Setiap
orang tua pasti ingin memiliki anak yang sempurna. Mempunyai kedua tangan dan
kaki, mempunyai penglihatan yang jelas, pendengaran yang baik, dan dapat
berbicara dengan baik dan jelas. Pada saat ibu kita mengandung, ayah dan ibu
kita selalu berdoa agar anaknya nanti terlahir selamat, sehat dan memiliki
fisik sempurna kepada Sang Pencipta. Tapi tak semua orang tua dititipi anak
yang sehat dan sempurna oleh Sang Pencipta, ada sebagian orang tua di dunia ini
memiliki anak terlahir tidak normal.
Nama
gadis itu Diandra Amelia, dia terlahir dari keluarga sederhana yang sangat
sayang dan cinta kepadanya. Walaupun dia terlahir dengan fisik tak sempurna
tetapi kedua orang tuanya sabar dalam merawat dan membimbing Diandra. Diandra
terlahir tanpa kedua tangan dan kaki, dia hanya punya sebuah kaki kecil sebesar
telapak tangan orang dewasa. Orang tuanya menangis ketika mengetahui anaknya
tidak mempunyai kaki dan tangan, tapi walaupun begitu mereka menerima dan tidak
menyesali kehadiran Diandra sebagai anak mereka. Kedua orang tua Diandra sangat
sabar merawat, membimbing dan mengajarinya seperti anak normal lainnya. Dan
yang paling penting, orangtua Diandra tidak malu mempunyai anak dengan cacat
fisik seperti dia. Karena tidak ingin selalu merepotkan kedua orang tuanya,
sejak umur Diandra 5 tahun, Diandra mulai belajar mempergunakan kaki kecil yang
dia miliki. Kaki kecil itu dia latih untuk makan, menulis, membaca buku,
mengambil minum dan memainkan alat musik. Melihat Diandra berusaha melatih kaki
kecilnya untuk melakukan aktivitas manusia pada umumnya, orang tua Diandra
berusaha melarangnya. Tetapi Diandra meyakinkan orang tuanya kalau dia mampu
mengerjakan aktivitasnya sendiri seperti orang normal pada umumnya.
“Diandra
kamu lagi apa? Kalau kamu mau makan, bisa ibu yang suapin kamu. Ga perlu kamu
bersusah payah seperti ini”, kata ibu Diandra ketika melihat Diandra berusaha
mengambil sendok dengan kaki kecilnya.
“Sudahlah
bu tidak apa-apa, aku mau belajar makan sendiri bu. Supaya kalau aku sudah
besar nanti aku enggak usah ngerepotin ayah dan ibu terus. Masa sudah dewasa
masih disuapin ayah dan ibu, malu dong”, jawab Diandra sambil tersenyum. Mendengar
ucapan Diandra yang penuh keyakinan dia bisa mengerjakan aktivitasnya sendiri
seperti orang pada umumnya, butiran bening mengalir dari pelupuk mata ibu
Diandra.
“Ibu
kenapa kok ibu nangis?”, tanya Diandra sambil memberikan lengan bajunya kepada
ibunya untuk menghapus air matanya.
“Kasihan
kamu nak, kalau saja kamu terlahir normal, kamu enggak akan kesulitan seperti ini.
Ibu enggak tega melihat kamu seperti ini”, kata ibu Diandra sambil berurai air
mata.
“Sudahlah
bu jangan menyesali apa yang sudah Allah berikan sama kita. Syukuri saja ya bu,
Allah pasti tau yang terbaik buat kita”, ucap Diandra sambil tersenyum. Ibunya
hanya mengangguk kemudian tersenyum.
“Nah
gitu dong bu senyum, jangan nangis lagi ya Bu. Diandra sayang sama ibu”,
katanya tulus
“Ibu
juga sayang sama Diandra”, kata ibu Diandra sambil memeluk tubuh Diandra.
***
Orang
tua Diandra menyekolahkan Diandra ke sekolah regular seperti anak pada umumnya.
Sebenarnya dia bisa saja masuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan teman-teman yang
bernasib sama sepertinya, tapi orang tuanya tidak mau dia bersekolah di SLB
dengan alasan Diandra mempunyai hak yang sama seperti anak normal lainnya.
Dari
awal masuk sekolah dasar (SD) banyak tetangga yang mencibir dan menghina
Diandra karena dia bersekolah di sekolah regular bukan di SLB seperti
teman-temannya yang lain. Pada hari pendaftaranpun hampir saja pihak sekolah
tidak menerimanya untuk masuk ke sekolah biasa, mereka malah menyarankan kepada
orang tua Diandra untuk menyekolahkan Diandra ke sekolah SLB.
“Maaf
bu anak ibu tidak bisa kami terima sekolah disini, mungkin ibu bisa
mendaftarkan anak ibu di sekolah lain”, kata bapak kepala Sekolah.
“Kenapa
pak? Apa karena anak saya seorang disability, sehingga sekolah ini tidak dapat
menerima anak saya? Gitu? Atau bapak takut anak saya merepotkan guru dan warga sekolah
yang ada di sekolah ini? Dengar ya pak walaupun fisik anak saya tidak sempurna,
tapi dari dia umur 5 tahun, dia sudah terlatih untuk mengerjakan semuanya
sendiri dan saya yakin dia tidak akan merepotkan guru, teman-teman atau warga
sekolah yang berada di sekitar sekolah ini dan satu lagi, bapak juga harus
mempertimbangkan kecerdasan Diandra. Diandra itu seorang anak yang cerdas pak, kecerdasan
Diandra hampir sama dengan kecerdasan siswa berprestasi di sekolah ini. Mungkin
lebih dari mereka, saya yakin bapak tidak akan menyesal menerima murid
disability yang memiliki kecerdasan luar biasa seperti Diandra. Jika bapak
tidak percaya bapak bisa menyuruh Diandra mengerjakan soal yang bapak tuliskan
di white board itu. Kalau misalnya
jawaban Diandra satu soal saja salah, saya akan memasukkan Diandra ke SLB
seperti yang bapak inginkan tapi kalau Diandra bisa menjawab semua soal yang
bapak berikan, bapak harus menerima Diandra bersekolah disini”, kata ibu
Diandra.
“Baiklah
kalau itu yang ibu mau. Diandra bapak akan menuliskan lima soal untukmu, bapak
harap kamu bisa menjawabnya dengan baik”, kata bapak kepala sekolah kepada
Diandra. Diandra hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bapak
kepala sekolahpun langsung menulis beberapa soal di white board yang ada di depan meja kerjanya. Setelah beberapa menit
semua soal sudah selesai beliau tulis, bapak kepala sekolah menghampiri Diandra
dan memberikan spidol itu kepada Diandra.
“Ini
Diandra spidolnya, tolong kamu jawab semua soal yang ada di white board itu ya”, kata bapak kepala
sekolah sambil memberikan spidol itu kepada Diandra. Diandra hanya mengangguk
dan mengambil spidol itu dengan mulutnya.
Dengan
kaki kecilnya, Diandra berjalan menuju white
board yang ada di depannya, Diandrapun menjawab semua soal yang diberikan
oleh bapak kepala sekolah itu dengan yakin tanpa ragu, setelah beberapa menit
Diandra sudah menyelesaikan semua soal yang diberikan oleh bapak kepala
sekolah. Bapak kepala sekolahpun memeriksa semua jawaban dari Diandra dan
hasilnya semua jawaban yang Diandra berikan benar semua dan yang lebih
menakjubkan tulisan Diandra itu benar-benar rapi dan indah seperti menulis
pakai tangan kanan orang normal, padahal dia menulis semua jawaban itu dengan
mulutnya. Orang normal saja belum tentu bisa menulis dengan rapi dan indah
seperti Diandra.
Umur
Diandra waktu itu memang masih 7 tahun dan cuma butuh waktu dua tahun bagi
Diandra untuk bisa menulis dengan mulutnya. Untuk anak-anak yang masih berusia
tujuh tahun sangat wajar kalau tulisannya itu masih acak-acakan dan kadang
tulisannya sulit dimengerti tapi tidak untuk Diandra, dia dianugrahkan karunia
yang luar biasa oleh Allah SWT masih berumur 7 tahun Diandra sudah bisa menulis
dengan rapi dan indah, padahal menulis dengan mulut itu susah banget apalagi
kalau tulisan itu rapi dan indah.
Bapak
kepala sekolahpun memperbolehkan Diandra masuk ke sekolah yang dia pimpin.
Diandra dan ibunya sangat senang karena Diandra bisa bersekolah di tempat orang
normal bersekolah. Di sekolahpun Diandra tak lepas dari cibiran, hinaan dan
bullyan teman-temanya karena ketidak normalan fisiknya. Tapi Diandra
menanggapinya dengan senyum dan prestasi yang Diandra torehkan.
***
Diandra
tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan mempunyai berbagai bakat dan
prestasi dalam keterbatasan fisiknya. Dari SD sampai lulus SMP, Diandra selalu
mendapatkan nilai tinggi di sekolahnya. Karena tulisannya yang bagus dan rapi,
Diandra selalu menjadi wakil sekolahnya dalam lomba karya tulis. Diandra memang
suka sekali menulis, banyak karyanya seperti cerpen, puisi dan kaligrafi yang
sudah dia hasilkan selalu mendapatkan prestasi tapi masih tahap tingkatan
sekolah. Banyak yang menyarankan agar karya-karya Diandra diberikan kepada
penerbit untuk diminati orang banyak, tapi Diandra menolak alasannya dia belum
yakin kalau karyanya diberikan ke penerbit dan bisa diterima oleh masyarakat.
Para guru dan keluarga Diandra sangat bangga akan prestasi yang Diandra berikan untuk mereka.
Teman-teman yang awalnya membully dan meremehkan Diandra kini menjadi kagum
terhadap Diandra. Tapi tak jarang juga ada yang iri akan prestasi Diandra.
Hari
ini adalah hari pertama semester kedua Diandra belajar efektif di SMA 1 Jakarta setelah dua minggu mereka
libur semester. Dengan ditemani temannya Aulia Dwi Anisa, Diandra berangkat ke
sekolah. Aulia merupakan teman Diandra sejak dia duduk dibangku SD, meskipun
waktu SD banyak teman-teman yang membully Diandra, tapi tidak halnya dengan
Aulia. Saat teman-teman lain membully Diandra, dia justru membela dan berteman
dengan Diandra. Persahabatan merekapun berlanjut sampai sekarang SMA.
Seperti
biasa Aulia mendorong kursi roda Diandra menuju sekolah. Untungnya Diandra dan
Aulia sekelas, jadinya tidak sulit bagi Aulia menjaga dan melindungi Diandra
dari bullyan teman-temannya. Bel masuk pelajaran pertama masih setengah jam
lagi tapi Diandra dan Aulia sudah ada di kelas.
“Di
kita ke kantin dulu yuk, gue lapar nih tadi belum sempet sarapan”, kata Aulia
sambil menyimpan tas dibangku tempat dia duduk.
“Pasti
gara-gara jemput gue ya, jadi lo gak sempet sarapan? Maafin gue ya Li dari SD
sampai sekarang gue selalu ngerepotin lo”, kata Diandra tidak enak.
“Lo
gak usah ngomong gitu Di, gue enggak ngerasa direpotin kok, Itu kan gunanya
sahabat, selalu ada dalam keadaan susah dan senang. Ya udah yuk kita langsung
ke kantin”, kata Aulia sambil membantu Diandra menaruh tasnya diatas meja.
Kemudian dia mendorong kursi roda Diandra menuju kantin.
Sebenarnya
Aulia tidak perlu bersusah payah mendorong kursi roda Diandra, karena kursi
roda yang Diandra miliki, mempunyai tombol otomatis untuk menggerakkan kursi
roda itu. Tombol otomatis itu ada di tempat duduk kursi roda itu, Diandra hanya
perlu menekan tombol itu dengan kaki kecil yang dia miliki untuk membuat kursi
roda itu berjalan dan berhenti. Sekitar 10 menit mereka berjalan menuju kantin,
merekapun akhirnya sampai di kantin. Tatapan sinis dan ejekkan menyambut
Diandra dan Aulia saat sampai di kantin tapi Aulia dan Diandra tidak mempedulikan
tatapan itu, Aulia menghentikan kursi roda Diandra tepat didepan meja nomor dua
tak jauh dari pintu masuk kantin.
“Di
lo mau pesan apa biar gue yang pesenin?”, tanya Aulia sambil duduk didepan
Diandra.
“Enggak
usah Li, gue masih kenyang. Lo pesan aja buat lo sendiri”, jawab Diandra.
“Ya
sudah gue pesan makanan dulu ya”, kata Aulia sambil berjalan menuju counter
bubur ayam. Diandra hanya mengangguk.
Saat
menunggu Aulia memesan makanannya, Diandra bertemu dengan kakak kelas yang enam
bulan lalu mengerjainya saat MOS.
“Eh
ada anak cacat disini, ngapain lo disini? Memang lo bisa makan?”, ledek Rina sambil
mentertawakan Diandra. Rina adalah kakak kelasnya yang paling cantik dan
popular. Dia juga merupakan anggota OSIS yang ikut dalam pelaksanaan MOS enam
bulan yang lalu.
“Enggak
kak, aku disini lagi temenin Aulia. Kakak kesini mau sarapan juga ya?”, jawab
Diandra ramah.
“Ya
iyalah gue kesini mau sarapan, pakai nanya lagi. Lo tuh pura-pura oon atau
beneran oon sih. Jangan-jangan otak lo juga cacat lagi sama kaya fisik lo”.
“Eh
kak, kakak jangan ngejelekin Diandra kaya gitu. Diandra itu pinter kak malahan
lebih pinter daripada kakak. Kalo otak Diandra cacat mana mungkin dia bisa
sekolah disini? Mana mungkin juga dari SD sampai sekarang dia selalu menuai
prestasi. Otak kakak kali tuh yang cacat”, kata Aulia sambil berjalan menuju
Diandra dan Rina.
“Eh
lo berani ya ngatain otak gue cacat, lo tau enggak gue itu lebih pinter dari
temen lo yang cacat itu. Lo tau siapa yang lo hadapin sekarang? Gue kakak kelas
lo dan lo harus menghormati gue”, kata Rina ketus.
“Dasar
kakak kelas gila hormat”, ucap Aulia lirih.
‘Udah
Li, gak usah ditanggapi klo ditanggapi berarti kita sama kaya mereka. Udah”,
kata Diandra kepada Aulia.
“Eh
cacat lo bilang apa tadi klo ditanggapi berarti lo sama kaya gue? Hahaha.. kita
itu beda kali, lo lihat gue, gue cantik, gue sempurna, gue masih punya tangan
dan kaki sedangkan lo? Hahahaha… memang sih wajah lo cantik tapi percuma aja
punya wajah cantik tapi cacat yang bisanya ngerepotin orang”.
“Eh
mendingan Diandra daripada lo, walaupun dia tidak sempurna secara fisik tapi dia
cantik luar dalam. Daripada lo cantik dan sempurna di luar tapi hati lo cacat
dan busuk, kakak kelas gila hormat”.
“Lo
bilang apa tadi? Gue cantik diluar tapi hati gue cacat? Dasar adik kelas kurang
ajar”, kata Rina hendak menampar Aulia tapi ada seseorang yang mencegahnya.
“Lo
tuh ya suka banget sih ngebully adik kelas”, kata Reno, ketua OSIS SMA 1
sekaligus kakak kelas Diandra dan Aulia sambil melepas kasar tangan Rina yang
digenggamnya tadi.
“Eh
Ren, ngapain sih lo mencegah gue untuk nampar adik kelas kurang ajar kaya dia
sih? Lo ngebela mereka?”, kata Rina kesal.
“Gue
enggak ngebela siapa-siapa disini ya, tapi tindakan lo sudah keterlaluan. Gue cuma
takut mereka ngadu ke guru BP dan lo dihukum gitu aja”, kata Reno sambil
berlalu pergi.
“Dengar
ya urusan gue sama kalian berdua belum selesai terutama lo Aulia Dwi Anisa”,
kata Rina sambil berlalu pergi diikuti dengan dayang-dayangnya.
“Li
ngapain sih lo ngomong kaya gitu? Udah biarin aja”, kata Diandra saat Rina dan
teman-temannya sudah menjauh.
“Lo
bilang biarin? Orang macam mereka harus
dilawan Di, biar mereka gak semakin menjadi-jadi menghina lo”, kata Aulia.
“Tapi
kan caranya enggak kaya gitu juga Li, kita harus ngelawan mereka dengan otak
bukan otot dan emosi. Kalau kita lawan mereka dengan otot dan emosi berarti
kita sama saja kaya mereka. Lo lihat sendiri sekarang kak Rina malah makin
marah dan kesal sama kita. Yang gue takut lo akan jadi sasaran bullyan mereka”,
kata Diandra sedih.
“Bener
juga kata lo Di, aduh gue bodoh banget sih. Kenapa sih gue selalu melakukan sesuatu
tanpa dipikirin dulu? Besok kita pasti akan jadi “bulan-bulanan” mereka deh.
Duh gimana nih Di?”, kata Aulia sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
“Udah
lo engga usah khawatir dan takut, apapun yang terjadi gue akan selalu ada
disamping lo dan akan membantu lo sebisa gue”.
“Makasih
Di, lo memang sahabat gue yang baik banget”, kata Aulia sambil memeluk Diandra.
“Ah
udah deh engga usah pake peluk-pelukkan segala. Tuh bubur ayam lo udah datang,
cepat makan sebentar lagi bel masuk bunyi”, kata Diandra.
“Ini
neng bubur ayamnya”, kata abang tukang bubur ayam sambil meletakkan semangkuk
bubur ayam dan segelas air teh di meja.
“Iya
makasih ya bang”, kata Aulia. Abang itu hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Auliapun memakan makanan pesanannya sembari mengobrol dengan Diandra.
***
Ternyata
apa yang ditakutkan Diandra benar-benar terjadi, Rina semakin menjadi-jadi
membully dia apalagi sahabat satu-satunyapun kena dampak bullyan Rina. Tak
hanya mengejek, menghina dan mempermalukan Diandra dan Aulia di depan
teman-temannya, Rinapun tidak segan-segan main fisik terhadap Diandra dan
Aulia.
Pernah
suatu hari Aulia di kunci di dalam kamar mandi sampai jam pulang sekolah, Aulia
yang sudah melakukan aktivitasnya di kamar mandi merasa kaget ketika diketahui
dia di kunci dari luar, kontan saja Auliapun berteriak-teriak minta tolong tapi
karena pelajaran sudah dimulai alhasil tidak ada satu orangpun yang
menolongnya. Aulia tidak berteriak lagi karena tenaganya sudah habis, lagipula
dia tadi pagi sarapan hanya sedikit dan tadi saat istirahat dia belum sempat
jajan-jajan apa-apa. Diandra yang merasa curiga sahabatnya tidak datang-datang sampai
jam pulang sekolah, Diandrapun menyusul Aulia ke kamar mandi.
“Li,
Aulia, lo ada di dalam Li?”, panggil Diandra saat masuk kedalam kamar mandi dengan
kursi rodanya.
Diandrapun
membuka satu persatu pintu kamar mandi, tapi nihil tidak ada sosok Aulia.
Diandrapun kembali memanggil Aulia. “Li, Aulia lo dimana Li?”.
Mendengar
suara Diandra, Aulia langsung menjawab panggilan Diandra. “Di gue di sini Di,
gue di kunci dari luar. Bukain Di”.
Diandra
yang mendengar teriakkan Aulia segera bergerak menuju kamar mandi paling ujung.
“Li, lo ada di dalam?”, tanya Diandra memastikan.
“Iya
Di, tolongin gue Di, gue enggak bisa keluar. Gue dikunci dari luar Di”, jawab
Aulia.
“Lo
di kunci dari luar, tapi di luar enggak ada kuncinya Li. Gimana ya?”.
“Lo
minta kunci sama penjaga sekolah aja Di, cepet Di gue lemes banget nih”.
“Enggak
akan keburu Li. Ya sudah gini aja gue coba dobrak pake kursi roda gue. Lo
tolong jauh dari pintu ya. 1… 2,… 3”.
Diandrapun
menggerakkan kursi rodanya mundur dan dengan kakinya yang kecil dia menekan
tombol yang ada di dudukkan kusi roda sekuat tenaga dan memajukkan kursi roda
itu kearah pintu tapi nihil. Diandrapun mencoba kembali mendobrak pintu kamar
mandi itu berulang-ulang. Akhirnya pintu kamar mandi itu berhasil dibuka.
“Di
makasih ya, klo enggak ada lo, gue enggak tau gimana jadinya gue nanti”, kata
Aulia sambil memeluk sahabatnya itu.
“Iya
sama-sama yuk kita pulang”, ajak Diandra. Belum sempat mereka keluar dari kamar
mandi itu, mereka sudah di hadang oleh Rina dan kawan-kawan.
“Duh
kalian itu benar-benar sahabat sejati, gue jadi terharu melihat persahabatan
kalian. Apa lagi tadi seorang gadis cacat membantu sahabatnya keluar dari kamar
mandi. Benar-benar mengharukan”, kata Rina sambil pura-pura menangis.
“Maaf
kak, kita berdua mau pulang. Dan kakak menghalangi jalan kami, bisa berikan
kami jalan kak”, kata Diandra sambil menggerakkan kursi rodanya tapi lagi-lagi
dihalangi oleh Rina.
“Duh
kalian mau kemana? Gue kan belum selesai sama kalian masa ditinggal gitu aja.
Enggak sopan tau”, kata Rina.
“Maaf
ya kak, kakak memang enggak denger ya apa yang tadi Diandra bilang? Kami itu
mau pulang dan kakak menghalangi jalan kami. Jadi kami mohon kakak minggir dan
berikan jalan kepada kami”, kata Aulia mengulang ucapan Diandra.
“Tumben
lo bisa bersikap sopan sama gue, padahal kemarin lo kurang ajar sama gue. Lo sudah
kapok karena dikurung seharian di kamar mandi”.
“Jangan-jangan
yang ngunci Aulia di kamar mandi itu kakak?”, Tanya Diandra.
“Kalau
iya kenapa? Lo mau ngasih tau kepala sekolah dan guru-guru kalau gue yang sudah ngunciin dia di kamar mandi? Boleh aja,
tapi lo tau kan akibatnya kalau lo ngelaporin gue ke kepala sekolah. Guys.. pegang cewek kurang ajar ini.
Cewek cacat ini biar gue yang urus”.
“Eh
lo mau ngapain Diandra? Bener kata gue kemarin lo tuh cantik di luarnya aja
tapi hati lo busuk”, kata Aulia sambil meronta-ronta dari pegangan dua bodyguard Rina. Rina tidak menggubris
perkataan Aulia, dia mendorong kursi roda Diandra menuju kamar mandi dekat
dengan tempat dia berdiri tadi.
“Kak,
kakak mau ngapain aku kak?”, tanya Diandra sambil berusaha menghentikan kursi
roda dengan menekan tombol yang ada disebelah kaki kecilnya tapi hasilnya
nihil. Kursi roda masih melaju sampai depan pintu kamar mandi dan didepan pintu
kamar mandi dengan kasar Rena mendorong kursi roda itu hingga Diandra terjatuh
dan kursi rodanya menimpa tubuhnya yang mungil.
“Aw…”,
rintih Diandra kesakitan. Renapun mengambil kursi roda yang menimpa tubuh
Diandra dan menjauhkannya begitu saja.
“Kenapa?
Sakit? Itu belum seberapa dibanding sakit hati yang gue rasain. Oh iya tadi lo
tanya apa? Gue mau ngapain lo? Gue mau ngelakuin ini sama lo”, kata Rina sambil
mengambil segayung air dari bak mandi dan menyiram tubuh mungil Diandra yang
ada didepannya.
“Kak
kenapa kakak ngelakuin ini sama aku? Kenapa sejak awal masuk sekolah ini kakak
kelihatan benci sama aku? Salah aku apa kak?”, kata Diandra dengan suara
tersendat-sendat karena Rina terus menerus menyiram tubuh Diandra. Terdengar
suara caci maki Aulia yang masih berusaha melepaskan diri dari dayang-dayang
Rina. Tapi Rina menggubris semua cacian Aulia dan masih terus berkonsentrasi
terhadap Diandra.
“Lo
bilang salah lo apa? Salah lo itu lo sekolah di sekolah ini, lo memiliki
prestasi yang mampu menyaingi prestasi gue. Dan lo harus tau kalo gue itu engga
suka ada orang yang lebih unggul dari gue. Lo baru enam bulan disini, tapi para
guru-guru sering ngomongin lo, lo dan lo. Apalagi sekarang lo disukai sama
ketua OSIS yang jadi incaran gue selama ini”, jawab Rina masih menyiramkan air
ke tubuh Diandra
“Kak
Reno suka sama saya kak?”, tanya Diandra gemetar menahan rasa dingin ditubuhnya.
“Iya.
Awalnya gue ngira dia suka sama lo itu karena kasihan ngeliat keadaan lo yang
cacat dan kagum sama prestasi lo. Tapi ternyata dia suka sama lo lebih dari
itu. Gue heran kenapa dia suka sama orang cacat kaya lo dibanding sama gue?
Emang sih lo cantik, tapi enggak level lah kalo gue harus saingan sama orang
cacat kaya lo”, kata Rina sambil memperhatikan wajah Diandra yang sudah basah
karena disiram terus menerus oleh Rina. Terlihat Diandra sangat kedinginan,
tapi Rina terus menerus membasahi tubuh Diandra yang sudah basah kuyup itu
tanpa belas kasihan.
Aulia
yang sudah terbebas dari dayang-dayang Rina segera berlari kearah Diandra dan
memeluk Diandra untuk melindunginya dari siraman air Rina. “Diandra lo enggak
apa-apakan?”, tanya Aulia. Diandra hanya menggeleng dengan tubuh yang gemetar,
dia tidak kuat berbicara karena tubuhnya semakin kedinginan.
“Rin,
lo gila. Sekarang gue mohon lo berhenti menyiram Diandra kaya gini. lo lihat
dia udah kedinginan Rin, klo lo enggak mau berhenti, gue akan teriak minta
tolong. TOLONG…. TOLONG….”, teriak
Aulia.
“Lo
teriak aja sampai suara lo habis, enggak bakalan ada yang dengar. Semua murid
di sekolah ini sudah pulang. Gue enggak peduli cewek cacat ini kedinginan atau
enggak, gue mau dia mati. Klo dia mati, itu berarti enggak ada saingan lagi
buat gue jadi siswa berprestasi di sekolah ini dan gue bisa dapatin Reno”, kata
Rina semakin menjadi-jadi menyiram tubuh Aulia dan Diandra.
Ternyata
teriakan Aulia ada hasilnya juga, teriakan Aulia didengar oleh dua orang cowok
yang kebetulan lewat depan kamar mandi wanita itu. Dua orang itu adalah Reno dan
Rio. Mendengar teriakan Aulia, Reno dan Riopun masuk kamar mandi itu, alangkah
terkejutnya mereka ketika melihat apa yang dilakukan oleh Rina terhadap Diandra
dan Aulia.
“Rina
berhenti…”, teriak Reno hingga membuat Rina dan para dayang-dayangnya kaget.
Tanpa mendengar penjelasan Rina, Reno langsung berlari kearah Diandra dan
Aulia. Melihat Reno, Aulia langsung melepaskan pelukannya dan dengan sigap Reno
membuka jaketnya untuk menutupi tubuh Diandra yang basah kuyup, hal yang sama
juga dilakukan Rio kepada Aulia. Tanpa basa basi Renopun menggendong tubuh Diandra
dan membawanya keluar.
“Ren,
dengerin dulu penjelasan gue..”, kata Rina menghentikan langkah Reno.
“Gue
akan laporin semua kejahatan lo ke kepala sekolah dan lo bisa jelasin semuanya
ke beliau”, kata Reno sambil terus berjalan meninggalkan Rina. Disusul oleh
Aulia dan Rio.
***
Keesokkan
harinya Rina dipanggil ke kantor kepala sekolah atas laporan Reno karena telah
mencelakakan Diandra. Di kantor kepala sekolah Aulia dan Diandra yang sebagai
korban menjelaskan semua yang dilakukan Rina kepada mereka. Rinapun menjelaskan
kenapa dia bisa berbuat seperti itu kepada Diandra dan Aulia, alasannya
sederhana yaitu cemburu dan iri yang bisa menggelapkan mata hati seseorang.
Karena tindakannya itu Rina diberi hukuman yaitu dikeluarkan dari sekolah. Tapi
banyak yang tidak setuju Rina dikeluarkan dari sekolah dengan alasan Rina
adalah salah satu siswa berprestasi di sekolah SMA 1. Akhirnya bapak kepala
sekolah hanya memberikan hukuman yaitu Rina di skors selama seminggu, dengan
catatan kalau dia masih melakukan tindakan itu lagi mau tidak mau dia
dikeluarkan dari sekolah. Rina menerima keputusan itu dengan rasa amarah yang
memuncak terhadap Diandra dan Aulia. Diapun punya rencana lain untuk
mencelakakan Diandra.
Selama
Rina mendapatkan hukuman semua keadaan kembali seperti biasa, tapi tidak dengan
hubungan Reno dan Diandra. Sejak kejadian itu Reno dan Diandra menjadi dekat,
tanpa ragu Renopun menyatakan perasaannya kepada Diandra. Semula Diandra
menolak permintaan Reno untuk menjadi kekasihnya karena Diandra takut kalau
Reno merasa malu mempunyai kekasih yang fisiknya tidak sempurna seperti
dirinya. Tapi karena Reno dan Aulia meyakinkan Diandra kalau Reno mencintai
Diandra bukan dari segi fisik melainkan dari hati yang cantik dan tulus dari
Diandra, akhirnya Diandrapun menerima Reno sebagai kekasihnya.
***
Sudah
sebulan ini Diandra menjadi kekasih seorang ketua OSIS di sekolahnya. Dalam
keadaan apapun mereka selalu bersama. Tak jarang pula Reno selalu mengantar
jemput Diandra. Renopun dekat dengan keluarga Diandra. Banyak teman-teman
sekolah yang iri bahkan mencibir hubungan mereka. Tapi baik Reno dan Diandra
tak pernah ambil pusing atas omongan teman-teman mereka. Banyak juga
teman-teman mereka yang menganggap mereka pasangan yang serasi dan menyetujui
hubungan mereka. Rina yang mendengar kalau Reno dan Diandra sudah berpacaran
semakin membenci Diandra dan rencana untuk mencelakakan Diandra yang sudah
dipikirkannya jauh-jauh hari akan segera dilakukannya lebih cepat.
Hari
ini Diandra pulang sendiri dikarenakan Aulia sedang sakit dan tidak masuk
sekolah sedangkan Reno yang sudah sebulan ini mengantar jemput Diandrapun tidak
bisa mengantar pulang Diandra karena ada rapat OSIS mendadak. Sebenarnya Reno
telah berusaha mengajak Diandra untuk menunggunya sampai rapat OSIS selesai,
tapi Diandra tidak mau karena dia mau pulang lebih awal untuk membantu ibunya
memasak kue karena orderan yang begitu banyak. Dengan sangat terpaksa Reno
memperbolehkan kekasihnya itu pulang sendiri.
Disaat
Diandra sedang menyebrang jalan, tiba-tiba dari arah berlawanan datang sebuah
mobil yang melaju kencang. Diandra yang tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil
yang mendekat kearahnya tetap menggerakkan kursi rodanya dan brukkkk…. Mobil
itu menabrak Diandra hingga Diandra dan kursi rodanya terpental. Kepala
Diandrapun dengan mulusnya menghantam aspal yang keras. Orang-orang yang
berlalu lalang melintasi jalan itu segera mengerumuni tubuh Diandra yang
mengeluarkan banyak darah dikepalanya. Tetapi tidak satupun yang berusaha
menolong Diandra yang terluka parah. Renopun yang baru saja keluar dari pintu
gerbang sekolah segera mendekati kerumunan orang-orang itu dan alangkah
terkejutnya dia bahwa orang yang dikerumuni orang-orang sekitar itu adalah
Diandra kekasihnya. Renopun segera mengangkat tubuh Diandra dan membawanya ke
rumah sakit.
Di
rumah sakit Diandra segera dimasukkan ke unit gawat darurat. Renopun segera
menghubungi orang tua Diandra dan Aulia. Beberapa menit kemudian orang tua
Diandra dan Auliapun datang ke rumah sakit dan menanyakan keadaan Diandra. Tak
lama kemudian dokterpun keluar dari UGD dan memberitahukan bahwa Diandra
mengalami pendarahan yang parah di otak Diandra dan harus segera di operasi
karena kalau tidak nyawa Diandra tidak bisa terselamatkan. Tetapi walaupun
sudah operasi, kemungkinan Diandra mengalami kelumpuhan permanen sangat besar.
Orang tua Diandra, Reno dan Aulia tidak bisa menahan kesedihan ketika mendengar
hal itu, merekapun memutuskan untuk melakukan operasi dengan harapan Diandra
bisa sembuh seperti semula.
Operasipun
dilakukan oleh dokter dan tim medis. Orang tua Diandra, Aulia dan Renopun
berdoa agar operasi Diandra berjalan lancar dan Diandra dapat sembuh seperti
semula. Setelah satu jam menunggu dokterpun keluar dari ruang UGD dan
menerangkan bahwa operasinya berjalan lancar tapi Diandra tetap mengalami kelumpuhan
permanen, cedera diotaknya sangat parah dan mengganggu system syaraf gerak
tubuh Diandra. Mendengar penjelasan dokter, orang tua Diandra, Aulia dan Reno
sangat terpukul melihat Diandra yang biasanya ceria, bisa bergerak kesana
kemari walaupun dia tidak memiliki tangan dan kaki harus mengalami kelumpuhan.
Diandra
dipindahkan dari ruang UGD ke ruang rawat inap. Melihat keadaan Diandra orang
tuanya tak kuasa menahan tangis, Diandra yang mengetahui kalau kondisinya tidak
seperti dulu lagi berusaha memberikan senyuman manisnya dan menyenangkan hati
kedua orang tuanya. Dengan suaranya yang terbata-bata Diandra berusaha
menghibur hati kedua orang tua, sahabat dan kekasihnya itu, Walaupun sebenarnya
dalam hatinya itu dia menangis dan putus asa karena tidak bisa menulis
menggunakan mulut dan kakinya, menggunakan kaki kecilnya untuk menekan tombol
untuk menjalankan kursi rodanya, berbicara kepada orang lain dengan jelas,
melakukan semua aktivitas yang sudah dia pelajari selama bertahun-tahun
hidupnya. Yang ada sekarang hanyalah Diandra yang terbaring tak berdaya dan
semua aktivitas harus dibantu oleh kedua orang tua, sahabat dan kekasihnya itu.
Reno
dan Aulia yang melihat keadaan Diandra seperti itu, merasa bersalah karena pada
saat kejadian itu mereka tidak berada disisi Diandra. Melindungi Diandra dari
penabrak lari itu, untuk menebus semua kesalahan mereka, mereka setiap hari
mengunjungi Diandra di rumahnya, menghibur Diandra dan membantu Diandra
melakukan semua aktivitasnya.
***
Sebulan
kemudian Diandra mengalami sakit yang luar biasa pada kepalanya, orang tua
Diandra yang tidak tega melihat anaknya sakit seperti itu segera membawa dia ke
rumah sakit. Dengan diantar Reno dan Aulia, Diandra kembali masuk ruang UGD. Di
rumah sakit kembali dokter menjelaskan kalau Diandra kembali mengalami
pendarahan di otaknya dan harus di operasi
untuk kedua kalinya. Karena ingin yang terbaik untuk anaknya orang tua
Diandra menyetujui anaknya kembali di operasi. Setelah satu jam mereka menunggu
Diandra operasi akhirnya dokter keluar dari UGD dan menjelaskan kalau operasi
Diandra lancar tapi karena pendarahannya sudah meluas ke area pernafasannya dan
kemungkinan Diandra dapat bertahan hidup hanya beberapa hari. Dokter juga
menyarankan agar Diandra di rawat di rumah sakit, karena Diandra tidak bisa
lepas dari alat bantu pernafasannya. Mendengar penjelasan dokter orang tua
Diandra menangis dan tidak kuasa melihat Diandra yang terbaring lemah di tempat
tidur.
Diandra
yang mengetahui jika hidupnya tak lama lagi, menginginkan untuk dapat menulis
lagi menggunakan mulutnya tanpa alat bantu pernafasan. Semula dokter tidak
mengizinkannya menulis karena takut kalau alat bantu pernafasannya tidak
dipakai kondisi Diandra makin memburuk tapi Diandra meyakinkan dokter kalau dia
tidak akan kenapa-kenapa, akhirnya dokterpun mengalah dan mengizinkan Diandra
untuk menulis. Setelah beberapa jam Diandra menulis, dia mengeluh sakit
dibagian kepalanya dan itu menyebabkan orang tuanya khawatir tapi Diandra
menenangkan hati kedua orang tuanya dan mengatakan kalau dia hanya kelelahan
dan dia ingin tidur.
Esok
paginya seperti biasa ibunya membangunkan Diandra, tetapi selama hampir satu
jam ibunya membangunkan Diandra tetapi tidak ada reaksi dari Diandra. Biasanya
kalau ibunya membangunkan dia, Diandra langsung bangun tetapi hari ini tidak.
Ibunyapun memanggil dokter dan dokterpun memeriksa keadaan Diandra, dengan
sangat menyesal dokter memberitahu kalau Diandra sudah meninggal. Mendengar perkataan
dokter, orang tua, Reno dan Aulia tidak percaya kalau Diandra sudah tidak ada.
Orang tua Diandra dan Aulia menangis sejadi-jadinya dan membangunkan Diandra.
Sedangkan Reno hanya menangis dalam diam. Tetapi takdir berkata lain Diandra
sudah meninggal dan malam itu adalah awal dari tidur panjangnya dan tulisan itu
adalah tulisan terakhir Diandra.
Di
hari pemakaman Diandra semua teman, guru, keluarga menghadiri pemakaman Diandra
termasuk Reno dan Aulia. Mereka semua menangis dan tidak percaya kalau Diandra
sudah tidak ada. Yang ada hanya tulisan, prestasi, senyuman dan semangat
Diandra yang menjadi kenangan terindah bagi orang yang dekat, mengenal dan
mencintai Diandra.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar