Rabu, 27 November 2013

MIRACLE OF NATURE INDONESIA


Seorang gadis manis berambut panjang telihat sedang duduk di bangku taman. Dia sangat serius menatap sesuatu yang ada di depannya. Entah apa yang dia lihat sampai dia tidak terusik oleh suara teriakan sekelompok anak laki-laki yang sedang bermain bola, suara ceria anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran atau suara tawa Ayah dan Ibu yang sedang bercanda dengan anak-anaknya, dia masih tetap fokus dengan sesuatu yang ada di depannya. Memang, setiap sore taman itu di penuhi oleh orang-orang yang sedang bersantai menghilangkan rasa lelah mereka setelah seharian beraktifitas atau sebagai tempat anak-anak bermain bola. Setiap sore pula banyak yang datang ke taman itu baik keluarga, anak-anak, Ayah, Ibu, pemuda-pemudi yang sedang pacaran maupun kakek, dan nenek yang sedang bersantai dengan anak cucu mereka. Tak terkecuali gadis itu.
Setiap jam empat sore, dia selalu berjalan dari rumahnya menuju taman itu. Jarak taman dengan rumah gadis itu memang tak terlalu jauh, hanya butuh waktu lima belas menit gadis itu berjalan untuk sampai ke taman favoritnya itu. Entah mengapa taman itu begitu di sukai oleh gadis manis itu. Tak lama kemudian, ada seorang lelaki datang menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya.
            “Hei… kok elo melamun aja?” tanya lelaki itu yang ternyata bernama Rizki teman SMA gadis manis yang bernama Celia.
            “Eh, elo Ki, ngagetin gue aja. Gue enggak melamun kok, gue lagi menghayati suara di sekitar gue. Elo sendiri ngapain di sini?” jawab Celia tanpa menoleh sedikit pun kearah Rizki.
            “Gue kebetulan mau ke rumah elo. Tapi pas gue lihat elo ada di sini ya gue samperin.”
            Celia mengangguk. “Emang ada keperluan apa elo ke rumah gue?”
            “Gue mau main sekalian mau pinjem buku catatan Kimia elo,” jawab Rizki sambil nyengir.
            “Ya udah, yuk…,” ajak Celia sambil berdiri dari duduknya kemudian dia mengambil tongkat yang dia taruh di sampingnya.
            “Kemana?” tanya Rizki bingung.
            “Ya, ke rumah gue lah, katanya elo mau pinjam buku catatan Kimia gue. Lagian sudah mau maghrib, kalau enggak buru-buru nanti elo pulangnya kemalaman,” jawab Celia.
            “Oh, ya udah sini gue bantu elo jalan. Kalau enggak di bantu, nanti elo nabrak,” kata Rizki sambil menggamit lengan Celia. Celia hanya tersenyum. Rizki dan Celia pun berjalan menuju mobil Rizki.
***
            “Cel, kita duluan ya,” kata Dinda teman Celia sejak SD sampai sekarang kelas 1 SMP.
            “Ya, sudah sampai ketemu besok ya,” kata Celia sambil melambaikan tangannya. Sedangkan Dinda masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mobil Dinda pun melaju meninggalkan Celia yang sedang menunggu Ibu Ana, mamahnya Celia untuk menjemputnya.
            Belum satu kilometer mobil Dinda berlalu dari hadapan Celia, tiba-tiba Ibu Ana, datang dari seberang jalan, menuju ke arahnya. Tapi saat Ibu Ana sedang menyebrang, tiba-tiba dari arah kanan ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah mamahnya. Refleks, Celia berlari kearah mamahnya dan mendorong Mamahnya ke belakang agar terhindar dari mobil yang melaju kencang itu. Tapi mobil yang sedang melaju kencang itu semakin mendekati Celia. Belum sempat dia berlari menuju Mamahnya, brukkk…. Mobil itu dengan cepat menabrak tubuh mungil Celia.
            “Celiaaaaa….,” teriak Mamahnya sambil menghampiri anaknya yang terluka parah. Sontak semua orang yang ada di sekeliling sekolah menggerumuni tubuh Celia yang penuh darah. Teriakan mamahnya juga sampai di dengar oleh Dinda yang berada satu kilometer di depan tempat kejadian pekara. Mamah Celia menangis dan berteriak meminta tolong, tapi sayang tak ada satu orang dari kerumunan itu membantu Celia dan Mamahnya.
            “Mah, mamah dengar enggak tadi kayak ada orang yang manggil nama Celia. Terus juga tuh lihat mah, banyak orang yang berkumpul di gerbang sekolah. Ada apa ya Mah?” tanya Dinda penasaran sambil menunjuk kearah belakang.
            “Iya benar kamu Din, kita lihat yuk. Pak tolong putar balik ya,” kata Ibu Rinda, mamah Dinda kepada Pak Salim, supir pribadinya.
            “Baik, Bu,” jawab Pak Salim sambil memutar balik mobilnya menuju sekolah. Sekitar lima menit kemudian, mobil Dinda telah berada di belakang kerumunan orang yang melihat keadaan Celia. Dinda dan Mamahnya pun turun dari mobil dan berlari menuju kerumunan itu.
            “Permisi.. Permisi..,” kata Dinda dan Mamahnya sambil memasuki kerumunan itu. Alangkah terkejutnya mereka, saat melihat tubuh Celia yang tak berdaya.
            “Celia, bangun Cel. Tolong, tolong anak saya,” kata Mamah Celia sambil terisak.
            “Celia…. Tante, Celia kenapa?” tanya Dinda.
            “Celia tadi tertabrak mobil Din,” jawab Mamah Celia masih dalam tangisnya.
            “Ya sudah, cepat sekarang kita bawa Celia ke rumah sakit,” kata Mamah Dinda sambil membantu menggendong tubuh Celia. Celia pun langsung di bawa ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit, Celia segera di bawa ke ruang unit gawat darurat untuk di periksa. Karena yang hanya boleh masuk ke ruang unit darurat, hanya dokter dan para perawat, akhirnya Mamah Celia, Mamah Dinda, dan Dinda pun menunggu di luar ruangan sambil berharap Celia baik-baik saja.
            “Bu Ana, yang sabar ya. Insya Allah, Celia tidak akan apa-apa. Sekarang kita berdoa yuk, semoga Celia tidak apa-apa. Dan semoga Celia bisa cepat sembuh. Amin..,” kata Mamah Dinda menenangkan Mamah Celia sambil merangkul bahunya.
            “Amin… Tapi ini semua salah saya Bu. Seandainya saya tadi menjemput Celia pakai mobil tidak akan begini jadinya,” kata Mamah Celia sambil menangis.
            “Udah tante, jangan nyalahin diri tante. Ini semua udah takdir dari Allah tante, yang tidak bisa kita cegah. Celia itu anak yang kuat, Dinda yakin Celia tidak akan kenapa-kenapa,” kata Dinda. Mamah Celia hanya mengangguk.
            Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang UGD. “Bagaimana keadaan anak saya dokter?” tanya Mamah Celia.
            “Alhamdulillah anak Ibu berhasil kami selamatkan, tapi karena benturan yang cukup keras pada bagian kepala, membuat selaput saraf pada kornea mata anak Ibu sobek dan anak Ibu mengalami kebutaan permanen,” jelas dokter.
            “Apa anak saya buta permanen dok? Celia, maafkan Ibu Nak,” kata Mamah Celia sambil menangis. Dokter hanya mengangguk.
            “Apakah Celia bisa sembuh dok?” tanya Dinda.
            “Dengan operasi transplantasi kornea, anak Ibu masih bisa sembuh. Tapi itu kemungkinannya sangat  kecil. Anak Ibu sudah boleh di pindahkan ke ruang rawat inap Maaf saya permisi dulu,” kata dokter sambil berlalu pergi.
***
“Kamu sudah sadar sayang?” kata Bapak Amin, Ayahnya Celia.
            “Yah, ini di mana Yah? Kok gelap Yah, lampunya nyalain dong Yah, Celia enggak bisa melihat apa-apa, semuanya gelap,” kata Celia sambil berusaha bangun dari tidurnya dan meraba-raba tempat tidur rumah sakit.
            “Ini di rumah sakit sayang. Maafkan mamah ya sayang. Karena mamah, kamu jadi begini,” kata Ibu Ana sambil terisak dan memeluk Celia yang sudah duduk di ranjang.
            “Celia kenapa Mah? Kenapa Mamah nangis? Kenapa semuanya gelap? Jawab Mah, Yah,” tanya Celia lagi sambil mengguncang-guncang tubuh Mamahnya. Sementara Mamahnya tak menjawab pertanyaan Celia. Beliau hanya menangis sambil membelai rambut anaknya.
            “Kamu yang sabar ya, nak. Kamu tadi mengalami kecelakaan dan akibat kecelakaan itu selaput saraf pada kornea matamu rusak dan kata dokter kamu mengalami kebutaan permanen,” jelas Ayah Celia.
            “Aku buta permanen Yah? Enggak, Ayah pasti bohong, dokter itu juga bohong, aku enggak mungkin buta permanen Yah. Ini hanya sementara aja kan? Besok aku bisa melihat lagi kan Yah? Dokter itu pasti salah menganalisa, benar kan Yah?” tanya Celia tak percaya.
            “Kamu yang sabar ya sayang, kamu pasti bisa melihat lagi dengan operasi transplantasi kornea,” kata Ayahnya menenangkan.
            “Operasi transplantasi kornea? Enggak mungkin Yah, pasti dokter salah, aku yakin tanpa operasi pun besok aku bisa melihat lagi kan Yah? Mataku hanya kelilipan aja kan Yah, sebentar lagi juga pasti aku bisa melihat lagi kan, paling lambat juga besok aku bisa melihat lagi kan? Jawab Ayah, Mamah,” kata Celia tak percaya.
            “Maafin Ayah sayang, tapi perkataan dokter enggak salah sayang. Dokter enggak mungkin salah menganalisa, kamu hanya bisa sembuh dengan transplantasi kornea mata karena ada selaput saraf di kornea matamu yang rusak,” kata Ayah Celia menjelaskan.
            “Enggak, enggak mungkin. Celia enggak percaya, Ayah, Mamah sama dokter itu bohong. Sekarang aku mohon Mamah, Ayah atau siapa pun yang ada di sini keluar. Celia mau sendiri,” kata Celia sambil menangis. Dia belum menerima kondisinya saat ini.
            “Celia kamu jangan kayak gitu,” kata Mamahnya sambil memeluk Celia.
            “Keluar..,” teriak Celia. Ayah dan Mamahnya pun keluar dari kamar Celia.
***
            Sejak saat itu, Celia sangat shock mengetahui bahwa dia tidak akan pernah bisa melihat lagi, apalagi orang tua Celia belum menemukan pendonor yang cocok dengan kornea mata Celia. Sampai dua minggu setelah dia keluar dari rumah sakit, dia hanya mengurung diri di kamar. Dia tidak mau sekolah, tidak mau makan, meski Mamah dan Ayahnya membujuknya. Sampai Dinda temannya pun yang datang menjenguknya, dia tidak peduli. Dia malah menyuruh Dinda untuk menjauhinya. Tapi Dinda memang sahabat yang baik, walaupun Celia sudah menyuruh Dinda untuk menjauhi Celia, Dinda tetap datang untuk menjenguk Celia. Walau hanya menanyakan kabar Celia atau sekadar memberi buku catatan semua pelajaran yang dia tulis untuk Celia. Walaupun Dinda tau dengan kondisi Celia seperti sekarang, Celia tidak mungkin bisa membacanya tanpa bantuan orang lain. Tapi Dinda melakukan hal itu karena dia tidak mau Celia tertinggal pelajaran.
            “Assallamu alaikum Cel, gimana keadaan elo sekarang?” tanya Dinda.
            “Mau ngapain elo ke sini? Elo mau ngeledek gue dengan catatan-catatan semua pelajaran yang elo tulis buat gue, iya? Kenapa sih elo enggak jauhi gue aja? Gue buta Din, elo gak pantas berteman sama orang buta kayak gue,” kata Celia ketus.
            “Ya ampun Cel, gue enggak ada niat buat ngeledek elo. Gue kasih semua buku catatan pelajaran itu karena gue enggak mau elo ketinggalan pelajaran. Elo sadar enggak? Elo udah dua minggu gak masuk sekolah Cel, otomatis dengan dua minggu elo gak masuk, elo akan ketinggalan semua pelajaran. Tapi gue enggak mau hal itu terjadi, makanya gue setiap hari catatin semua mata pelajaran buat elo. Gue mau elo kayak dulu Cel, Celia yang ceria, Celia yang selalu semangat bukan Celia yang kayak gini,” kata Dinda sambil duduk di sebelah Celia.
            “Elo enggak ngerti apa-apa tentang gue Din, gue ini buta. Gue enggak bisa melihat, padahal gue dari dulu pengen banget keliling Indonesia. Melihat semua keindahan yang ada di Indonesia. Gue pengen melihat keindahan Bunaken, keindahan Pulau Dewata, keindahan Gunung Rinjani, Gunung Semeru, dan semua tempat yang ada di Indonesia. Tapi sampai kapanpun semua keinginan gue enggak akan terwujud, karena gue akan buta selamanya. Mungkin keindahan Yogya adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang gue lihat dan gue kunjungi pertama dan terakhir kalinya selama hidup gue,” kata Celia dengan berurai air mata.
            “Gue tau Cel, gue ngerti elo. Tapi elo enggak akan selamanya buta dan seperti ini Cel. Elo kan dengar sendiri kata Ayah elo, Mamah elo, dan dokter pun bilang elo akan bisa melihat kembali dengan cara operasi transplantasi kornea mata. Mungkin saat ini belum ada pendonor mata yang cocok sama kornea mata elo, tapi gue yakin suatu saat ada seseorang yang mau donorin kornea matanya dan cocok sama kornea mata elo dan elo bisa melihat lagi. Elo juga bisa melihat keindahan Indonesia sesuai keinginan elo.”
            “Siapa Din yang mau donorin kornea matanya sama gue? Enggak akan ada yang mau Din, gue kadang pikir Allah itu enggak sayang sama gue. Kalau Allah sayang sama gue, Allah gak akan mungkin kasih musibah ini sama gue. Padahal gue selalu sholat, selalu ngaji, selalu melaksanakan perintah Dia, kenapa Dia ngasih ujian ini sama gue, Din? Kenapa enggak sama orang lain aja? Allah itu jahat sama gue Din.”
            “Astagfirullah, elo jangan ngomong gitu sama Allah. Allah itu ngasih ujian sama kita, karena Allah sayang sama kita Cel. Dia ngasih ujian ini sama elo, justru karena dia sayang sama elo dan supaya Dia tau seberapa sabar dan tawakalnya elo terhadap ujianNya. Saat ini mata elo emang buta tapi hati elo jangan ikut buta karena elo frustasi menerima cobaan ini dari Allah, Cel. Gue harap elo pikirin omongan gue ini ya, dan elo tarik kembali perkataan elo tadi yang bilang Allah itu jahat sama elo. Elo harus Istigfar Cel, karena elo sudah buruk sangka sama Allah. Lagian harusnya elo bersyukur soalnya elo masih beruntung dibanding orang lain, banyak loh ada anak yang mengalami kebutaan sejak dia masih bayi, harus tinggal di panti asuhan karena mereka tidak punya orang tua atau karena orang tuanya enggak mau punya anak yang enggak bisa melihat. Elo harusnya mikir ke sana Cel, elo masih beruntung dibanding mereka, elo masih punya orang tua yang sayang sama elo, elo masih punya saudara, masih punya gue sahabat elo. Elo jangan kayak gini terus ya, kalau elo kayak gini kasihan orang tua elo. Mamah elo selalu bilang sama gue, dia sedih banget ngeliat elo kayak gini,. Gue pulang dulu ya Cel, ini catatan semua pelajaran hari ini. Gue harap elo besok masuk sekolah ya, Cel. Assallamu alaikum.” Kata Dinda sambil keluar dari kamar Celia.
Sejak saat itu, akhirnya Celia sadar kalau yang Dinda katakan itu benar. Dia tidak mungkin akan seperti ini terus. Dia harus tetap semangat dalam keadaan apapun. Celia kembali menjadi Celia yang dulu. Celia yang ceria, Celia yang gak gampang putus asa, Celia yang menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan walau dalam keadaan apapun. Celia kembali ke sekolah dan belajar seperti anak-anak yang lain, walaupun sekarang dalam kondisi berbeda dari sebelumnya tapi Celia tetap bersemangat. Celia juga belajar huruf Braille untuk membantu dia membaca dan menulis pelajaran, tak jarang juga Dinda selalu membantu membacakan catatan yang ditulis oleh gurunya pada saat di sekolah. Walaupun dalam kondisi tak melihat, tetapi prestasi Celia masih bagus dan selalu mendapat sepuluh besar di kelasnya. Impian Celia sekarang adalah ingin menjadi tour guide atau pemandu wisata dan memberitahukan kepada dunia bahwa orang yang tidak bisa melihat juga bisa menjelaskan keindahan Indonesia di mata dunia.
***
            “Ini Ki, bukunya,” kata Celia sambil memberikan buku catatan Kimia kepada Rizky.
            “Makasih ya, Cel. Gue salut deh sama elo, meskipun elo dalam kondisi kayak gini, tapi elo masih tetap berprestasi dan tulisan elo masih tetap bagus. Eh iya nanti liburan semester kita liburan ke Ciamis yuk, kata kakek gue banyak tempat wisata yang masih alami di sana dan belum banyak orang yang tau tempat itu,” ajak Rizki.
            “Hmm.. gimana ya? Elo tau kan kondisi gue kayak gini, gue takut di sana malah ngerepotin,” kata Celia ragu.
            “Enggak akan ngerepotin kok, Cel. Lagian gue juga bakalan ajak Dinda dan Kevin kok, jadinya kalau liburan rame-rame kan tambah asyik.
            ‘Gimana ya? Gue minta izin, Mamah dan Ayah gue dulu ya, nanti kalau sudah dapat izin dari mereka gue kabari elo,”
            “Sip.. ya sudah gue pulang dulu ya, Cel. Insya Allah bukunya besok  gue kembaliin,” kata Rizky sambil berpamitan.
            “Rizky kamu gak makan malam dulu di sini? Tante sudah siapin makan malamnya loh,” kata Mamah Celia yang baru saja keluar dari ruang makan.
            “Gak usah tante, aku makan malam di rumah aja. Ya sudah tante, aku permisi pulang dulu. Cel, gue pulang dulu ya. Assallamu alaikum,” kata Rizky sambil mencium tangan Mamah Celia dan keluar menuju mobilnya.
            “Walaikum salam. Hati-hati ya Riz,” kata Mamah Celia dan Celia. Risky hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan rumah Celia.
            “Rizki baik ya Cel?” tanya Mamahnya ketika mobil Rizki sudah tak terlihat lagi.
            “Iya, Mah. Emang kenapa?”
            “Enggak apa-apa sih, tapi kayaknya dia suka deh sama kamu,” goda Mamahnya.
            “Ah mamah jangan becanda deh. Mana mungkin seorang Rizki suka sama aku yang gak bisa melihat, Mah?”
            “Ya kan siapa tau Cel. Cinta itu datang kapan saja. Ya udah, yuk masuk,” ajak Mamahnya sambil melangkah masuk ke dalam dengan Celia yang mengikuti Mamahnya dari belakang.
***
Hari ini adalah hari pertama liburan semester. Seperti rencana sebelumnya, Rizki mengajak Celia, Dinda dan Kevin untuk liburan mengelilingi kota Ciamis, Jawa Barat. Ciamis merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang mempunyai banyak tempat wisata. Tapi, sebagian tempat wisata itu merupakan tempat yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Semula Celia tidak mau mengikuti liburan itu, karena dia takut kalau dia ikut, dia akan merepoti teman-temannya karena kondisi yang tidak bisa melihat. Tapi karena bujukan dan dukungan yang diberikan oleh Mamah, Ayah, dan Dinda , akhirnya Celia mengikuti liburan itu, karena menurutnya suau kebanggan kalau orang tunanetra atau orang tidak bisa melihat sepertinya masih merasakan keindahan Indonesia. Apalagi tempatnya itu, belum banyak orang yang mengetahuinya.
            Jam delapan pagi, Rizki, dan Kevin sudah berada di depan rumah Celia. Di sana sudah menunggu Celia dan Dinda untuk berangkat menuju villa milik kakek Rizki. Memang, selama di Ciamis Rizki, Celia, Kevin dan Dinda menginap di villa milik kakek Rizki.
            “Assallamu alaikum,” sapa Kevin dan Rizki.
            “Waalaikum salam, Rizki dan Kevin sudah datang. Ayo masuk, Celia dan Dinda ada di kamar Celia lagi siap-siap. Silahkan duduk dulu Rizki, Kevin,” kata Mamah Celia mempersilakan Kevin dan Rizki duduk.
            “Dinda sudah ada di sini tante?” tanya Kevin sambil bersiap untuk duduk.
            “Iya, Dinda sudah datang. Dia lagi bantu Celia beres-beres, tante panggilkan mereka dulu ya, sekalian ambil minum untuk Kevin dan Rizki,” kata Mamah Celia sambil melangkah masuk ke dapur. Sedangkan Kevin dan Rizki menunggu Celia dan Dinda di ruang tamu
            Tak lama kemudian Bi Inah, asisten rumah tangga Celia datang sambil membawa dua gelas minuman dan cemilan untuk Rizki dan Kevin. Setelah menaruh dua gelas minuman dan cemilan, Bi Inah mempersilahkan Rizki dan Kevin untuk meminum dan memakan cemilannya, setelah itu Bi Inah berpamitan untuk melanjutkan tugasnya di dapur dan tak lupa pula Rizki dan Kevin mengucapkan terima kasih kepada Bi Inah. Bi Inah pun berlalu menuju dapur. Tak lama setelah Bi Inah kembali ke dapur, Celia, dan Dinda pun datang menghampiri Kevin dan Rizki.
            “Sory, nunggunya lama ya?” tanya Celia ketika sudah berada di dekat Rizki dan Kevin.
            “Enggak apa-apa kok Cel, oh iya Mamah elo mana ya?” tanya Rizki.
            “Ada di dalam. Emang kenapa?” jawab Celia.
            “Enggak ada apa-apa sih, gue hanya ingin minta izin saja ke Mamah elo, soalnya kita harus berangkat sekarang. Soalnya kan di jalan macet, takut sampai di sananya kemalaman,” jawab Rizki.
            “Kalau gitu, sebentar gue panggilin Mamah gue dulu ya. Din, antar gue ke Mamah gue yuk,” kata Celia sambil berjalan masuk menghampiri Mamahnya dengan dibantu Dinda. Tak lama kemudian Celia dan Dinda datang bersama Mamahnya.
            “Kalian mau berangkat sekarang? Gak mau sarapan dulu di sini? Kan perjalanannya jauh,” kata Mamah Celia.
            “Gak usah tante, takut ngerepotin. Lagian kita berdua sudah sarapan kok di rumah. Ya sudah tante, kita berangkat sekarang. Soalnya takut kemalaman nyampe sananya,” kata Rizki sambil berpamitan ke Mamahnya Celia.
            “Dinda juga pamit ya tante, anaknya Dinda pinjam dulu ya tan,” canda DInda sambil tersenyum dan mencium tangan Mamah Celia. Dinda memang suka becanda dengan Mamah Celia karena dia sudah menganggap Mamah Celia sebagai Mamahnya sendiri.
            “Hush.. memangnya gue barang pakai di pinjam-pinjam segala?’ omel Celia.
            “Sudah, sudah kok malah berantem sih. Ya sudah kalau kalian gak mau sarapan dulu juga enggak apa-apa, hati-hati di jalan ya. Oh, iya nanti kalian mau menginap di mana?”
            “Kita menginap di villa kakek aku tan, kebetulan kakek dan nenek aku tinggal di villa itu, jadi kita menginapnya di sana,” jawab Rizki sambil menciun tangan Mamah Celia.
            “Oh gitu, ya sudah hati-hati ya. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Titip Celia ya, maaf kalau nanti dia di sana sedikit merepotkan,” kata Mamah Celia.
            “Iya tante, nanti kita bertiga akan jagain Celia dengan hati-hati,” kata Kevin sambil mencium tangan Mamah Celia.
            “Aku berangkat dulu ya, Mah. Assallamu alaikum,” kata Celia sambil mencium tangan Mamahnya dan berjalan menuju mobil Rizki, tentunya bersama Dinda.
            “Waalaikum salam, hati-hati ya,” kata Mamah Celia. Mobil Rizki pun terus berlalu dari hadapan Mamah Celia.
***
Tak terasa matahari sudah mulai meninggi dan suara azan pun sudah mulai terdengar dari masjid yang dilalui oleh mobil Rizki, berarti sudah empat jam mereka menelusuri jalan untuk menuju Ciamis. Rizki pun menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah makan di daerah Nagreg, Bandung. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju rumah makan itu. Di rumah makan sedia aneka jenis makanan selain nasi serta lauk pauknya, di sana juga terdapat pula bakso, mie ayam, buah-buahan, serta aneka jajanan seperti dodol, kue lapis dan makanan ringan.
“Cel, elo mau makan apa? Bakso atau nasi?” tanya Dinda sambil duduk di bangku rumah makan itu.
“Bakso saja deh, Din,” jawab Celia.
“Ya sudah gue pesenin dulu ya,” kata Dinda sambil berjalan menuju counter bakso dan mie ayam. Celia hanya mengangguk. Tak lama kemudian Dinda datang dengan dua mangkuk bakso yang ada di tangannya. Sementara Kevin dan Rizki memilih untuk makan nasi.
“Nih, baksonya Cel. Awas panas ya,” kata Dinda.
“Makasih ya Din,” kata Celia sambil memegang sendok yang ada di hadapannya. “Omong-omong, sekarang kita di mana Din?” tanya Celia.
“Kita di sekitar Nagreg, Cel. Paling dua jam lagi kita sampai di villa kakek gue,” jawab Rizki.
“Ih, elo ya Ki. Kan Celia tanyanya ke gue kok elo yang jawab sih? Dasar tukang nyamber kayak tiang listrik,” gerutu Dinda karena omongannya disambar Rizki.
“Biarin, habisnya elo jawabnya kelamaan sih. Jadinya pertanyaan Celia di jawab sama Rizki duluan kan?” jawab Kevin.
“Yah ini lagi satu, sama saja kayak sahabatnya,” omel Dinda.
“Sudah, sudah kok malah berantem sih. Pamali kalau lagi makan ngobrol,” kata Celia.
“Pamali itu suaminya Bu Mali ya Cel?” kata Kevin asal.
“Kevin, pamali itu bahasa Sunda yang artinya pantang, gak boleh,” jelas Dinda.
“Loh, kok lo tau si Din? Emang elo orang sunda juga ya?” tanya Rizki sambil melahap makanannya.
“Iya, Ibu gue orang sunda, aslinya dari Cianjur. Tapi kalau Ayah, orang Jawa. Ya gue sedikit-sedikit tau tentang bahasa Sunda, elo sendiri ngerti enggak bahasa Sunda?” tanya Dinda kepada Rizki.
“Ya gue juga sama kayak elo, sedikit-sedikit ngerti bahasa Sunda. Tapi kalau gue di suruh ngobrol pakai bahasa Sunda, gimana ya? Jadi kaku gitu ngomongnya,” jawab Rizki.
“Iya sama, gue juga kalau di suruh ngomong pakai bahasa Sunda, gue gak mau mending gue ngomong pakai bahasa Indonesia saja lah, lebih terbiasa,” kata Dinda. Rizki hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi kata pamali juga bukan ada di bahasa Sunda saja loh, Din, Ki. Di bahasa Jawa juga ada. Artinya sih sama gak boleh. Ya tapi gak semua kata di bahasa Jawa itu sama kayak di bahasa Sunda, sih. Oh, iya, kapan-kapan kita liburan ke Cianjur yuk.  Gue dengar ada satu pantai di sana yang masih bersih, dan belum banyak orang yang tau tempat itu. Tapi gue lupa nama pantainya,” kata Celia.
“Boleh tuh. Soal nama pantainya nanti gue cari info dari Mamah gue, kali saja Mamah gue tau tentang pantai itu,” kata Dinda.
“Gue setuju banget sama ide Celia. Gimana kalau liburan semester dua, kita ke sananya? Jadi setiap liburan semester kita berkunjung ke tempat yang belum diketahui banyak orang. Gimana?” kata Kevin. Dinda dan Celia hanya mengangguk.
“Oke, gue setuju. By the way sudah jam satu nih, kita sholat zuhur dulu yuk, nanti habis sholat zuhur, kita lanjutin lagi perjalanannya,” kata Rizki. Dinda, Celia, dan Kevin hanya mengangguk. Mereka pun menuju masjid yang ada di sebelah rumah makan.
***
Setelah sholat, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Ciamis. Selama dua jam perjalanan itu asyik mengobrol, ngemil, dan sekali-kali becanda. Tak terasa mereka pun sudah sampai di depan villa kakek Rizki.
“Sudah sampai nih, selamat datang di villa kakek Ridwan. Assallamu alaikum,” sapa Rizki.
“Waalaikum salam. Alhamdulillah kamu sudah sampai Riz, gimana perjalanannya?” tanya kakek Ridwan.
“Alhamdulillah lancar kek. Oh, iya kenalin ini teman-temannya Rizki kek, ini Dinda, Celia, dan Kevin,” kata Rizki sambil memperkenalkan teman-temannya.
“Wah, teman-temanmu cantik-cantik dan ganteng-ganteng ya, silahkan masuk. Nek, cucumu datang nih,” kata kakek Ridwan.
            “Wah, cucuku yang ganteng sudah datang. Gimana kabarmu Ki? Ini teman-temanmu ya?” kata Nenek Ina.
            “Alhamdulillah, sehat nek. Iya ini teman-teman aku nek. Nenek dan kakek gimana kabarnya?”
            “Alhamdulillah sehat Ki. Oh, iya nenek sudah masak makanan kesukaanmu, makan dulu yuk.”
            “Wah, kebetulan kita sudah makan nek tadi,” kata Kevin.
            “Yah, padahal nenek sudah masak buat nyambut kalian,” kata nenek Ina sedih.
            “Nek, sekarang kita mau istirahat dulu. Nanti sore kita pasti makan, masakan nenek. Nenek jangan sedih lagi ya,” bujuk Celia.
            “Ya sudah kalian istirahat saja dulu, pasti kalian capek. Enam jam lebih kalian dalam perjalanan. Tapi janji ya habis istirahat, kalian makan?.”
            “Iya, nek, kita janji kita pasti makan, masakan nenek yang paling enak. Sekarang kita ke kamar dulu ya,” kata Celia.
            “Ya sudah, yuk nenek antar ke kamar kalian,” kata nenek Ina. Celia, Dinda, Rizki dan Kevin pun mengikuti nenek Ina menuju kamar.
***
Keesokkan harinya Celia, Rizki, Kevin dan Dinda pun memulai pertualangan mereka. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah danau Sukasari, di sana merupakan tempat wisata memancing, karena banyak sekali ikan yang ada di danau ini.
            “Nah, ini namanya danau Sukasari, di sini merupakan tempat wisata memancing yang ada di desa ini. Banyak warga yang hobi memancing pasti pergi ke danau ini. Tapi asal kalian tau kebanyakan orang yang suka mancing di sini adalah orang dari luar Ciamis. Ada orang Bandung, Tasik, Sukabumi yang datang ke sini untuk memuaskan hobi mereka memancing,” jelas Rizki.
            “Waw, hebat juga ya? Tapi kenapa kebanyakan orang Jakarta gak tau ada tempat sebagus ini di Ciamis?” tanya Celia.
            “Ya mungkin karena orang Jakarta, yang pemikirannya metropolitan menganggap desa ini merupakan kampung kuno yang gak asyik bagi mereka untuk disinggahi. Soalnya di sini gak ada mal, gak ada  tempat berbelanja, makanya mereka enggak tau kalau di pedesaan yang masih alami ini ada tempat yang menarik banget untuk di kunjungi,” jawab Dinda.
            “Enggak ah, enggak semua orang Jakarta kayak gitu tau. Buktinya saja gue mau berkunjung ke sini,” sela Kevin.
            “Ya karena elo termasuk orang yang pemikirannya masih primitive,” ejek Dinda.
            “Enak saja elo, gue itu manusia modern tau,” kata Kevin ketus.
            “Sudah, sudah jangan berantem. Mendingan kita lomba mancing saja. Kalau di antara kita dapat ikan lebih dari lima, itu yang kita anggap sebagai pemenang dan yang kalah traktir yang menang es kelapa muda. Gimana?” tantang Rizki.
            “Boleh.. boleh,, pasti gue yang akan menang,” kata Kevin. Kevin dan Rizki pun memulai lomba memancing, sedangkan Dinda dan Celia hanya menonton Kevin dan Rizki yang sedang berlomba. Perlombaan itu di menangkan oleh Rizki yang berhasil memancing ikan sebanyak enam sedangkan Kevin hanya mendapatkan ikan hanya empat. Mau tidak mau Kevin harus mentraktir Rizki, Dinda, dan Celia es kelapa  muda. Dan ikan yang di peroleh dari hasil memancing Kevin dan Rizki dibawa pulang untuk pesta ikan bakar di villa malam harinya.
***
Hari ke dua di Ciamis, mereka manfaatkan untuk mengunjungi curug Tujuh di Panjalu, Ciamis. Mereka pun membeli karcis untuk  masuk ke curug tujuh. Setelah membeli karcis dan masuk pintu di pintu gerbang langsung akan ditemui jalan setapak berbatu yang menanjak dengan bentuk tangga.  Kemiringan jalan ini mencapai hampir 45 derajat.  Di ujung tangga ini akan ditemui percaangan jalan dengan papan petunjuk lokasi curug Cibolang berada.  Untuk curug satu hingga lima ke arah kanan sedangkan curug enam dan tujuh ke arah kiri.
            “Sekarang ini kita berada di curug tujuh. Kenapa namanya curug tujuh? Karena di sini ada tujuh air terjun yang sangat indah. Jarak antara curug satu dengan yang lainnya saling berdekatan kecuali curug enam dan curug tujuh yang terletak di bagian kiri. Sekarang kita mulai ke curug satu dulu ya,” jelas Rizki. Dinda, Celia, Rizki dan Kevin pun berjalan kearah kanan dari tempat petunjuk arah. Butuh waktu hanya lima menit berjalan untuk sampai ke curug satu.
            “Sekarang kita sudah berada di depan curug satu, Curug satu adalah curug yang paling besar dengan ketinggian hampir mencapai 120 meter dengan lebar sekitar 15-20 meter dan disisi kirinya terdapat tebing datar, sedangkan lokasi curug dua berada dibawahnya. Untuk menuju curug selanjutnya kita harus melewati curug satu jadi mau gak mau kita akan merasakan segarnya air curug dan bagi yang mau berendam atau dipijat oleh jatuhan air bisa juga. Dan konon kabarnya di salah satu curug ini ada yang yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Karena air terjun yang mengalir berasal dari kawah Gunung Sawal diketahui mengandung belerang,” jelas Rizki.
            “Wah, kayaknya indah banget ya air terjunnya? Kita foto-foto dulu yuk sebelum ke curug selanjutnya,” kata Celia.
            “Emang air terjunnya indah banget Cel. Oh, iya sebelum kita foto-foto, coba elo cuci muka di sini Cel, seger banget loh,” ajak Rizki sambil menuntun Celia ke arah air terjun mengalir. “Tangan elo giniin dan rasain air terjun yang membasahi tangan elo ini,” lanjut Rizki. Celia mengangguk dan mengikuti perkataan Rizki. Lalu Celia pun membasahi mukanya dengan air terjun itu.
            “Ya Allah, seger banget Ki,” kata Celia. Setelah Celia mengusap air itu ke mukanya, entah mengapa perlahan mata Celia bisa melihat cahaya yang ada di depannya, cahaya itu semakin terang dan jelas, sehingga Celia bisa melihat semua yang ada di depannya. “Ki, gue bisa melihat Ki. Rizki itu wajah elo kan Ki? Gue bisa melihat lagi Ki, gue bisa melihat sekeliling gue,” lanjut Celia senang.
            “Celia, elo bisa lihat wajah gue Cel?” tanya Rizki tidak percaya. Celia hanya mengangguk sambil tersenyum. “Ini berapa?” tanya Rizki lagi sambil menghadapkan jari telunjuknya di hadapan Celia.
            “Satu. Dan itu jari telunjuk,” jawab Celia tegas.
            “Alhamdulillah, berarti elo benar bisa melihat Cel. Gue senang banget elo bisa melihat lagi,” kata Dinda sambil memeluk Celia.
            “Berarti elo gak perlu operasi tranplantasi konea mata untuk bisa melihat lagi kan Cel?” kata Kevin.
            “Enggak perlu Vin, ternyata Allah mengabulkan doa gue, kita lanjutin pertualangannya yuk,” ajak Celia semangat sambil merangkul Dinda. Mereka pun melanjutkan perjalanan sampai ke curug tujuh.
***
Hari keempat di Ciamis, mereka berpetualang ke Green Canyon. Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru. Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan.
            “Nah kita akan masuk ke Green Canyon atau Cukang Taneuh. Untuk mengelilingi Green Canyon ini kita harus naik perahu,” jelas Rizki. Mereka pun berkeliling tempat wisata Green Canyon dengan menggunakan perahu yang di pandu oleh Pak Bambang.
            “Pak, aku boleh tanya gak?” tanya Celia ketika mereka sudah lima menit bekeliling menggunakan perahu.
            “Iya, boleh atuh neng. Emang ada larangan untuk bertanya? Enggak ada kan neng?” jawab Pak Bambang.
            “Ah, Bapak bisa saja. Saya mau tanya kenapa sih tempat ini dinamakan Green  Canyon?” tanya Celia.
            “Oh itu neng, tempat ini dinamakan Green Canyon karena air yang mengalir di sepanjang sungai ini warnanya hijau. Neng lihat saja sepanjang kita berjalan air tetap warna hijau kan? makanya tempat ini di sebut Green Canyon, gitu neng,” jawab Pak Bambang. Celia hanya mengangguk.
Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.
Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.
Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.
Setelah puas menikmati suasana Green Canyon, Dinda, Kevin, Celia, dan Rizki pun kembali ke villa.
***
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Ciamis. Mereka pun berpamitan kepada kakek Ridwan dan nenek Ina, karena mereka akan kembali ke Jakarta. Sekitar jam delapan pagi mereka sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta, tetapi  sebelum pulang ke Jakarta, mereka menginap dulu semalam di Pantai Pangandaran, pantai yang sangat terkenal di kota Ciamis. Karena di pantai itu kita dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama, pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih, terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona dan terdapat Cagar alam yang terletak di desa Pananjung.
            Itulah beberapa keindahan Indonesia yang di kunjungi oleh Dinda, Rizki, Celia dan Kevin. Sejak itu pula setiap liburan mereka mengunjungi tempat-tempat wisata yang mempesona yang ada di Indonesia. Tempat yang harus kita jaga dan rawat agar dunia tau bahwa Indonesia mempunyai tempat wisata yang lebih indah dibanding negara lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar