Seorang
gadis manis berambut panjang dan anggun duduk di sebuah taman kampus sambil
membaca buku, gadis itu sangat serius membaca hingga dia tak menyadari ada dua
gadis lain menghampirinya. Dua gadis itu adalah sahabatnya sejak SMP, Naomi dan
Rena. Naomi mengarahkan telunjuk kanannya yang putih di depan bibirnya agar
Rena tak mengusik gadis yang membaca buku di bangku taman itu.
“Dooor…,” kata Naomi dan Rena
bersamaan membuat gadis yang bernama lengkap Aulia Veranda Jessica ini kaget.
“Kalian itu ngagetin gue saja sih,”
kata gadis yang akrab di panggil Ve ini.
“Habisnya elo, kalau baca serius
banget. Sampai enggak tau kalau ada dua sahabat elo yang cantik ini,” kata
gadis berkulit putih keturunan Jepang, Rena Takagawa.
“Iya nih emangnya elo lagi baca buku
apa sih sampai serius banget kayak gini?,” tanya gadis berambut panjang dan
indah bernama Naomi Shinta sambil melihat cover buku yang bertuliskan “Twilight”. “Ih, ini kan novel kirain gue
buku apaan, serius elo baru baca novel ini? Gue saja sudah baca beberapa kali,
elo ketinggalan banget sih,” lanjutnya.
“Ini yang ke seratus kalinya gue
baca novel ini,” kata Ve santai tetap tak berpaling dari novel yang dia baca.
“What?
Seratus kali? Enggak salah elo?,” tanya Naomi kaget.
“Enggak, sudah sana kalian pergi.
Kalian itu mengganggu gue saja.”
“Jadi ceritanya ngusir nih? Kita
berdua cariin elo tuh, mau pastiin elo ikut enggak liburan ke Bandung besok?
Tapi karena elo sudah ngusir gue sama Naomi dari sini, iya kita anggap elo
enggak ikut kita ke Bandung, iya kan Naomi?,” kata Rena.
“Benar Ren, besok kita berdua saja
ke Bandungnya. Yuk Ren, kita siapkan keperluan buat besok ke Bandung,” kata Naomi sambil menggamit
lengan Renauntuk pergi dari hadapan Ve.
“Eh…. Eh… gue ikut ke Bandung. Yang
tadi gue hanya becanda, jangan marah ya,” kata Ve manja sambil memegang tangan
kedua sahabatnya.
“Ya sudah elo di maafkan, yuk kita
pulang dan beres-beres perlengkapan yang akan kita bawa besok,” kata Naomi
sambil merangkul Rena dan Ve.
***
Keesokkan harinya jam delapan pagi,
Rena dan Ve sudah berada di rumah Naomi. Rencananya Rena, Naomi dan Ve akan
berangkat bersama Mamah dan Papa Naomi tapi karena Mamah dan Papa Naomi tidak
bisa meninggalkan pekerjaan mereka, akhirnya hanya Naomi, Ve dan Rena yang berangkat
liburan ke Bandung. Setelah dua jam perjalanan dari Jakarta, mereka pun tiba di
Bandung dengan selamat. Selama di Bandung, Naomi, Ve dan Rena menginap di villa
milik keluarga Naomi.
“Ini vila milik keluarga elo, Na?”
tanya Ve ketika mereka sudah berada di depan villa Naomi. Mereka di sambut oleh
Mbok Ana, Pak Karim dan anak laki-laki mereka, Andi, mereka adalah penjaga
villa keluarga Naomi.
“Iya, memangnya mengapa?,” jawab
Naomi.
“Villa keluarga elo unik banget,
menarik,” komen Rena.
“Benar Ren, selera Mamah, Papa Naomi
memang unik,” komen Ve.
“Eh
Non Naomi sudah datang, sama temannya ya Non? Yuk silahkan masuk Non,” kata
Mbak Ana. Naomi hanya mengangguk. Naomi Ve, dan Rena pun masuk ke dalam villa.
Terlihat di dalam villa di penuhi
barang-barang antik. Memang, Mamah dan Papa Naomi merupakan pengoleksi
barang-barang antik yang berasal dari dalam dan luar negeri. Contohnya saja
cangkir keramik bermotif burung yang di pajang di dalam lemari kaca, di sudut
ruang tamu, Mamah dan Papa Naomi beli di Singkawang, Kalimantan Barat.
***
Malam harinya, Ve terbangun karena
dia ingin minum. Dia pun keluar dari kamar dan turun menuju dapur untuk
mengambil air, tapi saat dia melewati sebuah kamar yang kata Mbok Ana itu
gudang, dia mendengar anak kecil menangis. Memang, gudang itu tepat di antara
dapur dan kamar mandi bawah. Karena penasaran, Ve pun melangkah mendekati kamar
yang di anggap sebagai gudang itu. Tapi saat dia akan melangkah mendekati
kamar, Ve di kagetkan oleh seseorang.
“Ve, elo ngapain di sini?,” tanya
Naomi yang ternyata juga haus dan ingin mengambil minum.
“Eh, elo Na ngagetin gue saja, gue
turun itu mau ambil minum. Elo sendiri mau ngapain?,” jawab Ve.
“Sama mau ngambil minum,” jawab
Naomi sambil melangkah menuju dapur.
“Na, tadi gue dengar ada anak kecil
nangis dari ruangan itu. Emang itu ruang apaan sih?,” kata Ve sambil menuangkan
air ke dalam gelas.
“Ah, elo salah dengar kali. Menurut
Mbok Ana sih itu gudang, isi peralatan rumah yang enggak di pakai.”
“Benar, Na. gue tadi dengar ada suara
anak kecil nangis di dalam gudang itu,” kata Ve meyakinkan Naomi. Benar saja,
suara itu pun kembali terdengar dari dalam gudang.
“Ternyata elo memang enggak salah
dengar Ve, tapi kok gue jadi merinding ya?,” kata Naomi.
“Gue penasaran nih, kita lihat aja
yuk,” kata Ve sambil berjalan mendekati pintu gudang dan memegang knop pintu.
“Enggak di kunci Na, mau masuk?” lanjut Ve.
“Jangan deh Ve, perasaan gue enggak
enak nih,” kata Naomi sambil memegang lengan Ve.
“Sudah
enggak apa-apa. Soalnya gue penasaran banget nih. Elo kan tau kalau gue sudah
penasarn, gue enggak akan bisa tidur semalaman,” kata Ve sambil melangkah masuk
ke dalam gudang. Naomi hanya mengikuti Ve dari belakang.
Di
dalam gudang yang gelap itu, Ve meraba-raba dinding gudang mencari tombol untuk
menyalakan lampu. Plap… lampu gudang pun menyala, Naomi dan Ve pun menyipitkan
matanya karena silau sinar lampu yang tiba-tiba menyala. Naomi dan Ve melihat
sekeliling gudang, terlihat banyak barang-barang yang tak terpakai ada di sana.
Kursi kayu yang sudah rusak, meja yang sudah tak terpakai, dan banyak sarang
laba-laba.
“Tapi
kok enggak ada apa-apa sih Na?,” tanya Ve.
“Mungkin
tadi kita salah dengar Ve, kita balik ke kamar saja yuk,” kata Naomi. Tapi
tiba-tiba suara tangisan itu kembali terdengar, kali ini tangisan itu di sertai
suara minta tolong.
“Ssssttt….
Na elo dengar kan, ada orang nangis lagi?”, kata Ve.
“Iya
Ve, kayaknya suara itu berasal dari lemari itu.”
“Ya
sudah kita lihat yuk,” kata Ve sambil melangkah menuju depan lemari. Naomi
hanya mengikuti Ve dari belakang, sebenarnya dia itu takut tapi penasaran juga
apa yang ada di dalam lemari itu. Ve pun membuka pintu lemari dan ternyata
memang ada seorang anak kecil berambut panjang dan memakai gaun putih yang
sedang duduk di lemari itu sambil menangis.
“Ve
dia siapa?,” tanya Naomi. Ve hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.
“Hai
Dik, kamu siapa? Lagi apa kamu di dalam lemari?,” tanya Ve kepada gadis kecil
itu. Gadis itu mengangkat kepalanya, terlihat wajahnya sangat pucat dan
ketakutan. Ve pun mengajak gadis kecil itu keluar dari lemari.
“Kamu
enggak usah takut, kakak enggak akan nyakitin kamu. Kamu siapa? Dan sedang apa
kamu di dalam lemari?,” tanya Ve lagi.
“Tolong
aku…., tolong aku…,” kata gadis itu sambil menangis.
“Non
Ve, Non Naomi, kalian sedang apa di dalam gudang?,” tanya Andi ketika dia
melewati gudang itu untuk ke kamar mandi, mengagetkan Ve dan Naomi.
“Eh
kamu Di, ngagetin kita saja. Tadi kita dengar ada seorang anak kecil menangis,
ketika kami cek ke sini memang ada anak
kecil di sini. Kamu tau anak kecil itu?,” jelas Naomi sambil menunjuk ke
samping Ve. Tapi tiba-tiba saja anak kecil itui menghilang.
“Mana
anak kecilnya Non? Yang ada hanya Non Ve saja?,” tanya Andi bingung. Naomi dan
Ve pun melihat ke arah tempat anak kecil itu berada dan benar saja tak ada anak
kecil itu.
“Na,
kok dia enggak ada?,” tanya Ve bingung.
“Enggak
tau, tadi kan ada di samping elo Ve. Jangan-jangan dia ada di lemari?,” kata
Naomi sambil berjalan menuju lemari dan tidak ada siapa-siapa di lemari itu. Ve
dan Andi pun ikut mencari gadis kecil itu, tapi tidak ada di mana pun.
“Mungkin
tadi Non Ve dan Non Naomi kelelahan karena seharian jalan-jalan, sebaiknya Non
Ve dan Non Naomi kembali istirahat,” saran Andi.
“Tapi
benar tadi ada anak itu di dalam lemari, terus kita ajak keluar dan dia
minta tolong sama kita. Kita enggak
mungkin salah lihat, iya kan Ve?,” jelas Naomi. Ve hanya mengangguk.
“Tadi
kita sudah cari anak kecil itu, tapi tetap saja enggak ketemu, ya sudah gini
saja sebaiknya Non Naomi, dan Non Ve kembali istirahat. Besok kita cari anak
itu lagi, besok juga aku akan tanya Bapak dan Ibu.”
“Kamu
sendiri ngapain malam-malam ada di sini?,” tanya Ve curiga.
“Tadinya
aku mau ke kamar mandi, tapi aku lihat ada Non Ve dan Non Naomi di sini, ya
sudah aku samperin,” jawab Andi.
“Ya
sudah kita kembali ke kamar lagi. Yuk Ve,” ajak Naomi. Ve hanya mengangguk dan
mereka kembali ke kamar.
***
Esok
harinya Ve dan Naomi menceritakan kejadian semalam sama Rena, Mbok Ana dan Pak
Karim. Mbok Ana dan Pak Karim pun tidak tau mengenai gadis kecil yang di temui
oleh Ve dan Naomi dan menganggap Naomi dan Ve itu salah lihat. Tetapi sejak
pertemuan dengan gadis kecil misterius itu, banyak kejadian aneh yang dialami
Naomi, Ve dan Rena. Setiap malam Ve selalu mendengar suara tangisan seseorang
tetapi ketika di cari orang itu tidak ada, Naomi juga sering melihat bayangan
hitam melintas di depannya tetapi ketika di lihat, bayangan itu sudah hilang,
sedangkan Rena sering mendengar suara orang sedang mandi di kamar atas, tetapi
ketika di lihat tidak ada siapa-siapa yang ada hanya suara keran yang menyala.
Malam
harinya, Ve terbangun karena mendengar ada seseorang membuka pintu kamar
mereka. Memang, pintu kamar yang Ve, Naomi dan Rena tempati itu terbuka, tapi
tak terlihat ada seorang pun berada di luar atau di dalam kamar itu. Ve pun
membangunkan Rena dan Naomi di sampingnya.
“Rena,
Naomi bangun,” kata Ve.
“Ada
apa sih Ve?,” tanya Rena yang masih mengantuk.
“Bangun,
ada yang buka pintu kamar kita,” kata Ve.
“Elo
ngelindur kali Ve,” kata Naomi.
“Kalian
bangun dulu,” kata Ve sambil terus mengguncang-guncang tubuh Naomi dan Rena.
Naomi dan Rena pun bangun dan mereka melihat pintu kamar sudah terbuka.
“Loh
kok pintu kamarnya terbuka sih? Perasaan tadi sudah gue tutup deh, elo yang
buka ya Ve?,” tanya Naomi.
“Bukan
gue Na, gue juga terbangun soalnya gue dengar ada suara orang buka pintu. Pas
gue lihat pintunya sudah kebuka kayak gitu,” jawab Ve.
“Sssstttt…
kalian dengar ada suara orang minta tolong enggak dari arah lemari itu?,” tanya
Rena sambil menunjuk kearah lemari di samping kanannya. Ve, Naomi dan Rena pun
melangkah menuju lemari dan Ve pun membuka pintu lemari itu tapi tak ada
siapa-siapa di dalam lemari itu.
“Enggak
ada apa-apa kok Ren,” kata Ve.
“Ve
lihat deh kok di sini kayak ada pintu ke ruang bawah tanah ya?,” kata Naomi
sambil menunjuk ke bawah lemari.
“Iya,
benar, coba kita masuk,” ajak Rena dan mereka pun merangkak masuk ke pintu
kecil di bawah lemari menuju ruang bawah tanah. Alangkah terkejutnya mereka,
karena pintu itu membawa mereka ke halaman depan villa, bukan ke ruang bawah
tanah.
“Loh
ini kan halaman depan villa?,” kata Naomi.
“Iya
benar, Na, tapi lihat deh bukannya itu pak Karim ya?,” tanya Ve sambil menunjuk
kearah seorang laki-laki yang mirip Pak Karim memasuki villa itu.
“Iya,
tapi kok kayak masih muda ya?,” tanya Rena heran.
“Ikuti
yuk,” ajak Naomi. Ve, Naomi dan Rena pun mengikuti lelaki yang mirip Pak Karim.
***
Dahulu,
villa itu milik Pak Karim yang di jual kepada Papa dan Mamah Naomi. Sebelum
menikah dengan Mbok Ana, Pak Karim mempunyai istri yang bernama Suci dan
seorang gadis kecil yang bernama Nina. Keluarga mereka sangat bahagia, tetapi sebulan
sebelum kejadian, Pak Karim selalu marah-marah kepada istrinya Suci dan Nina
anaknya, bahkan Nina selalu di kunci oleh Pak Karim di gudang yang gelap, tak
jarang dia selalu bersikap kasar kepada Nina dan istrinya. Hingga malam itu,
entah mengapa Pak Karim membunuh anak dan istrinya dan mengubur anak istrinya
di dalam gudang di bawah lemari.
“Gila…
tega banget tuh orang,” komen Ve.
“Hei…
siapa di sana?,” kata Pak Karim kasar ketika dia sedang menyeret jasad
anak dan istrinya ke dalam gudang.
“Rena,
Ve kita ketahuan, gimana nih?,” kata Naomi takut.
“Ayo
kita lari dari sini,” ajak Ve dan Rena. Naomi, Ve, dan Rena pun lari menjauh
dari Pak Karim
“Dasar
bocah kurang ajar, akan ku bunuh kalian,” kata Pak Karim ketika melihat Ve,
Naomi dan Rena. Dia pun mengejar Rena, Ve dan Naomi sampai luar villa sambil
mengacungkan pisau yang tadi di pakai untuk membunuh istri dan anaknya, Nina.
“Gila,
gue sudah lelah nih, Ve, Naomi. Sampai kapan kita harus lari kayak gini?,”
tanya Rena dengan napas ngos-ngosan.
“Iya
nih Ve, gue juga lelah banget nih, kayaknya kita sudah jauh deh Pak Karim,” kata
Naomi.
“Ya
sudah, kita istirahat saja di sana,” kata Ve sambil menunjuk ke sebuah rumah.
Naomi, Ve dan Rena pun melangkah menuju sebuah rumah sederhana yang tak jauh
dari tempat mereka berdiri.
“Permisi…
Assallamu alaikum, ada orang di dalam?, Gak di kunci Rena, Naomi” sapa Ve
sambil membuka pintu rumah.
“Kita
enggak apa-apa masuk rumah orang tanpa izin?,” kata Naomi.
“Sudah
enggak apa-apa, yuk masuk, daripada ketahuan sama Pak Karim. Mau kalian di
tangkap sama orang psyco kaya dia,”
kata Ve sambil melangkah masuk. Di dalam rumah itu gelap dan berantakan seperti
tak ada satu orang pun menempati rumah itu. Untung Naomi membawa senter kecil,
Naomi pun menyalakan senter itu, rumah itu pun sedikit terang dan cahaya senter
yang menyinari ruangan.
“Permisi..
apakah ada orang di sana?,” sapa Ve lagi tapi tak ada seorang pun yang
menjawab.
“Ve,
Naomi kok kayak ada seseorang di belakang ya?,” kata Rena sambil memegang
tengkuknya. Seketika Ve, Naomi dan Rena memberanikan diri melihat ke belakang
dan ternyata di belakang mereka ada sesosok wanita dengan wajah luka penuh
darah yang berceceran kemana-mana hendak mencekik Rena.
“Kalian
harus mati,” kata wanita itu.
***
“Jangan
bunuh kami, jangan,” teriak Naomi.
“Naomi
bangun sayang,” kata Mamah Naomi. Ternyata Naomi sekarang sudah berada di kamar
rumah sakit.
“Aku
di mana Mah?” tanya Naomi.
“Kamu
di rumah sakit sekarang Na, tadi kamu pingsan ketika melihat jasad istri
pertama Pak Karim,” jawab Mamah Naomi.
“Ve,
dan Rena di mana sekarang mah?”
“Alhamdulillah
Ve dan Rena tidak apa-apa, mereka yang telepon mamah dan menghubungi polisi.
Sekarang Pak Karim sudah di penjara atas perbuatannya,” jawab Mamah Naomi. Ve
dan Rena pun datang ke kamar Naomi dan memeluk Naomi.
Kejadian
ini ada hikmahnya kalau kita tak boleh terlalu percaya dengan orang. Dan yang
paling penting, kalau liburan di sebuah penginapan kita harus tau seluk beluk
penginapan itu, supaya kita tidak mengalami kejadian menegangkan dan mengerikan
seperti yang di alami Rena, Naomi dan Ve.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar