Jumat, 15 November 2013

FOREVER IN LOVE



Cinta memang memiliki sejuta misteri. Kapan kita bertemu dengan orang yang kita cinta, kapan kita merasakan cinta kepada orang itu, dan kapan pula kita kehilangan orang yang kita cinta. Aku tak pernah menyangka akan bertemu sesosok orang yang sempurna menghiasi hati ini, Aku bertemu dengannya ketika aku ikut serta dalam acara sosial yaitu memberikan santunan untuk anak-anak penderita kanker dan tumor. Waktu itu aku dan lima orang sahabatku Kania, Keisha, Rendi, Icha, dan Agung berkunjung ke salah satu panti asuhan bagi anak-anak penderita kanker dan tumor, yang bernama Doa Bunda. Sekitar jam satu siang, kami sudah berada di depan halaman rumah panti, kami di sambut oleh Bu Atikah pemilik rumah panti.
            “Assallamu alaikum,” sapa kami kepada Bu Atikah.
            “Waalaikum salam, silahkan masuk. Kalian itu mahasiswa dari kampus Cendrawasih yang tadi telepon ya? Saya Ibu Atikah pemilik panti ini,” jelas Bu Atika.
            “Benar Bu. Maaf Bu, ini sedikit uang dari kami untuk membantu anak-anak di sini, kalau Ibu memberi izin, kami boleh jadi donatur tetap panti ini?” kata Kania sambil memberikan sebuah amplop coklat berisi uang yang kami kumpulkan selama seminggu.
            “Iya boleh, kami sangat senang kalau adik-adik mau menjadi donatur di panti ini. Terima kasih banyak atas bantuan yang adik-adik berikan ke panti ini.”
“Kalau boleh tau lelaki itu siapa ya, Bu?” tanyaku sambil menunjuk kearah lelaki yang menjadi pusat perhatian anak-anak itu dan menarik perhatianku.
            “Oh, dia itu namanya Pandu, dia merupakan anak seorang donatur panti ini. Setiap hari atau kalau dia sedang tidak sibuk, dia selalu ke sini untuk bermain bersama anak-anak di sini,” jelas Bu Atika.
            “Hai kakak cantik, kenalin namaku Lisa. Nama kakak siapa? Kakak donatur baru di sini ya? Kakak mau enggak ikut main bersama aku dan teman-teman?” kata gadis kecil yang bernama Lisa sambil menggengam tanganku.
            “Hai Lisa, nama kakak Clara. Iya kakak donatur baru di sini. Kamu ngajak kakak main? Boleh, tapi ajak teman kakak yang lain juga ya,” kataku sambil bergabung bersama Pandu dan Lisa. Sedangkan temanku yang lain menyusulku di belakang.
            Sejak saat itulah aku sering ke panti ini dan bertemu dengan Pandu. Pandu itu sosok yang menyenangkan walaupun belum lama kami saling mengenal. Semakin aku mengenal Pandu, semakin aku mencintai dia, ternyata Pandu juga mencintaiku dan kami menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Selama aku berpacaran dengannya, aku tak mengetahui bahwa Pandu juga menderita penyakit yang sama seperti anak-anak di panti asuhan ini. Selama 6 bulan aku bersamanya, dia tak sedikit pun mengeluh tentang penyakitnya dan aku baru mengetahui ketika sudah seminggu terakhir ini aku tak bertemu dengannya di panti dan setiap aku mencari di rumahnya, aku juga tidak bertemu dengannya. Tapi sehari sebelum dia meninggal, aku diberitahu oleh Mamah dan Papanya, kalau Pandu ingin bertemu denganku, aku pun langsung ke rumahnya. Dan aku melihat sosok Pandu yang terbaring lemas tak berdaya. Itulah hari terakhirku bertemu dengannya.
            Walaupun dia sudah tiada. Tapi semangatnya, cintanya akan selalu ada di hatiku. Sejak saat itu aku memutuskan menjadi sukarelawan di panti itu, untuk meneruskan cita-cita Pandu membuat anak-anak ini senang dan memberi semangat kepada mereka. Pandu, terima kasih untuk cinta yang kamu berikan untuk anak-anak ini and I wish forever in love with you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar