Senin, 04 Agustus 2014

GAZA

Gaza, sebuah kota kecil yang di lewati oleh sebuah jalur yang bernama jalur Gaza dan merupakan bagian dari Palestina. Hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan dan terjepit antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Di sinilah Alina Saskia Dewi dan Sita Aisah, sahabatnya sejak SD berada sekarang. Alina dan Sita merupakan mahasiswi fakultas kedoteran yang merelakan waktu liburan semester mereka menjadi relawan asal Indonesia di Gaza.

Bukan tanpa sebab mereka menjadi relawan di Gaza, selain rasa kemanusiaan yang tinggi untuk menolong sesama, mereka juga membawa beberapa barang dan uang yang sudah mereka kumpulkan dari teman-teman serta saudara-saudara mereka yang ada di Indonesia dan telah diberikan kepada yang berhak.

Selain itu mereka juga ingin melihat lebih dekat bagaimana saudara-saudara kita berjuang memperoleh haknya untuk menjadikan kota kecil yang bernama Gaza ini menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk ditinggali.

Bukan tempat yang setiap hari dan setiap waktu dibisingkan oleh suara rudal dan roket dari Zionis Israel yang juga menewaskan ribuan orang terutama wanita dan anak-anak dan menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di kota kecil itu.
 
DUAR.. DOR.. DOR.. DOR..
Lagi-lagi suara roket menghantam pemukiman rumah warga, ditambah serangan dari senapan yang dibawa oleh tentara Israel. Semua para wanita, lelaki dan anak-anak menyelamatkan diri agar tidak terkena serpihan panas dari roket dan senapan itu.

Tapi malang bagi anak laki-laki usia tujuh tahun ini dan beberapa warga lain, mereka harus terluka terkena serpihan timah panas yang ditembakan oleh tentara Israel. Alina dan Sita yang baru saja keluar dari terowongan yang merupakan satu-satunya jalan aman menuju Gaza dari kota Mesir, melihat sudah banyak rakyat Palestina yang terkena tembakan.

Hari pertama Alina dan Sita berada di Gaza, mereka sudah disambut oleh suara tembakan roket dan senapan serta melihat langsung betapa kejamnya tentara Israel. Di sekitar Alina bangunan-bangunan hancur dan nyaris rata dengan tanah, serta suara-suara bising dari roket dan senapan diikuti suara tangisan dan teriakan lafadz Allah dari warga Gaza. Sungguh pemandangan yang mengiris hati Alina.

“Hei Alina kok malah bengong, yuk kita bantu Ibu itu dan korban lainnya,” kata Sita. Alina langsung tersadar dari lamunannya kemudian menyusul Sita yang sudah jauh meninggalkannya.

Alina dan Sita langsung membantu seorang Ibu yang sedang memeluk anaknya sambil menangis. Alina segera menghampiri Ibu dan anak lelakinya yang sudah berlumuran darah di bagian kepala dan sekujur  tubuh mungilnya.

Tak lama beberapa ambulans datang untuk mengevakuasi para korban, Alina dan Sita segera membantu Ibu beserta anak laki-lakinya untuk masuk kedalam ambulans.

Di dalam ambulans tak henti-hentinya Ibu itu menangis. Alina yang duduk di samping Ibu itu segera menenangkan beliau.

“Ibu yang sabar ya, jangan nangis terus. Insya Allah anak Ibu gak akan kenapa-kenapa dan semua akan baik-baik saja,” hibur Alina dengan bahasa Arabnya yang fasih.

Memang saat SMP Alina pernah kursus bahasa Arab selama 2 tahun jadi dia menguasai bahasa Arab. Ibu itu hanya mengangguk dan menatap Alina sendu, Alina yang merasa di perhatikan oleh Ibu itu hanya tersenyum dan mengusap bahu Ibu itu untuk menenangkannya.

Walaupun Alina berkata demikian tetapi dalam hati dia ingin menangis, sedih melihat anak yang tak berdosa itu harus merasakan sakitnya kena timah panas di tubuhnya.

***

Sesampainya di rumah sakit Syifa, Alina, Sita beserta para suster segera mendorong tempat tidur rumah sakit menuju ruang UGD. Alina kembali tertegun ketika memasuki ruang UGD rumah sakit, dia melihat bukan hanya anak itu saja yang menjadi korban dan harus ditangani terlebih dulu di ruang UGD tetapi juga ada puluhan warga Palestina lain yang harus di tangani rumah sakit ini.

Alina dan Sita bisa menyaksikan sendiri puluhan wajah-wajah para korban yang tak berdaya, pucat pasi, hancur, berdarah, terluka, cacat, bahkan sekarat. Semua itu adalah warga Palestina, warga sipil yang tak berdosa yang harus menjadi korban kekejaman Israel.

Mereka semua terluka bukan lagi secara fisik melainkan hati. Alina bisa merasakan hal itu, sekilas Alina ingin menjerit, memegang seseorang erat-erat, menangis, mencium kulit dan rambut anak yang berlumuran darah itu, melindungi diri dalam dekapan yang tak ada habisnya, tetapi kami tidak mampu untuk itu, begitu juga dengan mereka.

Alina juga bisa melihat wajah-wajah pucat para relawan di rumah sakit ini akibat kelelahan dan beban kerja yang tidak manusiawi (tanpa pembayaran di rumah sakit Shifa selama 4 bulan terakhir).

Mereka merawat, mengobati, mencoba untuk memahami kekacauan yang tidak dapat dimengerti. Dari potongan-potongan tubuh manusia, anggota tubuh manusia, yang berjalan, yang tidak berjalan, yang bernapas, dan tidak bernapas, yang berdarah, dan yang tidak berdarah.

Manusia yang diperlakukan seperti binatang oleh “tentara paling bermoral di dunia” ["Israel"]. Karena hal itu juga masyarakat dunia bergerak membantu dengan barang serta doa. Bahkan mengutuk tindakan keji yang dilakukan Israel.

“Ya beginilah keadaan di sini, kamu pasti tak akan menduga akan menyaksikan hal ini secara langsung kan?” tanya seorang suster dengan bahasa Indonesia yang lancar yang sedaritadi memperhatikan Alina hanya berdiam diri tak jauh dari pintu masuk UGD.

Alina langsung tersadar dari lamunannya dan menghampiri suster yang bisa dipastikan berasal dari Indonesia itu.

“Kamu juga berasal dari Indonesia? Bagaimana kamu tau kalau aku orang Indonesia?” tanya Alina ragu.

Suster itu mengangguk. “Aku Aisah, aku tau dari Sita temanmu,” jawab Aisah sambil menunjuk Sita dengan dagunya yang sedang membantu para dokter mengobati luka pasien.

“Waktu pertama kali ke sini aku juga sama sepertimu hanya terdiam melihat korban-korban yang berdarah dan terluka di sekujur tubuh, bahkan ada juga yang cacat, sekarat dan sudah meninggal ketika dalam perjalanan rumah sakit ini."

"Tapi itu tak berlangsung lama ketika aku melihat semangat para staf dan relawan di sini untuk membantu mereka. Karena tujuanku ke sini untuk membantu mereka, benar kan?” tanya Aisah sambil memperban salah satu kaki pasien yang terluka.

Alina tersenyum lalu mengangguk. “Benar katamu Aisah, aku ke sini untuk menolong mereka, bukan hanya berdiam diri dan hanya merasa kasihan melihat keadaan mereka. Mungkin di Indonesia aku hanya bisa berdoa untuk mereka karena aku tidak bisa menolong mereka dengan tenagaku. Tapi aku sekarang udah di sini melihat mereka secara dekat dan aku harus membantu mereka dengan tenaga yang aku punya.” 

Aisah hanya mengangguk. “Lalu apa yang bisa aku bantu?” tanya Alina.

Aisah tersenyum lalu meminta Alina untuk mengikutinya. Alina dan Aisah menuju seorang pasien lelaki separuh baya yang terkena serpihan roket tentara Israel, karena roket itu pula mengakibat seluruh tubuhnya penuh luka.

Mungkin selama setengah tahun kedepan Alina akan terbiasa melihat puluhan tubuh-tubuh yang cacat dan berdarah, melihat danau darah di lantai UGD yang menetes ke mana-mana, dan perban berlumuran darah untuk membersihkan.

Juga petugas kebersihan yang dengan sigap menyekop darah dan membuang tisu, rambut, pakaian, Kanula -sisa dari kematian- semuanya telah dibersihkan, dipersiapkan lagi, diulangi lagi keseluruhan. Lebih dari 100 kasus datang ke rumah sakit Shifa dalam 24 jam terakhir.

Memadai bagi sebuah rumah sakit besar yang sudah terlatih dengan segala sesuatu, tapi di sini hampir tidak ada: tidak ada listrik, air, obat-obatan, atau meja, instrumen, monitor semua berkarat dan seolah-olah baru diambil dari museum. Mereka memang membutuhkan itu.

Bahkan mereka juga sangat berterima kasih ketika kita melantunkan doa untuk keselamatan mereka, tapi jauh di dalam hati warga Gaza, mereka menginginkan kedamaian, ketenangan, dan berkumpul bersama orang-orang yang mereka sayang.

Bukan mendengar orkestra dari mesin perang “Israel” yang mengerikan, F16 yang menderu, drone yang memuakkan, dan pesawat tempur Apache yang bising yang membuat mereka berpisah dengan orang yang mereka cintai. Tapi yang harus kita yakini mereka akan medapatkan hal itu semua di tempat yang kekal dan abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar