Minggu, 10 November 2013

CREEPY HOLIDAY


Seorang gadis manis berambut panjang dan anggun duduk di sebuah taman kampus sambil membaca buku, gadis itu sangat serius membaca hingga dia tak menyadari ada dua gadis lain menghampirinya. Dua gadis itu adalah sahabatnya sejak SMP, Naomi dan Rena. Naomi mengarahkan telunjuk kanannya yang putih di depan bibirnya agar Rena tak mengusik gadis yang membaca buku di bangku taman itu.
            “Dooor…,” kata Naomi dan Rena bersamaan membuat gadis yang bernama lengkap Aulia Veranda Jessica ini kaget.
            “Kalian itu ngagetin gue saja sih,” kata gadis yang akrab di panggil Ve ini.
            “Habisnya elo, kalau baca serius banget. Sampai enggak tau kalau ada dua sahabat elo yang cantik ini,” kata gadis berkulit putih keturunan Jepang, Rena Takagawa.
            “Iya nih emangnya elo lagi baca buku apa sih sampai serius banget kayak gini?,” tanya gadis berambut panjang dan indah bernama Naomi Shinta sambil melihat cover buku yang bertuliskan “Twilight”. “Ih, ini kan novel kirain gue buku apaan, serius elo baru baca novel ini? Gue saja sudah baca beberapa kali, elo ketinggalan banget sih,” lanjutnya.
            “Ini yang ke seratus kalinya gue baca novel ini,” kata Ve santai tetap tak berpaling dari novel yang dia baca.
            What? Seratus kali? Enggak salah elo?,” tanya Naomi kaget.
            “Enggak, sudah sana kalian pergi. Kalian itu mengganggu gue saja.”
            “Jadi ceritanya ngusir nih? Kita berdua cariin elo tuh, mau pastiin elo ikut enggak liburan ke Bandung besok? Tapi karena elo sudah ngusir gue sama Naomi dari sini, iya kita anggap elo enggak ikut kita ke Bandung, iya kan Naomi?,” kata Rena.
            “Benar Ren, besok kita berdua saja ke Bandungnya. Yuk Ren, kita siapkan keperluan buat besok  ke Bandung,” kata Naomi sambil menggamit lengan Renauntuk pergi dari hadapan Ve.
            “Eh…. Eh… gue ikut ke Bandung. Yang tadi gue hanya becanda, jangan marah ya,” kata Ve manja sambil memegang tangan kedua sahabatnya.
            “Ya sudah elo di maafkan, yuk kita pulang dan beres-beres perlengkapan yang akan kita bawa besok,” kata Naomi sambil merangkul Rena dan Ve.
***
            Keesokkan harinya jam delapan pagi, Rena dan Ve sudah berada di rumah Naomi. Rencananya Rena, Naomi dan Ve akan berangkat bersama Mamah dan Papa Naomi tapi karena Mamah dan Papa Naomi tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, akhirnya hanya Naomi, Ve dan Rena yang berangkat liburan ke Bandung. Setelah dua jam perjalanan dari Jakarta, mereka pun tiba di Bandung dengan selamat. Selama di Bandung, Naomi, Ve dan Rena menginap di villa milik keluarga Naomi.
            “Ini vila milik keluarga elo, Na?” tanya Ve ketika mereka sudah berada di depan villa Naomi. Mereka di sambut oleh Mbok Ana, Pak Karim dan anak laki-laki mereka, Andi, mereka adalah penjaga villa keluarga Naomi.
            “Iya, memangnya mengapa?,” jawab Naomi.
            “Villa keluarga elo unik banget, menarik,” komen Rena.
            “Benar Ren, selera Mamah, Papa Naomi memang unik,” komen Ve.
“Eh Non Naomi sudah datang, sama temannya ya Non? Yuk silahkan masuk Non,” kata Mbak Ana. Naomi hanya mengangguk. Naomi Ve, dan Rena pun masuk ke dalam villa.
            Terlihat di dalam villa di penuhi barang-barang antik. Memang, Mamah dan Papa Naomi merupakan pengoleksi barang-barang antik yang berasal dari dalam dan luar negeri. Contohnya saja cangkir keramik bermotif burung yang di pajang di dalam lemari kaca, di sudut ruang tamu, Mamah dan Papa Naomi beli di Singkawang, Kalimantan Barat.
***
            Malam harinya, Ve terbangun karena dia ingin minum. Dia pun keluar dari kamar dan turun menuju dapur untuk mengambil air, tapi saat dia melewati sebuah kamar yang kata Mbok Ana itu gudang, dia mendengar anak kecil menangis. Memang, gudang itu tepat di antara dapur dan kamar mandi bawah. Karena penasaran, Ve pun melangkah mendekati kamar yang di anggap sebagai gudang itu. Tapi saat dia akan melangkah mendekati kamar, Ve di kagetkan oleh seseorang.
            “Ve, elo ngapain di sini?,” tanya Naomi yang ternyata juga haus dan ingin mengambil minum.
            “Eh, elo Na ngagetin gue saja, gue turun itu mau ambil minum. Elo sendiri mau ngapain?,” jawab Ve.
            “Sama mau ngambil minum,” jawab Naomi sambil melangkah menuju dapur.
            “Na, tadi gue dengar ada anak kecil nangis dari ruangan itu. Emang itu ruang apaan sih?,” kata Ve sambil menuangkan air ke dalam gelas.
            “Ah, elo salah dengar kali. Menurut Mbok Ana sih itu gudang, isi peralatan rumah yang enggak di pakai.”
            “Benar, Na. gue tadi dengar ada suara anak kecil nangis di dalam gudang itu,” kata Ve meyakinkan Naomi. Benar saja, suara itu pun kembali terdengar dari dalam gudang.
            “Ternyata elo memang enggak salah dengar Ve, tapi kok gue jadi merinding ya?,” kata Naomi.
            “Gue penasaran nih, kita lihat aja yuk,” kata Ve sambil berjalan mendekati pintu gudang dan memegang knop pintu. “Enggak di kunci Na, mau masuk?” lanjut Ve.
            “Jangan deh Ve, perasaan gue enggak enak nih,” kata Naomi sambil memegang lengan Ve.
“Sudah enggak apa-apa. Soalnya gue penasaran banget nih. Elo kan tau kalau gue sudah penasarn, gue enggak akan bisa tidur semalaman,” kata Ve sambil melangkah masuk ke dalam gudang. Naomi hanya mengikuti Ve dari belakang.
Di dalam gudang yang gelap itu, Ve meraba-raba dinding gudang mencari tombol untuk menyalakan lampu. Plap… lampu gudang pun menyala, Naomi dan Ve pun menyipitkan matanya karena silau sinar lampu yang tiba-tiba menyala. Naomi dan Ve melihat sekeliling gudang, terlihat banyak barang-barang yang tak terpakai ada di sana. Kursi kayu yang sudah rusak, meja yang sudah tak terpakai, dan banyak sarang laba-laba.
“Tapi kok enggak ada apa-apa sih Na?,” tanya Ve.
“Mungkin tadi kita salah dengar Ve, kita balik ke kamar saja yuk,” kata Naomi. Tapi tiba-tiba suara tangisan itu kembali terdengar, kali ini tangisan itu di sertai suara minta tolong.
“Ssssttt…. Na elo dengar kan, ada orang nangis lagi?”, kata Ve.
“Iya Ve, kayaknya suara itu berasal dari lemari itu.”
“Ya sudah kita lihat yuk,” kata Ve sambil melangkah menuju depan lemari. Naomi hanya mengikuti Ve dari belakang, sebenarnya dia itu takut tapi penasaran juga apa yang ada di dalam lemari itu. Ve pun membuka pintu lemari dan ternyata memang ada seorang anak kecil berambut panjang dan memakai gaun putih yang sedang duduk di lemari itu sambil menangis.
“Ve dia siapa?,” tanya Naomi. Ve hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.
“Hai Dik, kamu siapa? Lagi apa kamu di dalam lemari?,” tanya Ve kepada gadis kecil itu. Gadis itu mengangkat kepalanya, terlihat wajahnya sangat pucat dan ketakutan. Ve pun mengajak gadis kecil itu keluar dari lemari.
“Kamu enggak usah takut, kakak enggak akan nyakitin kamu. Kamu siapa? Dan sedang apa kamu di dalam lemari?,” tanya Ve lagi.
“Tolong aku…., tolong aku…,” kata gadis itu sambil menangis.
“Non Ve, Non Naomi, kalian sedang apa di dalam gudang?,” tanya Andi ketika dia melewati gudang itu untuk ke kamar mandi, mengagetkan Ve dan Naomi.
“Eh kamu Di, ngagetin kita saja. Tadi kita dengar ada seorang anak kecil menangis, ketika kami cek ke sini memang ada anak  kecil di sini. Kamu tau anak kecil itu?,” jelas Naomi sambil menunjuk ke samping Ve. Tapi tiba-tiba saja anak kecil itui menghilang.
“Mana anak kecilnya Non? Yang ada hanya Non Ve saja?,” tanya Andi bingung. Naomi dan Ve pun melihat ke arah tempat anak kecil itu berada dan benar saja tak ada anak kecil itu.
“Na, kok dia enggak ada?,” tanya Ve bingung.
“Enggak tau, tadi kan ada di samping elo Ve. Jangan-jangan dia ada di lemari?,” kata Naomi sambil berjalan menuju lemari dan tidak ada siapa-siapa di lemari itu. Ve dan Andi pun ikut mencari gadis kecil itu, tapi tidak ada di mana pun.
“Mungkin tadi Non Ve dan Non Naomi kelelahan karena seharian jalan-jalan, sebaiknya Non Ve dan Non Naomi kembali istirahat,” saran Andi.
“Tapi benar tadi ada anak itu di dalam lemari, terus kita ajak keluar dan dia minta  tolong sama kita. Kita enggak mungkin salah lihat, iya kan Ve?,” jelas Naomi. Ve hanya mengangguk.
“Tadi kita sudah cari anak kecil itu, tapi tetap saja enggak ketemu, ya sudah gini saja sebaiknya Non Naomi, dan Non Ve kembali istirahat. Besok kita cari anak itu lagi, besok juga aku akan tanya Bapak dan Ibu.”
“Kamu sendiri ngapain malam-malam ada di sini?,” tanya Ve curiga.
“Tadinya aku mau ke kamar mandi, tapi aku lihat ada Non Ve dan Non Naomi di sini, ya sudah aku samperin,” jawab Andi.
“Ya sudah kita kembali ke kamar lagi. Yuk Ve,” ajak Naomi. Ve hanya mengangguk dan mereka kembali ke kamar.
***
Esok harinya Ve dan Naomi menceritakan kejadian semalam sama Rena, Mbok Ana dan Pak Karim. Mbok Ana dan Pak Karim pun tidak tau mengenai gadis kecil yang di temui oleh Ve dan Naomi dan menganggap Naomi dan Ve itu salah lihat. Tetapi sejak pertemuan dengan gadis kecil misterius itu, banyak kejadian aneh yang dialami Naomi, Ve dan Rena. Setiap malam Ve selalu mendengar suara tangisan seseorang tetapi ketika di cari orang itu tidak ada, Naomi juga sering melihat bayangan hitam melintas di depannya tetapi ketika di lihat, bayangan itu sudah hilang, sedangkan Rena sering mendengar suara orang sedang mandi di kamar atas, tetapi ketika di lihat tidak ada siapa-siapa yang ada hanya suara keran yang menyala.
Malam harinya, Ve terbangun karena mendengar ada seseorang membuka pintu kamar mereka. Memang, pintu kamar yang Ve, Naomi dan Rena tempati itu terbuka, tapi tak terlihat ada seorang pun berada di luar atau di dalam kamar itu. Ve pun membangunkan Rena dan Naomi di sampingnya.
“Rena, Naomi bangun,” kata Ve.
“Ada apa sih Ve?,” tanya Rena yang masih mengantuk.
“Bangun, ada yang buka pintu kamar kita,” kata Ve.
“Elo ngelindur kali Ve,” kata Naomi.
“Kalian bangun dulu,” kata Ve sambil terus mengguncang-guncang tubuh Naomi dan Rena. Naomi dan Rena pun bangun dan mereka melihat pintu kamar sudah terbuka.
“Loh kok pintu kamarnya terbuka sih? Perasaan tadi sudah gue tutup deh, elo yang buka ya Ve?,” tanya Naomi.
“Bukan gue Na, gue juga terbangun soalnya gue dengar ada suara orang buka pintu. Pas gue lihat pintunya sudah kebuka kayak gitu,” jawab Ve.
“Sssstttt… kalian dengar ada suara orang minta tolong enggak dari arah lemari itu?,” tanya Rena sambil menunjuk kearah lemari di samping kanannya. Ve, Naomi dan Rena pun melangkah menuju lemari dan Ve pun membuka pintu lemari itu tapi tak ada siapa-siapa di dalam lemari itu.
“Enggak ada apa-apa kok Ren,” kata Ve.
“Ve lihat deh kok di sini kayak ada pintu ke ruang bawah tanah ya?,” kata Naomi sambil menunjuk ke bawah lemari.
“Iya, benar, coba kita masuk,” ajak Rena dan mereka pun merangkak masuk ke pintu kecil di bawah lemari menuju ruang bawah tanah. Alangkah terkejutnya mereka, karena pintu itu membawa mereka ke halaman depan villa, bukan ke ruang bawah tanah.
“Loh ini kan halaman depan villa?,” kata Naomi.
“Iya benar, Na, tapi lihat deh bukannya itu pak Karim ya?,” tanya Ve sambil menunjuk kearah seorang laki-laki yang mirip Pak Karim memasuki villa itu.
“Iya, tapi kok kayak masih muda ya?,” tanya Rena heran.
“Ikuti yuk,” ajak Naomi. Ve, Naomi dan Rena pun mengikuti lelaki yang mirip Pak Karim.
***
Dahulu, villa itu milik Pak Karim yang di jual kepada Papa dan Mamah Naomi. Sebelum menikah dengan Mbok Ana, Pak Karim mempunyai istri yang bernama Suci dan seorang gadis kecil yang bernama Nina. Keluarga mereka sangat bahagia, tetapi sebulan sebelum kejadian, Pak Karim selalu marah-marah kepada istrinya Suci dan Nina anaknya, bahkan Nina selalu di kunci oleh Pak Karim di gudang yang gelap, tak jarang dia selalu bersikap kasar kepada Nina dan istrinya. Hingga malam itu, entah mengapa Pak Karim membunuh anak dan istrinya dan mengubur anak istrinya di dalam gudang di bawah lemari.
“Gila… tega banget tuh orang,” komen Ve.
“Hei… siapa di sana?,” kata Pak Karim kasar ketika dia sedang menyeret jasad anak  dan istrinya ke dalam gudang.
“Rena, Ve kita ketahuan, gimana nih?,” kata Naomi takut.
“Ayo kita lari dari sini,” ajak Ve dan Rena. Naomi, Ve, dan Rena pun lari menjauh dari Pak Karim
“Dasar bocah kurang ajar, akan ku bunuh kalian,” kata Pak Karim ketika melihat Ve, Naomi dan Rena. Dia pun mengejar Rena, Ve dan Naomi sampai luar villa sambil mengacungkan pisau yang tadi di pakai untuk membunuh istri dan anaknya, Nina.
“Gila, gue sudah lelah nih, Ve, Naomi. Sampai kapan kita harus lari kayak gini?,” tanya Rena dengan napas ngos-ngosan.
“Iya nih Ve, gue juga lelah banget nih, kayaknya kita sudah jauh deh Pak Karim,” kata Naomi.
“Ya sudah, kita istirahat saja di sana,” kata Ve sambil menunjuk ke sebuah rumah. Naomi, Ve dan Rena pun melangkah menuju sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Permisi… Assallamu alaikum, ada orang di dalam?, Gak di kunci Rena, Naomi” sapa Ve sambil membuka pintu rumah.
“Kita enggak apa-apa masuk rumah orang tanpa izin?,” kata Naomi.
“Sudah enggak apa-apa, yuk masuk, daripada ketahuan sama Pak Karim. Mau kalian di tangkap sama orang psyco kaya dia,” kata Ve sambil melangkah masuk. Di dalam rumah itu gelap dan berantakan seperti tak ada satu orang pun menempati rumah itu. Untung Naomi membawa senter kecil, Naomi pun menyalakan senter itu, rumah itu pun sedikit terang dan cahaya senter yang menyinari ruangan.
“Permisi.. apakah ada orang di sana?,” sapa Ve lagi tapi tak ada seorang pun yang menjawab.
“Ve, Naomi kok kayak ada seseorang di belakang ya?,” kata Rena sambil memegang tengkuknya. Seketika Ve, Naomi dan Rena memberanikan diri melihat ke belakang dan ternyata di belakang mereka ada sesosok wanita dengan wajah luka penuh darah yang berceceran kemana-mana hendak mencekik Rena.
“Kalian harus mati,” kata wanita itu.
***
“Jangan bunuh kami, jangan,” teriak Naomi.
“Naomi bangun sayang,” kata Mamah Naomi. Ternyata Naomi sekarang sudah berada di kamar rumah sakit.
“Aku di mana Mah?” tanya Naomi.
“Kamu di rumah sakit sekarang Na, tadi kamu pingsan ketika melihat jasad istri pertama Pak Karim,” jawab Mamah Naomi.
“Ve, dan Rena di mana sekarang mah?”
“Alhamdulillah Ve dan Rena tidak apa-apa, mereka yang telepon mamah dan menghubungi polisi. Sekarang Pak Karim sudah di penjara atas perbuatannya,” jawab Mamah Naomi. Ve dan Rena pun datang ke kamar Naomi dan memeluk Naomi.
Kejadian ini ada hikmahnya kalau kita tak boleh terlalu percaya dengan orang. Dan yang paling penting, kalau liburan di sebuah penginapan kita harus tau seluk beluk penginapan itu, supaya kita tidak mengalami kejadian menegangkan dan mengerikan seperti yang di alami Rena, Naomi dan Ve.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar