Seorang gadis cantik terlihat sedang
termenung di bangku taman kota. Gadis itu memang sering berkunjung ke taman
itu. Bukan tanpa tujuan gadis itu sering berkunjung ke taman yang mempunyai
banyak kenangan tersendiri untuknya, tapi dia mempunyai harapan untuk bertemu
kembali dengan orang yang sangat dicintainya. Seseorang yang sudah tiga tahun
ini meninggalkannya karena dia harus meneruskan kuliahnya di negeri Paman Sam.
Orang itu pula yang berjanji akan menemuinya di taman itu. Maka setiap tahun gadis itu selalu duduk di
bangku yang berhadapan dengan air mancur di taman kota, tapi setiap tahun juga
orang yang selama ini di tunggunya tidak pernah muncul.
“Maafkan aku yang sayang, aku harus
ninggalin kamu. Aku harus melanjutkan kuliahku di Amerika. Tapi aku janji sama
kamu, setiap tahun aku akan pulang dan kita akan bersama lagi seperti
dulu,” kata cowok tampan yang bernama
Christian Adinata, cowok yang selama tiga tahun ini ditunggu oleh gadis itu.
Dan
di sinilah gadis itu sekarang, di taman terakhir dia dan Christian bertemu
sebelum Christian berangkat ke Amerika. Kata-kata Christian pula yang menjadi
salah satu harapan dia menunggu cowok itu. Tiba-tiba saja kebersamaannya dengan
Christian berputar kembali dalam ingatan gadis itu.
“Ris,
sampai kapan lo mau di sini? Pulang yuk udah sore nih,” kata Kiki, sahabat
baiknya waktu SMP. Tapi gadis itu tetap diam.
Kiki
berdecak kesal melihat tingkah laku sahabatnya sejak dia berada di taman ini
hanya melamun saja. Kiki pun menepuk bahu sahabatnya dan mendekatkan bibirnya
ke telinga sahabatnya. “Kharisma Adinata pulang yuk, udah sore.”
Cara
itu berhasil dan suara Kiki menyadarkan semua lamunan gadis yang bernama
Kharisma Adinata. “Eh… Ya ampun lo Ki, ngapain sih main bisik-bisik segala?”
“Lo
sih ngelamun mulu, daritadi gue ngomong sampai berbusa gak di jawab. Pulang
yuk, lo mau menginap di sini?” tanya Kiki sambil menggamit lengan Kharis.
Kharis hanya menggeleng, dengan langkah malas dia mengikuti langkah Kiki dan
meninggalkan taman kenangan itu.
***
Hari
ini Kharis bersama Kiki mampir ke toko buku untuk mencari bahan tugas dari
dosen akuntansi mereka. Sebenarnya mereka malas ke toko buku , tapi karena buku
yang ada di perpustakaan tidak melengkapi semua data yang mereka butuhkan,
akhirnya Kharis mengajak Kiki untuk mampir dulu ke toko buku ini.
“Ris,
lo kenapa sih masih nunggu si Christian itu? Siapa tau di sana dia udah punya
pacar lagi,” tanya Kiki sambil memilih buku yang ada di belinya.
Kharis
melirik teman sejak SMP-nya itu sekilas. “Lo kok ngomong gitu sih? Gue yakin
Christ itu setia sama gue dan dia pasti balik lagi ke sini buat gue.”
“Lo
yakin? Kan lo gak tau gimana kabar dia sekarang, secara lo itu udah setahun gak
kontek-kontekan sama dia. Dia juga bilang kan kalau setahun sekali dia mau
datang nemuin lo, tapi buktinya mana? Lo setahun sekali datang ke taman yang
menurut lo taman kenangan itu, tapi dia gak pernah datang nemuin lo. Apa cowok
macam itu masih pantas lo harapkan dan lo tunggu?”
Kharis
tersentak, sebagian dirinya membenarkan semua perkataan Kiki. Tapi sebagian
lagi dia masih menaruh harapan yang sangat besar kepada Christian. Dia yakin
cowok yang selama ini dia tunggu dan dia rindukan akan kembali kepadanya. Dia
yakin kalau Christian akan menepati janjinya itu.
“Kharis,
lo kok malah bengong sih? Gue kan lagi ngobrol sama lo. Gue bilang gitu karena
gue gak mau setiap hari lo melamun dan termenung terus gara-gara mikirin si
Christian itu, gue juga gak mau lo terlalu berharap banyak sama dia dan bikin
lo sakit hati,” kata Kiki sambil menepuk pundak Kharis.
Kharis
tersenyum. “Gue yakin Ki, kalau dia gak akan nyakitin gue. Karena gue tau
banget kalau dia sayang sama gue.”
Kiki
menghela napas lelah. “Oke, kalau lo yakin sama dia. Tapi kalau ada apa-apa lo
harus cerita sama gue. Lo udah dapat buku yang lo mau beli belum? Kalau udah
pulang yuk.”
Kharis
hanya mengangguk dan mengikuti langkah Kiki menuju kasir untuk membayar semua
buku yang mereka beli. Setelah itu mereka keluar dari toko buku itu. “Ki, makan
dulu yuk. Lapar nih,” ajak Kharis sambil menggamit lengan Kiki. Kiki hanya mengangguk
karena dia juga merasakan hal yang sama.
Kharis
dan Kiki sudah sampai di restoran cepat saji yang tak jauh dari toko buku di
mall itu. Setelah memesan makanan yang akan mereka makan, mereka pun memilih
tempat duduk di sudut ruangan restoran itu. Sambil menunggu pesanan mereka,
Kiki dan Kharis mengobrol. Tak lama pesanan mereka datang, dan mereka segera
menyantap makanan mereka. Saat sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba
handphone Kharis bergetak tanda ada panggilan masuk. Kharis mengernyitkan
keningnya, karena panggilan itu adalah nomor yang tidak di kenalnya. Penasaran,
dia segera menekan tombol hijau.
“Halo…”
sapa Kharis.
“Halo
sayang, kamu masih ingat suara aku kan? Maaf ya aku udah lama gak hubungi
kamu,” kata suara di seberang yang ternyata Christian.
“Christian…,”
kata Kharis ragu, walaupun begitu dia sangat senang bisa mendengar suara orang
yang selama ini di rindukannya. “Kamu kemana aja sih Christ? Kenapa selama ini
kamu gak hubungi aku, aku kangen sama kamu Christ,” tanya Kharis bertubi-tubi.
“Maafin
aku ya sayang, aku juga kangen sama kamu. Makanya aku telepon kamu sekarang. Oh
iya besok kamu ada waktu? Kita ketemuan yuk di taman tempat biasa kita ketemu.
Tapi maaf aku gak bisa jemput kamu, gak apa-apa kan?”
“Iya
gak apa-apa kok, besok aku berangkat sendiri aja ke taman.”
“Ya
udah aku tunggu jam empat sore ya, udah dulu ya aku ada urusan lagi. See you tomorrow, Beib.”
“Ya
sampai ketemu besok ya sayang,” kata Kharis. Lalu percakapan itu pun terputus. Setelah
percakapan berakhir, Kharis tak henti-hentinya tersenyum. Bagaimana dia tidak
tersenyum, kalau besok akhirnya dia akan bertemu oleh orang yang sangat dia
cintai dan rindukan selama ini.
“Cie…
yang besok mau ketemuan sama orang yang dinanti-nanti selama tiga tahun, tapi
kayaknya elo besok harus bawa tisu deh,” kata Kiki sambil menyantap makanannya.
“Tisu?
Buat apa?” tanya Kharis bingung.
“Gak
tau kenapa perasaan gue bilang besok lo bakalan nangis,” jawab Kiki cuek.
“Pasti
besok gue akan nangis bahagia, karena besok gue akan dilamar sama Chris. Benar
kan?”
“Gak
tau lihat aja besok,” kata Kiki sambil mengangkat bahunya. Kharis yang
mendengar omongan Kiki tidak mempedulikannya. Yang dia inginkan sekarang adalah
bertemu dengan Christian.
***
Keesokkan
harinya Kharis sudah berada di taman kota yang selalu dia beri julukan taman
kenangan. Taman yang selalu dia kunjungi di saat rasa rindu kepada Christian
tak tertahankan, taman yang selalu menjadi harapannya untuk bertemu Christian.
Dia menatap sekeliling taman itu, mencari sosok yang selalu di rindukannya
selama ini. Tak lama Kharis menemukan sosok itu, Christian sedang tersenyum
kearahnya. Kharis pun berjalan kearah Christian dan ingin sekali memeluknya,
tapi tindakannya terhenti ketika dia meliha sosok gadis lain di samping
Christian, Shilla. Entah mengapa ada perasaan tidak enak di hati Kharis.
“Hai
Kharis, apa kabar? Udah lama ya kita gak ketemu,” sapa Shilla.
“Iya.
Kabarku baik, mana Rio? Kok lo bisa kesininya sama Christ,” tanya Kharis.
Shilla
menatap Kharis dengan ekspresi sendu. “Gue udah putus sama Rio, gue sama Christ
ke sini mau ngomongin sesuatu sama lo.”
“Iya
Ris, tapi kayaknya kita duduk dulu deh, biar ngobrol jadi enak,” kata Christ
sambil menatap manik mata Kharis. Kharis membalas tatapan mata Christ, di sana
Kharis dapat melihat ada penyesalan dan kesedihan di mata kekasihnya itu.
Melihat tatapan penyesalan dari Christ dan ekspresi sendu dari Shilla membuat
perasaan Kharis makin tak enak.
Akhirnya
mereka bertiga duduk di bangku taman yang berhadapan dengan air mancur. “Kalian
mau ngomongin apa?” tanya Kharis setelah beberapa detik mereka terdiam.
Shilla
dan Christ saling pandang, tapi pada akhirnya Shilla yang menjawab pertanyaan
Kharis. Shilla mengambil sebuah surat dari dalam tasnya dan memberikannya keada
Kharis. “Apa ini?” tanya Kharis sambil menerima surat yang ternyata surat
undangan.
Mata
Kharis membulat, ketika dia membaca nama yang ada di surat undangan itu.
Tiba-tiba dia merasakan dadanya sesak dan matanya memanas. “Ka… kalian…
mau nikah?” tanya Kharis terbata dan
mengalihkan pandangannya ke Shilla dan Christ secara bergantian.
Shilla
dan Christ hanya diam dan menatap Kharis dengan ekspresi penyesalan. “Kenapa
kalian diam? Kenapa kalian tega nyakitin gue kayak gini, kenapa?” tanya Kharis
dengan butiran bening yang mengalir dimatanya.
“Maaf Ris, ini semua
salah gue. Gue yang gak bisa menolak perjodohan itu, maafin gue Ris,” kata
Shilla dengan mata berkaca-kaca. Dia menyesal telah menyakiti hati sahabatnya
itu. Memang Shilla adalah sahabat Kharis sejak mereka SMA.
Kharis mengusap kasar
butiran bening yang mengalir di pipinya. “Christ, kita udah tiga tahun pacaran
dan selama tiga tahun itu pula gue udah setia nunggu lo kembali ke sini,
percaya sama janji lo yang akan setahun sekali datang buat gue dan sekarang lo
datang bawa kabar yang bikin gue sakit hati, dimana perasaan lo?”
“Maafin aku Ris, aku
gak ada maksud bikin kamu sedih dan sakit hati Ris. Aku dan Shilla ngelakuin
ini ada alasannya…,” ucap Christ terpotong.
“Alasan? Alasan kalau
kalian di jodohin dan kalian gak bisa nolak perjodohan itu seperti kata Shilla
tadi hah?! Dan lo Shil, lo bilang gitu supaya gue percaya kalau lo juga korban
keegoisan orang tua lo, supaya gue kasihan dan gue gak berpikiran kalau lo
emang pengkhianat,” kata Kharis sinis dan mengucap kata ‘Pengkhianat’ dengan
penuh penekanan.
“Gue gak bohong Ris,
kita ngelakuin ini karena kita emang udah di jodohin dan gue gak ada pikiran
sama sekali buat ngerebut Christ dari lo Ris. Ayah gue emang bilang kalau gue
udah di jodohin sama seseorang, tapi gue selalu mengulur-ngulur waktu agar gue
tidak terikat dengan perjodohan ini. Lo kan tau kalau hati gue hanya buat Rio,
gue juga baru tau kalau orang yang di jodohin sama gue itu Christ bulan
kemarin, sebelum ayah gue jatuh sakit dan harus di operasi,” jelas Shilla.
“Semua yang diomongin
Shilla benar Ris, memang waktu itu kita berdua menolak semua perjodohan ini
tapi akibatnya ayah Shilla kena serangan jantung mendadak dan harus di operasi,
sebelum di operasi ayah Shilla minta kami untuk segera menikah. Karena Shilla
sangat menyayangi ayahnya, akhirnya kami menuruti semua permintaan orang tua
kami,” jelas Christ.
“Jadi gue minta maaf
Ris, gue…,” perkataan Shilla terpotong.
“Sudah cukup, gue gak
mau dengar lagi penjelasan kalian berdua. Mulai sekarang antara gue, lo dan
Christ gak ada hubungan apa-apa lagi. Selamat atas pernikahan kalian, semoga
kalian bahagia,” kata Kharis sambil berlari meninggalkan Shilla dan Christ.
Teriakan Shilla meminta maaf tidak di hiraukannya, dia terus berlari dengan
sakit yang di rasakannya sendiri. Semua kenangan, rasa rindu dan harapan itu
telah musnah berganti dengan rasa sakit yang amat dalam dia rasakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar