Selasa, 03 Maret 2015

RUMAH BERSAMA

Aku adalah seorang musisi, meski belum menjadi musisi besar tapi aku yakin suatu saaat nanti aku akan berada di tengah-tengah musisi besar dan menjadi bagian dari mereka. Umurku 25 tahun, dan telah memiliki seorang istri yang cantik dan sangat menyayangiku, kami belum memiliki anak, kami menundanya, kami berpikir bahwa jika kami memiliki anak di kondisi kami sekarang, kami takut tidak dapat merawat anak kami dengan baik. Istriku sehari-hari bekerja menjaga warnet, kami membuka warnet di tempat kontrakan kami, meski hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.
Aku dan istriku bekerja bersama di warnet kecil kami, disaat aku harus pergi manggung atau sekedar berlatih musik di kamarku, keberadaan istriku sangat membantu untuk menjaga agar warnet kami tetap berjalan.
Penghasilanku sebagai seorang musisi juga sangat tidak menentu, aku tergabung dalam sebuah band lokal di kota Bandung bernama Refive, kami biasa manggung sesuai permintaan, jika ada café atau event yang membutuhkan kami, disaat itulah aku mendapatkan penghasilan, meski bayaran yang kami terima masih jauh dari harapan kami.
Suatu hari aku dan teman-teman bandku mengisi sebuah acara di sebuah universitas di Bandung, lokasi yang sangat jauh dari tempat tinggalku membuatku harus berangkat lebih awal dari jam yang telah ditentukan oleh panitia, untung saja temanku yang memiliki kendaraan  roda empat berinisiatif membawa keyboardku di hari sebelumnya untuk memudahkan mobilitasku, maklum aku belum memiliki kendaraan roda empat, jadi aku biasa membawa keyboard menggunakan motor kesayanganku. Di hari itu jalanan kota Bandung sangat macet, butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk sampai ke lokasi, belum lagi hujan yang tiba-tiba saja datang tepat 1 kilometer sebelum lokasi, saat itu aku lupa membawa jas hujan, maka aku percepat saja laju sepeda motorku, alhasil aku sampai di lokasi dengan jaket dan celana basah. Setengah jam kemudian kamipun mulai mengisi acara di universitas tersebut. Setelah selesai acara panitia memberikan 5 kotak makanan dan 1 amplop kepadaku, kebetulan panitia tersebut adalah kenalanku dan kami sedikit berbincang-bincang.
            “Makasih ya bro sudah mau tampil di acara kita,” ucapnya sambil menjabat tanganku
            “Oh iya sama-sama bro,” jawabku sambil tersenyum.
“Jangan kapok untuk mengisi acara di sini ya, maaf juga amplopnya gak tebel, maklum dompet para mahasiswa.”
“Oh iya bro santai aja,” jawabku.
Setelah itu kami membereskan peralatan kami dan bergegas pulang, tetapi kami berkumpul terlebih dahulu di rumah salah satu personil band untuk evaluasi dan membagi uang hasil manggung tadi.
Sesampainya di rumah temanku, kami duduk dan mulai membuka amplop yang ternyata berisi 5 lebar uang 50 ribuan, wajah kami agak sedikit lesu. Kami memang tidak pernah mematok harga, soalnya band kami belum terlalu terkenal, tetapi ini bayaran terkecil yang pernah kami dapat. Karena personil band kami berjumlah 5 orang, maka masing-masing mendapatkan 50 ribu rupiah. Setelah membagikan uang dan sedikit evaluasi kami bergegas pulang.
Di perjalanan pulang aku agak sedikit menggerutu di dalam hati atas apa yang aku dapat hari ini.
“Sudah capek, kehujanan, eh cuma dapet 50 ribu” gundahku dalam hati. Kemudian sampailah aku di perempatan lampu merah, keadan begitu ramai oleh kendaraan yang mengantri untuk bisa melewati perempatan, orang biasa menyebutnya dengan kata macet, macet parah lebih tepatnya. Sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau aku melihat-lihat keadaan di sekeliling perempatan tersebut.
Pertama aku melihat seorang ibu-ibu yang membawa anak balita dan menadahkan tangannya kepada para pengendara berharap ada belas kasihan yang akan dia terima, tetapi aku pikir ibu tersebut sehat dan mampu untuk bekerja, mengapa harus meminta-minta? – protesku dalam hati, belum lagi membawa seorang anak, secara logika kan seorang ibu pasti sangat menyayangi anaknya, mengapa harus di bawa ke tengah jalan untuk meminta-minta? Itu kan menyiksa namanya.
Kemudian aku melihat seorang pemuda yang sedang membunyikan perkusi ditemani seekor monyet yang terikat oleh rantai, monyet tersebut menari-nari, mungkin lebih tepatnya di paksa menari dan beratraksi demi pemuda tersebut. Mungkin sebagian orang berpikir monyet itu lucu, imut, menggemaskan, tetapi aku pikir monyet tersebut tersiksa dengan keadaaan tersebut, lihat saja lehernya yang dirantai, dan ditarik-tarik oleh pemiliknya jika dia tidak melakukan apa yang pemiliknya inginkan. Menurutku topeng monyet di lampu merah bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah penyiksaan terhadap hewan, terlebih lagi monyet adalah jenis hewan yang dilindungi.
Ada juga para pengamen yang berpakaian lusuh, menyanyikan lagu-lagu di tengah terik matahari. Meskipun aku seorang musisi tapi aku tidak membenarkan bahwa mengamen adalah sebuah pekerjaan, pekerjaan sampingan mungkin masih wajar, tetapi jika ada pemuda, bapak-bapak apalagi anal-anak yang setiap hari mengamen itu merupakan keadaan yang harus diperhatikan, para pengamen juga harusnnya mampu bekerja di bidang lain, dan menjadikan mengamen pekerjaan sampingannya.
Mungkin semua keadaan tersebut wajar karena lapangan pekerjaan di negara kita semakin menipis. Belum lagi banyaknya koruptor, yang secara tidak langsung menambah jumlah warga miskin di negara ini.
Aku melihat waktu di lampu merah menunjukan 60 detik sebelum lampu hijau menyala, maklum jalan yang aku lewati adalah jalan penting, aku harus menunggu sekitar 5 menit untuk menunggu lampu hijau.
Aku menggerakan punggungku yang agak pegal sehabis manggung, tiba-tiba aku melihat seorang anak, mungkin usia 8 sampai 10 tahun, dia membawa setumpuk koran dan menjajakannya kepada para pengendara,.
            “Pak korannya pak,” ucap si anak dengan penuh harap.
            “Korannya pak, cuma 1000,” beberapa kali ia menawarkan.
Herannya tidak ada satupun pengendara yang membeli koran tersebut. Sedangkan aku melihat beberapa pengendara memberikan uang 500 sampai 1000 rupiah kepada pengemis dan topeng monyet. Mengapa tak ada yang membeli koran dari anak tersebut yang harganya cuma 1000 rupiah?, pikirku. Kemudian anak tersebut menawarkan korannya kepadaku
            “Mas korannya mas?” ucapnya sambil menunjukan salah satu korannya.
            “Berapa dik?,” jawabku, walapun sebenarnya aku tau harga koran itu seribu.
            ”Seribu mas,” jawabnya
            “Ya, sudah beli satu,” kataku sambil merogoh saku, kebetulan di saku ku tidak ada uang seribu, adanya lima ribu. Kemudina aku berikan uang tersebut.
            “Ini dik uangnya,” ucapku sambil menerima koran. Ketika dia mau mengambil uang untuk kembalian, terlihat kantong sakunya hanya ada 2 ribu, miris terasa dalam hatiku.
            “Udah ambil aja kembaliannya dik,” ungkapku dengan senyuman. Terlihat wajah senang dan bersyukur di wajah anak itu, wajah yang seharusnya tersenyum dengan ranking bagus di sekolahnya, wajah yang seharusnya tertawa bersama teman-teman bermainnya, wajah yang seharusnya memelas di depan orang tuanya meminta uang jajan, tetapi anak ini malah bersusah payah menjajakan koran, ini lah anak yang seharusnnya lebih diperhatikan oleh para pengendara, bukannya para pengemis yang berpura-pura gak mampu, atau pemain topeng monyet yang jelas-jelas menyiksa binatang.
            “Makasih banyak ya mas,” ungkapnya. Kemudian anak tersebut kembali mejajakan korannya.
Lampu hijau telah menyala, aku pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan aku berpikir tentang anak tersebut, sangat jauh berbeda dengan masa kanak-kanakku yang tergolong manja, segala sesuatu selalu diperhatikan oleh orangtuaku, dan ketika aku dewasa pun aku manja terhadap kehidupan, sedikit-sedikit mengeluh padahal aku tergolong orang yang berkecukupan, meskipun bukan orang kaya tapi aku masih bisa makan cukup, tidur nyenyak dan memiliki istri yang menyayangiku. Mungkin diluar sana masih banyak orang yang benar-benar butuh pertolongan dalam hidupnya tapi mata kita belum terbuka untuk melihatnya.
Terbesit di pikiranku untuk membangun sebuah rumah bersama, tempat dimana anak-anak yang orangtuanya kurang mampu bisa belajar gratis, berkarya dan mengembangkan potensi yang mereka miliki sehingga mereka tidak lagi ada di jalanan sebagai penjaja koran bahkan pengemis.

Tapi aku juga sadar keuanganku tidak akan cukup untuk membuat tempat yang aku sebut Rumah Bersama itu. Aku harus bekerja lebih keras lagi, tidak lagi mengeluh dengan keadaan, dan jika suatu hari aku bisa manggung dan dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia dan bayaranku sudah lumayan, Insya Allah aku akan membuat Rumah Bersama menjadi sebuah kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar