Rabu, 12 Maret 2014

AKU RINDU AYAH


Aku ingin bertemu ayah. Merasakan lagi hangatnya kasih sayang ayah, belai lembut ayah  terhadapku. Ayah, aku rindu sekali dengan ayah.
***
“Ya Allah aku ingin bertemu dengan ayahku walaupun itu hanya di dalam mimpi, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku ingin memeluk ayahku kembali, ya Allah. Kabulkanlah permohonanku ini ya Allah.” itulah sepenggal do’aku untuk ayah setiap sehabis sholat.
Sudah lebih dari 15 tahun aku kehilangan sosok seorang ayah dalam hidupku. Waktu itu aku masih berumur 7 tahun, usia yang masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua, tetapi Allah dengan cepat memanggil ayahku dengan cara yang tak terduga.
Aku masih ingat bagaimana detik-detik kejadian saat ayahku dipanggil menghadap-Nya. Waktu itu hari minggu, hari yang dipakai semua manusia untuk berkumpul bersama keluarganya. Seperti biasa setelah sholat subuh ayah memberitahu ibu, aku dan kakakku bahwa beliau akan berangkat untuk bermain bola bersama teman-temanya, hal yang biasa beliau lakukan saat hari libur seperti ini. Seperti biasa pula setelah main bola, ayahku selalu datang ke perusahaan kecil-kecilannya di Joglo untuk sekedar melihat para pegawainya bekerja. Waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi, seperti biasa mamah dan kakakku sedang memasak di dapur untuk kamu sarapan sedangkan aku hanya menonton tv, maklum waktu itu aku masih kecil belum bisa membantu ibuku memasak, bukannya membantu yang ada aku malah berantakin. Hehehe… tak lama kemudian kak Didi keponakan dari mamah datang dengan membawa satu ojek di belakangnya.
            “Bi, mang Eso pingsan,” kata kak Didi to the point saat  memasuki rumah kami.
            “Pingsan bagaimana maksudmu?,” tanya ibu tak percaya.
            “Nanti saya jelasin Bi, yang penting bibi harus kesana,” kata kak Didi tak sabar.
            “Iya.. iya.. Lis kamu terusin masaknya ya, ibu mau ke Joglo ayahmu pingsan,” kata ibu kepada Lilis kakakku.
            “Sudah enggak usah lanjutin masaknya, matiin kompornya Lis, kamu sama adikmu juga harus ikut kesana,” kata a Didi sambil mematikan kompor kami. Aku hanya bisa terdiam, bingung, kamipun segera meluncur ke Joglo dengan motor, tiba di tempat usaha ayahku sudah penuh dengan orang-orang. Kamipun mencari ayahku yang ternyata ada di rumah pemilik kontrakan tempat usaha ayahku. Disanapun sudah banyak orang, kami menghampiri tubuh ayahku. Ibuku mengguncang-guncang tubuh ayahku dan memegang pergelangan tangannya, ternyata ayahku sudah tidak bernyawa. Ibu menangis disisi ayahku. Aku dan kakakku pun ikut menangis sambil memanggil nama ayah. Kami tidak menyangka ayah pergi meninggalkan kami begitu cepat. Kami pun tidak mempunyai firasat bahwa beberapa jam yang lalu adalah kebersamaan terakhir kami bersama ayah. Ya Allah mengapa kau panggil ayahku secepat ini? Aku masih butuh kasih sayang ayah, aku masih butuh nasihat-nasihat ayah, batinku tidak ikhlas.
***
Itulah sepenggal kisah sedih dalam hidupku. Setahun setelah kepergian ayahku kami masih larut dalam kesedihan kami, bahkan aku masih menganggap ayahku ada. Aku masih menunggu ayahku pulang dari usaha kecil-kecilannya dan setiap kali ayah tak kunjung datang aku selalu bertanya kepada ibu “Ayah kemana Bu, kok jam segini belum pulang?.”
            “Ayahmu sudah berada di surga. Jadi kamu harus ikhlas ya nak. Insya Allah kita berempat pasti bisa kumpul lagi di surga,” jawab sambil menangis dan memelukku.
            Seiring berjalannya waktu dan bertambah usiaku, aku makin ikhlas menerima kepergian ayah ditambah dengan perkataan ibu waktu itu, membuat aku selalu berharap dan berdoa kepada Allah agar kami berkumpul kembali. Walaupun saat ini aku rindu ayah dan keluargaku yang dulu. Ayah aku rindu ayah, aku ingin berkumpul kembali seperti dulu…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar