Sabtu, 23 November 2013

LOVE YOU KAMU


Seorang gadis yang bernama Shilla terlihat sedang berjalan terburu-buru di koridor kampus. Hari ini dia telat bangun karena semalaman dia berkutat pada tugas yang diberikan pak Andre, guru matematika ekonominya. Padahal jam mata kuliah pertamanya hari ini adalah mata kuliah pak Sandi yang terkenal sebagai dosen paling killer dan disiplin di kampusnya, telat satu menit saja dia tidak akan mengizinkan siswa itu untuk mengikuti mata kuliahnya selama satu semester. Hasilnya banyak mahasiswa dan mahasiswi yang tidak mau datang terlambat pada jam mata kuliahnya karena mereka tidak mau mengulang salah satu mata kuliah paling penting yang diajarkan pak Sendi. Shilla pun mempercepat langkahnya, dia tidak ingin datang terlambat pada jam mata kuliah itu. Tapi tiba-tiba dari arah depan ada seorang cowok menabraknya hingga dia terjatuh dengan posisi tepat diatas cowok yang menabraknya itu. Sesaat mata mereka saling bertatapan, dan Shilla merasakan detak jantungnya berdetak kencnag tetapi secepat kilat Shilla segera menjauh dari cowok itu.
“Maaf gue enggak sengaja, elo enggak apa-apa kan? Sini gue bantu elo berdiri,” kata Shilla sambil mengulurkan tangannya ke arah cowok itu.
Cowok itupun menyambut uluran tangan Shilla dan berdiri. “Gue enggak apa-apa kok. Terima kasih ya sudah bantu gue berdiri, gue juga minta maaf sudah tabrak elo tadi. Elo bukannya Shilla temannya Kaliza, Inge dan Bianca yang sekelas sama gue waktu SMA kan?”
“Iya benar gue Shilla, elo kan Christ, cowok yang pakai kacamata itu kan? Sekarang kacamata elo kemana?,” tanya Shilla mencoba mengingat-ingat Christ.
“Sekarang mah gue enggak pakai kacamata lagi, gue sudah pakai contact lens. Elo kuliah di sini juga ya? Jurusan apa?”
“Gue jurusan Akutansi. By the way gue duluan ya, soalnya gue sudah telat jam mata kuliah pertama,” kata Shilla sambil berlalu pergi.
“Kapan-kapan kita ketemu lagi ya Shil,” teriak Christ.
“Sip…,” jawab Shilla sambil mengacungkan jempolnya.
Shilla pun sudah berada di depan kelasnya dan saat dia melongok ke dalam kelas ternyata dosen killer itu belum berada di kelas. Shilla pun mengurut dadanya lega karena dia belum terlambat masuk di kelas pak Sendi, Shilla pun berjalan menuju bangku teman-temannya berada.
“Selamat elo Shil, untung pak Sendinya belum datang,” kata Kaliza saat melihat Shilla duduk disamping Bianca.
“Elo kemana dulu sih, jam segini baru datang?,” tanya Inge.
“Gue tadi telat bangun karena semalaman gue ngerjain tugasnya pak Andre, tapi tumben banget dosen killer itu belum datang? Biasanya jam segini dia sudah nangkring di depan kelas.”
“Elo kira monyet nangkring? Enggak tau tuh, mungkin terjebak macet,” jawab Bianca.
Tak lama kemudian sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. “Assallamu alaikum anak-anak, maaf saya sedikit terlambat karena tadi saya terjebak macet. Sekarang kita lanjutkan pelajaran kita.”
***
            “Bi, Nge, Kal kalian ingat sama Christ gak? Teman sekelas kita waktu SMA yang pakai kacamata itu, ingat gak?,” tanya Shilla sambil menyeruput es jeruknya
            “Iya gue ingat, cowok yang waktu itu lo suka kan Shil? Tapi elo enggak pernah bilang ke dia kalau elo suka sama dia iya kan?”
            Shilla hanya mengangguk. “Sampai sekarang, enggak tau mengapa gue masih deg-degan kalau ketemu sama dia. Kalian tau kalau sekarang dia itu keren banget. Enggak kaya waktu SMA.”
            “Elo tadi ketemu dimana?,” tanya Kaliza.
            “Di depan jurusan bahasa Inggris, gue enggak sengaja tabrakan sama dia. Dia yang nyapa gue duluan, gue enggak nyangka kalau dia masih ingat sama gue.”
            “Ya iya lah dia masih ingat sama elo, kerena dia cinta pertama elo sih,” ceplos Bianca. Shilla hanya mengangguk
            “Mengapa elo gak tembak dia duluan Shil, daripada elo harus memendam perasaan elo terus menerus?” kata Bianca sambil nyengir.
            “Benar kata Bianca Shil, elo memang gak mau kalau dia tau tentang perasaan elo ke dia? Sekarang zaman emansipasi Shil, banyak kok cewek yang tembak cowok duluan,” ujar Kaliza membenarkan perkataan Bianca.
            “Gue masih belum berani ungkapin perasaan gue ke dia. Kalian tau kan dekat sama dia saja gue gugup banget, apalagi harus tembak dia duluan? Bisa mati berdiri kali gue.”
            “Tapi kalau elo sudah mengungkapkan perasaan elo, elo akan lega Shil. Yang penting elo sudah bilang ke dia kalau elo cinta sama dia, masalah dia terima atau enggak sih belakangan, yang penting elo sudah siap terima resikonya,” komen Inge.
            “Benar juga kata elo Nge, tapi gue mau pikirin dulu sama gue mau siapin mental gue seandainya Christ enggak jadi milik gue,” ucap Shilla sambil menarik nafas panjang.
***
            Malam ini Shilla sedang duduk di balkon kamar rumahnya sambil menatap langit yang dipenuhi bintang. Malam ini suasana di langit begitu cerah, tapi tidak suasana hati Shilla. Sejak pertemuannya kembali dengan  Christ dan obrolannya dengan Inge, Bianca, dan Kaliza, perasaannya menjadi campur aduk. Ada senang karena dia telah bertemu kembali dengan Christ, orang yang dia sayang dan perasaan bingung apakah dia harus mengungkapkan perasaannya kepada Christ atau tidak.
            Shilla sudah menyukai Christ sejak awal masuk SMA. Seorang Christ yang berperawakan tinggi, putih, dan memakai kacamata bisa menaklukkan hati Shilla yang terkenal pilih-pilih mengenai cowok. Seorang Christ yang bisa membuat Shilla memendam perasaannya sendiri selama lebih dari lima tahun. Bukan tanpa alasan Shilla harus memendam perasaannya itu, dia tidak mau hubungan persahabatan dia dengan Christ menjadi rusak hanya karena perasaannya itu. Shilla dan Chris jadi sahabat saat dia dan Christ sama-sama masuk ekskul yang sama yaitu OSIS, saat itu Shilla menjabat sebagai bendahara dan Christ sebagai ketua OSIS dan persahabatan mereka semakin dekat saat kelas 2 nya mereka sekelas. Tapi saat kelas 3, Christ pindah ke Pekanbaru karena mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan kesana.
***
            Keesokkan harinya Shilla bertemu lagi dengan Christ di gerbang masuk kampus. Christ tersenyum begitu melihat Shilla dan menyapa Shilla.
            “Hai Shil, kita ketemu lagi ya,” sapa Christ.
            “Iya Christ. Elo kuliah disini jurusan apa?,” tanya Shilla.
            “Jurusan bahasa Inggris Shil, oh iya elo melihat Bianca enggak? Daritadi gue cariin tapi enggak ada?.”
            Enggak, gue juga baru datang. Memang elo ada perlu apa sama Bianca?,” tanya Shilla sinis.
            “Gue ada perlu saja sama dia,” jawab Christ.
            “Oh… ya sudah Christ, gue ke kelas duluan ya. Nanti kalau gue ketemu sama Bianca, nanti gue bilangin kalau elo nyariin dia,” kata Shilla sambil berlalu dari hadapan Christ.
            “Terima kasih ya Shil,” teriak Christ. Tapi Shilla tak menggubris ucapan terima kasih Christ.
***
            Shilla masuk ke kelas dengan wajah cemberut, Shilla merasa cemburu karena tadi Christ mencari Bianca, bukan dirinya.
            “Eh Shil, mengapa elo pagi-pagi cemberut gitu?,” tanya Kaliza. Shilla tidak menjawab pertanyaan Kaliza, diapun mengalihkan pandangannya kepada Bianca yang sedang menatap ke arahnya, bingung.
            “Bi, elo  tadi dicariin tuh sama Christ,” kata Shilla sambil duduk dibangku samping Inge.
            “Nyariin gue? Memang ada apa?,” tanya Bianca tak enak.
            “Mana gue tau. Tadi sih dia hanya bilang ada perlu saja sama elo,” jawab Shilla sinis.
            “Tapi elo enggak marah dan cemburu sama gue kan Shil?,” tanya Bianca hati-hati.
            “Ngapain gue mesti marah dan cemburu sama elo? Lagian gue enggak ada hubungan apa-apa kok sama Christ. It’s okay, Bi,” kata Shilla sambil tersenyum kearah Bianca. Bianca hanya mengangguk. Walaupun Shilla tersenyum tapi dia tau kalau senyum itu senyum terpaksa. Bianca juga tau kalau jauh dilubuk hati Shilla ada rasa cemburu terhadapnya.
***
            Shilla  sedang mencari-cari buku Matematika Akuntansi di sebuah Gramedia, saat dia sedang mencari buku itu mata menangkap dua sosok orang yang sangat dikenalnya melewati Gramedia. Dua orang itu adalah Bianca dan Christ. Bianca dan Christ terlihat akrab dan mesra, terkadang obrolan mereka di selingi oleh canda tawa. Shilla yang melihat keakraban dan kemesraan mereka merasa cemburu.
            Bianca jalan sama Christ? Kok kayanya akrab banget sih? Jangan-jangan….., batin Shilla menduga-duga. Tapi sedetik kemudian dia menghapus semua pikiran buruknya terhadap Bianca dan Christ. Shilla tidak mau hanya karena rasa cemburunya ini, membuat hubungannya dengan Bianca dan Christ hancur.
Esok harinya Shilla mendengar gossip bahwa Bianca dan Christ sudah jadian, gossip itu berhembus karena sudah hampir seminggu ini Bianca dan Christ pulang dan berangkat sekolah bersama-sama, belum lagi mereka satu ekskul yang sama yaitu basket. Shilla sangat shock mendengar kabar itu, walaupun begitu dia masih ber-positif thinking terhadap hubungan Christ dan Bianca. Tapi semua itu tidak mudah bagi Shilla. Shilla tak kuat lagi menahan rasa cinta yang sudah dia pendam terhadap Christ selama lebih dari lima tahun ini, hatinya merasa sakit setiap dia melihat Christ dekat dengan cewek lain. Apalagi sekarang orang yang dicintainya itu dekat dengan sahabatnya sendiri, Bianca. Terlebih lagi Bianca secara terang-terangan memperlihatkan kedekatannya dengan Christ didepan Shilla dank arena gossip itu.
***
Sudah beberapa hari ini Shilla terkesan menghindar setiap bertemu dengan Christ dan Bianca. Setiap Bianca gabung sama dirinya, Inge dan Kaliza, Shilla selalu mencari alasan untuk pergi meninggalkan ketiga sahabatnya. Hal yang sama dia lakukan kepada Christ, setiap bertemu dengan dia selalu menghindar.
“Shil, mengapa sih setiap elo ketemu sama gue elo selalu menghindar Shil? Gue punya salah sama elo? Kalau gue punya salah, elo bilang ke gue salah gue apa? Jangan menghindar kayak gini Shil,” kata Bianca to the point saat Shilla sedang sendiri.
“Gue enggak apa-apa kok,” kata Shilla cuek.
“Lo bohong Shil, Christ bilang sama gue kalau elo juga menghindar dari dia. Iya kan? Atau elo cemburu gue dekat sama Christ?”
“Kalau iya mengapa? Elo tau salah elo apa? Salah elo itu, elo tega tusuk gue dari belakang. Elo yang nyuruh gue buat ngomong sama Christ kalau gue suka sama dia, tapi apa kenyataannya? Sekarang elo malah dekat sama orang yang gue suka, apalagi gossip beredar kalau sekarang kalian pacaran. Terus apa artinya elo nyuruh gue buat ungkapin perasaan gue ke dia? Biar elo tau gue diterima atau enggak sama Christ dan kalau gue enggak diterima sama Christ, elo yang akan jadian sama dia gitu? Picik banget elo.”
“Lo salah paham Shil, gue sama Christ hanya temanan. Dan gossip yang beredar itu semuanya bohong.”
“Ah… sudahlah elo enggak jelasin apa-apa lagi. Kalau elo emang sudah jadian sama Christ gue hanya bisa bilang selamat rencana elo sukses,” kata Shilla sambil berlalu meninggalkan Bianca.
“Shil tunggu…. Elo salah paham Shil…. Dengarin dulu penjelasan gue Shil,” teriak Bianca. Shilla tak menggubris teriakan Bianca, dia masih terus berjalan meninggalkan Bianca.
***
 “Kita mau kemana sih Nge, Kal. Kok mata gue ditutup kaya gini sih?,” tanya Shilla.
“Sudah elo jangan banyak tanya sebentar lagi sampai kok sabar,” jawab Kaliza. Tak beberapa lama mereka pun sampai di sebuah danau yang pinggirannya di hiasi oleh cahaya lilin yang indah dan di tengah danau ada beribu lilin yang bertuliskan “I Love You Kamu, Shilla”, yang sudah disiapkan oleh Christ.
“Shil, sudah sampai nih tapi gue sama Kaliza kebelet pipis nih. Elo tunggu disini jangan kemana-mana,” kata Inge.
“Eh tapi Nge, Kal, buka dulu penutup mata gue. Inge, Kaliza,” panggil Shilla tapi tak ada jawaban. Beberapa menit kemudian, Christ membuka penutup mata Shilla dari arah belakang. Shillapun membuka matanya. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat pemandangan yang indah di depannya.
“Elo suka sama semua ini Shil?,” tanya Christ mengagetkan Shilla.
Shilla pun memutar badannya kearah Christ. “Gue suka banget, tapi elo kok ada disini? Inge sama Kaliza mana?”
Sory Shil, mereka tadi gue suruh pulang duluan. Soalnya malam ini gue mau berduaan sama elo. Happy Birthday Shilla, sebelum elo tiup lilinnya, make a wish dulu ya” kata Christ sambil membawa kue tart yang ada dari belakang tubuhnya. Shilla mengangguk, dia pun menutup matanya unuk make a wish lalu diapun meniup lilin yang ada di atas kue tart itu.
“Terima kasih ya Christ elo sudah ingat ulang tahun gue.”
“Iya sama-sama. Oh, iya, ada sesuatu yang mau gue kasih tau ke elo,” kata Christ sambil menggandeng tangan Shilla untuk melihat tulisan yang ada di tengah danau.
“Kamu lihat tulisan itu Shil? Itu adalah ungkapan perasaanku sama kamu. I Love You kamu, Shilla,”  kata Christ sambil menggenggam tangan Shilla erat.
“Bukannya elo pacaran sama Bianca, mengapa elo tembak gue? Nanti Bianca gimana?,” kata Shilla sambil melepas genggaman Christ.
Christ tersenyum. “Aku sama Bianca itu sepupuan Shil, jadi kamu salah paham tentang hubunganku sama Bianca.”
“Benar apa yang dikatakan Christ, Shil. Gue sama dia itu sepupuan. Christ itu anak dari kakak mamah gue.”
“Tapi gossip itu?”
“Gosip itu hanya hoax, Shilla sayang. Gosip itu disebarin sama orang yang enggak tau tentang hubungan aku sama Bianca. Yang hanya lihat di luar saja. Yang aku suka dan sayang itu hanya kamu Shil. Kamu mau kan jadi pacar aku?,” tanya Christ.
Shilla hanya mengangguk. “Terima kasih ya Shil, aku senang banget kamu sudah terima cinta aku,” kata Christ sambil memeluk Shilla.
“Aku juga terima kasih ya untuk semua kado yang paling indah ini,” kata Shilla.
“Yeay… Akhirnya kalian berdua jadian juga. Elo enggak marah lagi kan sama gue Shil?,” tanya Bianca.
“Gue masih marah sama elo, jadi elo harus kasih gue hadiah di ultah gue hari ini”, kata Shilla sambil melepaskan pelukan Christ.
“Oke.. Tapi kalian besok harus traktir kita bertiga makan,” samber Kaliza. Shilla hanya mengangguk. Inge, Christ dan Bianca hanya tertawa. Perayaan ulang tahun Shilla kali ini adalah yang paling special karena dia mempunyai sahabat yang baik dan seorang pacar yang dia idamkan selama lebih dari lima tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar