Cinta
memang memiliki sejuta misteri. Kapan kita bertemu dengan orang yang kita cinta,
kapan kita merasakan cinta kepada orang itu, dan kapan pula kita kehilangan
orang yang kita cinta. Aku tak pernah menyangka akan bertemu sesosok orang yang
sempurna menghiasi hati ini, Aku bertemu dengannya ketika aku ikut serta dalam
acara sosial yaitu memberikan santunan untuk anak-anak penderita kanker dan
tumor. Waktu itu aku dan lima orang sahabatku Kania, Keisha, Rendi, Icha, dan
Agung berkunjung ke salah satu panti asuhan bagi anak-anak penderita kanker dan
tumor, yang bernama Doa Bunda. Sekitar jam satu siang, kami sudah berada di
depan halaman rumah panti, kami di sambut oleh Bu Atikah pemilik rumah panti.
“Waalaikum salam, silahkan masuk.
Kalian itu mahasiswa dari kampus Cendrawasih yang tadi telepon ya? Saya Ibu
Atikah pemilik panti ini,” jelas Bu Atika.
“Benar Bu. Maaf Bu, ini sedikit uang
dari kami untuk membantu anak-anak di sini, kalau Ibu memberi izin, kami boleh
jadi donatur tetap panti ini?” kata Kania sambil memberikan sebuah amplop
coklat berisi uang yang kami kumpulkan selama seminggu.
“Iya boleh, kami sangat senang kalau
adik-adik mau menjadi donatur di panti ini. Terima kasih banyak atas bantuan
yang adik-adik berikan ke panti ini.”
“Kalau
boleh tau lelaki itu siapa ya, Bu?” tanyaku sambil menunjuk kearah lelaki yang
menjadi pusat perhatian anak-anak itu dan menarik perhatianku.
“Oh, dia itu namanya Pandu, dia
merupakan anak seorang donatur panti ini. Setiap hari atau kalau dia sedang
tidak sibuk, dia selalu ke sini untuk bermain bersama anak-anak di sini,” jelas
Bu Atika.
“Hai kakak cantik, kenalin namaku
Lisa. Nama kakak siapa? Kakak donatur baru di sini ya? Kakak mau enggak ikut
main bersama aku dan teman-teman?” kata gadis kecil yang bernama Lisa sambil
menggengam tanganku.
“Hai Lisa, nama kakak Clara. Iya
kakak donatur baru di sini. Kamu ngajak kakak main? Boleh, tapi ajak teman
kakak yang lain juga ya,” kataku sambil bergabung bersama Pandu dan Lisa.
Sedangkan temanku yang lain menyusulku di belakang.
Sejak saat itulah aku sering ke
panti ini dan bertemu dengan Pandu. Pandu itu sosok yang menyenangkan walaupun
belum lama kami saling mengenal. Semakin aku mengenal Pandu, semakin aku
mencintai dia, ternyata Pandu juga mencintaiku dan kami menjalin hubungan yang
lebih dari sekedar teman. Selama aku berpacaran dengannya, aku tak mengetahui
bahwa Pandu juga menderita penyakit yang sama seperti anak-anak di panti asuhan
ini. Selama 6 bulan aku bersamanya, dia tak sedikit pun mengeluh tentang
penyakitnya dan aku baru mengetahui ketika sudah seminggu terakhir ini aku tak
bertemu dengannya di panti dan setiap aku mencari di rumahnya, aku juga tidak
bertemu dengannya. Tapi sehari sebelum dia meninggal, aku diberitahu oleh Mamah
dan Papanya, kalau Pandu ingin bertemu denganku, aku pun langsung ke rumahnya.
Dan aku melihat sosok Pandu yang terbaring lemas tak berdaya. Itulah hari
terakhirku bertemu dengannya.
Walaupun dia sudah tiada. Tapi
semangatnya, cintanya akan selalu ada di hatiku. Sejak saat itu aku memutuskan
menjadi sukarelawan di panti itu, untuk meneruskan cita-cita Pandu membuat
anak-anak ini senang dan memberi semangat kepada mereka. Pandu, terima kasih
untuk cinta yang kamu berikan untuk anak-anak ini and I wish forever in love with you

Tidak ada komentar:
Posting Komentar