Banyak orang
berpikir bekerja di luar negeri itu enak, punya banyak uang, peluang untuk
mendapatkan pekerjaan yang layak itu mudah karena disana lapangan pekerjaan itu
lebih banyak dibandingkan di negeri sendiri dan gajinya lebih besar. Tapi itu
bagi orang yang punya keterampilan dan keahlian yang memadai. Tapi bagi orang
sepertiku yang hanya lulusan SMA dan bekal keterampilan seadanya, aku hanya
bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang.
Namaku Yani Setiawan, aku terlahir
dari ibu yang hanya penjual kue lapis dan gorengan di daerah Marga, Ciamis,
Jawa Barat dan seorang ayah yang kerjaan hanya mabuk-mabukkan, berjudi dan main
perempuan dan sering membuat ibuku menangis karena sering dipukuli oleh ayahku.
Aku anak sulung dari tiga bersaudara, adikku bernama Rian dan Rendi yang masih
duduk di bangku TK. Sejak kecil aku sering membantu ibu membuat kue lapis dan
gorengan dan menjajakan dagangan ibu di sekolah setiap ibu tidak bisa menjual
dagangannya. Aku juga sudah sering melihat ibuku kesakitan karena ayah selalu
memukuli ibu dengan atau tanpa alasan. Uang dari hasil menjual gorengan dan kue
lapis selalu diambil oleh ayah untuk membeli minuman keras dan berjudi.
“Ayah pulang dalam keadaan mabuk
lagi? Kenapa sih ayah enggak berhenti saja minum minuman keras itu? Minuman itu
hanya mengganggu kesehatan ayah”, kata ibu ketika ayah pulang dalam kondisi
yang masih sama dari hari-hari sebelumnya.
“Aaaarggh, tau apa kamu tentang hal
itu? Kamu itu hanya wanita dan tak berguna, untuk apa kamu menasihati saya
seperti itu. Hah…”.
“Tapi ayah, mabuk-mabukkan, berjudi
itu enggak ada gunanya ayah. Mendingan uangnya untuk biaya sekolah anak-anak
kita. Anak-anak kita masih kecil dan masih bituh banyak biaya”.
“Aaahh.. Aku tidak peduli sama
anak-anak itu, anak-anak itu hanya membuat repot. Daripada kamu terus menerus mengoceh
yang enggak jelas, mending sana siapin aku makan, aku lapar”, kata ayah sambil
mendorong ibu hingga jatuh tersungkur. Aku yang melihat kejadian itu segera
saja membantu ibu.
“Ayah jahat, ayah enggak punya
perasaan”, kataku sambil membantu ibu berdiri.
“Dasar anak kurang ajar, anak tidak
berguna”, kata ayah hendak menamparku tapi dengan cepat ibu menahan tangan ayah
yang akan membuat bekas merah di pipiku.
Ibupun
membimbingku menuju ke dapur untuk membuat makanan untuk ayahku. Dan lagi-lagi
ayah marah kepada ibu karena ibu hanya menyiapkan sepiring nasi dan telur
dadar, entah mengapa semua yang dilakukan ibu selalu salah dimata ayah. Aku
selalu memberi saran kepada ibu untuk pergi meninggalkan ayah dan tinggal di
rumah nenekku atau melaporkan tindakkan ayah ke polisi atas kasus kekerasan
dalam rumah tangga karena tak tega melihat ibu terus-terusan dimarahi dan
dipukuli oleh ayah, tetapi ibu selalu menolak dengan alasan kasihan melihat aku
dan kedua adikku hidup tanpa ayah. Tapi bagiku percuma saja punya ayah, tapi
tidak bisa menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anaknya, mending aku
tidak punya ayah sekalian.
Saat aku SMP kelas 2 ibu bercerai
dengan ayah, karena ibu melihat ayah sedang berduaan di kamar dengan cewek
lain. Hal itu membuat ibu sangat sakit hati, ibu bisa menahan rasa sakit akibat
tamparan di pipi atau caci maki ayah yang selalu tidak enak di telinga dan
dihati ibu, tapi kalau berbagi dengan wanita lain, ibu tak sanggup. Setelah
hakim menyetujui perceraian ayah dan ibu, ibu memiliki hak asuh atas aku dan
kedua adikku dan ibu kembali ke rumah nenekku di daerah Tambaksari.
***
Hari ini adalah bulan ke dua belas aku
bekerja di rumah seorang pengusaha asal Pyongyang Korea Utara. Sejak lulus SMA
aku memutuskan untuk menjadi TKI dan meninggalkan ibu, nenek, kakek dan kedua
adikku di Indonesia. Aku tidak sendiri bekerja disini, aku ditemani oleh Reni
seorang TKI asal Manado. Reni lebih dulu bekerja di rumah ini, sudah hampir dua
tahun dia bekerja di rumah tuan Kim Hyoung.
Awalnya aku mengira bahwa bekerja
disini sangat menyenangkan, karena aku beruntung mempunyai majikan yang baik.
Setiap hari pekerjaanku hanya membereskan rumah mewah ini, menyiapkan keperluan
majikan-majikanku ketika mereka berada di rumah. Memang tuan dan nyonya Kim
hanya seminggu bahkan sebulan sekali tinggal di rumah ini, mereka terlalu sibuk
bekerja di luar negeri bahkan mungkin tak sempat untuk beristirahat di rumah
mewah mereka ini. Tapi ada sedikit keanehan di rumah mewah ini yaitu aku tidak
melihat sosok anak dari tuan dan nyonya Kim. Tapi Reni menjelaskan kalau anak
tuan Kim itu sedang kuliah di Jerman.
Hari ini nona muda Kim Rae Neul
datang dari Jerman, aku dan Reni telah bersiap-siap untuk menyambut nona Kim.
Dia itu cewek yang sangat cantik tapi sayang kecantikkannya itu tidak sesuai
dengan kelakuannya yang kasar terhadapku dan Reni. Sambutanku dan Reni yang
ramah disambut oleh sebuah lemparan tas dan koper kearahku dan Reni.
“Dangsin-eun
sinsoghage jab-abang-eulo nae mulgeon-eul neoh-eo(1)”, kata Nona
Kim kasar kearahku.
Aku hanya melamun ketika dia
berbicara bahasa korea seperti itu, aku tidak mengerti dia berbicara apa karena
tuan dan nyonya Park selalu berkomunikasi denganku dan Reni memakai bahasa
Inggris. Reni yang melihatku hanya melamun segera menyenggol lenganku. Reni
yang lebih memahami dan mengerti bahasa Korea dibanding aku segera
memberitahuku nona manis tapi kasar ini menyuruhku apa. “Dia bilang kamu ambil
dan taruh barang-barangnya ke kamar”, bisik Reni. Aku hanya mengangguk.
“Iyu
do chwal-yeong. Ppaleun. Geuligo dangsin-eun naleul wihaetteugeoun mul
mog-yog-eul junbihaejuseyo, nae mom eun tteugeobgo galyeowo(2)”,
katanya kemudian. Aku hanya mengangguk dan segera berlari menuju mobil dan
mengambil semua barang-barang untuk dimasukkan ke kamar nona muda kasar itu.
Sedangkan Reni, aku tidak tau dia kemana.
Ternyata kedatangan nona Kim Rae
Neul membawa penderitaan bagiku dan Reni. Semula keadaan yang nyaman tanpa ada
kata-kata kasar dari kedua majikanku berubah menjadi penuh penderitaan. Hari-hari
terus berlanjut dan aku sering mendengar kata-kata kasar yang keluar dari bibir
nona Kim, tak jarang kata-kata tersebut disertai dengan perlakuan kasar setiap
aku dan Reni melakukan kesalahan. Seperti hari ini dia menyiram muka Reni
dengan air kopi panas yang sudah dibuatkan Reni untuknya.
“Keopi
neun mueos-ibnikka? Naneun na ege keopileul mandeulgi wihae seoltang keopi
bog-yonglyang e majge haeyahandago malhan. Najung-e dangsin-eun deo na-eun i
boda deo manh-eun keopileul mandeul(3)”, kata Nona Kim sambil
melemparkan gelas itu kearah Reni. Untung saja gelas itu mengarah ke baju Reni
jadi tidak pecah.
“Sorry miss, why do you treat Reni like this? If artificial
Reni bad you coffee why not just make your own coffee?(4)”,
kataku sambil membantu Reni berdiri.
“What did you say? You told me to make coffee
by yourself? Basic insolent maid, if
I make my own coffee and what do you work?
You on the
payroll to handle
the chores like this(5)”.
“What
do you said was true
lady, but if
there is one
it's our job
to talk about good, don’t rough like
this way. Nona
was studying abroad but do not miss manners taught
in schools miss?(6)”,
kataku geram.
“You really cheeky maid, how dare you
say i do not know manners. You want me fired, hah(7)”, kata nona Kim sambil menampar
pipiku. Darahku langsung mendidih baru kali ini aku ditampar sama seorang cewek
cantik tapi kasar kaya gini, ibuku saja yang seorang perempuan tidak berani
menamparku. Aku ingin membalas semua omongan dan kelakuan tapi Reni menahanku,
diapun meminta maaf atas semua perkataanku kepada nona Kim dan kembali ke dapur
untuk membuatkan kopi untuk nona kasar itu.
Sudah hampir dua tahun aku bekerja
di rumah ini dan berarti sudah hampir setahun pula aku merasakan tamparan,
pukulan bahkan cacian yang menyakitkan dari nona Kim. Dan hari ini adalah hari
terakhir aku dan Reni menerima kekasaran dari nona Kim. Pagi-pagi sekali dia
sudah berteriak kepadaku untuk menyetrika bajunya karena dia akan pergi ke
pesta siang nanti. Aku pun melaksanakan perintahnya dan menyetrika bajunya tapi
karena aku lupa mematikan kompor saat aku memasak air tadi, akupun meninggalkan
setrikaanku dan beralih ke dapur, tetapi saat aku kembali ternyata baju bagus
nona Kim sudah berlubang karena aku meletakkan setrikaan itu tepat diatas baju
nona Kim dengan bagian panasnya dibawah. Alhasil nona Kim yang mengetahui baju
kesayangannya itu berlubang karena kecerobohanku marah dan hendak membakar
tanganku dengan setrikaan yang panas. Tapi aku berhasil menghindar dan berlari
ke kamar. Tak lupa mengunci pintu lalu aku membereskan semua barang-barangku
dan barang-barang Reni. Setelah selesai aku berlari menuju Reni yang sedang
menjemur pakaian.
“Kita pergi dari sini”, kataku
sambil menarik tangan Reni dan melepaskan baju basah yang ada di tangannya.
“Maksud kamu apa? Terus mengapa tadi
nona Kim marah-marah?”, tanya Reni bingung.
“Nanti aku jelasin, ayo cepat keburu
nona kasar itu kesini. Kamu enggak mau kan jadi korban kekasaran dia terus? Ayo
kita pergi dari sini”.
“Tapi aku tidak enak sama tuan dan
nyonya Kim, terus nanti aku kerja dimana lagi? Kan kamu tau gaji di sini itu
lumayan, baru dua tahun saja aku bekerja disini aku bisa merenovasi rumahku di
kampung. Aku butuh lebih banyak uang lagi karena aku sudah janji, aku akan
menaikan haji kedua orang tuaku”, kata Reni sambil menghalangiku.
“Uang dan pekerjaan dapat dicari
lagi, kamu mau kamu mati sia-sia disini dan kamu mau orang tuamu sedih karena
kamu pulang ke Indonesia hanya tinggal sebuah nama dengan tubuhmu yang sudah
kaku bahkan membusuk? Soal tuan Kim, aku sudah meninggalkan surat di kamar yang
isinya pengunduran diri bekerja di rumah ini. Ayo cepat”, kataku sambil menarik
tangan Reni. Tapi usaha kami melarikan diri gagal karena di depan kami sudah
berdiri sosok cewek anggun tapi kasar itu.
Dengan kasar dia menarik rambutku
dan membawaku masuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi dia menenggelamkan
kepalaku kedalam bak yang berisi air penuh. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
karena dia terus menerus menenggelamkan kepalaku hingga nafasku terasa sesak
kecuali hanya berdoa semoga hari ini bukan hari terakhir hidupku. Reni yang
melihat penderitaanku terus berusaha untuk menyelamatkanku, tapi belum sempat
dia menyelamatkanku, dia sudah di dorong kasar oleh nona Kim hingga kepalanya
terluka dan mengeluarkan banyak darah karena terbentur kerasnya tembok kamar
mandi. Tapi aku dan Reni beruntung karena tuan dan nyonya Kim datang dan
melihat sendiri perlakuan anaknya terhadapku dan Reni. Mereka menyelamatkanku
dan Reni dan mereka memarahi habis-habisan nona Kim. Setelah itu mereka meminta
maaf kepada kami atas perlakuan nona Kim dan membayar semua pengobatan Reni
yang terluka parah di bagian kepala. Mereka memang majikan yang baik, setelah
membayar semua pengobatan Reni sampai sembuh, merekapun mengizinkan kami pulang
kembali ke Indonesia sedangkan nona Kim membayar semua kejahatannya terhadap
kami dengan mendekam di sel tahanan. Karena menurut hukum di Korea orang yang
melakukan tindak kekerasan atau kejahatan sampai korban terluka parah apalagi
sampai meninggal harus dihukum sesuai kejahatannya.
Hari ini tepat setahun aku kembali
ke Indonesia. Uang yang aku peroleh dari bekerja di rumah tuan Kim aku pakai
sebagai modal usaha ibuku dan biaya sekolah kedua adikku. Alhamdulillah usahaku
lancar, kedua adikku bisa sekolah sampai perguruan tinggi dan aku masih sempat
membahagiakan ibuku.
***
NB :
NB :
Ket
: (1) cepat kamu ambil dan taruh barang-barangku ke kamar,
(2)
kok malah bengong, cepat. Dan kamu tolong siapkan air panas untukku mandi,
badanku sudah gerah dan gatal
(3)
kopi apaan ini? Aku kan sudah bilang kalau mau membuatkan kopi untukku takaran
gula dan kopinya harus pas. Cepat kamu bikin kopi baru yang lebih enak dari
ini.
(4)
maaf nona mengapa kau perlakukan Reni seperti ini? Kalau kopi buatan Reni tidak
enak kenapa nona tidak buat sendiri saja kopi itu?
(5)
Apa kamu bilang? kamu menyuruh saya bikin kopi ini sendiri? dasar pembantu
kurang ajar, kalau saya bikin kopi saya sendiri lalu kerjaan kalian apa? kalian
di gaji itu untuk disuruh-suruh seperti ini
(6)
apa yang kamu bilang itu benar nona, tapi kalau ada pekerjaan kami yang salah
itu harus dibicarakan baik-baik, bukan cara kasar seperti ini. Nona itu sekolah
di luar negeri tapi apakah nona tidak diajarkan sopan santun di sekolah nona?
(7) kamu benar-benar pembantu kurang ajar, kamu berani-beraninya
mengatakan saya tak tau sopan santun.
Kamu ingin saya pecat. Hah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar