Aku adalah seorang
musisi, meski belum menjadi musisi besar tapi aku yakin suatu saaat nanti aku
akan berada di tengah-tengah musisi besar dan menjadi bagian dari mereka.
Umurku 25 tahun, dan telah memiliki seorang istri yang cantik dan sangat
menyayangiku, kami belum memiliki anak, kami menundanya, kami berpikir bahwa
jika kami memiliki anak di kondisi kami sekarang, kami takut tidak dapat
merawat anak kami dengan baik. Istriku sehari-hari bekerja menjaga warnet, kami
membuka warnet di tempat kontrakan kami, meski hasilnya tidak seberapa, tapi
cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.
Aku dan istriku bekerja
bersama di warnet kecil kami, disaat aku harus pergi manggung atau sekedar
berlatih musik di kamarku, keberadaan istriku sangat membantu untuk menjaga
agar warnet kami tetap berjalan.
Penghasilanku sebagai
seorang musisi juga sangat tidak menentu, aku tergabung dalam sebuah band lokal
di kota Bandung bernama Refive, kami biasa manggung sesuai permintaan, jika ada
café atau event yang membutuhkan kami, disaat itulah aku mendapatkan
penghasilan, meski bayaran yang kami terima masih jauh dari harapan kami.
Suatu hari aku dan
teman-teman bandku mengisi sebuah acara di sebuah universitas di Bandung,
lokasi yang sangat jauh dari tempat tinggalku membuatku harus berangkat lebih
awal dari jam yang telah ditentukan oleh panitia, untung saja temanku yang
memiliki kendaraan roda empat
berinisiatif membawa keyboardku di hari sebelumnya untuk memudahkan
mobilitasku, maklum aku belum memiliki kendaraan roda empat, jadi aku biasa
membawa keyboard menggunakan motor kesayanganku. Di hari itu jalanan kota Bandung
sangat macet, butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk sampai ke lokasi, belum
lagi hujan yang tiba-tiba saja datang tepat 1 kilometer sebelum lokasi, saat
itu aku lupa membawa jas hujan, maka aku percepat saja laju sepeda motorku,
alhasil aku sampai di lokasi dengan jaket dan celana basah. Setengah jam
kemudian kamipun mulai mengisi acara di universitas tersebut. Setelah selesai
acara panitia memberikan 5 kotak makanan dan 1 amplop kepadaku, kebetulan
panitia tersebut adalah kenalanku dan kami sedikit berbincang-bincang.
“Makasih
ya bro sudah mau tampil di acara kita,”
ucapnya sambil menjabat tanganku
“Oh
iya sama-sama bro,” jawabku sambil
tersenyum.
“Jangan kapok untuk mengisi
acara di sini ya, maaf juga amplopnya gak tebel, maklum dompet para mahasiswa.”
“Oh
iya bro santai aja,” jawabku.
Setelah itu kami
membereskan peralatan kami dan bergegas pulang, tetapi kami berkumpul terlebih
dahulu di rumah salah satu personil band untuk evaluasi dan membagi uang hasil
manggung tadi.
Sesampainya di rumah
temanku, kami duduk dan mulai membuka amplop yang ternyata berisi 5 lebar uang
50 ribuan, wajah kami agak sedikit lesu. Kami memang tidak pernah mematok
harga, soalnya band kami belum terlalu terkenal, tetapi ini bayaran terkecil
yang pernah kami dapat. Karena personil band kami berjumlah 5 orang, maka
masing-masing mendapatkan 50 ribu rupiah. Setelah membagikan uang dan sedikit
evaluasi kami bergegas pulang.
Di perjalanan pulang
aku agak sedikit menggerutu di dalam hati atas apa yang aku dapat hari ini.
“Sudah capek, kehujanan,
eh cuma dapet 50 ribu” gundahku dalam hati. Kemudian sampailah aku di
perempatan lampu merah, keadan begitu ramai oleh kendaraan yang mengantri untuk
bisa melewati perempatan, orang biasa menyebutnya dengan kata macet, macet
parah lebih tepatnya. Sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau aku
melihat-lihat keadaan di sekeliling perempatan tersebut.
Pertama aku melihat
seorang ibu-ibu yang membawa anak balita dan menadahkan tangannya kepada para
pengendara berharap ada belas kasihan yang akan dia terima, tetapi aku pikir
ibu tersebut sehat dan mampu untuk bekerja, mengapa harus meminta-minta? –
protesku dalam hati, belum lagi membawa seorang anak, secara logika kan seorang
ibu pasti sangat menyayangi anaknya, mengapa harus di bawa ke tengah jalan
untuk meminta-minta? Itu kan menyiksa namanya.
Kemudian aku melihat
seorang pemuda yang sedang membunyikan perkusi ditemani seekor monyet yang
terikat oleh rantai, monyet tersebut menari-nari, mungkin lebih tepatnya di
paksa menari dan beratraksi demi pemuda tersebut. Mungkin sebagian orang
berpikir monyet itu lucu, imut, menggemaskan, tetapi aku pikir monyet tersebut
tersiksa dengan keadaaan tersebut, lihat saja lehernya yang dirantai, dan
ditarik-tarik oleh pemiliknya jika dia tidak melakukan apa yang pemiliknya
inginkan. Menurutku topeng monyet di lampu merah bukanlah sebuah pekerjaan,
melainkan sebuah penyiksaan terhadap hewan, terlebih lagi monyet adalah jenis
hewan yang dilindungi.
Ada juga para pengamen
yang berpakaian lusuh, menyanyikan lagu-lagu di tengah terik matahari. Meskipun
aku seorang musisi tapi aku tidak membenarkan bahwa mengamen adalah sebuah
pekerjaan, pekerjaan sampingan mungkin masih wajar, tetapi jika ada pemuda,
bapak-bapak apalagi anal-anak yang setiap hari mengamen itu merupakan keadaan
yang harus diperhatikan, para pengamen juga harusnnya mampu bekerja di bidang
lain, dan menjadikan mengamen pekerjaan sampingannya.
Mungkin semua keadaan
tersebut wajar karena lapangan pekerjaan di negara kita semakin menipis. Belum
lagi banyaknya koruptor, yang secara tidak langsung menambah jumlah warga
miskin di negara ini.
Aku melihat waktu di
lampu merah menunjukan 60 detik sebelum lampu hijau menyala, maklum jalan yang
aku lewati adalah jalan penting, aku harus menunggu sekitar 5 menit untuk menunggu
lampu hijau.
Aku menggerakan
punggungku yang agak pegal sehabis manggung, tiba-tiba aku melihat seorang anak,
mungkin usia 8 sampai 10 tahun, dia membawa setumpuk koran dan menjajakannya
kepada para pengendara,.
“Pak
korannya pak,” ucap si anak dengan penuh harap.
“Korannya
pak, cuma 1000,” beberapa kali ia menawarkan.
Herannya tidak ada
satupun pengendara yang membeli koran tersebut. Sedangkan aku melihat beberapa
pengendara memberikan uang 500 sampai 1000 rupiah kepada pengemis dan topeng
monyet. Mengapa tak ada yang membeli koran dari anak tersebut yang harganya
cuma 1000 rupiah?, pikirku. Kemudian anak tersebut menawarkan korannya kepadaku
“Mas
korannya mas?” ucapnya sambil menunjukan salah satu korannya.
“Berapa
dik?,” jawabku, walapun sebenarnya aku tau harga koran itu seribu.
”Seribu
mas,” jawabnya
“Ya,
sudah beli satu,” kataku sambil merogoh saku, kebetulan di saku ku tidak ada
uang seribu, adanya lima ribu. Kemudina aku berikan uang tersebut.
“Ini
dik uangnya,” ucapku sambil menerima koran. Ketika dia mau mengambil uang untuk
kembalian, terlihat kantong sakunya hanya ada 2 ribu, miris terasa dalam
hatiku.
“Udah
ambil aja kembaliannya dik,” ungkapku dengan senyuman. Terlihat wajah senang
dan bersyukur di wajah anak itu, wajah yang seharusnya tersenyum dengan ranking
bagus di sekolahnya, wajah yang seharusnya tertawa bersama teman-teman
bermainnya, wajah yang seharusnya memelas di depan orang tuanya meminta uang
jajan, tetapi anak ini malah bersusah payah menjajakan koran, ini lah anak yang
seharusnnya lebih diperhatikan oleh para pengendara, bukannya para pengemis
yang berpura-pura gak mampu, atau pemain topeng monyet yang jelas-jelas
menyiksa binatang.
“Makasih
banyak ya mas,” ungkapnya. Kemudian anak tersebut kembali mejajakan korannya.
Lampu hijau telah
menyala, aku pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan aku
berpikir tentang anak tersebut, sangat jauh berbeda dengan masa kanak-kanakku
yang tergolong manja, segala sesuatu selalu diperhatikan oleh orangtuaku, dan
ketika aku dewasa pun aku manja terhadap kehidupan, sedikit-sedikit mengeluh padahal
aku tergolong orang yang berkecukupan, meskipun bukan orang kaya tapi aku masih
bisa makan cukup, tidur nyenyak dan memiliki istri yang menyayangiku. Mungkin
diluar sana masih banyak orang yang benar-benar butuh pertolongan dalam
hidupnya tapi mata kita belum terbuka untuk melihatnya.
Terbesit di pikiranku
untuk membangun sebuah rumah bersama, tempat dimana anak-anak yang orangtuanya
kurang mampu bisa belajar gratis, berkarya dan mengembangkan potensi yang
mereka miliki sehingga mereka tidak lagi ada di jalanan sebagai penjaja koran bahkan
pengemis.
Tapi aku juga sadar
keuanganku tidak akan cukup untuk membuat tempat yang aku sebut Rumah Bersama
itu. Aku harus bekerja lebih keras lagi, tidak lagi mengeluh dengan keadaan,
dan jika suatu hari aku bisa manggung dan dilihat oleh seluruh masyarakat
Indonesia dan bayaranku sudah lumayan, Insya Allah aku akan membuat Rumah
Bersama menjadi sebuah kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar