Rabu, 20 November 2013

HOLIDAY TO YOGYAKARTA


Sekitar jam enam pagi, aku dan Iis sudah sampai di stasiun kereta api Kiara Condong Bandung. Disana sudah banyak penumpang yang menunggu keretanya datang, untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Aku, Iis, Vera dan Kristi sepakat memilih kereta dengan jadwal keberangkatan pagi hari, agar sampai di Yogyakartanya sore hari, karena menurut informasi yang aku dapat, transportasi di Yogya jamnya terbatas kecuali becak dan taksi. Aku melihat sekeliling stasiun, siapa tau aku menemukan sosok Vera atau Kristi, tapi aku belum bertemu sosok kedua sahabatku itu.
            “Is, kamu melihat Kristi sama Vera enggak? Kok daritadi aku cariin, enggak ada ya?,” tanyaku kepada Iis, siapa tau dia sudah melihat Vera atau Kristi.
            “Iya nih aku juga belum melihat mereka, jangan-jangan mereka belum datang?,” jawab Iis.
            “Masa sih mereka belum datang? Kan sebentar kereta menuju Yogya mau berangkat, ya sudah kita cari mereka lagi,” kataku sambil melangkah untuk mencari Kristi dan Vera.
            Tak lama kemudian aku menemukan sosok Vera dan Kristi. “Eh kalian kemana saja sih? Kita cariin daritadi?”, tanyaku.
            “Nih gara-gara ada yang bangun kesiangan, makanya kita jadi telat,” kata Vera sambil melirik kearah Kristi.
            “Sory, tadi aku bangun kesiangan, jadi agak telat deh. Tapi keretanya belum berangkat kan?,” tanya Kristi.
            Kereta jurusan stasiun Lempuyang – Yogyakarta akan segera berangkat, mohon kepada penumpang siap-siap memasuki gerbong kereta,” itulah pengumuman dari bagian informasi stasiun.
            “Eh keretanya mau berangkat tuh, ayo cepat kita naik,” ajak Iis. Aku, Vera dan Kristi pun naik ke dalam kereta. Di dalam kereta kami pun duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket kami.
            Selama di kereta, aku menikmati indahnya pemandangan yang dilalui oleh kereta yang kami tumpangi sabil bersenda gurau dengan Iis, Kristi dan Vera.
            “Aku baru pertama kali nih naik kereta. Pemandangannya indah banget ya?,” kataku sambil mengeluarkan kamera kesayanganku.
            “Iya sama Cy, aku juga baru pertama naik kereta,” jawab Vera. Aku hanya mengangguk sambil foto-foto penumpang yang lain.
            “Cy fotoin kita dong,” kata Kristi narsis sambil pindah tempat duduk sebelah Vera dan Iis.
            “Oke.. satu… dua… tiga.” Jepret… suara dari kameraku.
            “Aku mau foto keindahan di luar kereta, ada yang mau ikut?,” kataku sambil melangkah ke pintu gerbong. Ternyata benar pemandangan di luar lebih menakjubkan di banding melihat dari jendela kereta, aku pun mengabadikan moment itu dengan kameraku.
***
            Tak terasa hari sudah sore hari, tepat jam tiga sore aku dan kedua sahabatku pun sudah sampai di stasiun Lempuyang – Yogyakarta. Sebelum turun dari kereta, aku memasukkan kameraku ke dalam tas kamera dan merapikan kerudungku yang sedikit berantakkan. Keluar dari stasiun, kami pun segera menuju penginapan di daerah Malioboro. Penginapan itu merupakan penginapan yang dimiliki oleh keluarga Kristi.
            “Kamu yakin disini tempatnya Kris?,” tanyaku saat kami sudah berada di depan penginapan.
            “Iya emang disini, setahun yang lalu aku pernah liburan kesini juga sama mamah dan papa. Masa aku lupa. Yuk masuk,” jawab Kristi. Kami pun melangkah menuju pintu masuk dan memberikan salam, tak lama seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil mbok Ana pun keluar.
            “Waalaikum salam. Eh ada non Kristi dan ini pasti temannya non Kristi, ayo silahkan masuk. Mamah dan papa non tadi telepon tanyain dan teman-temannya sudah sampai belum, ya mbok jawab belum, silahkan masuk non,” kata mbok Ana sambil mempersilahkan kami masuk.
            “Iya nanti aku telepon mamah dan papa kalau aku sudah sampai. Oh, iya, mbok kenalin ini Kristi, Ecy dan Iis temanku dari Bandung. Kristi, Ecy, Iis, beliau adalah penjaga penginapan ini. Kalian bisa panggil dia mbok Ana,” kata Kristi memperkenalkan mbok Ana.
            “Salam kenal mbok, yang sabar ya mbok kalau selama kami di sini suka ngerepotin,” kataku sambil tersenyum.
            “Iya enggak ngerepotin non, mbok malah senang ada non Kristi dan teman-temannya datang jadi tambah ramai di penginapan ini. Ayo non, mbok anter ke kamar pasti non-non pada capek dan mau istirahat kan? Monggo tak antar ke kamar.”
            “Matur nuwun mbok,” kataku, Kristi, Vera dan Iis berbarengan.
***
            Malam harinya setelah sholat maghrib, kami menikmati suasana kota Yogya dengan berkeliling di kawasan Malaiboro, di sana banyak wisatawan yang berbelanja di pasar Malaiboro atau sekadar berjalan-jalan menikmati keindahan kota Malaiboro.
            “Kris, kamu tau tampat makan yang enak di sini? Perut lapar nih, minta di isi,” kata Vera.
            “Kamu tuh ya, makan mulu pikirannya,” kata Iis sambil membenarkan kerudungnya yang sedikit berantakan. Vera tak menggubris perkataan Iis.
            “Kita makan mie Jawa saja ya, disini aku tau dimana tempat penjual mie Jawa yang paling enak,” kata Kristi.
            “Oke… Ayo kita ke sana,” kata Vera senang. Kami pun pergi ke tempat penjual mie Jawa yang kata Kristi paling enak di Yogya.
***
            Esok harinya kita pergi ke candi Borobudur, melihat kemegahan salah satu warisan budaya Indonesia. Di sana kami melihat keindahan candi Borobudur yang berdiri kokoh yang di kelilingi oleh pegunungan. Aku, Kristi, Iis dan Vera pun menelusuri sekeliling candi sampai puncak candi. Di puncak candi kita bisa melihat indahnya pegunungan yang menyerupai gambaran seorang manusia yang sedang tidur terlentang membujur dari timur ke barat. Lekukan-lekukan pegunungan itu seolah menggambarkan kepala lengkap dengan hidung, bibir dan dagu juga bagian perut sampai kaki. Karena keadaan seperti itulah maka cerita rakyat berkembang bahwa yang sedang tidur terlentang itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang menurut kepercayaan telah berhasil enciptakan candi Borobudur dan menjaganya sambil mengawasi ciptaannya dari masa ke masa. disebelah timur candi Borobudur terdapat candi Pawon dan candi Mendut. Di sana tidak henti-hentinya aku mengabadikan keindahan candi dengan kameraku.
***
Hari terakhir kami di Yogya, kami mengunjungi sebuah desa yang bernama desa Gamplong. Mayoritas pekerjaan penduduk di desa ini adalah petani dan penenun.  Hasil tenun yang dihasilkan dari desa Gamplong berupa kain lurik, serbet dan stagen. Alat yang digunakan pun masih alat tradisional bukan alat mesin. Selagi ada kesempatan berkunjung ke desa Gamplong, aku, Kristi, Vera dan Iis pun sedikit belajar menenun. Habis sholat dzuhur kami pamit dan langsung pergi ke Papan Santai Cemplon atau lebih sering dikenal dengan Pantai Cemplon merupakan salah satu wisata alam unggulan yang alirannya berasal dari sungai Progo. Di tempat ini, kita dapat melihat pemandangan alam yang indah dan kita dapat berdiri di pijakan batu-batu yang lembut. Kami makan siang di sebuah gubuk warung makan yang ada di sana sambil menikmati keindahan alam pantai Camplon.
Petualangan tiga hari di Yogya merupakan pengalaman berharga dan mengesankan bagi aku, Kristi, Vera dan Iis, walaupun suasana siang hari di Yogya sangat panas, tapi kami tetap semangat melanjutkan liburan kami dan tak ada niat sedikitpun untuk membuka kerudung yang menjadi kebanggan kami sebagai seorang perempuan. Walaupun kami memakai kerudung, tak menjadi halangan kami untuk berpetualang kemanapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar