Kamis, 10 Oktober 2013

NAMA DIA DIANDRA


Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang sempurna. Mempunyai kedua tangan dan kaki, mempunyai penglihatan yang jelas, pendengaran yang baik, dan dapat berbicara dengan baik dan jelas. Pada saat ibu kita mengandung, ayah dan ibu kita selalu berdoa agar anaknya nanti terlahir selamat, sehat dan memiliki fisik sempurna kepada Sang Pencipta. Tapi tak semua orang tua dititipi anak yang sehat dan sempurna oleh Sang Pencipta, ada sebagian orang tua di dunia ini memiliki anak terlahir tidak normal.
Nama gadis itu Diandra Amelia, dia terlahir dari keluarga sederhana yang sangat sayang dan cinta kepadanya. Walaupun dia terlahir dengan fisik tak sempurna tetapi kedua orang tuanya sabar dalam merawat dan membimbing Diandra. Diandra terlahir tanpa kedua tangan dan kaki, dia hanya punya sebuah kaki kecil sebesar telapak tangan orang dewasa. Orang tuanya menangis ketika mengetahui anaknya tidak mempunyai kaki dan tangan, tapi walaupun begitu mereka menerima dan tidak menyesali kehadiran Diandra sebagai anak mereka. Kedua orang tua Diandra sangat sabar merawat, membimbing dan mengajarinya seperti anak normal lainnya. Dan yang paling penting, orangtua Diandra tidak malu mempunyai anak dengan cacat fisik seperti dia. Karena tidak ingin selalu merepotkan kedua orang tuanya, sejak umur Diandra 5 tahun, Diandra mulai belajar mempergunakan kaki kecil yang dia miliki. Kaki kecil itu dia latih untuk makan, menulis, membaca buku, mengambil minum dan memainkan alat musik. Melihat Diandra berusaha melatih kaki kecilnya untuk melakukan aktivitas manusia pada umumnya, orang tua Diandra berusaha melarangnya. Tetapi Diandra meyakinkan orang tuanya kalau dia mampu mengerjakan aktivitasnya sendiri seperti orang normal pada umumnya.
“Diandra kamu lagi apa? Kalau kamu mau makan, bisa ibu yang suapin kamu. Ga perlu kamu bersusah payah seperti ini”, kata ibu Diandra ketika melihat Diandra berusaha mengambil sendok dengan kaki kecilnya.
“Sudahlah bu tidak apa-apa, aku mau belajar makan sendiri bu. Supaya kalau aku sudah besar nanti aku enggak usah ngerepotin ayah dan ibu terus. Masa sudah dewasa masih disuapin ayah dan ibu, malu dong”, jawab Diandra sambil tersenyum. Mendengar ucapan Diandra yang penuh keyakinan dia bisa mengerjakan aktivitasnya sendiri seperti orang pada umumnya, butiran bening mengalir dari pelupuk mata ibu Diandra.
“Ibu kenapa kok ibu nangis?”, tanya Diandra sambil memberikan lengan bajunya kepada ibunya untuk menghapus air matanya.
“Kasihan kamu nak, kalau saja kamu terlahir normal, kamu enggak akan kesulitan seperti ini. Ibu enggak tega melihat kamu seperti ini”, kata ibu Diandra sambil berurai air mata.
“Sudahlah bu jangan menyesali apa yang sudah Allah berikan sama kita. Syukuri saja ya bu, Allah pasti tau yang terbaik buat kita”, ucap Diandra sambil tersenyum. Ibunya hanya mengangguk kemudian tersenyum.
“Nah gitu dong bu senyum, jangan nangis lagi ya Bu. Diandra sayang sama ibu”, katanya tulus
“Ibu juga sayang sama Diandra”, kata ibu Diandra sambil memeluk tubuh Diandra.
***
Orang tua Diandra menyekolahkan Diandra ke sekolah regular seperti anak pada umumnya. Sebenarnya dia bisa saja masuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan teman-teman yang bernasib sama sepertinya, tapi orang tuanya tidak mau dia bersekolah di SLB dengan alasan Diandra mempunyai hak yang sama seperti anak normal lainnya.
Dari awal masuk sekolah dasar (SD) banyak tetangga yang mencibir dan menghina Diandra karena dia bersekolah di sekolah regular bukan di SLB seperti teman-temannya yang lain. Pada hari pendaftaranpun hampir saja pihak sekolah tidak menerimanya untuk masuk ke sekolah biasa, mereka malah menyarankan kepada orang tua Diandra untuk menyekolahkan Diandra ke sekolah SLB.
“Maaf bu anak ibu tidak bisa kami terima sekolah disini, mungkin ibu bisa mendaftarkan anak ibu di sekolah lain”, kata bapak kepala Sekolah.
“Kenapa pak? Apa karena anak saya seorang disability, sehingga sekolah ini tidak dapat menerima anak saya? Gitu? Atau bapak takut anak saya merepotkan guru dan warga sekolah yang ada di sekolah ini? Dengar ya pak walaupun fisik anak saya tidak sempurna, tapi dari dia umur 5 tahun, dia sudah terlatih untuk mengerjakan semuanya sendiri dan saya yakin dia tidak akan merepotkan guru, teman-teman atau warga sekolah yang berada di sekitar sekolah ini dan satu lagi, bapak juga harus mempertimbangkan kecerdasan Diandra. Diandra itu seorang anak yang cerdas pak, kecerdasan Diandra hampir sama dengan kecerdasan siswa berprestasi di sekolah ini. Mungkin lebih dari mereka, saya yakin bapak tidak akan menyesal menerima murid disability yang memiliki kecerdasan luar biasa seperti Diandra. Jika bapak tidak percaya bapak bisa menyuruh Diandra mengerjakan soal yang bapak tuliskan di white board itu. Kalau misalnya jawaban Diandra satu soal saja salah, saya akan memasukkan Diandra ke SLB seperti yang bapak inginkan tapi kalau Diandra bisa menjawab semua soal yang bapak berikan, bapak harus menerima Diandra bersekolah disini”, kata ibu Diandra.
“Baiklah kalau itu yang ibu mau. Diandra bapak akan menuliskan lima soal untukmu, bapak harap kamu bisa menjawabnya dengan baik”, kata bapak kepala sekolah kepada Diandra. Diandra hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bapak kepala sekolahpun langsung menulis beberapa soal di white board yang ada di depan meja kerjanya. Setelah beberapa menit semua soal sudah selesai beliau tulis, bapak kepala sekolah menghampiri Diandra dan memberikan spidol itu kepada Diandra.
“Ini Diandra spidolnya, tolong kamu jawab semua soal yang ada di white board itu ya”, kata bapak kepala sekolah sambil memberikan spidol itu kepada Diandra. Diandra hanya mengangguk dan mengambil spidol itu dengan mulutnya.
Dengan kaki kecilnya, Diandra berjalan menuju white board yang ada di depannya, Diandrapun menjawab semua soal yang diberikan oleh bapak kepala sekolah itu dengan yakin tanpa ragu, setelah beberapa menit Diandra sudah menyelesaikan semua soal yang diberikan oleh bapak kepala sekolah. Bapak kepala sekolahpun memeriksa semua jawaban dari Diandra dan hasilnya semua jawaban yang Diandra berikan benar semua dan yang lebih menakjubkan tulisan Diandra itu benar-benar rapi dan indah seperti menulis pakai tangan kanan orang normal, padahal dia menulis semua jawaban itu dengan mulutnya. Orang normal saja belum tentu bisa menulis dengan rapi dan indah seperti Diandra.
Umur Diandra waktu itu memang masih 7 tahun dan cuma butuh waktu dua tahun bagi Diandra untuk bisa menulis dengan mulutnya. Untuk anak-anak yang masih berusia tujuh tahun sangat wajar kalau tulisannya itu masih acak-acakan dan kadang tulisannya sulit dimengerti tapi tidak untuk Diandra, dia dianugrahkan karunia yang luar biasa oleh Allah SWT masih berumur 7 tahun Diandra sudah bisa menulis dengan rapi dan indah, padahal menulis dengan mulut itu susah banget apalagi kalau tulisan itu rapi dan indah.
Bapak kepala sekolahpun memperbolehkan Diandra masuk ke sekolah yang dia pimpin. Diandra dan ibunya sangat senang karena Diandra bisa bersekolah di tempat orang normal bersekolah. Di sekolahpun Diandra tak lepas dari cibiran, hinaan dan bullyan teman-temanya karena ketidak normalan fisiknya. Tapi Diandra menanggapinya dengan senyum dan prestasi yang Diandra torehkan.
***
Diandra tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan mempunyai berbagai bakat dan prestasi dalam keterbatasan fisiknya. Dari SD sampai lulus SMP, Diandra selalu mendapatkan nilai tinggi di sekolahnya. Karena tulisannya yang bagus dan rapi, Diandra selalu menjadi wakil sekolahnya dalam lomba karya tulis. Diandra memang suka sekali menulis, banyak karyanya seperti cerpen, puisi dan kaligrafi yang sudah dia hasilkan selalu mendapatkan prestasi tapi masih tahap tingkatan sekolah. Banyak yang menyarankan agar karya-karya Diandra diberikan kepada penerbit untuk diminati orang banyak, tapi Diandra menolak alasannya dia belum yakin kalau karyanya diberikan ke penerbit dan bisa diterima oleh masyarakat. Para guru dan keluarga Diandra sangat bangga akan prestasi  yang Diandra berikan untuk mereka. Teman-teman yang awalnya membully dan meremehkan Diandra kini menjadi kagum terhadap Diandra. Tapi tak jarang juga ada yang iri akan prestasi Diandra.
Hari ini adalah hari pertama semester kedua Diandra belajar efektif  di SMA 1 Jakarta setelah dua minggu mereka libur semester. Dengan ditemani temannya Aulia Dwi Anisa, Diandra berangkat ke sekolah. Aulia merupakan teman Diandra sejak dia duduk dibangku SD, meskipun waktu SD banyak teman-teman yang membully Diandra, tapi tidak halnya dengan Aulia. Saat teman-teman lain membully Diandra, dia justru membela dan berteman dengan Diandra. Persahabatan merekapun berlanjut sampai sekarang SMA.
Seperti biasa Aulia mendorong kursi roda Diandra menuju sekolah. Untungnya Diandra dan Aulia sekelas, jadinya tidak sulit bagi Aulia menjaga dan melindungi Diandra dari bullyan teman-temannya. Bel masuk pelajaran pertama masih setengah jam lagi tapi Diandra dan Aulia sudah ada di kelas.
“Di kita ke kantin dulu yuk, gue lapar nih tadi belum sempet sarapan”, kata Aulia sambil menyimpan tas dibangku tempat dia duduk.
“Pasti gara-gara jemput gue ya, jadi lo gak sempet sarapan? Maafin gue ya Li dari SD sampai sekarang gue selalu ngerepotin lo”, kata Diandra tidak enak.
“Lo gak usah ngomong gitu Di, gue enggak ngerasa direpotin kok, Itu kan gunanya sahabat, selalu ada dalam keadaan susah dan senang. Ya udah yuk kita langsung ke kantin”, kata Aulia sambil membantu Diandra menaruh tasnya diatas meja. Kemudian dia mendorong kursi roda Diandra menuju kantin.
Sebenarnya Aulia tidak perlu bersusah payah mendorong kursi roda Diandra, karena kursi roda yang Diandra miliki, mempunyai tombol otomatis untuk menggerakkan kursi roda itu. Tombol otomatis itu ada di tempat duduk kursi roda itu, Diandra hanya perlu menekan tombol itu dengan kaki kecil yang dia miliki untuk membuat kursi roda itu berjalan dan berhenti. Sekitar 10 menit mereka berjalan menuju kantin, merekapun akhirnya sampai di kantin. Tatapan sinis dan ejekkan menyambut Diandra dan Aulia saat sampai di kantin tapi Aulia dan Diandra tidak mempedulikan tatapan itu, Aulia menghentikan kursi roda Diandra tepat didepan meja nomor dua tak jauh dari pintu masuk kantin.
“Di lo mau pesan apa biar gue yang pesenin?”, tanya Aulia sambil duduk didepan Diandra.
“Enggak usah Li, gue masih kenyang. Lo pesan aja buat lo sendiri”, jawab Diandra.
“Ya sudah gue pesan makanan dulu ya”, kata Aulia sambil berjalan menuju counter bubur ayam. Diandra hanya mengangguk.
Saat menunggu Aulia memesan makanannya, Diandra bertemu dengan kakak kelas yang enam bulan lalu mengerjainya saat MOS.
“Eh ada anak cacat disini, ngapain lo disini? Memang lo bisa makan?”, ledek Rina sambil mentertawakan Diandra. Rina adalah kakak kelasnya yang paling cantik dan popular. Dia juga merupakan anggota OSIS yang ikut dalam pelaksanaan MOS enam bulan yang lalu.
“Enggak kak, aku disini lagi temenin Aulia. Kakak kesini mau sarapan juga ya?”, jawab Diandra ramah.
“Ya iyalah gue kesini mau sarapan, pakai nanya lagi. Lo tuh pura-pura oon atau beneran oon sih. Jangan-jangan otak lo juga cacat lagi sama kaya fisik lo”.
“Eh kak, kakak jangan ngejelekin Diandra kaya gitu. Diandra itu pinter kak malahan lebih pinter daripada kakak. Kalo otak Diandra cacat mana mungkin dia bisa sekolah disini? Mana mungkin juga dari SD sampai sekarang dia selalu menuai prestasi. Otak kakak kali tuh yang cacat”, kata Aulia sambil berjalan menuju Diandra dan Rina.
“Eh lo berani ya ngatain otak gue cacat, lo tau enggak gue itu lebih pinter dari temen lo yang cacat itu. Lo tau siapa yang lo hadapin sekarang? Gue kakak kelas lo dan lo harus menghormati gue”, kata Rina ketus.
“Dasar kakak kelas gila hormat”, ucap Aulia lirih.
‘Udah Li, gak usah ditanggapi klo ditanggapi berarti kita sama kaya mereka. Udah”, kata Diandra kepada Aulia.
“Eh cacat lo bilang apa tadi klo ditanggapi berarti lo sama kaya gue? Hahaha.. kita itu beda kali, lo lihat gue, gue cantik, gue sempurna, gue masih punya tangan dan kaki sedangkan lo? Hahahaha… memang sih wajah lo cantik tapi percuma aja punya wajah cantik tapi cacat yang bisanya ngerepotin orang”.
“Eh mendingan Diandra daripada lo, walaupun dia tidak sempurna secara fisik tapi dia cantik luar dalam. Daripada lo cantik dan sempurna di luar tapi hati lo cacat dan busuk, kakak kelas gila hormat”.
“Lo bilang apa tadi? Gue cantik diluar tapi hati gue cacat? Dasar adik kelas kurang ajar”, kata Rina hendak menampar Aulia tapi ada seseorang yang mencegahnya.
“Lo tuh ya suka banget sih ngebully adik kelas”, kata Reno, ketua OSIS SMA 1 sekaligus kakak kelas Diandra dan Aulia sambil melepas kasar tangan Rina yang digenggamnya tadi.
“Eh Ren, ngapain sih lo mencegah gue untuk nampar adik kelas kurang ajar kaya dia sih? Lo ngebela mereka?”, kata Rina kesal.
“Gue enggak ngebela siapa-siapa disini ya, tapi tindakan lo sudah keterlaluan. Gue cuma takut mereka ngadu ke guru BP dan lo dihukum gitu aja”, kata Reno sambil berlalu pergi.
“Dengar ya urusan gue sama kalian berdua belum selesai terutama lo Aulia Dwi Anisa”, kata Rina sambil berlalu pergi diikuti dengan dayang-dayangnya.
“Li ngapain sih lo ngomong kaya gitu? Udah biarin aja”, kata Diandra saat Rina dan teman-temannya sudah menjauh.
“Lo  bilang biarin? Orang macam mereka harus dilawan Di, biar mereka gak semakin menjadi-jadi menghina lo”, kata Aulia.
“Tapi kan caranya enggak kaya gitu juga Li, kita harus ngelawan mereka dengan otak bukan otot dan emosi. Kalau kita lawan mereka dengan otot dan emosi berarti kita sama saja kaya mereka. Lo lihat sendiri sekarang kak Rina malah makin marah dan kesal sama kita. Yang gue takut lo akan jadi sasaran bullyan mereka”, kata Diandra sedih.
“Bener juga kata lo Di, aduh gue bodoh banget sih. Kenapa sih gue selalu melakukan sesuatu tanpa dipikirin dulu? Besok kita pasti akan jadi “bulan-bulanan” mereka deh. Duh gimana nih Di?”, kata Aulia sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
“Udah lo engga usah khawatir dan takut, apapun yang terjadi gue akan selalu ada disamping lo dan akan membantu lo sebisa gue”.
“Makasih Di, lo memang sahabat gue yang baik banget”, kata Aulia sambil memeluk Diandra.
“Ah udah deh engga usah pake peluk-pelukkan segala. Tuh bubur ayam lo udah datang, cepat makan sebentar lagi bel masuk bunyi”, kata Diandra.
“Ini neng bubur ayamnya”, kata abang tukang bubur ayam sambil meletakkan semangkuk bubur ayam dan segelas air teh di meja.
“Iya makasih ya bang”, kata Aulia. Abang itu hanya mengangguk dan berlalu pergi. Auliapun memakan makanan pesanannya sembari mengobrol dengan Diandra.
***
Ternyata apa yang ditakutkan Diandra benar-benar terjadi, Rina semakin menjadi-jadi membully dia apalagi sahabat satu-satunyapun kena dampak bullyan Rina. Tak hanya mengejek, menghina dan mempermalukan Diandra dan Aulia di depan teman-temannya, Rinapun tidak segan-segan main fisik terhadap Diandra dan Aulia.
Pernah suatu hari Aulia di kunci di dalam kamar mandi sampai jam pulang sekolah, Aulia yang sudah melakukan aktivitasnya di kamar mandi merasa kaget ketika diketahui dia di kunci dari luar, kontan saja Auliapun berteriak-teriak minta tolong tapi karena pelajaran sudah dimulai alhasil tidak ada satu orangpun yang menolongnya. Aulia tidak berteriak lagi karena tenaganya sudah habis, lagipula dia tadi pagi sarapan hanya sedikit dan tadi saat istirahat dia belum sempat jajan-jajan apa-apa. Diandra yang merasa curiga sahabatnya tidak datang-datang sampai jam pulang sekolah, Diandrapun menyusul Aulia ke kamar mandi.
“Li, Aulia, lo ada di dalam Li?”, panggil Diandra saat masuk kedalam kamar mandi dengan kursi rodanya.
Diandrapun membuka satu persatu pintu kamar mandi, tapi nihil tidak ada sosok Aulia. Diandrapun kembali memanggil Aulia. “Li, Aulia lo dimana Li?”.
Mendengar suara Diandra, Aulia langsung menjawab panggilan Diandra. “Di gue di sini Di, gue di kunci dari luar. Bukain Di”.
Diandra yang mendengar teriakkan Aulia segera bergerak menuju kamar mandi paling ujung. “Li, lo ada di dalam?”, tanya Diandra memastikan.
“Iya Di, tolongin gue Di, gue enggak bisa keluar. Gue dikunci dari luar Di”, jawab Aulia.
“Lo di kunci dari luar, tapi di luar enggak ada kuncinya Li. Gimana ya?”.
“Lo minta kunci sama penjaga sekolah aja Di, cepet Di gue lemes banget nih”.
“Enggak akan keburu Li. Ya sudah gini aja gue coba dobrak pake kursi roda gue. Lo tolong jauh dari pintu ya. 1… 2,… 3”.
Diandrapun menggerakkan kursi rodanya mundur dan dengan kakinya yang kecil dia menekan tombol yang ada di dudukkan kusi roda sekuat tenaga dan memajukkan kursi roda itu kearah pintu tapi nihil. Diandrapun mencoba kembali mendobrak pintu kamar mandi itu berulang-ulang. Akhirnya pintu kamar mandi itu berhasil dibuka.
“Di makasih ya, klo enggak ada lo, gue enggak tau gimana jadinya gue nanti”, kata Aulia sambil memeluk sahabatnya itu.
“Iya sama-sama yuk kita pulang”, ajak Diandra. Belum sempat mereka keluar dari kamar mandi itu, mereka sudah di hadang oleh Rina dan kawan-kawan.
“Duh kalian itu benar-benar sahabat sejati, gue jadi terharu melihat persahabatan kalian. Apa lagi tadi seorang gadis cacat membantu sahabatnya keluar dari kamar mandi. Benar-benar mengharukan”, kata Rina sambil pura-pura menangis.
“Maaf kak, kita berdua mau pulang. Dan kakak menghalangi jalan kami, bisa berikan kami jalan kak”, kata Diandra sambil menggerakkan kursi rodanya tapi lagi-lagi dihalangi oleh Rina.
“Duh kalian mau kemana? Gue kan belum selesai sama kalian masa ditinggal gitu aja. Enggak sopan tau”, kata Rina.
“Maaf ya kak, kakak memang enggak denger ya apa yang tadi Diandra bilang? Kami itu mau pulang dan kakak menghalangi jalan kami. Jadi kami mohon kakak minggir dan berikan jalan kepada kami”, kata Aulia mengulang ucapan Diandra.
“Tumben lo bisa bersikap sopan sama gue, padahal kemarin lo kurang ajar sama gue. Lo sudah kapok karena dikurung seharian di kamar mandi”.
“Jangan-jangan yang ngunci Aulia di kamar mandi itu kakak?”, Tanya Diandra.
“Kalau iya kenapa? Lo mau ngasih tau kepala sekolah dan guru-guru kalau gue yang  sudah ngunciin dia di kamar mandi? Boleh aja, tapi lo tau kan akibatnya kalau lo ngelaporin gue ke kepala sekolah. Guys.. pegang cewek kurang ajar ini. Cewek cacat ini biar gue yang urus”.
“Eh lo mau ngapain Diandra? Bener kata gue kemarin lo tuh cantik di luarnya aja tapi hati lo busuk”, kata Aulia sambil meronta-ronta dari pegangan dua bodyguard Rina. Rina tidak menggubris perkataan Aulia, dia mendorong kursi roda Diandra menuju kamar mandi dekat dengan tempat dia berdiri tadi.
“Kak, kakak mau ngapain aku kak?”, tanya Diandra sambil berusaha menghentikan kursi roda dengan menekan tombol yang ada disebelah kaki kecilnya tapi hasilnya nihil. Kursi roda masih melaju sampai depan pintu kamar mandi dan didepan pintu kamar mandi dengan kasar Rena mendorong kursi roda itu hingga Diandra terjatuh dan kursi rodanya menimpa tubuhnya yang mungil.
“Aw…”, rintih Diandra kesakitan. Renapun mengambil kursi roda yang menimpa tubuh Diandra dan menjauhkannya begitu saja.
“Kenapa? Sakit? Itu belum seberapa dibanding sakit hati yang gue rasain. Oh iya tadi lo tanya apa? Gue mau ngapain lo? Gue mau ngelakuin ini sama lo”, kata Rina sambil mengambil segayung air dari bak mandi dan menyiram tubuh mungil Diandra yang ada didepannya.
“Kak kenapa kakak ngelakuin ini sama aku? Kenapa sejak awal masuk sekolah ini kakak kelihatan benci sama aku? Salah aku apa kak?”, kata Diandra dengan suara tersendat-sendat karena Rina terus menerus menyiram tubuh Diandra. Terdengar suara caci maki Aulia yang masih berusaha melepaskan diri dari dayang-dayang Rina. Tapi Rina menggubris semua cacian Aulia dan masih terus berkonsentrasi terhadap Diandra.
“Lo bilang salah lo apa? Salah lo itu lo sekolah di sekolah ini, lo memiliki prestasi yang mampu menyaingi prestasi gue. Dan lo harus tau kalo gue itu engga suka ada orang yang lebih unggul dari gue. Lo baru enam bulan disini, tapi para guru-guru sering ngomongin lo, lo dan lo. Apalagi sekarang lo disukai sama ketua OSIS yang jadi incaran gue selama ini”, jawab Rina masih menyiramkan air ke tubuh Diandra
“Kak Reno suka sama saya kak?”, tanya Diandra gemetar menahan rasa dingin ditubuhnya.
“Iya. Awalnya gue ngira dia suka sama lo itu karena kasihan ngeliat keadaan lo yang cacat dan kagum sama prestasi lo. Tapi ternyata dia suka sama lo lebih dari itu. Gue heran kenapa dia suka sama orang cacat kaya lo dibanding sama gue? Emang sih lo cantik, tapi enggak level lah kalo gue harus saingan sama orang cacat kaya lo”, kata Rina sambil memperhatikan wajah Diandra yang sudah basah karena disiram terus menerus oleh Rina. Terlihat Diandra sangat kedinginan, tapi Rina terus menerus membasahi tubuh Diandra yang sudah basah kuyup itu tanpa belas kasihan.
Aulia yang sudah terbebas dari dayang-dayang Rina segera berlari kearah Diandra dan memeluk Diandra untuk melindunginya dari siraman air Rina. “Diandra lo enggak apa-apakan?”, tanya Aulia. Diandra hanya menggeleng dengan tubuh yang gemetar, dia tidak kuat berbicara karena tubuhnya semakin kedinginan.
“Rin, lo gila. Sekarang gue mohon lo berhenti menyiram Diandra kaya gini. lo lihat dia udah kedinginan Rin, klo lo enggak mau berhenti, gue akan teriak minta tolong. TOLONG…. TOLONG….”,    teriak Aulia.
“Lo teriak aja sampai suara lo habis, enggak bakalan ada yang dengar. Semua murid di sekolah ini sudah pulang. Gue enggak peduli cewek cacat ini kedinginan atau enggak, gue mau dia mati. Klo dia mati, itu berarti enggak ada saingan lagi buat gue jadi siswa berprestasi di sekolah ini dan gue bisa dapatin Reno”, kata Rina semakin menjadi-jadi menyiram tubuh Aulia dan Diandra.
Ternyata teriakan Aulia ada hasilnya juga, teriakan Aulia didengar oleh dua orang cowok yang kebetulan lewat depan kamar mandi wanita itu. Dua orang itu adalah Reno dan Rio. Mendengar teriakan Aulia, Reno dan Riopun masuk kamar mandi itu, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat apa yang dilakukan oleh Rina terhadap Diandra dan Aulia.
“Rina berhenti…”, teriak Reno hingga membuat Rina dan para dayang-dayangnya kaget. Tanpa mendengar penjelasan Rina, Reno langsung berlari kearah Diandra dan Aulia. Melihat Reno, Aulia langsung melepaskan pelukannya dan dengan sigap Reno membuka jaketnya untuk menutupi tubuh Diandra yang basah kuyup, hal yang sama juga dilakukan Rio kepada Aulia. Tanpa basa basi Renopun menggendong tubuh Diandra dan membawanya keluar.
“Ren, dengerin dulu penjelasan gue..”, kata Rina menghentikan langkah Reno.
“Gue akan laporin semua kejahatan lo ke kepala sekolah dan lo bisa jelasin semuanya ke beliau”, kata Reno sambil terus berjalan meninggalkan Rina. Disusul oleh Aulia dan Rio.
***
Keesokkan harinya Rina dipanggil ke kantor kepala sekolah atas laporan Reno karena telah mencelakakan Diandra. Di kantor kepala sekolah Aulia dan Diandra yang sebagai korban menjelaskan semua yang dilakukan Rina kepada mereka. Rinapun menjelaskan kenapa dia bisa berbuat seperti itu kepada Diandra dan Aulia, alasannya sederhana yaitu cemburu dan iri yang bisa menggelapkan mata hati seseorang. Karena tindakannya itu Rina diberi hukuman yaitu dikeluarkan dari sekolah. Tapi banyak yang tidak setuju Rina dikeluarkan dari sekolah dengan alasan Rina adalah salah satu siswa berprestasi di sekolah SMA 1. Akhirnya bapak kepala sekolah hanya memberikan hukuman yaitu Rina di skors selama seminggu, dengan catatan kalau dia masih melakukan tindakan itu lagi mau tidak mau dia dikeluarkan dari sekolah. Rina menerima keputusan itu dengan rasa amarah yang memuncak terhadap Diandra dan Aulia. Diapun punya rencana lain untuk mencelakakan Diandra.
Selama Rina mendapatkan hukuman semua keadaan kembali seperti biasa, tapi tidak dengan hubungan Reno dan Diandra. Sejak kejadian itu Reno dan Diandra menjadi dekat, tanpa ragu Renopun menyatakan perasaannya kepada Diandra. Semula Diandra menolak permintaan Reno untuk menjadi kekasihnya karena Diandra takut kalau Reno merasa malu mempunyai kekasih yang fisiknya tidak sempurna seperti dirinya. Tapi karena Reno dan Aulia meyakinkan Diandra kalau Reno mencintai Diandra bukan dari segi fisik melainkan dari hati yang cantik dan tulus dari Diandra, akhirnya Diandrapun menerima Reno sebagai kekasihnya.
***
Sudah sebulan ini Diandra menjadi kekasih seorang ketua OSIS di sekolahnya. Dalam keadaan apapun mereka selalu bersama. Tak jarang pula Reno selalu mengantar jemput Diandra. Renopun dekat dengan keluarga Diandra. Banyak teman-teman sekolah yang iri bahkan mencibir hubungan mereka. Tapi baik Reno dan Diandra tak pernah ambil pusing atas omongan teman-teman mereka. Banyak juga teman-teman mereka yang menganggap mereka pasangan yang serasi dan menyetujui hubungan mereka. Rina yang mendengar kalau Reno dan Diandra sudah berpacaran semakin membenci Diandra dan rencana untuk mencelakakan Diandra yang sudah dipikirkannya jauh-jauh hari akan segera dilakukannya lebih cepat.
Hari ini Diandra pulang sendiri dikarenakan Aulia sedang sakit dan tidak masuk sekolah sedangkan Reno yang sudah sebulan ini mengantar jemput Diandrapun tidak bisa mengantar pulang Diandra karena ada rapat OSIS mendadak. Sebenarnya Reno telah berusaha mengajak Diandra untuk menunggunya sampai rapat OSIS selesai, tapi Diandra tidak mau karena dia mau pulang lebih awal untuk membantu ibunya memasak kue karena orderan yang begitu banyak. Dengan sangat terpaksa Reno memperbolehkan kekasihnya itu pulang sendiri.
Disaat Diandra sedang menyebrang jalan, tiba-tiba dari arah berlawanan datang sebuah mobil yang melaju kencang. Diandra yang tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil yang mendekat kearahnya tetap menggerakkan kursi rodanya dan brukkkk…. Mobil itu menabrak Diandra hingga Diandra dan kursi rodanya terpental. Kepala Diandrapun dengan mulusnya menghantam aspal yang keras. Orang-orang yang berlalu lalang melintasi jalan itu segera mengerumuni tubuh Diandra yang mengeluarkan banyak darah dikepalanya. Tetapi tidak satupun yang berusaha menolong Diandra yang terluka parah. Renopun yang baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah segera mendekati kerumunan orang-orang itu dan alangkah terkejutnya dia bahwa orang yang dikerumuni orang-orang sekitar itu adalah Diandra kekasihnya. Renopun segera mengangkat tubuh Diandra dan membawanya ke rumah sakit.
Di rumah sakit Diandra segera dimasukkan ke unit gawat darurat. Renopun segera menghubungi orang tua Diandra dan Aulia. Beberapa menit kemudian orang tua Diandra dan Auliapun datang ke rumah sakit dan menanyakan keadaan Diandra. Tak lama kemudian dokterpun keluar dari UGD dan memberitahukan bahwa Diandra mengalami pendarahan yang parah di otak Diandra dan harus segera di operasi karena kalau tidak nyawa Diandra tidak bisa terselamatkan. Tetapi walaupun sudah operasi, kemungkinan Diandra mengalami kelumpuhan permanen sangat besar. Orang tua Diandra, Reno dan Aulia tidak bisa menahan kesedihan ketika mendengar hal itu, merekapun memutuskan untuk melakukan operasi dengan harapan Diandra bisa sembuh seperti semula.
Operasipun dilakukan oleh dokter dan tim medis. Orang tua Diandra, Aulia dan Renopun berdoa agar operasi Diandra berjalan lancar dan Diandra dapat sembuh seperti semula. Setelah satu jam menunggu dokterpun keluar dari ruang UGD dan menerangkan bahwa operasinya berjalan lancar tapi Diandra tetap mengalami kelumpuhan permanen, cedera diotaknya sangat parah dan mengganggu system syaraf gerak tubuh Diandra. Mendengar penjelasan dokter, orang tua Diandra, Aulia dan Reno sangat terpukul melihat Diandra yang biasanya ceria, bisa bergerak kesana kemari walaupun dia tidak memiliki tangan dan kaki harus mengalami kelumpuhan.
Diandra dipindahkan dari ruang UGD ke ruang rawat inap. Melihat keadaan Diandra orang tuanya tak kuasa menahan tangis, Diandra yang mengetahui kalau kondisinya tidak seperti dulu lagi berusaha memberikan senyuman manisnya dan menyenangkan hati kedua orang tuanya. Dengan suaranya yang terbata-bata Diandra berusaha menghibur hati kedua orang tua, sahabat dan kekasihnya itu, Walaupun sebenarnya dalam hatinya itu dia menangis dan putus asa karena tidak bisa menulis menggunakan mulut dan kakinya, menggunakan kaki kecilnya untuk menekan tombol untuk menjalankan kursi rodanya, berbicara kepada orang lain dengan jelas, melakukan semua aktivitas yang sudah dia pelajari selama bertahun-tahun hidupnya. Yang ada sekarang hanyalah Diandra yang terbaring tak berdaya dan semua aktivitas harus dibantu oleh kedua orang tua, sahabat dan kekasihnya itu.
Reno dan Aulia yang melihat keadaan Diandra seperti itu, merasa bersalah karena pada saat kejadian itu mereka tidak berada disisi Diandra. Melindungi Diandra dari penabrak lari itu, untuk menebus semua kesalahan mereka, mereka setiap hari mengunjungi Diandra di rumahnya, menghibur Diandra dan membantu Diandra melakukan semua aktivitasnya.
***
Sebulan kemudian Diandra mengalami sakit yang luar biasa pada kepalanya, orang tua Diandra yang tidak tega melihat anaknya sakit seperti itu segera membawa dia ke rumah sakit. Dengan diantar Reno dan Aulia, Diandra kembali masuk ruang UGD. Di rumah sakit kembali dokter menjelaskan kalau Diandra kembali mengalami pendarahan di otaknya dan harus di operasi  untuk kedua kalinya. Karena ingin yang terbaik untuk anaknya orang tua Diandra menyetujui anaknya kembali di operasi. Setelah satu jam mereka menunggu Diandra operasi akhirnya dokter keluar dari UGD dan menjelaskan kalau operasi Diandra lancar tapi karena pendarahannya sudah meluas ke area pernafasannya dan kemungkinan Diandra dapat bertahan hidup hanya beberapa hari. Dokter juga menyarankan agar Diandra di rawat di rumah sakit, karena Diandra tidak bisa lepas dari alat bantu pernafasannya. Mendengar penjelasan dokter orang tua Diandra menangis dan tidak kuasa melihat Diandra yang terbaring lemah di tempat tidur.
Diandra yang mengetahui jika hidupnya tak lama lagi, menginginkan untuk dapat menulis lagi menggunakan mulutnya tanpa alat bantu pernafasan. Semula dokter tidak mengizinkannya menulis karena takut kalau alat bantu pernafasannya tidak dipakai kondisi Diandra makin memburuk tapi Diandra meyakinkan dokter kalau dia tidak akan kenapa-kenapa, akhirnya dokterpun mengalah dan mengizinkan Diandra untuk menulis. Setelah beberapa jam Diandra menulis, dia mengeluh sakit dibagian kepalanya dan itu menyebabkan orang tuanya khawatir tapi Diandra menenangkan hati kedua orang tuanya dan mengatakan kalau dia hanya kelelahan dan dia ingin tidur.
Esok paginya seperti biasa ibunya membangunkan Diandra, tetapi selama hampir satu jam ibunya membangunkan Diandra tetapi tidak ada reaksi dari Diandra. Biasanya kalau ibunya membangunkan dia, Diandra langsung bangun tetapi hari ini tidak. Ibunyapun memanggil dokter dan dokterpun memeriksa keadaan Diandra, dengan sangat menyesal dokter memberitahu kalau Diandra sudah meninggal. Mendengar perkataan dokter, orang tua, Reno dan Aulia tidak percaya kalau Diandra sudah tidak ada. Orang tua Diandra dan Aulia menangis sejadi-jadinya dan membangunkan Diandra. Sedangkan Reno hanya menangis dalam diam. Tetapi takdir berkata lain Diandra sudah meninggal dan malam itu adalah awal dari tidur panjangnya dan tulisan itu adalah tulisan terakhir Diandra.
Di hari pemakaman Diandra semua teman, guru, keluarga menghadiri pemakaman Diandra termasuk Reno dan Aulia. Mereka semua menangis dan tidak percaya kalau Diandra sudah tidak ada. Yang ada hanya tulisan, prestasi, senyuman dan semangat Diandra yang menjadi kenangan terindah bagi orang yang dekat, mengenal dan mencintai Diandra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar