Gaza, sebuah kota kecil yang di lewati
oleh sebuah jalur yang bernama jalur Gaza dan merupakan bagian dari Palestina. Hamparan
tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan
dan terjepit antara tanah yang
dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung
dengan tembok di sepanjang daratannya.
Di sinilah Alina Saskia Dewi dan Sita
Aisah, sahabatnya sejak SD berada sekarang. Alina dan Sita merupakan mahasiswi
fakultas kedoteran yang merelakan waktu liburan semester mereka menjadi relawan
asal Indonesia di Gaza.
Bukan tanpa sebab mereka menjadi relawan di Gaza,
selain rasa kemanusiaan yang tinggi untuk menolong sesama, mereka juga membawa
beberapa barang dan uang yang sudah mereka kumpulkan dari teman-teman serta
saudara-saudara mereka yang ada di Indonesia dan telah diberikan kepada yang
berhak.
Selain itu mereka juga ingin melihat lebih dekat bagaimana saudara-saudara
kita berjuang memperoleh haknya untuk menjadikan kota kecil yang bernama Gaza
ini menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk ditinggali.
Bukan tempat yang
setiap hari dan setiap waktu dibisingkan oleh suara rudal dan roket dari Zionis
Israel yang juga menewaskan ribuan orang terutama wanita dan anak-anak dan menghancurkan
bangunan-bangunan yang ada di kota kecil itu.
Lagi-lagi suara roket menghantam
pemukiman rumah warga, ditambah serangan dari senapan yang dibawa oleh tentara
Israel. Semua para wanita, lelaki dan anak-anak menyelamatkan diri agar tidak
terkena serpihan panas dari roket dan senapan itu.
Tapi malang bagi anak
laki-laki usia tujuh tahun ini dan beberapa warga lain, mereka harus terluka
terkena serpihan timah panas yang ditembakan oleh tentara Israel. Alina dan
Sita yang baru saja keluar dari terowongan yang merupakan satu-satunya jalan
aman menuju Gaza dari kota Mesir, melihat sudah banyak rakyat Palestina yang terkena
tembakan.
Hari pertama Alina dan Sita berada di Gaza, mereka sudah disambut
oleh suara tembakan roket dan senapan serta melihat langsung betapa kejamnya
tentara Israel. Di sekitar Alina bangunan-bangunan hancur dan nyaris rata
dengan tanah, serta suara-suara bising dari roket dan senapan diikuti suara
tangisan dan teriakan lafadz Allah dari warga Gaza. Sungguh pemandangan yang
mengiris hati Alina.
“Hei Alina kok malah bengong, yuk
kita bantu Ibu itu dan korban lainnya,” kata Sita. Alina langsung tersadar dari
lamunannya kemudian menyusul Sita yang sudah jauh meninggalkannya.
Alina dan
Sita langsung membantu seorang Ibu yang sedang memeluk anaknya sambil menangis.
Alina segera menghampiri Ibu dan anak lelakinya yang sudah berlumuran darah di
bagian kepala dan sekujur tubuh
mungilnya.
Tak lama beberapa ambulans datang untuk mengevakuasi para korban, Alina
dan Sita segera membantu Ibu beserta anak laki-lakinya untuk masuk kedalam
ambulans.
Di dalam ambulans tak henti-hentinya
Ibu itu menangis. Alina yang duduk di samping Ibu itu segera menenangkan
beliau.
“Ibu yang sabar ya, jangan nangis terus. Insya Allah anak Ibu gak akan
kenapa-kenapa dan semua akan baik-baik saja,” hibur Alina dengan bahasa Arabnya
yang fasih.
Memang saat SMP Alina pernah kursus bahasa Arab selama 2 tahun jadi
dia menguasai bahasa Arab. Ibu itu hanya mengangguk dan menatap Alina sendu,
Alina yang merasa di perhatikan oleh Ibu itu hanya tersenyum dan mengusap bahu
Ibu itu untuk menenangkannya.
Walaupun Alina berkata demikian tetapi dalam hati
dia ingin menangis, sedih melihat anak yang tak berdosa itu harus merasakan
sakitnya kena timah panas di tubuhnya.
***
Sesampainya di rumah sakit Syifa,
Alina, Sita beserta para suster segera mendorong tempat tidur rumah sakit
menuju ruang UGD. Alina kembali tertegun ketika memasuki ruang UGD rumah sakit,
dia melihat bukan hanya anak itu saja yang menjadi korban dan harus ditangani
terlebih dulu di ruang UGD tetapi juga ada puluhan warga Palestina lain yang
harus di tangani rumah sakit ini.
Alina dan Sita bisa menyaksikan sendiri puluhan
wajah-wajah para korban yang tak berdaya, pucat pasi, hancur, berdarah,
terluka, cacat, bahkan sekarat. Semua itu adalah warga Palestina, warga sipil
yang tak berdosa yang harus menjadi korban kekejaman Israel.
Mereka semua
terluka bukan lagi secara fisik melainkan hati. Alina bisa merasakan hal itu,
sekilas Alina ingin menjerit, memegang seseorang erat-erat, menangis, mencium
kulit dan rambut anak yang berlumuran darah itu, melindungi diri dalam dekapan
yang tak ada habisnya, tetapi kami tidak mampu untuk itu, begitu juga dengan
mereka.
Alina juga bisa melihat wajah-wajah pucat para relawan di
rumah sakit ini akibat kelelahan dan beban kerja yang tidak manusiawi (tanpa
pembayaran di rumah sakit Shifa selama 4 bulan terakhir).
Mereka merawat,
mengobati, mencoba untuk memahami kekacauan yang tidak dapat dimengerti. Dari
potongan-potongan tubuh manusia, anggota tubuh manusia, yang berjalan, yang
tidak berjalan, yang bernapas, dan tidak bernapas, yang berdarah, dan yang
tidak berdarah.
Manusia yang diperlakukan seperti binatang oleh
“tentara paling bermoral di dunia” ["Israel"]. Karena hal itu juga
masyarakat dunia bergerak membantu dengan barang serta doa. Bahkan mengutuk
tindakan keji yang dilakukan Israel.
“Ya beginilah keadaan di sini, kamu pasti tak akan menduga
akan menyaksikan hal ini secara langsung kan?” tanya seorang suster dengan
bahasa Indonesia yang lancar yang sedaritadi memperhatikan Alina hanya berdiam
diri tak jauh dari pintu masuk UGD.
Alina langsung tersadar dari lamunannya dan
menghampiri suster yang bisa dipastikan berasal dari Indonesia itu.
“Kamu juga berasal dari Indonesia?
Bagaimana kamu tau kalau aku orang Indonesia?” tanya Alina ragu.
Suster itu mengangguk. “Aku Aisah,
aku tau dari Sita temanmu,” jawab Aisah sambil menunjuk Sita dengan dagunya
yang sedang membantu para dokter mengobati luka pasien.
“Waktu pertama kali ke
sini aku juga sama sepertimu hanya terdiam melihat korban-korban yang berdarah
dan terluka di sekujur tubuh, bahkan ada juga yang cacat, sekarat dan sudah
meninggal ketika dalam perjalanan rumah sakit ini."
"Tapi itu tak berlangsung
lama ketika aku melihat semangat para staf dan relawan di sini untuk membantu
mereka. Karena tujuanku ke sini untuk membantu mereka, benar kan?” tanya Aisah
sambil memperban salah satu kaki pasien yang terluka.
Alina tersenyum lalu mengangguk.
“Benar katamu Aisah, aku ke sini untuk menolong mereka, bukan hanya berdiam
diri dan hanya merasa kasihan melihat keadaan mereka. Mungkin di Indonesia aku
hanya bisa berdoa untuk mereka karena aku tidak bisa menolong mereka dengan
tenagaku. Tapi aku sekarang udah di sini melihat mereka secara dekat dan aku
harus membantu mereka dengan tenaga yang aku punya.”
Aisah hanya mengangguk.
“Lalu apa yang bisa aku bantu?” tanya Alina.
Aisah tersenyum lalu meminta Alina
untuk mengikutinya. Alina dan Aisah menuju seorang pasien lelaki separuh baya
yang terkena serpihan roket tentara Israel, karena roket itu pula mengakibat
seluruh tubuhnya penuh luka.
Mungkin selama setengah tahun kedepan Alina akan terbiasa
melihat puluhan tubuh-tubuh yang cacat dan berdarah, melihat danau darah di
lantai UGD yang menetes ke mana-mana, dan perban berlumuran darah untuk
membersihkan.
Juga petugas kebersihan yang dengan sigap menyekop darah dan
membuang tisu, rambut, pakaian, Kanula -sisa dari kematian- semuanya telah
dibersihkan, dipersiapkan lagi, diulangi lagi keseluruhan. Lebih dari 100 kasus
datang ke rumah sakit Shifa dalam 24 jam terakhir.
Memadai bagi sebuah rumah
sakit besar yang sudah terlatih dengan segala sesuatu, tapi di sini hampir
tidak ada: tidak ada listrik, air, obat-obatan, atau meja, instrumen, monitor semua
berkarat dan seolah-olah baru diambil dari museum. Mereka memang membutuhkan
itu.
Bahkan mereka juga sangat berterima kasih ketika kita melantunkan doa
untuk keselamatan mereka, tapi jauh di dalam hati warga Gaza, mereka menginginkan
kedamaian, ketenangan, dan berkumpul bersama orang-orang yang mereka sayang.
Bukan mendengar orkestra dari mesin perang “Israel” yang mengerikan, F16 yang
menderu, drone yang memuakkan, dan pesawat tempur Apache yang bising yang
membuat mereka berpisah dengan orang yang mereka cintai. Tapi yang harus kita
yakini mereka akan medapatkan hal itu semua di tempat yang kekal dan abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar