Seorang
gadis yang bernama Shilla terlihat sedang berjalan terburu-buru di koridor
kampus. Hari ini dia telat bangun karena semalaman dia berkutat pada tugas yang
diberikan pak Andre, guru matematika ekonominya. Padahal jam mata kuliah
pertamanya hari ini adalah mata kuliah pak Sandi yang terkenal sebagai dosen paling
killer dan disiplin di kampusnya,
telat satu menit saja dia tidak akan mengizinkan siswa itu untuk mengikuti mata
kuliahnya selama satu semester. Hasilnya banyak mahasiswa dan mahasiswi yang
tidak mau datang terlambat pada jam mata kuliahnya karena mereka tidak mau
mengulang salah satu mata kuliah paling penting yang diajarkan pak Sendi. Shilla
pun mempercepat langkahnya, dia tidak ingin datang terlambat pada jam mata
kuliah itu. Tapi tiba-tiba dari arah depan ada seorang cowok menabraknya hingga
dia terjatuh dengan posisi tepat diatas cowok yang menabraknya itu. Sesaat mata
mereka saling bertatapan, dan Shilla merasakan detak jantungnya berdetak
kencnag tetapi secepat kilat Shilla segera menjauh dari cowok itu.
“Maaf
gue enggak sengaja, elo enggak apa-apa kan? Sini gue bantu elo
berdiri,” kata Shilla sambil mengulurkan tangannya ke arah cowok itu.
Cowok
itupun menyambut uluran tangan Shilla dan berdiri. “Gue enggak apa-apa kok. Terima kasih ya sudah bantu gue berdiri, gue
juga minta maaf sudah tabrak elo tadi. Elo bukannya Shilla temannya Kaliza,
Inge dan Bianca yang sekelas sama gue waktu SMA kan?”
“Iya
benar gue Shilla, elo kan Christ, cowok yang pakai kacamata itu kan? Sekarang
kacamata elo kemana?,” tanya Shilla mencoba mengingat-ingat Christ.
“Sekarang
mah gue enggak pakai kacamata lagi,
gue sudah pakai contact lens. Elo
kuliah di sini juga ya? Jurusan apa?”
“Gue
jurusan Akutansi. By the way gue
duluan ya, soalnya gue sudah telat jam mata kuliah pertama,” kata Shilla sambil
berlalu pergi.
“Kapan-kapan
kita ketemu lagi ya Shil,” teriak Christ.
“Sip…,”
jawab Shilla sambil mengacungkan jempolnya.
Shilla
pun sudah berada di depan kelasnya dan saat dia melongok ke dalam kelas
ternyata dosen killer itu belum
berada di kelas. Shilla pun mengurut dadanya lega karena dia belum terlambat
masuk di kelas pak Sendi, Shilla pun berjalan menuju bangku teman-temannya
berada.
“Selamat
elo Shil, untung pak Sendinya belum datang,” kata Kaliza saat melihat Shilla
duduk disamping Bianca.
“Elo
kemana dulu sih, jam segini baru datang?,” tanya Inge.
“Gue
tadi telat bangun karena semalaman gue ngerjain tugasnya pak Andre, tapi tumben
banget dosen killer itu belum datang? Biasanya jam segini dia sudah nangkring
di depan kelas.”
“Elo
kira monyet nangkring? Enggak tau
tuh, mungkin terjebak macet,” jawab Bianca.
Tak
lama kemudian sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. “Assallamu
alaikum anak-anak, maaf saya sedikit terlambat karena tadi saya terjebak macet.
Sekarang kita lanjutkan pelajaran kita.”
***
“Bi, Nge, Kal kalian ingat sama
Christ gak? Teman sekelas kita waktu
SMA yang pakai kacamata itu, ingat gak?,”
tanya Shilla sambil menyeruput es jeruknya
“Iya gue ingat, cowok yang waktu itu
lo suka kan Shil? Tapi elo enggak
pernah bilang ke dia kalau elo suka sama dia iya kan?”
Shilla hanya mengangguk. “Sampai
sekarang, enggak tau mengapa gue
masih deg-degan kalau ketemu sama dia. Kalian tau kalau sekarang dia itu keren
banget. Enggak kaya waktu SMA.”
“Elo tadi ketemu dimana?,” tanya
Kaliza.
“Di depan jurusan bahasa Inggris,
gue enggak sengaja tabrakan sama dia.
Dia yang nyapa gue duluan, gue enggak
nyangka kalau dia masih ingat sama gue.”
“Ya iya lah dia masih ingat sama
elo, kerena dia cinta pertama elo sih,” ceplos Bianca. Shilla hanya mengangguk
“Mengapa elo gak tembak dia duluan Shil, daripada elo harus memendam perasaan
elo terus menerus?” kata Bianca sambil nyengir.
“Benar kata Bianca Shil, elo memang gak mau kalau dia tau tentang perasaan
elo ke dia? Sekarang zaman emansipasi Shil, banyak kok cewek yang tembak cowok
duluan,” ujar Kaliza membenarkan perkataan Bianca.
“Gue masih belum berani ungkapin
perasaan gue ke dia. Kalian tau kan dekat sama dia saja gue gugup banget,
apalagi harus tembak dia duluan? Bisa mati berdiri kali gue.”
“Tapi kalau elo sudah mengungkapkan
perasaan elo, elo akan lega Shil. Yang penting elo sudah bilang ke dia kalau
elo cinta sama dia, masalah dia terima atau enggak
sih belakangan, yang penting elo sudah siap terima resikonya,” komen Inge.
“Benar juga kata elo Nge, tapi gue
mau pikirin dulu sama gue mau siapin mental gue seandainya Christ enggak jadi milik gue,” ucap Shilla
sambil menarik nafas panjang.
***
Malam ini Shilla sedang duduk di
balkon kamar rumahnya sambil menatap langit yang dipenuhi bintang. Malam ini
suasana di langit begitu cerah, tapi tidak suasana hati Shilla. Sejak
pertemuannya kembali dengan Christ dan
obrolannya dengan Inge, Bianca, dan Kaliza, perasaannya menjadi campur aduk.
Ada senang karena dia telah bertemu kembali dengan Christ, orang yang dia
sayang dan perasaan bingung apakah dia harus mengungkapkan perasaannya kepada
Christ atau tidak.
Shilla sudah menyukai Christ sejak
awal masuk SMA. Seorang Christ yang berperawakan tinggi, putih, dan memakai
kacamata bisa menaklukkan hati Shilla yang terkenal pilih-pilih mengenai cowok.
Seorang Christ yang bisa membuat Shilla memendam perasaannya sendiri selama lebih
dari lima tahun. Bukan tanpa alasan Shilla harus memendam perasaannya itu, dia
tidak mau hubungan persahabatan dia dengan Christ menjadi rusak hanya karena
perasaannya itu. Shilla dan Chris jadi sahabat saat dia dan Christ sama-sama
masuk ekskul yang sama yaitu OSIS, saat itu Shilla menjabat sebagai bendahara
dan Christ sebagai ketua OSIS dan persahabatan mereka semakin dekat saat kelas
2 nya mereka sekelas. Tapi saat kelas 3, Christ pindah ke Pekanbaru karena
mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan kesana.
***
Keesokkan harinya Shilla bertemu
lagi dengan Christ di gerbang masuk kampus. Christ tersenyum begitu melihat
Shilla dan menyapa Shilla.
“Hai Shil, kita ketemu lagi ya,”
sapa Christ.
“Iya Christ. Elo kuliah disini
jurusan apa?,” tanya Shilla.
“Jurusan bahasa Inggris Shil, oh iya
elo melihat Bianca enggak? Daritadi
gue cariin tapi enggak ada?.”
“Enggak,
gue juga baru datang. Memang elo ada perlu apa sama Bianca?,” tanya Shilla
sinis.
“Gue ada perlu saja sama dia,” jawab
Christ.
“Oh… ya sudah Christ, gue ke kelas
duluan ya. Nanti kalau gue ketemu sama Bianca, nanti gue bilangin kalau elo
nyariin dia,” kata Shilla sambil berlalu dari hadapan Christ.
“Terima kasih ya Shil,” teriak
Christ. Tapi Shilla tak menggubris ucapan terima kasih Christ.
***
Shilla masuk ke kelas dengan wajah
cemberut, Shilla merasa cemburu karena tadi Christ mencari Bianca, bukan
dirinya.
“Eh Shil, mengapa elo pagi-pagi
cemberut gitu?,” tanya Kaliza. Shilla tidak menjawab pertanyaan Kaliza, diapun
mengalihkan pandangannya kepada Bianca yang sedang menatap ke arahnya, bingung.
“Bi, elo tadi dicariin tuh sama Christ,” kata Shilla
sambil duduk dibangku samping Inge.
“Nyariin gue? Memang ada apa?,”
tanya Bianca tak enak.
“Mana gue tau. Tadi sih dia hanya
bilang ada perlu saja sama elo,” jawab Shilla sinis.
“Tapi elo enggak marah dan cemburu sama gue kan Shil?,” tanya Bianca hati-hati.
“Ngapain gue mesti marah dan cemburu
sama elo? Lagian gue enggak ada
hubungan apa-apa kok sama Christ. It’s
okay, Bi,” kata Shilla sambil tersenyum kearah Bianca. Bianca hanya
mengangguk. Walaupun Shilla tersenyum tapi dia tau kalau senyum itu senyum
terpaksa. Bianca juga tau kalau jauh dilubuk hati Shilla ada rasa cemburu
terhadapnya.
***
Shilla sedang mencari-cari buku Matematika Akuntansi
di sebuah Gramedia, saat dia sedang mencari buku itu mata menangkap dua sosok
orang yang sangat dikenalnya melewati Gramedia. Dua orang itu adalah Bianca dan
Christ. Bianca dan Christ terlihat akrab dan mesra, terkadang obrolan mereka di
selingi oleh canda tawa. Shilla yang melihat keakraban dan kemesraan mereka
merasa cemburu.
Bianca
jalan sama Christ? Kok kayanya akrab banget sih? Jangan-jangan….., batin
Shilla menduga-duga. Tapi sedetik kemudian dia menghapus semua pikiran buruknya
terhadap Bianca dan Christ. Shilla tidak mau hanya karena rasa cemburunya ini,
membuat hubungannya dengan Bianca dan Christ hancur.
Esok
harinya Shilla mendengar gossip bahwa Bianca dan Christ sudah jadian, gossip
itu berhembus karena sudah hampir seminggu ini Bianca dan Christ pulang dan
berangkat sekolah bersama-sama, belum lagi mereka satu ekskul yang sama yaitu
basket. Shilla sangat shock mendengar
kabar itu, walaupun begitu dia masih ber-positif
thinking terhadap hubungan Christ dan Bianca. Tapi semua itu tidak mudah
bagi Shilla. Shilla tak kuat lagi menahan rasa cinta yang sudah dia pendam
terhadap Christ selama lebih dari lima tahun ini, hatinya merasa sakit setiap
dia melihat Christ dekat dengan cewek lain. Apalagi sekarang orang yang
dicintainya itu dekat dengan sahabatnya sendiri, Bianca. Terlebih lagi Bianca
secara terang-terangan memperlihatkan kedekatannya dengan Christ didepan Shilla
dank arena gossip itu.
***
Sudah
beberapa hari ini Shilla terkesan menghindar setiap bertemu dengan Christ dan
Bianca. Setiap Bianca gabung sama dirinya, Inge dan Kaliza, Shilla selalu
mencari alasan untuk pergi meninggalkan ketiga sahabatnya. Hal yang sama dia
lakukan kepada Christ, setiap bertemu dengan dia selalu menghindar.
“Shil,
mengapa sih setiap elo ketemu sama gue elo selalu menghindar Shil? Gue punya
salah sama elo? Kalau gue punya salah, elo bilang ke gue salah gue apa? Jangan menghindar
kayak gini Shil,” kata Bianca to the
point saat Shilla sedang sendiri.
“Gue
enggak apa-apa kok,” kata Shilla cuek.
“Lo
bohong Shil, Christ bilang sama gue kalau elo juga menghindar dari dia. Iya
kan? Atau elo cemburu gue dekat sama Christ?”
“Kalau
iya mengapa? Elo tau salah elo apa? Salah elo itu, elo tega tusuk gue dari
belakang. Elo yang nyuruh gue buat ngomong sama Christ kalau gue suka sama dia,
tapi apa kenyataannya? Sekarang elo malah dekat sama orang yang gue suka,
apalagi gossip beredar kalau sekarang kalian pacaran. Terus apa artinya elo
nyuruh gue buat ungkapin perasaan gue ke dia? Biar elo tau gue diterima atau
enggak sama Christ dan kalau gue enggak diterima sama Christ, elo yang akan
jadian sama dia gitu? Picik banget elo.”
“Lo
salah paham Shil, gue sama Christ hanya temanan. Dan gossip yang beredar itu
semuanya bohong.”
“Ah…
sudahlah elo enggak jelasin apa-apa lagi. Kalau elo emang sudah jadian sama
Christ gue hanya bisa bilang selamat rencana elo sukses,” kata Shilla sambil
berlalu meninggalkan Bianca.
“Shil
tunggu…. Elo salah paham Shil…. Dengarin dulu penjelasan gue Shil,” teriak
Bianca. Shilla tak menggubris teriakan Bianca, dia masih terus berjalan
meninggalkan Bianca.
***
“Kita mau kemana sih Nge, Kal. Kok mata gue
ditutup kaya gini sih?,” tanya Shilla.
“Sudah
elo jangan banyak tanya sebentar lagi sampai kok sabar,” jawab Kaliza. Tak
beberapa lama mereka pun sampai di sebuah danau yang pinggirannya di hiasi oleh
cahaya lilin yang indah dan di tengah danau ada beribu lilin yang bertuliskan “I Love You Kamu, Shilla”, yang sudah
disiapkan oleh Christ.
“Shil,
sudah sampai nih tapi gue sama Kaliza kebelet pipis nih. Elo tunggu disini
jangan kemana-mana,” kata Inge.
“Eh
tapi Nge, Kal, buka dulu penutup mata gue. Inge, Kaliza,” panggil Shilla tapi
tak ada jawaban. Beberapa menit kemudian, Christ membuka penutup mata Shilla
dari arah belakang. Shillapun membuka matanya. Alangkah terkejutnya dia ketika
melihat pemandangan yang indah di depannya.
“Elo
suka sama semua ini Shil?,” tanya Christ mengagetkan Shilla.
Shilla
pun memutar badannya kearah Christ. “Gue suka banget, tapi elo kok ada disini?
Inge sama Kaliza mana?”
“Sory Shil, mereka tadi gue suruh pulang
duluan. Soalnya malam ini gue mau berduaan sama elo. Happy Birthday Shilla, sebelum elo tiup lilinnya, make a wish dulu ya” kata Christ sambil membawa
kue tart yang ada dari belakang tubuhnya. Shilla mengangguk, dia pun menutup
matanya unuk make a wish lalu diapun meniup lilin yang ada di atas kue tart
itu.
“Terima
kasih ya Christ elo sudah ingat ulang tahun gue.”
“Iya
sama-sama. Oh, iya, ada sesuatu yang mau gue kasih tau ke elo,” kata Christ
sambil menggandeng tangan Shilla untuk melihat tulisan yang ada di tengah
danau.
“Kamu
lihat tulisan itu Shil? Itu adalah ungkapan perasaanku sama kamu. I Love You
kamu, Shilla,” kata Christ sambil
menggenggam tangan Shilla erat.
“Bukannya
elo pacaran sama Bianca, mengapa elo tembak gue? Nanti Bianca gimana?,” kata
Shilla sambil melepas genggaman Christ.
Christ
tersenyum. “Aku sama Bianca itu sepupuan Shil, jadi kamu salah paham tentang
hubunganku sama Bianca.”
“Benar
apa yang dikatakan Christ, Shil. Gue sama dia itu sepupuan. Christ itu anak
dari kakak mamah gue.”
“Tapi
gossip itu?”
“Gosip
itu hanya hoax, Shilla sayang. Gosip
itu disebarin sama orang yang enggak
tau tentang hubungan aku sama Bianca. Yang hanya lihat di luar saja. Yang aku
suka dan sayang itu hanya kamu Shil. Kamu mau kan jadi pacar aku?,” tanya
Christ.
Shilla
hanya mengangguk. “Terima kasih ya Shil, aku senang banget kamu sudah terima
cinta aku,” kata Christ sambil memeluk Shilla.
“Aku
juga terima kasih ya untuk semua kado yang paling indah ini,” kata Shilla.
“Yeay…
Akhirnya kalian berdua jadian juga. Elo enggak
marah lagi kan sama gue Shil?,” tanya Bianca.
“Gue
masih marah sama elo, jadi elo harus kasih gue hadiah di ultah gue hari ini”,
kata Shilla sambil melepaskan pelukan Christ.
“Oke.. Tapi kalian
besok harus traktir kita bertiga makan,” samber Kaliza. Shilla hanya
mengangguk. Inge, Christ dan Bianca hanya tertawa. Perayaan ulang tahun Shilla
kali ini adalah yang paling special karena dia mempunyai sahabat yang baik dan
seorang pacar yang dia idamkan selama lebih dari lima tahun ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar