Senin, 30 September 2013

SUKA DUKAKU SEBAGAI PAHLAWAN DEVISA


Banyak orang berpikir bekerja di luar negeri itu enak, punya banyak uang, peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak itu mudah karena disana lapangan pekerjaan itu lebih banyak dibandingkan di negeri sendiri dan gajinya lebih besar. Tapi itu bagi orang yang punya keterampilan dan keahlian yang memadai. Tapi bagi orang sepertiku yang hanya lulusan SMA dan bekal keterampilan seadanya, aku hanya bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang.
            Namaku Yani Setiawan, aku terlahir dari ibu yang hanya penjual kue lapis dan gorengan di daerah Marga, Ciamis, Jawa Barat dan seorang ayah yang kerjaan hanya mabuk-mabukkan, berjudi dan main perempuan dan sering membuat ibuku menangis karena sering dipukuli oleh ayahku. Aku anak sulung dari tiga bersaudara, adikku bernama Rian dan Rendi yang masih duduk di bangku TK. Sejak kecil aku sering membantu ibu membuat kue lapis dan gorengan dan menjajakan dagangan ibu di sekolah setiap ibu tidak bisa menjual dagangannya. Aku juga sudah sering melihat ibuku kesakitan karena ayah selalu memukuli ibu dengan atau tanpa alasan. Uang dari hasil menjual gorengan dan kue lapis selalu diambil oleh ayah untuk membeli minuman keras dan berjudi.
            “Ayah pulang dalam keadaan mabuk lagi? Kenapa sih ayah enggak berhenti saja minum minuman keras itu? Minuman itu hanya mengganggu kesehatan ayah”, kata ibu ketika ayah pulang dalam kondisi yang masih sama dari hari-hari sebelumnya.
            “Aaaarggh, tau apa kamu tentang hal itu? Kamu itu hanya wanita dan tak berguna, untuk apa kamu menasihati saya seperti itu. Hah…”.
            “Tapi ayah, mabuk-mabukkan, berjudi itu enggak ada gunanya ayah. Mendingan uangnya untuk biaya sekolah anak-anak kita. Anak-anak kita masih kecil dan masih bituh banyak biaya”.
            “Aaahh.. Aku tidak peduli sama anak-anak itu, anak-anak itu hanya membuat repot. Daripada kamu terus menerus mengoceh yang enggak jelas, mending sana siapin aku makan, aku lapar”, kata ayah sambil mendorong ibu hingga jatuh tersungkur. Aku yang melihat kejadian itu segera saja membantu ibu.
            “Ayah jahat, ayah enggak punya perasaan”, kataku sambil membantu ibu berdiri.
            “Dasar anak kurang ajar, anak tidak berguna”, kata ayah hendak menamparku tapi dengan cepat ibu menahan tangan ayah yang akan membuat bekas merah di pipiku.
Ibupun membimbingku menuju ke dapur untuk membuat makanan untuk ayahku. Dan lagi-lagi ayah marah kepada ibu karena ibu hanya menyiapkan sepiring nasi dan telur dadar, entah mengapa semua yang dilakukan ibu selalu salah dimata ayah. Aku selalu memberi saran kepada ibu untuk pergi meninggalkan ayah dan tinggal di rumah nenekku atau melaporkan tindakkan ayah ke polisi atas kasus kekerasan dalam rumah tangga karena tak tega melihat ibu terus-terusan dimarahi dan dipukuli oleh ayah, tetapi ibu selalu menolak dengan alasan kasihan melihat aku dan kedua adikku hidup tanpa ayah. Tapi bagiku percuma saja punya ayah, tapi tidak bisa menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anaknya, mending aku tidak punya ayah sekalian.
            Saat aku SMP kelas 2 ibu bercerai dengan ayah, karena ibu melihat ayah sedang berduaan di kamar dengan cewek lain. Hal itu membuat ibu sangat sakit hati, ibu bisa menahan rasa sakit akibat tamparan di pipi atau caci maki ayah yang selalu tidak enak di telinga dan dihati ibu, tapi kalau berbagi dengan wanita lain, ibu tak sanggup. Setelah hakim menyetujui perceraian ayah dan ibu, ibu memiliki hak asuh atas aku dan kedua adikku dan ibu kembali ke rumah nenekku di daerah Tambaksari.
***
            Hari ini adalah bulan ke dua belas aku bekerja di rumah seorang pengusaha asal Pyongyang Korea Utara. Sejak lulus SMA aku memutuskan untuk menjadi TKI dan meninggalkan ibu, nenek, kakek dan kedua adikku di Indonesia. Aku tidak sendiri bekerja disini, aku ditemani oleh Reni seorang TKI asal Manado. Reni lebih dulu bekerja di rumah ini, sudah hampir dua tahun dia bekerja di rumah tuan Kim Hyoung.
            Awalnya aku mengira bahwa bekerja disini sangat menyenangkan, karena aku beruntung mempunyai majikan yang baik. Setiap hari pekerjaanku hanya membereskan rumah mewah ini, menyiapkan keperluan majikan-majikanku ketika mereka berada di rumah. Memang tuan dan nyonya Kim hanya seminggu bahkan sebulan sekali tinggal di rumah ini, mereka terlalu sibuk bekerja di luar negeri bahkan mungkin tak sempat untuk beristirahat di rumah mewah mereka ini. Tapi ada sedikit keanehan di rumah mewah ini yaitu aku tidak melihat sosok anak dari tuan dan nyonya Kim. Tapi Reni menjelaskan kalau anak tuan Kim itu sedang kuliah di Jerman.
            Hari ini nona muda Kim Rae Neul datang dari Jerman, aku dan Reni telah bersiap-siap untuk menyambut nona Kim. Dia itu cewek yang sangat cantik tapi sayang kecantikkannya itu tidak sesuai dengan kelakuannya yang kasar terhadapku dan Reni. Sambutanku dan Reni yang ramah disambut oleh sebuah lemparan tas dan koper kearahku dan Reni.
            Dangsin-eun sinsoghage jab-abang-eulo nae mulgeon-eul neoh-eo(1)”, kata Nona Kim kasar kearahku.
            Aku hanya melamun ketika dia berbicara bahasa korea seperti itu, aku tidak mengerti dia berbicara apa karena tuan dan nyonya Park selalu berkomunikasi denganku dan Reni memakai bahasa Inggris. Reni yang melihatku hanya melamun segera menyenggol lenganku. Reni yang lebih memahami dan mengerti bahasa Korea dibanding aku segera memberitahuku nona manis tapi kasar ini menyuruhku apa. “Dia bilang kamu ambil dan taruh barang-barangnya ke kamar”, bisik Reni. Aku hanya mengangguk.
            Iyu do chwal-yeong. Ppaleun. Geuligo dangsin-eun naleul wihaetteugeoun mul mog-yog-eul junbihaejuseyo, nae mom eun tteugeobgo galyeowo(2)”, katanya kemudian. Aku hanya mengangguk dan segera berlari menuju mobil dan mengambil semua barang-barang untuk dimasukkan ke kamar nona muda kasar itu. Sedangkan Reni, aku tidak tau dia kemana.
            Ternyata kedatangan nona Kim Rae Neul membawa penderitaan bagiku dan Reni. Semula keadaan yang nyaman tanpa ada kata-kata kasar dari kedua majikanku berubah menjadi penuh penderitaan. Hari-hari terus berlanjut dan aku sering mendengar kata-kata kasar yang keluar dari bibir nona Kim, tak jarang kata-kata tersebut disertai dengan perlakuan kasar setiap aku dan Reni melakukan kesalahan. Seperti hari ini dia menyiram muka Reni dengan air kopi panas yang sudah dibuatkan Reni untuknya.
            Keopi neun mueos-ibnikka? Naneun na ege keopileul mandeulgi wihae seoltang keopi bog-yonglyang e majge haeyahandago malhan. Najung-e dangsin-eun deo na-eun i boda deo manh-eun keopileul mandeul(3)”, kata Nona Kim sambil melemparkan gelas itu kearah Reni. Untung saja gelas itu mengarah ke baju Reni jadi tidak pecah.
            Sorry miss, why do you treat Reni like this? If artificial Reni bad you coffee why not just make your own coffee?(4)”, kataku sambil membantu Reni berdiri.
            What did you say? You told me to make coffee by yourself? Basic insolent maid, if I make my own coffee and what do you work? You on the payroll to handle the chores like this(5)”.
            What do you said was true lady, but if there is one it's our job to talk about good, don’t rough like this way. Nona was studying abroad but do not miss manners taught in schools miss?(6)”, kataku geram.
            You really cheeky maid, how dare you say i do not know manners. You want me fired, hah(7)”, kata nona Kim sambil menampar pipiku. Darahku langsung mendidih baru kali ini aku ditampar sama seorang cewek cantik tapi kasar kaya gini, ibuku saja yang seorang perempuan tidak berani menamparku. Aku ingin membalas semua omongan dan kelakuan tapi Reni menahanku, diapun meminta maaf atas semua perkataanku kepada nona Kim dan kembali ke dapur untuk membuatkan kopi untuk nona kasar itu.
Sudah hampir dua tahun aku bekerja di rumah ini dan berarti sudah hampir setahun pula aku merasakan tamparan, pukulan bahkan cacian yang menyakitkan dari nona Kim. Dan hari ini adalah hari terakhir aku dan Reni menerima kekasaran dari nona Kim. Pagi-pagi sekali dia sudah berteriak kepadaku untuk menyetrika bajunya karena dia akan pergi ke pesta siang nanti. Aku pun melaksanakan perintahnya dan menyetrika bajunya tapi karena aku lupa mematikan kompor saat aku memasak air tadi, akupun meninggalkan setrikaanku dan beralih ke dapur, tetapi saat aku kembali ternyata baju bagus nona Kim sudah berlubang karena aku meletakkan setrikaan itu tepat diatas baju nona Kim dengan bagian panasnya dibawah. Alhasil nona Kim yang mengetahui baju kesayangannya itu berlubang karena kecerobohanku marah dan hendak membakar tanganku dengan setrikaan yang panas. Tapi aku berhasil menghindar dan berlari ke kamar. Tak lupa mengunci pintu lalu aku membereskan semua barang-barangku dan barang-barang Reni. Setelah selesai aku berlari menuju Reni yang sedang menjemur pakaian.
“Kita pergi dari sini”, kataku sambil menarik tangan Reni dan melepaskan baju basah yang ada di tangannya.
“Maksud kamu apa? Terus mengapa tadi nona Kim marah-marah?”, tanya Reni bingung.
“Nanti aku jelasin, ayo cepat keburu nona kasar itu kesini. Kamu enggak mau kan jadi korban kekasaran dia terus? Ayo kita pergi dari sini”.
“Tapi aku tidak enak sama tuan dan nyonya Kim, terus nanti aku kerja dimana lagi? Kan kamu tau gaji di sini itu lumayan, baru dua tahun saja aku bekerja disini aku bisa merenovasi rumahku di kampung. Aku butuh lebih banyak uang lagi karena aku sudah janji, aku akan menaikan haji kedua orang tuaku”, kata Reni sambil menghalangiku.
“Uang dan pekerjaan dapat dicari lagi, kamu mau kamu mati sia-sia disini dan kamu mau orang tuamu sedih karena kamu pulang ke Indonesia hanya tinggal sebuah nama dengan tubuhmu yang sudah kaku bahkan membusuk? Soal tuan Kim, aku sudah meninggalkan surat di kamar yang isinya pengunduran diri bekerja di rumah ini. Ayo cepat”, kataku sambil menarik tangan Reni. Tapi usaha kami melarikan diri gagal karena di depan kami sudah berdiri sosok cewek anggun tapi kasar itu.
Dengan kasar dia menarik rambutku dan membawaku masuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi dia menenggelamkan kepalaku kedalam bak yang berisi air penuh. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia terus menerus menenggelamkan kepalaku hingga nafasku terasa sesak kecuali hanya berdoa semoga hari ini bukan hari terakhir hidupku. Reni yang melihat penderitaanku terus berusaha untuk menyelamatkanku, tapi belum sempat dia menyelamatkanku, dia sudah di dorong kasar oleh nona Kim hingga kepalanya terluka dan mengeluarkan banyak darah karena terbentur kerasnya tembok kamar mandi. Tapi aku dan Reni beruntung karena tuan dan nyonya Kim datang dan melihat sendiri perlakuan anaknya terhadapku dan Reni. Mereka menyelamatkanku dan Reni dan mereka memarahi habis-habisan nona Kim. Setelah itu mereka meminta maaf kepada kami atas perlakuan nona Kim dan membayar semua pengobatan Reni yang terluka parah di bagian kepala. Mereka memang majikan yang baik, setelah membayar semua pengobatan Reni sampai sembuh, merekapun mengizinkan kami pulang kembali ke Indonesia sedangkan nona Kim membayar semua kejahatannya terhadap kami dengan mendekam di sel tahanan. Karena menurut hukum di Korea orang yang melakukan tindak kekerasan atau kejahatan sampai korban terluka parah apalagi sampai meninggal harus dihukum sesuai kejahatannya.
            Hari ini tepat setahun aku kembali ke Indonesia. Uang yang aku peroleh dari bekerja di rumah tuan Kim aku pakai sebagai modal usaha ibuku dan biaya sekolah kedua adikku. Alhamdulillah usahaku lancar, kedua adikku bisa sekolah sampai perguruan tinggi dan aku masih sempat membahagiakan ibuku.
***

NB :

Ket : (1) cepat kamu ambil dan taruh barang-barangku ke kamar,
(2) kok malah bengong, cepat. Dan kamu tolong siapkan air panas untukku mandi, badanku sudah gerah dan gatal
(3) kopi apaan ini? Aku kan sudah bilang kalau mau membuatkan kopi untukku takaran gula dan kopinya harus pas. Cepat kamu bikin kopi baru yang lebih enak dari ini.
(4) maaf nona mengapa kau perlakukan Reni seperti ini? Kalau kopi buatan Reni tidak enak kenapa nona tidak buat sendiri saja kopi itu?
(5) Apa kamu bilang? kamu menyuruh saya bikin kopi ini sendiri? dasar pembantu kurang ajar, kalau saya bikin kopi saya sendiri lalu kerjaan kalian apa? kalian di gaji itu untuk disuruh-suruh seperti ini
(6) apa yang kamu bilang itu benar nona, tapi kalau ada pekerjaan kami yang salah itu harus dibicarakan baik-baik, bukan cara kasar seperti ini. Nona itu sekolah di luar negeri tapi apakah nona tidak diajarkan sopan santun di sekolah nona?
(7)  kamu benar-benar pembantu kurang ajar, kamu berani-beraninya mengatakan saya tak tau sopan santun. Kamu ingin saya pecat. Hah..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar