Sekitar
jam enam pagi, aku dan Iis sudah sampai di stasiun kereta api Kiara Condong
Bandung. Disana sudah banyak penumpang yang menunggu keretanya datang, untuk
mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Aku, Iis, Vera dan Kristi sepakat memilih
kereta dengan jadwal keberangkatan pagi hari, agar sampai di Yogyakartanya sore
hari, karena menurut informasi yang aku dapat, transportasi di Yogya jamnya
terbatas kecuali becak dan taksi. Aku melihat sekeliling stasiun, siapa tau aku
menemukan sosok Vera atau Kristi, tapi aku belum bertemu sosok kedua sahabatku
itu.
“Is, kamu melihat Kristi sama Vera
enggak? Kok daritadi aku cariin, enggak ada ya?,” tanyaku kepada Iis, siapa tau
dia sudah melihat Vera atau Kristi.
“Iya nih aku juga belum melihat
mereka, jangan-jangan mereka belum datang?,” jawab Iis.
“Masa sih mereka belum datang? Kan
sebentar kereta menuju Yogya mau berangkat, ya sudah kita cari mereka lagi,”
kataku sambil melangkah untuk mencari Kristi dan Vera.
Tak lama kemudian aku menemukan
sosok Vera dan Kristi. “Eh kalian kemana saja sih? Kita cariin daritadi?”,
tanyaku.
“Nih gara-gara ada yang bangun
kesiangan, makanya kita jadi telat,” kata Vera sambil melirik kearah Kristi.
“Sory, tadi aku bangun kesiangan,
jadi agak telat deh. Tapi keretanya belum berangkat kan?,” tanya Kristi.
“Kereta
jurusan stasiun Lempuyang – Yogyakarta akan segera berangkat, mohon kepada
penumpang siap-siap memasuki gerbong kereta,” itulah pengumuman dari bagian
informasi stasiun.
“Eh keretanya mau berangkat tuh, ayo
cepat kita naik,” ajak Iis. Aku, Vera dan Kristi pun naik ke dalam kereta. Di
dalam kereta kami pun duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket kami.
Selama di kereta, aku menikmati
indahnya pemandangan yang dilalui oleh kereta yang kami tumpangi sabil bersenda
gurau dengan Iis, Kristi dan Vera.
“Aku baru pertama kali nih naik
kereta. Pemandangannya indah banget ya?,” kataku sambil mengeluarkan kamera
kesayanganku.
“Iya sama Cy, aku juga baru pertama
naik kereta,” jawab Vera. Aku hanya mengangguk sambil foto-foto penumpang yang
lain.
“Cy fotoin kita dong,” kata Kristi
narsis sambil pindah tempat duduk sebelah Vera dan Iis.
“Oke.. satu… dua… tiga.” Jepret…
suara dari kameraku.
“Aku mau foto keindahan di luar
kereta, ada yang mau ikut?,” kataku sambil melangkah ke pintu gerbong. Ternyata
benar pemandangan di luar lebih menakjubkan di banding melihat dari jendela
kereta, aku pun mengabadikan moment itu dengan kameraku.
***
Tak terasa hari sudah sore hari, tepat
jam tiga sore aku dan kedua sahabatku pun sudah sampai di stasiun Lempuyang –
Yogyakarta. Sebelum turun dari kereta, aku memasukkan kameraku ke dalam tas
kamera dan merapikan kerudungku yang sedikit berantakkan. Keluar dari stasiun,
kami pun segera menuju penginapan di daerah Malioboro. Penginapan itu merupakan
penginapan yang dimiliki oleh keluarga Kristi.
“Kamu yakin disini tempatnya Kris?,”
tanyaku saat kami sudah berada di depan penginapan.
“Iya emang disini, setahun yang lalu
aku pernah liburan kesini juga sama mamah dan papa. Masa aku lupa. Yuk masuk,”
jawab Kristi. Kami pun melangkah menuju pintu masuk dan memberikan salam, tak
lama seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil mbok Ana pun keluar.
“Waalaikum salam. Eh ada non Kristi
dan ini pasti temannya non Kristi, ayo silahkan masuk. Mamah dan papa non tadi
telepon tanyain dan teman-temannya sudah sampai belum, ya mbok jawab belum,
silahkan masuk non,” kata mbok Ana sambil mempersilahkan kami masuk.
“Iya nanti aku telepon mamah dan
papa kalau aku sudah sampai. Oh, iya, mbok kenalin ini Kristi, Ecy dan Iis
temanku dari Bandung. Kristi, Ecy, Iis, beliau adalah penjaga penginapan ini.
Kalian bisa panggil dia mbok Ana,” kata Kristi memperkenalkan mbok Ana.
“Salam kenal mbok, yang sabar ya
mbok kalau selama kami di sini suka ngerepotin,” kataku sambil tersenyum.
“Iya enggak ngerepotin non, mbok
malah senang ada non Kristi dan teman-temannya datang jadi tambah ramai di
penginapan ini. Ayo non, mbok anter ke kamar pasti non-non pada capek dan mau
istirahat kan? Monggo tak antar ke kamar.”
“Matur nuwun mbok,” kataku, Kristi,
Vera dan Iis berbarengan.
***
Malam harinya setelah sholat
maghrib, kami menikmati suasana kota Yogya dengan berkeliling di kawasan
Malaiboro, di sana banyak wisatawan yang berbelanja di pasar Malaiboro atau sekadar
berjalan-jalan menikmati keindahan kota Malaiboro.
“Kris, kamu tau tampat makan yang
enak di sini? Perut lapar nih, minta di isi,” kata Vera.
“Kamu tuh ya, makan mulu
pikirannya,” kata Iis sambil membenarkan kerudungnya yang sedikit berantakan. Vera
tak menggubris perkataan Iis.
“Kita makan mie Jawa saja ya, disini
aku tau dimana tempat penjual mie Jawa yang paling enak,” kata Kristi.
“Oke… Ayo kita ke sana,” kata Vera
senang. Kami pun pergi ke tempat penjual mie Jawa yang kata Kristi paling enak
di Yogya.
***
Esok harinya kita pergi ke candi
Borobudur, melihat kemegahan salah satu warisan budaya Indonesia. Di sana kami
melihat keindahan candi Borobudur yang berdiri kokoh yang di kelilingi oleh
pegunungan. Aku, Kristi, Iis dan Vera pun menelusuri sekeliling candi sampai
puncak candi. Di puncak candi kita bisa melihat indahnya pegunungan yang
menyerupai gambaran seorang manusia yang sedang tidur terlentang membujur dari
timur ke barat. Lekukan-lekukan pegunungan itu seolah menggambarkan kepala lengkap
dengan hidung, bibir dan dagu juga bagian perut sampai kaki. Karena keadaan
seperti itulah maka cerita rakyat berkembang bahwa yang sedang tidur terlentang
itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang menurut kepercayaan telah
berhasil enciptakan candi Borobudur dan menjaganya sambil mengawasi ciptaannya
dari masa ke masa. disebelah timur candi Borobudur terdapat candi Pawon dan
candi Mendut. Di sana tidak henti-hentinya aku mengabadikan keindahan candi
dengan kameraku.
***
Hari
terakhir kami di Yogya, kami mengunjungi sebuah desa yang bernama desa
Gamplong. Mayoritas pekerjaan penduduk di desa ini adalah petani dan
penenun. Hasil tenun yang dihasilkan
dari desa Gamplong berupa kain lurik, serbet dan stagen. Alat yang digunakan
pun masih alat tradisional bukan alat mesin. Selagi ada kesempatan berkunjung
ke desa Gamplong, aku, Kristi, Vera dan Iis pun sedikit belajar menenun. Habis
sholat dzuhur kami pamit dan langsung pergi ke Papan Santai Cemplon atau lebih
sering dikenal dengan Pantai Cemplon merupakan salah satu wisata alam unggulan
yang alirannya berasal dari sungai Progo. Di tempat ini, kita dapat melihat
pemandangan alam yang indah dan kita dapat berdiri di pijakan batu-batu yang
lembut. Kami makan siang di sebuah gubuk warung makan yang ada di sana sambil
menikmati keindahan alam pantai Camplon.
Petualangan tiga hari
di Yogya merupakan pengalaman berharga dan mengesankan bagi aku, Kristi, Vera
dan Iis, walaupun suasana siang hari di Yogya sangat panas, tapi kami tetap
semangat melanjutkan liburan kami dan tak ada niat sedikitpun untuk membuka
kerudung yang menjadi kebanggan kami sebagai seorang perempuan. Walaupun kami
memakai kerudung, tak menjadi halangan kami untuk berpetualang kemanapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar