kontrakan tempat usaha ayahku. Disanapun sudah banyak orang, kami menghampiri
tubuh ayahku. Ibuku mengguncang-guncang tubuh ayahku dan memegang pergelangan
tangannya, ternyata ayahku sudah tidak bernyawa. Ibu menangis disisi ayahku.
Aku dan kakakku pun ikut menangis sambil memanggil nama ayah. Kami tidak menyangka
ayah pergi meninggalkan kami begitu cepat. Kami pun tidak mempunyai firasat
bahwa beberapa jam yang lalu adalah kebersamaan terakhir kami bersama ayah. Ya
Allah mengapa kau panggil ayahku secepat ini? Aku masih butuh kasih sayang
ayah, aku masih butuh nasihat-nasihat ayah, batinku tidak ikhlas.
***
Itulah
sepenggal kisah sedih dalam hidupku. Setahun setelah kepergian ayahku kami
masih larut dalam kesedihan kami, bahkan aku masih menganggap ayahku ada. Aku
masih menunggu ayahku pulang dari usaha kecil-kecilannya dan setiap kali ayah
tak kunjung datang aku selalu bertanya kepada ibu “Ayah kemana Bu, kok jam
segini belum pulang?.”
“Ayahmu sudah berada di surga. Jadi
kamu harus ikhlas ya nak. Insya Allah kita berempat pasti bisa kumpul lagi di
surga,” jawab sambil menangis dan memelukku.
Seiring berjalannya waktu dan
bertambah usiaku, aku makin ikhlas menerima kepergian ayah ditambah dengan
perkataan ibu waktu itu, membuat aku selalu berharap dan berdoa kepada Allah
agar kami berkumpul kembali. Walaupun saat ini aku rindu ayah dan keluargaku
yang dulu. Ayah aku rindu ayah, aku ingin berkumpul kembali seperti dulu…..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar