Rabu, 12 Maret 2014

CINTA DALAM BUNGA


Seorang gadis manis terlihat sedang merangkai bunga di toko bunga Magic Florist. Dia sangat serius dalam merangkai bunga itu sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang memasuki toko tempat dia bekerja.
            “Permisi..,” sapa seorang lelaki berbadan tinggi, tegap, dan berkulit putih. Mendengar suara itu gadis itu pun menghentikan aktifitasnya dan betapa terkejutnya gadis itu ketika mengetahui lelaki yang memasuki tokonya adalah lelaki yang semenjak kelas dua SMA dia sukai, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya itu.
            “Iya, Rom. Elo mau beli bunga apa?” tanya Feby nama gadis itu.
            “Eh, Feby. Elo ngapain ada di sini? Iya nih gue mau beli bunga anggrek ada enggak?” jawab lelaki yang bernama Romero itu sambil melihat-lihat bunga yang ada di toko bunga itu.
            “Gue kerja di sini. Oh, bunga anggrek? Ada sebentar gue ambilin, elo mau bunga anggrek yang warna apa?” tanya Feby mengambil beberapa tangkai bunga anggrek putih, ungu dan pink. “Di sini ada anggrek putih, ungu, dan pink,” lanjut Feby sambil memperlihatkan bunga yang di bawanya kehadapan Romero.
            “Hmm.. yang mana ya? Gue bingung, semuanya bagus sih,” kata Romero bingung.
            “Emang bunganya buat siapa Rom?”
            “Buat si Pricil, besok adalah first anniversary jadian kita. Jadi besok gue mau ngajak dia dinner, sambil ngasih bunga ini buat dia. Oh, iya gue ambil tiga-tiganya deh, tapi elo bisa enggak rangkai bunga anggrek ini jadi satu buket bunga yang cantik?”
            “Oh, iya bisa-bisa. Tapi di ambilnya besok enggak apa-apa?”
            “Iya enggak apa-apa kok Feb, lagian gue butuhnya juga besok,” kata Romero, Feby hanya mengangguk.
            “Nih uangnya Feb, besok pagi gue ambil,” kata Romero sambil memberikan uang kepada Feby dan berlalu dari hadapan Feby. Feby hanya mengangguk sambil tersenyum.
            Tak lama kemudian datang seorang gadis manis yang bernama Shilla, Shilla adalah teman Feby sejak SMP dan dia juga tau tentang perasaan Feby terhadap Romero.
            “Cie.. yang habis ketemu pujaan hati,” ledek Shilla.
            “Apaan sih elo? Sini mana makanan gue? Gue laper banget nih,” kata Feby sambil mengambil bungkusan yang di pegang Shilla dan menaruhnya di atas piring.
            “Feb, kenapa sih elo gak bilang aja kalau elo itu suka sama Romero?” kata Shilla sambil memakan, makanannya.
            “Gimana ya Shil, elo kan tau gue orangnya kayak gimana. Mana mungkin sih, gue bisa ngomong kalau gue suka sama dia? Lagian dia juga udah jadian sama si Pricilla, masa gue harus hancurin hubungan mereka?” jawab Feby.
            “Iya sih, tapi gue kasihan sama elo. Elo kan udah suka sama dia dari kelas dua SMA, berarti udah sekitar tiga tahun lebih elo pendam perasaan elo itu. Emang elo gak cemburu dan sakit hati gitu, ngeliat dia mesra sama cewek lain? Kalau gue jadi elo ya, gue udah ungkapin perasaan gue sama dia, walaupun dia udah punya pacar. Yang penting gue udah lega dan dia  udah tau perasaan gue, soal diterima atau ditolak itu urusan belakangan,” kata Shilla. Feby hanya diam sambil memikirkan perkataan Shilla.
***
Keesokkan harinya Romero datang ke toko bunga untuk mengambil pesanan bunganya. Malam harinya Romero sudah berada di sebuah kafe yang sudah dia pesan untuk dinner bersama Pricilla. Tapi entah kenapa setelah satu jam Romero menunggu Pricilla, Pricilla malah membatalkan janjinya dengan Romero. Romero terlihat sangat kecewa, dia pun memutuskan untuk pulang, tapi saat dia melangkah keluar kafe, dia bertemu dengan sosok gadis yang dia kenal, sosok gadis itu adalah Pricilla bersama cowok lain. Alangkah terkejutnya Romero ketika mengetahui bahwa cewek itu adalah Pricilla bersama cowok lain. Terjadi pertengkaran antara Romero dan Pricilla sampai akhirnya Pricilla memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Romero dan meninggalkan Romero. Romero pun pergi meninggalkan kafe itu dan dengan kasar dia melempar bunga yang telah dirangkai Feby. Sepeninggalan Romero, ada seseorang yang mengambil bunga itu.
***
Keesokkan harinya di kampus, Feby melihat Romero yang tampak lesu dan murung, dengan ragu Feby menyapa dan menghampiri Romero. Sebagai teman sejak SMA dia ingin sekali menghibur Romero.
            “Hai, elo kenapa? Kok keliatannya sedih gitu?” tanya Feby.
            “Gue engga apa-apa kok. Gue duluan ya soalnya ada kelas,” kata Romero sambil berlalu meninggalkan Feby. Feby hanya mengangguk.
            “Gue tau Rom, elo kenapa. Elo putus sama Pricilla, dan bunga anggrek rangkaian gue menjadi saksi bisu putusnya elo sama Pricilla dan mungkin bunga ini juga jadi saksi bisu, betapa gue benar-benar cinta sama elo, Rom,” gumam Feby sedih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar