Seorang gadis manis berambut panjang telihat sedang duduk di bangku taman. Dia sangat serius menatap sesuatu yang ada di depannya. Entah apa yang dia lihat sampai dia tidak terusik oleh suara teriakan sekelompok anak laki-laki yang sedang bermain bola, suara ceria anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran atau suara tawa Ayah dan Ibu yang sedang bercanda dengan anak-anaknya, dia masih tetap fokus dengan sesuatu yang ada di depannya. Memang, setiap sore taman itu di penuhi oleh orang-orang yang sedang bersantai menghilangkan rasa lelah mereka setelah seharian beraktifitas atau sebagai tempat anak-anak bermain bola. Setiap sore pula banyak yang datang ke taman itu baik keluarga, anak-anak, Ayah, Ibu, pemuda-pemudi yang sedang pacaran maupun kakek, dan nenek yang sedang bersantai dengan anak cucu mereka. Tak terkecuali gadis itu.
Setiap jam empat sore, dia selalu
berjalan dari rumahnya menuju taman itu. Jarak taman dengan rumah gadis itu
memang tak terlalu jauh, hanya butuh waktu lima belas menit gadis itu berjalan
untuk sampai ke taman favoritnya itu. Entah mengapa taman itu begitu di sukai
oleh gadis manis itu. Tak lama kemudian, ada seorang lelaki datang menghampiri
gadis itu dan duduk di sampingnya.
“Hei… kok elo melamun aja?” tanya
lelaki itu yang ternyata bernama Rizki teman SMA gadis manis yang bernama Celia.
“Eh, elo Ki, ngagetin gue aja. Gue
enggak melamun kok, gue lagi menghayati suara di sekitar gue. Elo sendiri
ngapain di sini?” jawab Celia tanpa menoleh sedikit pun kearah Rizki.
“Gue kebetulan mau ke rumah elo.
Tapi pas gue lihat elo ada di sini ya gue samperin.”
Celia mengangguk. “Emang ada
keperluan apa elo ke rumah gue?”
“Gue mau main sekalian mau pinjem
buku catatan Kimia elo,” jawab Rizki sambil nyengir.
“Ya udah, yuk…,” ajak Celia sambil
berdiri dari duduknya kemudian dia mengambil tongkat yang dia taruh di
sampingnya.
“Kemana?” tanya Rizki bingung.
“Ya, ke rumah gue lah, katanya elo
mau pinjam buku catatan Kimia gue. Lagian sudah mau maghrib, kalau enggak buru-buru
nanti elo pulangnya kemalaman,” jawab Celia.
“Oh, ya udah sini gue bantu elo
jalan. Kalau enggak di bantu, nanti elo nabrak,” kata Rizki sambil menggamit
lengan Celia. Celia hanya tersenyum. Rizki dan Celia pun berjalan menuju mobil
Rizki.
***
“Cel, kita duluan ya,” kata Dinda
teman Celia sejak SD sampai sekarang kelas 1 SMP.
“Ya, sudah sampai ketemu besok ya,”
kata Celia sambil melambaikan tangannya. Sedangkan Dinda masuk ke dalam
mobilnya. Tak lama kemudian mobil Dinda pun melaju meninggalkan Celia yang
sedang menunggu Ibu Ana, mamahnya Celia untuk menjemputnya.
Belum satu kilometer mobil Dinda
berlalu dari hadapan Celia, tiba-tiba Ibu Ana, datang dari seberang jalan,
menuju ke arahnya. Tapi saat Ibu Ana sedang menyebrang, tiba-tiba dari arah
kanan ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah mamahnya. Refleks, Celia
berlari kearah mamahnya dan mendorong Mamahnya ke belakang agar terhindar dari
mobil yang melaju kencang itu. Tapi mobil yang sedang melaju kencang itu
semakin mendekati Celia. Belum sempat dia berlari menuju Mamahnya, brukkk….
Mobil itu dengan cepat menabrak tubuh mungil Celia.
“Celiaaaaa….,” teriak Mamahnya
sambil menghampiri anaknya yang terluka parah. Sontak semua orang yang ada di
sekeliling sekolah menggerumuni tubuh Celia yang penuh darah. Teriakan mamahnya
juga sampai di dengar oleh Dinda yang berada satu kilometer di depan tempat
kejadian pekara. Mamah Celia menangis dan berteriak meminta tolong, tapi sayang
tak ada satu orang dari kerumunan itu membantu Celia dan Mamahnya.
“Mah, mamah dengar enggak tadi kayak
ada orang yang manggil nama Celia. Terus juga tuh lihat mah, banyak orang yang
berkumpul di gerbang sekolah. Ada apa ya Mah?” tanya Dinda penasaran sambil
menunjuk kearah belakang.
“Iya benar kamu Din, kita lihat yuk.
Pak tolong putar balik ya,” kata Ibu Rinda, mamah Dinda kepada Pak Salim, supir
pribadinya.
“Baik, Bu,” jawab Pak Salim sambil memutar
balik mobilnya menuju sekolah. Sekitar lima menit kemudian, mobil Dinda telah
berada di belakang kerumunan orang yang melihat keadaan Celia. Dinda dan Mamahnya
pun turun dari mobil dan berlari menuju kerumunan itu.
“Permisi.. Permisi..,” kata Dinda
dan Mamahnya sambil memasuki kerumunan itu. Alangkah terkejutnya mereka, saat
melihat tubuh Celia yang tak berdaya.
“Celia, bangun Cel. Tolong, tolong
anak saya,” kata Mamah Celia sambil terisak.
“Celia…. Tante, Celia kenapa?” tanya
Dinda.
“Celia tadi tertabrak mobil Din,”
jawab Mamah Celia masih dalam tangisnya.
“Ya sudah, cepat sekarang kita bawa
Celia ke rumah sakit,” kata Mamah Dinda sambil membantu menggendong tubuh
Celia. Celia pun langsung di bawa ke rumah sakit.
***
Sesampainya
di rumah sakit, Celia segera di bawa ke ruang unit gawat darurat untuk di
periksa. Karena yang hanya boleh masuk ke ruang unit darurat, hanya dokter dan
para perawat, akhirnya Mamah Celia, Mamah Dinda, dan Dinda pun menunggu di luar
ruangan sambil berharap Celia baik-baik saja.
“Bu Ana, yang sabar ya. Insya Allah,
Celia tidak akan apa-apa. Sekarang kita berdoa yuk, semoga Celia tidak apa-apa.
Dan semoga Celia bisa cepat sembuh. Amin..,” kata Mamah Dinda menenangkan Mamah
Celia sambil merangkul bahunya.
“Amin… Tapi ini semua salah saya Bu.
Seandainya saya tadi menjemput Celia pakai mobil tidak akan begini jadinya,”
kata Mamah Celia sambil menangis.
“Udah tante, jangan nyalahin diri
tante. Ini semua udah takdir dari Allah tante, yang tidak bisa kita cegah. Celia
itu anak yang kuat, Dinda yakin Celia tidak akan kenapa-kenapa,” kata Dinda. Mamah
Celia hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar
dari ruang UGD. “Bagaimana keadaan anak saya dokter?” tanya Mamah Celia.
“Alhamdulillah anak Ibu berhasil kami
selamatkan, tapi karena benturan yang cukup keras pada bagian kepala, membuat
selaput saraf pada kornea mata anak Ibu sobek dan anak Ibu mengalami kebutaan
permanen,” jelas dokter.
“Apa anak saya buta permanen dok?
Celia, maafkan Ibu Nak,” kata Mamah Celia sambil menangis. Dokter hanya
mengangguk.
“Apakah Celia bisa sembuh dok?”
tanya Dinda.
“Dengan operasi transplantasi
kornea, anak Ibu masih bisa sembuh. Tapi itu kemungkinannya sangat kecil. Anak Ibu sudah boleh di pindahkan ke
ruang rawat inap Maaf saya permisi dulu,” kata dokter sambil berlalu pergi.
***
“Kamu sudah sadar sayang?” kata Bapak
Amin, Ayahnya Celia.
“Yah, ini di mana Yah? Kok gelap
Yah, lampunya nyalain dong Yah, Celia enggak bisa melihat apa-apa, semuanya
gelap,” kata Celia sambil berusaha bangun dari tidurnya dan meraba-raba tempat
tidur rumah sakit.
“Ini di rumah sakit sayang. Maafkan
mamah ya sayang. Karena mamah, kamu jadi begini,” kata Ibu Ana sambil terisak
dan memeluk Celia yang sudah duduk di ranjang.
“Celia kenapa Mah? Kenapa Mamah
nangis? Kenapa semuanya gelap? Jawab Mah, Yah,” tanya Celia lagi sambil
mengguncang-guncang tubuh Mamahnya. Sementara Mamahnya tak menjawab pertanyaan
Celia. Beliau hanya menangis sambil membelai rambut anaknya.
“Kamu yang sabar ya, nak. Kamu tadi
mengalami kecelakaan dan akibat kecelakaan itu selaput saraf pada kornea matamu
rusak dan kata dokter kamu mengalami kebutaan permanen,” jelas Ayah Celia.
“Aku buta permanen Yah? Enggak, Ayah
pasti bohong, dokter itu juga bohong, aku enggak mungkin buta permanen Yah. Ini
hanya sementara aja kan? Besok aku bisa melihat lagi kan Yah? Dokter itu pasti
salah menganalisa, benar kan Yah?” tanya Celia tak percaya.
“Kamu yang sabar ya sayang, kamu
pasti bisa melihat lagi dengan operasi transplantasi kornea,” kata Ayahnya
menenangkan.
“Operasi transplantasi kornea?
Enggak mungkin Yah, pasti dokter salah, aku yakin tanpa operasi pun besok aku
bisa melihat lagi kan Yah? Mataku hanya kelilipan aja kan Yah, sebentar lagi
juga pasti aku bisa melihat lagi kan, paling lambat juga besok aku bisa melihat
lagi kan? Jawab Ayah, Mamah,” kata Celia tak percaya.
“Maafin Ayah sayang, tapi perkataan
dokter enggak salah sayang. Dokter enggak mungkin salah menganalisa, kamu hanya
bisa sembuh dengan transplantasi kornea mata karena ada selaput saraf di kornea
matamu yang rusak,” kata Ayah Celia menjelaskan.
“Enggak, enggak mungkin. Celia
enggak percaya, Ayah, Mamah sama dokter itu bohong. Sekarang aku mohon Mamah,
Ayah atau siapa pun yang ada di sini keluar. Celia mau sendiri,” kata Celia
sambil menangis. Dia belum menerima kondisinya saat ini.
“Celia kamu jangan kayak gitu,” kata
Mamahnya sambil memeluk Celia.
“Keluar..,” teriak Celia. Ayah dan
Mamahnya pun keluar dari kamar Celia.
***
Sejak saat itu, Celia sangat shock mengetahui bahwa dia tidak akan pernah
bisa melihat lagi, apalagi orang tua Celia belum menemukan pendonor yang cocok
dengan kornea mata Celia. Sampai dua minggu setelah dia keluar dari rumah
sakit, dia hanya mengurung diri di kamar. Dia tidak mau sekolah, tidak mau
makan, meski Mamah dan Ayahnya membujuknya. Sampai Dinda temannya pun yang
datang menjenguknya, dia tidak peduli. Dia malah menyuruh Dinda untuk
menjauhinya. Tapi Dinda memang sahabat yang baik, walaupun Celia sudah menyuruh
Dinda untuk menjauhi Celia, Dinda tetap datang untuk menjenguk Celia. Walau
hanya menanyakan kabar Celia atau sekadar memberi buku catatan semua pelajaran
yang dia tulis untuk Celia. Walaupun Dinda tau dengan kondisi Celia seperti
sekarang, Celia tidak mungkin bisa membacanya tanpa bantuan orang lain. Tapi
Dinda melakukan hal itu karena dia tidak mau Celia tertinggal pelajaran.
“Assallamu alaikum Cel, gimana
keadaan elo sekarang?” tanya Dinda.
“Mau ngapain elo ke sini? Elo mau
ngeledek gue dengan catatan-catatan semua pelajaran yang elo tulis buat gue,
iya? Kenapa sih elo enggak jauhi gue aja? Gue buta Din, elo gak pantas berteman
sama orang buta kayak gue,” kata Celia ketus.
“Ya ampun Cel, gue enggak ada niat
buat ngeledek elo. Gue kasih semua buku catatan pelajaran itu karena gue enggak
mau elo ketinggalan pelajaran. Elo sadar enggak? Elo udah dua minggu gak masuk
sekolah Cel, otomatis dengan dua minggu elo gak masuk, elo akan ketinggalan
semua pelajaran. Tapi gue enggak mau hal itu terjadi, makanya gue setiap hari
catatin semua mata pelajaran buat elo. Gue mau elo kayak dulu Cel, Celia yang
ceria, Celia yang selalu semangat bukan Celia yang kayak gini,” kata Dinda
sambil duduk di sebelah Celia.
“Elo enggak ngerti apa-apa tentang
gue Din, gue ini buta. Gue enggak bisa melihat, padahal gue dari dulu pengen
banget keliling Indonesia. Melihat semua keindahan yang ada di Indonesia. Gue
pengen melihat keindahan Bunaken, keindahan Pulau Dewata, keindahan Gunung
Rinjani, Gunung Semeru, dan semua tempat yang ada di Indonesia. Tapi sampai
kapanpun semua keinginan gue enggak akan terwujud, karena gue akan buta
selamanya. Mungkin keindahan Yogya adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang
gue lihat dan gue kunjungi pertama dan terakhir kalinya selama hidup gue,” kata
Celia dengan berurai air mata.
“Gue tau Cel, gue ngerti elo. Tapi
elo enggak akan selamanya buta dan seperti ini Cel. Elo kan dengar sendiri kata
Ayah elo, Mamah elo, dan dokter pun bilang elo akan bisa melihat kembali dengan
cara operasi transplantasi kornea mata. Mungkin saat ini belum ada pendonor
mata yang cocok sama kornea mata elo, tapi gue yakin suatu saat ada seseorang
yang mau donorin kornea matanya dan cocok sama kornea mata elo dan elo bisa
melihat lagi. Elo juga bisa melihat keindahan Indonesia sesuai keinginan elo.”
“Siapa Din yang mau donorin kornea
matanya sama gue? Enggak akan ada yang mau Din, gue kadang pikir Allah itu
enggak sayang sama gue. Kalau Allah sayang sama gue, Allah gak akan mungkin kasih
musibah ini sama gue. Padahal gue selalu sholat, selalu ngaji, selalu
melaksanakan perintah Dia, kenapa Dia ngasih ujian ini sama gue, Din? Kenapa
enggak sama orang lain aja? Allah itu jahat sama gue Din.”
“Astagfirullah, elo jangan ngomong
gitu sama Allah. Allah itu ngasih ujian sama kita, karena Allah sayang sama
kita Cel. Dia ngasih ujian ini sama elo, justru karena dia sayang sama elo dan supaya
Dia tau seberapa sabar dan tawakalnya elo terhadap ujianNya. Saat ini mata elo
emang buta tapi hati elo jangan ikut buta karena elo frustasi menerima cobaan
ini dari Allah, Cel. Gue harap elo pikirin omongan gue ini ya, dan elo tarik
kembali perkataan elo tadi yang bilang Allah itu jahat sama elo. Elo harus
Istigfar Cel, karena elo sudah buruk sangka sama Allah. Lagian harusnya elo
bersyukur soalnya elo masih beruntung dibanding orang lain, banyak loh ada anak
yang mengalami kebutaan sejak dia masih bayi, harus tinggal di panti asuhan
karena mereka tidak punya orang tua atau karena orang tuanya enggak mau punya
anak yang enggak bisa melihat. Elo harusnya mikir ke sana Cel, elo masih
beruntung dibanding mereka, elo masih punya orang tua yang sayang sama elo, elo
masih punya saudara, masih punya gue sahabat elo. Elo jangan kayak gini terus
ya, kalau elo kayak gini kasihan orang tua elo. Mamah elo selalu bilang sama
gue, dia sedih banget ngeliat elo kayak gini,. Gue pulang dulu ya Cel, ini
catatan semua pelajaran hari ini. Gue harap elo besok masuk sekolah ya, Cel.
Assallamu alaikum.” Kata Dinda sambil keluar dari kamar Celia.
Sejak saat itu, akhirnya Celia sadar
kalau yang Dinda katakan itu benar. Dia tidak mungkin akan seperti ini terus.
Dia harus tetap semangat dalam keadaan apapun. Celia kembali menjadi Celia yang
dulu. Celia yang ceria, Celia yang gak gampang putus asa, Celia yang menyadari
bahwa hidup harus tetap berjalan walau dalam keadaan apapun. Celia kembali ke
sekolah dan belajar seperti anak-anak yang lain, walaupun sekarang dalam
kondisi berbeda dari sebelumnya tapi Celia tetap bersemangat. Celia juga
belajar huruf Braille untuk membantu dia membaca dan menulis pelajaran, tak
jarang juga Dinda selalu membantu membacakan catatan yang ditulis oleh gurunya
pada saat di sekolah. Walaupun dalam kondisi tak melihat, tetapi prestasi Celia
masih bagus dan selalu mendapat sepuluh besar di kelasnya. Impian Celia
sekarang adalah ingin menjadi tour guide
atau pemandu wisata dan memberitahukan kepada dunia bahwa orang yang tidak bisa
melihat juga bisa menjelaskan keindahan Indonesia di mata dunia.
***
“Ini Ki, bukunya,” kata Celia sambil
memberikan buku catatan Kimia kepada Rizky.
“Makasih ya, Cel. Gue salut deh sama
elo, meskipun elo dalam kondisi kayak gini, tapi elo masih tetap berprestasi
dan tulisan elo masih tetap bagus. Eh iya nanti liburan semester kita liburan
ke Ciamis yuk, kata kakek gue banyak tempat wisata yang masih alami di sana dan
belum banyak orang yang tau tempat itu,” ajak Rizki.
“Hmm.. gimana ya? Elo tau kan
kondisi gue kayak gini, gue takut di sana malah ngerepotin,” kata Celia ragu.
“Enggak akan ngerepotin kok, Cel.
Lagian gue juga bakalan ajak Dinda dan Kevin kok, jadinya kalau liburan
rame-rame kan tambah asyik.
‘Gimana ya? Gue minta izin, Mamah
dan Ayah gue dulu ya, nanti kalau sudah dapat izin dari mereka gue kabari elo,”
“Sip.. ya sudah gue pulang dulu ya,
Cel. Insya Allah bukunya besok gue
kembaliin,” kata Rizky sambil berpamitan.
“Rizky kamu gak makan malam dulu di
sini? Tante sudah siapin makan malamnya loh,” kata Mamah Celia yang baru saja
keluar dari ruang makan.
“Gak usah tante, aku makan malam di
rumah aja. Ya sudah tante, aku permisi pulang dulu. Cel, gue pulang dulu ya.
Assallamu alaikum,” kata Rizky sambil mencium tangan Mamah Celia dan keluar
menuju mobilnya.
“Walaikum salam. Hati-hati ya Riz,”
kata Mamah Celia dan Celia. Risky hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan
rumah Celia.
“Rizki baik ya Cel?” tanya Mamahnya
ketika mobil Rizki sudah tak terlihat lagi.
“Iya, Mah. Emang kenapa?”
“Enggak apa-apa sih, tapi kayaknya
dia suka deh sama kamu,” goda Mamahnya.
“Ah mamah jangan becanda deh. Mana
mungkin seorang Rizki suka sama aku yang gak bisa melihat, Mah?”
“Ya kan siapa tau Cel. Cinta itu
datang kapan saja. Ya udah, yuk masuk,” ajak Mamahnya sambil melangkah masuk ke
dalam dengan Celia yang mengikuti Mamahnya dari belakang.
***
Hari
ini adalah hari pertama liburan semester. Seperti rencana sebelumnya, Rizki
mengajak Celia, Dinda dan Kevin untuk liburan mengelilingi kota Ciamis, Jawa
Barat. Ciamis merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang mempunyai banyak
tempat wisata. Tapi, sebagian tempat wisata itu merupakan tempat yang belum
banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Semula Celia tidak mau mengikuti
liburan itu, karena dia takut kalau dia ikut, dia akan merepoti teman-temannya
karena kondisi yang tidak bisa melihat. Tapi karena bujukan dan dukungan yang
diberikan oleh Mamah, Ayah, dan Dinda , akhirnya Celia mengikuti liburan itu,
karena menurutnya suau kebanggan kalau orang tunanetra atau orang tidak bisa
melihat sepertinya masih merasakan keindahan Indonesia. Apalagi tempatnya itu,
belum banyak orang yang mengetahuinya.
Jam delapan pagi, Rizki, dan Kevin
sudah berada di depan rumah Celia. Di sana sudah menunggu Celia dan Dinda untuk
berangkat menuju villa milik kakek Rizki. Memang, selama di Ciamis Rizki,
Celia, Kevin dan Dinda menginap di villa milik kakek Rizki.
“Assallamu alaikum,” sapa Kevin dan
Rizki.
“Waalaikum salam, Rizki dan Kevin
sudah datang. Ayo masuk, Celia dan Dinda ada di kamar Celia lagi siap-siap.
Silahkan duduk dulu Rizki, Kevin,” kata Mamah Celia mempersilakan Kevin dan
Rizki duduk.
“Dinda sudah ada di sini tante?”
tanya Kevin sambil bersiap untuk duduk.
“Iya, Dinda sudah datang. Dia lagi
bantu Celia beres-beres, tante panggilkan mereka dulu ya, sekalian ambil minum
untuk Kevin dan Rizki,” kata Mamah Celia sambil melangkah masuk ke dapur.
Sedangkan Kevin dan Rizki menunggu Celia dan Dinda di ruang tamu
Tak lama kemudian Bi Inah, asisten
rumah tangga Celia datang sambil membawa dua gelas minuman dan cemilan untuk
Rizki dan Kevin. Setelah menaruh dua gelas minuman dan cemilan, Bi Inah
mempersilahkan Rizki dan Kevin untuk meminum dan memakan cemilannya, setelah
itu Bi Inah berpamitan untuk melanjutkan tugasnya di dapur dan tak lupa pula
Rizki dan Kevin mengucapkan terima kasih kepada Bi Inah. Bi Inah pun berlalu
menuju dapur. Tak lama setelah Bi Inah kembali ke dapur, Celia, dan Dinda pun
datang menghampiri Kevin dan Rizki.
“Sory, nunggunya lama ya?” tanya
Celia ketika sudah berada di dekat Rizki dan Kevin.
“Enggak apa-apa kok Cel, oh iya
Mamah elo mana ya?” tanya Rizki.
“Ada di dalam. Emang kenapa?” jawab
Celia.
“Enggak ada apa-apa sih, gue hanya
ingin minta izin saja ke Mamah elo, soalnya kita harus berangkat sekarang.
Soalnya kan di jalan macet, takut sampai di sananya kemalaman,” jawab Rizki.
“Kalau gitu, sebentar gue panggilin
Mamah gue dulu ya. Din, antar gue ke Mamah gue yuk,” kata Celia sambil berjalan
masuk menghampiri Mamahnya dengan dibantu Dinda. Tak lama kemudian Celia dan
Dinda datang bersama Mamahnya.
“Kalian mau berangkat sekarang? Gak
mau sarapan dulu di sini? Kan perjalanannya jauh,” kata Mamah Celia.
“Gak usah tante, takut ngerepotin.
Lagian kita berdua sudah sarapan kok di rumah. Ya sudah tante, kita berangkat
sekarang. Soalnya takut kemalaman nyampe sananya,” kata Rizki sambil berpamitan
ke Mamahnya Celia.
“Dinda juga pamit ya tante, anaknya
Dinda pinjam dulu ya tan,” canda DInda sambil tersenyum dan mencium tangan
Mamah Celia. Dinda memang suka becanda dengan Mamah Celia karena dia sudah
menganggap Mamah Celia sebagai Mamahnya sendiri.
“Hush.. memangnya gue barang pakai
di pinjam-pinjam segala?’ omel Celia.
“Sudah, sudah kok malah berantem
sih. Ya sudah kalau kalian gak mau sarapan dulu juga enggak apa-apa, hati-hati
di jalan ya. Oh, iya nanti kalian mau menginap di mana?”
“Kita menginap di villa kakek aku
tan, kebetulan kakek dan nenek aku tinggal di villa itu, jadi kita menginapnya
di sana,” jawab Rizki sambil menciun tangan Mamah Celia.
“Oh gitu, ya sudah hati-hati ya.
Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Titip Celia ya, maaf kalau nanti dia di
sana sedikit merepotkan,” kata Mamah Celia.
“Iya tante, nanti kita bertiga akan
jagain Celia dengan hati-hati,” kata Kevin sambil mencium tangan Mamah Celia.
“Aku berangkat dulu ya, Mah.
Assallamu alaikum,” kata Celia sambil mencium tangan Mamahnya dan berjalan
menuju mobil Rizki, tentunya bersama Dinda.
“Waalaikum salam, hati-hati ya,”
kata Mamah Celia. Mobil Rizki pun terus berlalu dari hadapan Mamah Celia.
***
Tak
terasa matahari sudah mulai meninggi dan suara azan pun sudah mulai terdengar
dari masjid yang dilalui oleh mobil Rizki, berarti sudah empat jam mereka
menelusuri jalan untuk menuju Ciamis. Rizki pun menghentikan laju mobilnya
tepat di depan rumah makan di daerah Nagreg, Bandung. Mereka pun turun dari
mobil dan berjalan menuju rumah makan itu. Di rumah makan sedia aneka jenis
makanan selain nasi serta lauk pauknya, di sana juga terdapat pula bakso, mie
ayam, buah-buahan, serta aneka jajanan seperti dodol, kue lapis dan makanan
ringan.
“Cel, elo mau makan apa? Bakso atau
nasi?” tanya Dinda sambil duduk di bangku rumah makan itu.
“Bakso saja deh, Din,” jawab Celia.
“Ya sudah gue pesenin dulu ya,” kata
Dinda sambil berjalan menuju counter bakso dan mie ayam. Celia hanya
mengangguk. Tak lama kemudian Dinda datang dengan dua mangkuk bakso yang ada di
tangannya. Sementara Kevin dan Rizki memilih untuk makan nasi.
“Nih, baksonya Cel. Awas panas ya,” kata
Dinda.
“Makasih ya Din,” kata Celia sambil
memegang sendok yang ada di hadapannya. “Omong-omong, sekarang kita di mana
Din?” tanya Celia.
“Kita di sekitar Nagreg, Cel. Paling dua
jam lagi kita sampai di villa kakek gue,” jawab Rizki.
“Ih, elo ya Ki. Kan Celia tanyanya ke
gue kok elo yang jawab sih? Dasar tukang nyamber kayak tiang listrik,” gerutu
Dinda karena omongannya disambar Rizki.
“Biarin, habisnya elo jawabnya kelamaan
sih. Jadinya pertanyaan Celia di jawab sama Rizki duluan kan?” jawab Kevin.
“Yah ini lagi satu, sama saja kayak
sahabatnya,” omel Dinda.
“Sudah, sudah kok malah berantem sih. Pamali kalau lagi makan ngobrol,” kata
Celia.
“Pamali itu suaminya Bu Mali ya Cel?”
kata Kevin asal.
“Kevin, pamali itu bahasa Sunda yang artinya pantang, gak boleh,” jelas
Dinda.
“Loh, kok lo tau si Din? Emang elo orang
sunda juga ya?” tanya Rizki sambil melahap makanannya.
“Iya, Ibu gue orang sunda, aslinya dari Cianjur.
Tapi kalau Ayah, orang Jawa. Ya gue sedikit-sedikit tau tentang bahasa Sunda,
elo sendiri ngerti enggak bahasa Sunda?” tanya Dinda kepada Rizki.
“Ya gue juga sama kayak elo,
sedikit-sedikit ngerti bahasa Sunda. Tapi kalau gue di suruh ngobrol pakai
bahasa Sunda, gimana ya? Jadi kaku gitu ngomongnya,” jawab Rizki.
“Iya sama, gue juga kalau di suruh
ngomong pakai bahasa Sunda, gue gak mau mending gue ngomong pakai bahasa
Indonesia saja lah, lebih terbiasa,” kata Dinda. Rizki hanya mengangguk sambil
tersenyum.
“Tapi kata pamali juga bukan ada di
bahasa Sunda saja loh, Din, Ki. Di bahasa Jawa juga ada. Artinya sih sama gak
boleh. Ya tapi gak semua kata di bahasa Jawa itu sama kayak di bahasa Sunda,
sih. Oh, iya, kapan-kapan kita liburan ke Cianjur yuk. Gue dengar ada satu pantai di sana yang masih
bersih, dan belum banyak orang yang tau tempat itu. Tapi gue lupa nama
pantainya,” kata Celia.
“Boleh tuh. Soal nama pantainya nanti
gue cari info dari Mamah gue, kali saja Mamah gue tau tentang pantai itu,” kata
Dinda.
“Gue setuju banget sama ide Celia.
Gimana kalau liburan semester dua, kita ke sananya? Jadi setiap liburan
semester kita berkunjung ke tempat yang belum diketahui banyak orang. Gimana?”
kata Kevin. Dinda dan Celia hanya mengangguk.
“Oke, gue setuju. By the way sudah jam satu nih, kita sholat zuhur dulu yuk, nanti
habis sholat zuhur, kita lanjutin lagi perjalanannya,” kata Rizki. Dinda,
Celia, dan Kevin hanya mengangguk. Mereka pun menuju masjid yang ada di sebelah
rumah makan.
***
Setelah sholat, mereka pun melanjutkan
perjalanan menuju Ciamis. Selama dua jam perjalanan itu asyik mengobrol,
ngemil, dan sekali-kali becanda. Tak terasa mereka pun sudah sampai di depan
villa kakek Rizki.
“Sudah sampai nih, selamat datang di
villa kakek Ridwan. Assallamu alaikum,” sapa Rizki.
“Waalaikum salam. Alhamdulillah kamu
sudah sampai Riz, gimana perjalanannya?” tanya kakek Ridwan.
“Alhamdulillah lancar kek. Oh, iya kenalin
ini teman-temannya Rizki kek, ini Dinda, Celia, dan Kevin,” kata Rizki sambil
memperkenalkan teman-temannya.
“Wah, teman-temanmu cantik-cantik dan
ganteng-ganteng ya, silahkan masuk. Nek, cucumu datang nih,” kata kakek Ridwan.
“Wah, cucuku yang ganteng sudah
datang. Gimana kabarmu Ki? Ini teman-temanmu ya?” kata Nenek Ina.
“Alhamdulillah, sehat nek. Iya ini
teman-teman aku nek. Nenek dan kakek gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah sehat Ki. Oh, iya
nenek sudah masak makanan kesukaanmu, makan dulu yuk.”
“Wah, kebetulan kita sudah makan nek
tadi,” kata Kevin.
“Yah, padahal nenek sudah masak buat
nyambut kalian,” kata nenek Ina sedih.
“Nek, sekarang kita mau istirahat
dulu. Nanti sore kita pasti makan, masakan nenek. Nenek jangan sedih lagi ya,”
bujuk Celia.
“Ya sudah kalian istirahat saja
dulu, pasti kalian capek. Enam jam lebih kalian dalam perjalanan. Tapi janji ya
habis istirahat, kalian makan?.”
“Iya, nek, kita janji kita pasti
makan, masakan nenek yang paling enak. Sekarang kita ke kamar dulu ya,” kata
Celia.
“Ya sudah, yuk nenek antar ke kamar
kalian,” kata nenek Ina. Celia, Dinda, Rizki dan Kevin pun mengikuti nenek Ina
menuju kamar.
***
Keesokkan
harinya Celia, Rizki, Kevin dan Dinda pun memulai pertualangan mereka. Tempat
pertama yang mereka kunjungi adalah danau Sukasari, di sana merupakan tempat
wisata memancing, karena banyak sekali ikan yang ada di danau ini.
“Nah, ini namanya danau Sukasari, di
sini merupakan tempat wisata memancing yang ada di desa ini. Banyak warga yang
hobi memancing pasti pergi ke danau ini. Tapi asal kalian tau kebanyakan orang
yang suka mancing di sini adalah orang dari luar Ciamis. Ada orang Bandung,
Tasik, Sukabumi yang datang ke sini untuk memuaskan hobi mereka memancing,”
jelas Rizki.
“Waw, hebat juga ya? Tapi kenapa
kebanyakan orang Jakarta gak tau ada tempat sebagus ini di Ciamis?” tanya
Celia.
“Ya mungkin karena orang Jakarta,
yang pemikirannya metropolitan menganggap desa ini merupakan kampung kuno yang
gak asyik bagi mereka untuk disinggahi. Soalnya di sini gak ada mal, gak
ada tempat berbelanja, makanya mereka
enggak tau kalau di pedesaan yang masih alami ini ada tempat yang menarik
banget untuk di kunjungi,” jawab Dinda.
“Enggak ah, enggak semua orang
Jakarta kayak gitu tau. Buktinya saja gue mau berkunjung ke sini,” sela Kevin.
“Ya karena elo termasuk orang yang
pemikirannya masih primitive,” ejek Dinda.
“Enak saja elo, gue itu manusia
modern tau,” kata Kevin ketus.
“Sudah, sudah jangan berantem.
Mendingan kita lomba mancing saja. Kalau di antara kita dapat ikan lebih dari
lima, itu yang kita anggap sebagai pemenang dan yang kalah traktir yang menang
es kelapa muda. Gimana?” tantang Rizki.
“Boleh.. boleh,, pasti gue yang akan
menang,” kata Kevin. Kevin dan Rizki pun memulai lomba memancing, sedangkan
Dinda dan Celia hanya menonton Kevin dan Rizki yang sedang berlomba. Perlombaan
itu di menangkan oleh Rizki yang berhasil memancing ikan sebanyak enam
sedangkan Kevin hanya mendapatkan ikan hanya empat. Mau tidak mau Kevin harus
mentraktir Rizki, Dinda, dan Celia es kelapa
muda. Dan ikan yang di peroleh dari hasil memancing Kevin dan Rizki
dibawa pulang untuk pesta ikan bakar di villa malam harinya.
***
Hari
ke dua di Ciamis, mereka manfaatkan untuk mengunjungi curug Tujuh di Panjalu,
Ciamis. Mereka pun membeli karcis untuk
masuk ke curug tujuh. Setelah membeli karcis dan masuk pintu di pintu
gerbang langsung akan ditemui jalan setapak berbatu yang menanjak dengan bentuk
tangga. Kemiringan jalan ini mencapai hampir 45 derajat. Di ujung
tangga ini akan ditemui percaangan jalan dengan papan petunjuk lokasi curug
Cibolang berada. Untuk curug satu hingga lima ke arah kanan sedangkan
curug enam dan tujuh ke arah kiri.
“Sekarang ini kita berada di curug
tujuh. Kenapa namanya curug tujuh? Karena di sini ada tujuh air terjun yang
sangat indah. Jarak antara curug satu dengan yang lainnya saling berdekatan
kecuali curug enam dan curug tujuh yang terletak di bagian kiri. Sekarang kita
mulai ke curug satu dulu ya,” jelas Rizki. Dinda, Celia, Rizki dan Kevin pun berjalan
kearah kanan dari tempat petunjuk arah. Butuh waktu hanya lima menit berjalan
untuk sampai ke curug satu.
“Sekarang kita sudah berada di depan
curug satu, Curug satu adalah curug yang paling besar dengan ketinggian hampir
mencapai 120 meter dengan lebar sekitar 15-20 meter dan disisi kirinya terdapat
tebing datar, sedangkan lokasi curug dua berada dibawahnya. Untuk menuju curug
selanjutnya kita harus melewati curug satu jadi mau gak mau kita akan merasakan
segarnya air curug dan bagi yang mau berendam atau dipijat oleh jatuhan air
bisa juga. Dan konon kabarnya di salah satu curug ini ada yang yang mempunyai
khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Karena air terjun yang
mengalir berasal dari kawah Gunung Sawal diketahui mengandung belerang,” jelas
Rizki.
“Wah, kayaknya indah banget ya air
terjunnya? Kita foto-foto dulu yuk sebelum ke curug selanjutnya,” kata Celia.
“Emang air terjunnya indah banget
Cel. Oh, iya sebelum kita foto-foto, coba elo cuci muka di sini Cel, seger
banget loh,” ajak Rizki sambil menuntun Celia ke arah air terjun mengalir.
“Tangan elo giniin dan rasain air terjun yang membasahi tangan elo ini,” lanjut
Rizki. Celia mengangguk dan mengikuti perkataan Rizki. Lalu Celia pun membasahi
mukanya dengan air terjun itu.
“Ya Allah, seger banget Ki,” kata
Celia. Setelah Celia mengusap air itu ke mukanya, entah mengapa perlahan mata
Celia bisa melihat cahaya yang ada di depannya, cahaya itu semakin terang dan
jelas, sehingga Celia bisa melihat semua yang ada di depannya. “Ki, gue bisa
melihat Ki. Rizki itu wajah elo kan Ki? Gue bisa melihat lagi Ki, gue bisa
melihat sekeliling gue,” lanjut Celia senang.
“Celia, elo bisa lihat wajah gue
Cel?” tanya Rizki tidak percaya. Celia hanya mengangguk sambil tersenyum. “Ini
berapa?” tanya Rizki lagi sambil menghadapkan jari telunjuknya di hadapan
Celia.
“Satu. Dan itu jari telunjuk,” jawab
Celia tegas.
“Alhamdulillah, berarti elo benar
bisa melihat Cel. Gue senang banget elo bisa melihat lagi,” kata Dinda sambil
memeluk Celia.
“Berarti elo gak perlu operasi
tranplantasi konea mata untuk bisa melihat lagi kan Cel?” kata Kevin.
“Enggak perlu Vin, ternyata Allah
mengabulkan doa gue, kita lanjutin pertualangannya yuk,” ajak Celia semangat
sambil merangkul Dinda. Mereka pun melanjutkan perjalanan sampai ke curug
tujuh.
***
Hari
keempat di Ciamis, mereka berpetualang ke Green
Canyon. Green
Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang,
Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika
dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat
objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.
Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran
dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona
stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit,
juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan.
“Nah
kita akan masuk ke Green Canyon atau
Cukang Taneuh. Untuk mengelilingi Green
Canyon ini kita harus naik perahu,” jelas Rizki. Mereka pun berkeliling
tempat wisata Green Canyon dengan
menggunakan perahu yang di pandu oleh Pak Bambang.
“Pak,
aku boleh tanya gak?” tanya Celia ketika mereka sudah lima menit bekeliling
menggunakan perahu.
“Iya,
boleh atuh neng. Emang ada larangan untuk bertanya? Enggak ada kan neng?” jawab
Pak Bambang.
“Ah,
Bapak bisa saja. Saya mau tanya kenapa sih tempat ini dinamakan Green Canyon?”
tanya Celia.
“Oh
itu neng, tempat ini dinamakan Green
Canyon karena air yang mengalir di sepanjang sungai ini warnanya hijau.
Neng lihat saja sepanjang kita berjalan air tetap warna hijau kan? makanya
tempat ini di sebut Green Canyon,
gitu neng,” jawab Pak Bambang. Celia hanya mengangguk.
Begitu terlihat
jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah
sampai di mulut Green Canyon, di mana
airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan
menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan
perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban
dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara
seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun
ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan
dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.
Perjalanan akan
terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai.
Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik
berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian
atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih
dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat
beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika
diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana
terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.
Alur aliran
sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya
sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas
permukaan air, Green Canyon akan
menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat
selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk
ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke
sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat
dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.
Setelah puas
menikmati suasana Green Canyon,
Dinda, Kevin, Celia, dan Rizki pun kembali ke villa.
***
Hari ini adalah
hari terakhir mereka berada di Ciamis. Mereka pun berpamitan kepada kakek
Ridwan dan nenek Ina, karena mereka akan kembali ke Jakarta. Sekitar jam
delapan pagi mereka sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta, tetapi sebelum pulang ke Jakarta, mereka menginap
dulu semalam di Pantai Pangandaran, pantai yang sangat terkenal di kota Ciamis.
Karena di pantai itu kita dapat
melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama, pantainya
landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama
sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman, terdapat pantai dengan
hamparan pasir putih, terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut
yang mempesona dan terdapat Cagar alam yang terletak di desa Pananjung.
Itulah
beberapa keindahan Indonesia yang di kunjungi oleh Dinda, Rizki, Celia dan
Kevin. Sejak itu pula setiap liburan mereka mengunjungi tempat-tempat wisata yang
mempesona yang ada di Indonesia. Tempat yang harus kita jaga dan rawat agar
dunia tau bahwa Indonesia mempunyai tempat wisata yang lebih indah dibanding
negara lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar