Seorang gadis
manis yang bernama Melody sedang berjalan dipinggiran sungai Cisolok di kawasan
air panas yang berada di Sukabumi Jawa Barat. Hal itu biasa dia lakukan ketika
sedang berlibur bersama keluarganya. Sungai itu sudah menjadi tempat wajib di
kunjungi saat liburan tiba bersama keluarganya. Selain tempatnya yang indah dan
nyaman, sungai itu merupakan kenangan terindah bagi gadis itu. Dulu ketika dia
masih kecil, dia selalu berlibur ke sungai ini bersama dua keluarga,
keluarganya sendiri dan keluarga temannya, Rendi. Rendi merupakan temannya
sejak umurnya 5 tahun, walaupun dia dan Rendi beda satu tahun dan satu tingkatan
kelas, tapi mereka bisa berteman dengan baik. Kalau mereka sedang berlibur bersama
di sungai ini, Melody dan Rendi langsung berendam air panas yang ada di
tengah-tengah sungai ini atau berarung jeram bersama Friska, adik Melody atau
sekedar berjalan-jalan dipinggiran sungai yang dia lakukan seperti hari ini. Namun
saat Rendi kelas tiga SD, dia harus pindah ke Jakarta karena Rendi mengikuti
ayahnya yang dipindah tugaskan kerjanya ke Jakarta. Sejak kepindahan Rendi ke
Jakarta, Melody hanya berlibur ke sungai ini bersama keluarganya saja.
“Kak Melody”, panggil Friska
membuyarkan lamunan Melody.
“Kakak gak mau berendam air panas?
Mamah dan papa sudah berendam tuh disana”, kata Friska sambil menghampiri
kakaknya.
“Enggak ah lagi malas, kalau kamu
mau kamu aja gih sana. Kakak mau foto-foto aja”, kata melody sambil mengambil
kamera dari tas yang sedari tadi dibawanya.
“Oh ya sudah. Fotoin aku juga ya
kak”, kata Friska sambil berlari menuju mamah dan papanya yang berada di kolam
air panas. Melody hanya mengangguk dan menjadi fotographer keluarganya.
***
Melody Nurramdani adalah nama
lengkap melody. Melody merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Dia mempunyai
seorang adik yang bernama Friska Laksani. Melody sekarang duduk di kelas satu
SMA di Jakarta. Hari ini adalah hari pertama Melody pindah ke Jakarta mengikuti
ayahnya yang pindah kerja di Jakarta. Melody dan keluarganyapun sudah sampai di
depan tempat tinggal mereka yang baru.
“Mah, ini rumah kita yang baru?
Bagus ya Fris?”, tanya Melody ketika mereka sudah sampai.
“Iya sayang ini rumah kita yang
baru. Yuk kita turun”, kata mamah Melody sambil membuka pintu mobil.
“Iya benar kak, bagus banget
rumahnya. Pasti aku betah deh tinggal disini”, kata Friska dan diapun turun
dari mobil. Melody hanya mengangguk dan ikut turun dari mobil papanya.
Saat dia sudah menutup pintu mobil
dan ingin melangkah masuk ke rumah barunya, tiba-tiba ada sepeda datang dari
arah kiri Melody. “Awas.. Awas.. Minggir.. minggir..”, kata orang yang
mengendarai sepeda itu. Tapi sayang belum sempat Melody menghindar, sepeda itu
dengan mulusnya menyerempet tubuh mungil Melody hingga melody terjatuh.
Sedangkan sepeda yang tadi menyerempet
Melody dengan mulus juga berlari jauh meninggalkan Melody yang terjatuh.
“Sory.. Sory… Gue gak sengaja. Gue
lagi buru-buru nih”, teriak orang itu sambil melajukan sepedanya dengan
kecepatan tinggi.
“Kalau naik sepeda pake mata dong,
lo lihat nih gue sampai luka kaya gini lo malah kabur. Dasar orang gak tau
diri. Aww…”, teriak Melody. Tapi percuma saja Melody teriak-teriak, orang yang
dia maki itu sudah pergi jauh entah dia dengar atau tidak teriakkan Melody.
Friska yang melihat kejadian itu
segera membantu Melody berdiri. Terlihat di lutut dan siku kanan Melody
terluka. “Kak, kakak enggak apa-apa? Yuk kita masuk biar aku yang obatin luka
kakak”. Melody hanya mengangguk dan masuk kedalam sambil dipapah Friska.
“Melody kamu kenapa teriak-teriak kaya
gitu?”, kata mamahnya panik.
“Ini mah, tadi ada orang yang
nyerempet aku pake sepeda. Bukannya minta maaf dia malah kabur”, jawab Melody
sewot.
“Oh ya sudah kalian masuk. Friska
tolong obatin luka kakakmu ya”.
“Siap mah”, jawab Friska. Melody dan
Friskapun masuk ke dalam, sementara mamah dan papa mereka mengambil semua
barang-barang yang ada di mobil dibantu oleh Bi Inah dan Pak Karim yang
menjabat sebagai pembantu dan supir mereka.
***
Hari ini adalah hari pertama Melody
sekolah di sekolah barunya, Melody melangkahkan kakinya untuk masuk ke
sekolahnya yang baru. Karena baru pertama kali ke sekolah itu, Melody tampak
kebingungan dimana letak kantor kepala sekolah dan kelas barunya. Akhirnya
Melody memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang gadis berkulit putih
yang tak jauh dari dirinya.
“Maaf permisi, numpang tanya. Kalau
kantor kepala sekolah dimana ya?”, tanya Melody kepada gadis manis itu.
“Iya tau. Oh iya kenalin nama gue Nabila Azalia biasa
dipanggil Nabila”, kata gadis manis yang bernama Nabila itu sambil mengulurkan
tangannya.
“Melody Nurramdani tapi panggil aja Melody”,
kata Melody membalas uluran tangan Nabila.
“Lo mau ke kantor kepala sekolah ya?
Yuk gue antar”, kata Nabila sambil menggamit lengan Melody dan mengantarkan
Melody ke ruang kepala sekolah. Melody hanya mengangguk dan berjalan bersama
Nabila ke ruang kepsek. Baru pertama dia menginjakkan kaki di sekolah ini, dia
sudah mendapatkan sahabat baru yang baik dan manis seperti Nabila.
“Lo beruntung banget jadi anak baru
disini, soalnya lo jadi enggak ikut MOS di sekolah ini”, lanjut Nabila sambil
berjalan menuju ruang kepsek.
“Loh memangnya kenapa? Justru hal
yang paling mengasyikkan saat pertama kali masuk sekolah baru itu MOS, kok lo
malah bilang gue beruntung enggak ikut MOS?”.
“Iya lo beruntung banget soalnya lo
enggak ketemu sama kakak kelas OSIS yang galak dan sok senior”.
“Iya emang gitu kan kalau lagi MOS
kakak-kakak kelas yang jadi anggota OSIS itu sok galak dan sok senior. Tapi gue
yakin aslinya mereka gak kaya gitu”.
“Iya sih tapi ini beda Mel, soalnya
waktu kemarin gue MOS tanpa alasan jelas mereka itu sering banget marah-marahin
gue, ngerjain gue. Padahal kan gue itu enggak salah apa-apa dan setiap mereka
nyuruh gue, gue pasti turutin semua perintah mereka”, curhat Nabila.
“Iya mungkin aja mereka itu sirik
sama lo, karena lo cantik dan manis”.
“Ah lo mah bisa aja. Kita sudah
sampai nih,gue anter sampai sini aja ya. Soalnya sebentar lagi bel dan gue
harus cepat-cepat masuk kelas. Lo enggak apa-apa kan gue tinggal?”, kata Nabila
saat sudah sampai didepan ruang kepsek.
“Iya enggak apa-apa Nab, makasih ya
sudah anterin gue”.
“Iya sama-sama. Gue tinggal dulu ya,
mudah-mudahan kita sekelas dan sebangku. Bye”,
kata Nabila sambil melambaikan tangannya dan berlalu dari hadapan Melody.
“Amin..”, jawab Melody. Melodypun
mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian Melodypun masuk ke
ruangan kepsek. Setelah memperkenalkan diri dan melihat kelengkapan data
Melody, pak kepala sekolahpun mengantarkan Melody ke kelas barunya. Dan ternyata
dia sekelas dan sebangku dengan Nabila sahabat pertamanya di Jakarta.
***
“Gue senang deh bisa sebangku sama
lo Mel”, kata Nabila saat mereka sedang berjalan menuju kantin.
“Memangnya disebelah lo dari awalnya
kosong?”.
“Enggak, tadinya gue sebangku sama
Rara teman gue waktu SMP tapi karena dia harus pindah ke Jepang ikut bapaknya
pindah tugas, ya jadinya bangku disebelah gue kosong. Tapi untung ada lo jadi
setiap hari gue ada yang temanin dan ada yang bisa diajak ngobrol kalau gue
engga ngerti sama pelajaran yang diajarin”, cerita Nabila. Melody hanya mengangguk.
Tiba-tiba dari arah belakang, Melody
dan Nabila ditabrak oleh seseorang dan hampir saja Melody terjatuh kalau saja
dia tidak mempertahankan keseimbangannya. “Aduh.. kalau jalan lihat-lihat
dong”, kata Melody sambil memegang bahu kirinya yang sakit.
“Iya nih, sakit tau tangan gue
gara-gara lo tabrak tadi”, gumam Nabila.
“Sory.. sory gue gak sengaja, mana
sini yang sakit gue obatin”, kata cowok itu.
“Lo…”, kata Melody kaget melihat
wajah cowok yang menabrak dia dan Nabila. Sedangkan si cowok hanya mengerutkan
keningnya.
“Lo kan orang yang enggak
bertanggung jawab sudah nyerempet gue kemarin pake sepeda. Pantes aja kemarin
lo nyerempet gue, jalan saja belum bisa masih nabrak-nabrak orang apalagi naik
sepeda”.
“Oh jadi lo orang yang gue serempet
pake sepeda terus lo teriak-teriak kaya orang gila? Gue kan kemarin sudah minta
maaf apa lo gak dengar permintaan maaf dari gue kemarin? Malah bilang gue
enggak tanggung jawab lagi”.
“Iya gue dengar tapi setidaknya lo
turun dulu dari sepeda lo sambil minta maaf, terus lihat keadaan gue apa gue
terluka atau enggak gara-gara diserempet sama lo. Eh lo malah minta maaf sambil
terus jalan saja, apa itu namanya orang yang bertanggung jawab? Enggak kan?”.
“Oke kalau itu mau lo, gimana
keadaan lo ada yang luka enggak? Tapi kayanya lo enggak apa-apa ya?”.
“Enak aja lo bilang gue gak apa-apa.
Nih lihat siku sama lutut gue luka gara-gara diserempet lo kemarin. Terus juga
bahu gue sakit gara-gara lo tabrak tadi”, kata Melody sambil memperlihatkan
siku kanannya yang dibalut plester.
“Alah luka segitu aja lo
ngomel-ngomel. Lo mau ganti rugi berapa? Tinggal sebutin, sejuta, dua juta?”.
“Eh orang sombong, lo bisa aja beli
apapun yang lo mau pakai uang lo tapi enggak buat gue. Gue gak butuh uang lo,
gue masih mampu kok nyembuhin luka gue sendiri. Permisi. Ayo Nabila kita pergi,
ngapain kita lama-lama sama orang sombong kaya dia”, kata Melody sambil
menggamit lengan Nabila menjauh pergi dari cowok itu.
“Mel, lo kok marah-marah sama dia
sih?”, tanya Nabila setelah sudah jauh dari cowok itu.
“Iya gimana gue gak marah-marah Nab,
kan lo dengar sendiri dia sudah nabrak gue terus dia malah nawarin gue uang
buat ganti ruginya emangnya gue cewek murahan yang bisa diiming-imingi sama
harta”.
“Iya benar sih yang lo bilang tadi,
tapi lo tau gak dia ketua OSIS disini dan dia itu kakak senior yang paling
disegani di sekolah ini. Namanya kak Rendi Nugraha”.
“Rendi Nugraha? Kayanya gue pernah
dengar nama itu. Tadi lo bilang disegani? Lo gak salah orang kaya dia itu
disegani sama anak-anak disini?”.
“Enggak. Soalnya dia itu kakak kelas
yang paling baik disini, selain itu dia juga pintar, banyak prestasi yang sudah
dia peroleh selama sekolah disini, ketua OSIS, tajir dan paling penting dia itu
ganteng”, jelas Nabila. Melody hanya mengangguk Walaupun cowok yang bernama
Rendi Nugraha itu disegani di sekolah Melody, tapi bagi Melody, Rendi itu cowok
paling menyebalkan yang pernah dia kenal.
Sejak kejadian itu setiap kali Melody
dan Rendi bertemu, pasti ada saja pertengkaran diantara mereka baik di rumah
ataupun di sekolah. Melody dan Rendi sama-sama belum mengetahui kalau orang
yang selama ini menjadi musuh mereka itu adalah teman masa kecil mereka yang
mereka rindukan sampai saat ini.
***
Hari ini adalah hari diadakannya
camping bagi yang ikut ekskul pecinta alam. Melody dan Nabilapun mengikuti
kegiatan tersebut. Camping itu diadakan di taman wisata alam Situ Gunung yang berada
di kaki gunung Pangrango Sukabumi Jawa Barat. Setelah dua jam di perjalanan,
akhirnya tim pecinta alam sudah sampai di Situ Gunung. Suasana yang indah dan
nyaman sudah dirasakan anggota tim pecinta alam saat turun dari bus.
“Anak-anak kita sudah sampai di
Taman Wisata Alam Situ Gunung, karena hari sudah mulai gelap kita bikin tenda
masing-masing untuk kita istirahat. Satu tenda berisi tiga sampai lima orang.
Malam harinya kita adakan api unggun, dan besok subuh jam lima kita mulai
mengadakan penjelajahan di Situ Gunung ini. Ayo semua mulai mendirikan tenda”,
kata Pak Indra Pembina Pecinta Alam.
Anggota pecinta alam dan para
pembinapun mendiri tenda mereka masing-masing. Sore haripun berganti dengan
malam hari, merekapun bersiap-siap melaksanakan kegiatan kedua yaitu api
unggun. Diacara api unggun itu, Rendi menghibur para Pembina dan anggota
pecinta alam dengan menyanyikan sebuah lagu “Dia” dari Sammy Simorangkir sambil
memainkan gitar.
“Mel, kak Rendi keren ya, suaranya
bagus lagi. Terus juga nyanyinya itu penuh penghayatan”, komen Nabila sambil
menikmati lagu dari Rendi.
“Biasa aja”, jawab Melody sambil
melengos.
“Sampai kapan sih Mel lo bertengkar
terus sama dia? Kaya kucing sama tikus tau”.
“Sampai dia minta maaf dan berlutut
di hadapan gue”, jawab Melody. Mendengar jawaban dari Melody, Nabila hanya
geleng-geleng kepala.
***
Paginya acaranya penjelajahan
dimulai, sehabis sholat subuh, sarapan dan mandi merekapun siap-siap untuk
menjelajahi Situ Gunung. Merekapun
menyusuri jajaran pecahan batu yang ditata dengan apik membentuk jogging track, disekeliling hutan itu tak henti mereka melihat pohon dammar
yang hijau dan menyejukkan mata, hari kedua mereka lalui dengan berkeliling
Situ Gunung. Selama berkeliling Situ Gunung, Melody tak henti-hentinya
mengabadikan keindahan Situ Gunung dengan kamera Cannon miliknya. Hari kedua di Situ Gunung, mereka mengunjungi
keindahan Curug Sawer dan Curug Simalaracun. Sesampainya di Curug Simalaracun,
Pak Indrapun menyampaikan sedikit info tentang curug itu.
“Anak-anak ini namanya Curug
Simalaracun, konon katanya disini itu ada kekuatan magis. Tapi bapak juga tidak
tau kekuatan magis seperti apa yang dimaksud. Kalau yang mau foto-foto
silahkan,bapak kasih waktu kalian untuk foto-foto dan istirahat selama 30 menit
sebelumnya kita melanjutkan penjelajahan ke curug Sawer”, kata Pak Indra. Semua
anggota pecinta alam sangat senang menikmati kebebasan itu, mereka tak
menyia-nyiakan kesempatan itu ada yang foto-foto, menikmati sejuknya aliran air
curug Simalaracun ataupun sekedar duduk santai di bebatuan air terjun itu.
Setelah puas menikmati suasana indah
di curug Simalaracun merekapun pergi ke curug Sawer yang berjarak sekitar 4 km
dari curug Simalaracun, merekapun berjalan melalui jogging track yang berbukit-bukit untuk menuju curug Sawer. Sepanjang
perjalanan menuju curug Sawer Melody tak henti-henti mengambil gambar yang ada
di Situ Gunung, tempat itu memang indah jadi sayang untuk di lewatkan begitu
saja, belum tentu kita bisa kembali ke tempat itu. Sekitar 30 menit berjalan
mereka sudah sampai di curug Sawer.
“Nah ini namanya curug Sawer dan di
sebelah curug ini juga terdapat curug yang bernama curug Bagong, tapi curug
bagong ini jauh lebih kecil dibanding curug sawer dan di curug bagong ini konon
mengalirkan air bertuah. Curug sawer ini mengalirkan air ke sungai Cinumpang.
Di curug Sawer ini juga ada sebuah kubangan tapi kalian jangan coba-coba untuk
berenang disana ya karena kubangan itu sangat dalam akibat gerusan air dari
curug ini”, jelas Pak Andi sambil menjelajahi curug Sawer sedangkan
murid-muridnya hanya mengikuti pak Andi dari belakang. Setelah menjelajahi
curug sawer dan curug bagong, merekapun kembali ke tenda.
Hari terakhir di Situ Gunung, mereka
habiskan di danau buatan yang ada di Situ Gunung itu sebelum sore harinya
kembali ke Jakarta. Sejauh mata memandang nampak sekali keindahan danau yang bisa dipakai untuk memacing ataupun
segedar berjalan-jalan mengelilingi danau dengan perahu.
“Nah anak-anak ini namanya Danau
Situ Gunung, danau ini merupakan danau buatan yang dibuat tahun 1814 oleh “Mbah
Jalun”, seorang bangsawan dari Mataram yang lari ke Sukabumi karena menjadi
buronan Belanda”, jelas pak Andi.
“Nab, perasaan dari kemarin kita ada
disini pak Andi terus yang jelasin. Kayanya dia tau banget tentang Situ Gunung
ini, jangan-jangan Situ Gunung ini dia yang punya?”, komen Melody sambil
berbisik.
“Gue juga gak tau Mel, tapi mungkin
karena dia orang Sukabumi asli kali ya, jadi dia paham banget tentang seluk
beluk Situ Gunung itu”.
“Oh pantes”, kata Melody
mengangguk-angguk.
“Eh ngapain lo berdua bisik-bisik?
Lagi ngomongin gue ya?”, samber Rendi dari arah belakang.
“Ih… ngapain lo nyamber-nyamber kaya
tiang listrik? Terus siapa juga yang ngomongin orang sombong kaya lo?
Amit-amit. Ayo Nab, kita pergi dari sini, malas gue ngomong sama orang belagu
kaya dia”, kata Melody sambil berlalu pergi.
“Yeee… ngomongnya biasa aja dong
jangan nyolot begitu, dasar nenek lampir”.
Mendengar omongan Rendi, Melody
menghentikan langkahnya dan kembali kehadapan Rendi. “Lo ngomong apa barusan?
Nenek lampir? Lo gak salah ngomong? Orang cantik kaya gue disebut nenek lampir?
Dasar banteng lo”.
“Lo bilang apa tadi? Lo cantik? Oke
gue ngakuin lo emang cantik, tapi dilihat dari monas baru lo cantik. Tapi
tunggu-tunggu tadi lo bilang apa? Lo ngatain gue banteng?”.
“Iya lo emang banteng. Lo itu kaya
banteng yang kalau jalan suka nabrak-nabrak orang. Buktinya lo sudah dua kali
nabrak gue bukannya itu namanya banteng. Kenapa masalah?”.
“Eh lo tuh yang suka halangin jalan
gue, so jangan salahin gue kalau gue
suka nabrak lo”.
“Terserah lo deh, gue lagi malas
berdebat sama ketua OSIS sekaligus kakak kelas yang super duper nyebelin kaya
lo. Yuk kita pergi saja dari hadapan kakak kelas yang sok ganteng ini”, kata
Melody sambil berlalu pergi disusul oleh Nabila
***
Sore
harinya semua anggota pecinta alam kembali ke Jakarta. Setelah menempuh dua jam
lebih merekapun sudah sampai di Jakarta. Para anggotapun pulang ke rumah mereka
masing-masing. Sekitar jam 7 malam Melody sudah sampai di rumahnya. Terlihat
dari depan rumahnya sudah ada mobil yang baru dia lihat. Melodypun melangkahkan
kakinya menuju pintu masuk.
“Assallamu
alaikum”, sapa Melody sambil membuka pintu rumahnya.
“Waalaikum
salam, kamu sudah pulang sayang”, kata mamah Melody sambil menghampiri anaknya.
Melodypun mencium tangan mamahnya.
“Mah
ada tamu ya? Mereka siapa mah?”, bisik Melody saat melihat sepasang suami istri
yang umurnya sebaya dengan papa dan mamahnya.
“Iya
kamu ingat gak? Mereka itu om Dani dan tante Merry orang tuanya Rendi teman
kecil kamu”.
“Jadi
ini mamah papanya Rendi?’, tanya Melody kaget.
“Iya
Melody. Kamu sudah besar ya sekarang tinggi, tambah cantik lagi. Apa kabar
kamu?”, kata tante Merry sambil mencium pipi kanan dan kiri Melody.
“Baik
tante, tante sama om sendiri apa kabar? By
the way Rendinya mana tante?”.
“Rendinya
lagi ikut camping ke Sukabumi. Oh iya kata mamah kamu, kamu sekolah di SMA 1
ya? Rendi juga sekolah di sana loh, apa kamu sering ketemu sama dia?”.
“Oh
Rendi juga sekolah disana tante? Kayanya aku gak pernah ketemu sama dia soalnya
nama Rendi di sekolah aku banyak tante, teman sekelas aku juga ada yang namanya
Rendi”.
“Iya
benar, Rendi juga pernah kalau teman seangkatan dia juga ada yang namanya
Rendi. Ya sudah nanti kalau tante sama om main lagi kesini tante aja dia deh”.
Melody
hanya tersenyum. “Om, tante, Melody permisi ke kamar dulu ya. Mau nyimpen
barang-barang ini dulu”.
“Oh
iya kamu istirahat aja Mel, tante sama om juga kayanya mau pulang dulu lagian
sudah malam. Mbak Anissa, mas Ryan kami permisi pulang dulu ya”.
“Iya
enggak terasa ya sudah malam, padahal masih banyak yang mau kita obrolin,
maklum sudah lama sih gak ketemu sekitar 8 tahun ya kita gak ketemu”.
“Iya
kapan-kapan kita kesini lagi deh, kalau enggak mbak Anissa sama mas Ryan yang
ke rumah kita sekalian silahturahmi. Kamu juga Melody sering-sering ke rumah
tante sekalian ketemu sama Rendi”
“Iya
benar Mel, Rendi sering bilang ke om kalau dia kangen sama kamu”, kata om Dani
menambahkan.
“Iya
om, tante kapan-kapan aku sama mamah, papa dan Friska main ke rumah om dan
tante”, kata Melody sambil mengantar tante Merry menuju teras rumahnya
“Iya
tante tunggu ya Mel, ya sudah kita berdua pulang dulu ya. Assallamu alaikum”, kata
tante Merry sambil berjalan menuju mobil lalu masuk kedalam mobil.
“Pulang dulu ya mas Ryan, mbak
Anissa, Melody. Assallamualaikum”, kata om Dani sambil masuk kedalam mobil.
“Waalaikum salam”, jawab keluarga
Melody. Mobil om Danipun keluar dari rumah Melody dan bergerak manuju rumah
mereka. Setelah mobil om Dani menghilang dari pandangan mamah dan papa Melody masuk
menuju ruang keluarga sementara Melody bergerak keatas menuju kamarnya.
***
Selesai mandi, makan malam dan
membereskan keperluannya sekolah, Melody merebahkan badannya di kasurnya yang
empuk. Dia merasa senang karena bertemu orang tua teman masa kecilnya. Walaupun
dia tidak bertemu dengan Rendi secara langsung, tapi ini jalan baginya untuk
bertemu denga sahabat kecilnya itu.
“Rendi sekarang kaya gimana ya? Duh
gue kangen banget sama dia. Tadi tante Merry bilang Rendi di sekolah yang sama
kaya gue? Yang mana ya? Jangan-jangan Rendi teman sekelas gue? Tapi tadi tante
Merry bilang kalau Rendi gak bisa ikut kesini, karena dia ikut camping di
Sukabumi, yang ikutcampingkan Rendi ketua OSIS yang sok ganteng dan belagu itu
sedangkan Rendi teman sekelas gue gak ikut, jangan-jangan yang tante Merry
maksud itu Rendi ketua OSIS lagi? Enggak mungkin Rendi yang nyebelin itu teman
kecil gue dan anaknya tante Merry dan om Dani. Enggak mungkin, masa cowok
nyebelin kaya dia teman kecil gue, gak mungkin. Pokoknya gue harus pastiin
kalau Rendi anaknya tante Merry dan om Dani itu bukan Rendi yang nyebelin kaya
dia”.
***
Ternyata itu adalah awal dan akhir
pertemuan Melody dan kedua orang tuanya Rendi, karena mereka sibuk dengan
kerjaan mereka di luar negeri. Rasa penasaran Melody terhadap sosok Rendi teman
kecilnya makin memuncak, tapi kesibukannya di sekolah dan diluar sekolah
membuat dia tidak sempat untuk menyelidiki Rendi yang ada disekolahnya sendiri
dan memaksa Melody meredam rasa penasarannya. Karena kesibukan itu pula membuat
Melody tidak terlau memikirkan hal itu.
Waktu cepat berlalu dan hari ini
Melody, Nabila dan teman seangkatannya sudah memasuki hari terakhir ujian
semester akhir kelas dua, berarti beberapa minggu lagi mereka akan naik ke
kelas tiga menggantikan angkatan Rendi kakak kelas mereka.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai
juga ujian semesternya. Jadi deg-degan nih kira-kira kita naik kelas gak ya?”,
kata Nabila saat keluar dari ruangan ujian.
“Iya pasti naik lah Nab, malu-maluin
kalau sampai gak naik kelas”.
“Amin.. By the way liburan semester ini mau kemana Mel?”.
“Rencananya sih gue sama keluarga
gue mau liburan ke Sukabumi, ketempat favorit keluarga gue sungai Cisolok,
kalau lo Nab?”.
“Gak tau belum ada rencana nih”.
“Kalau gitu lo ikut aja sama keluarga
gue ke Sukabumi gimana? Kalau mamah sama papa kamu gak sibuk sekalian ajak
mereka juga, kan biar keluarga lo sama keluarga gue bisa lebih akrab lagi.
Jarang-jarang lo ada orang tua anaknya yang akrab sama orang tua sahabat
anaknya”.
“Bagus juga ide lo Mel, tapi gue
tanya dulu sama mamah, papa gue ya”.
“Sip..”, kata Melody sambil
mengacungkan jempolnya.
***
Hari ini adalah hari pengambilan
rapot untuk kelas 1 dan 2 di sekolah Melody. Alhamdulillah hasil yang diperoleh
Melody sangat baik dan memuaskan begitupula dengan Nabila dan teman-teman
seangkatan Melody.
“Oh iya Mel, tadi gue sudah tanya
mamah sama papa katanya mereka gak bisa ikut, soalnya mereka banyak kerjaan”.
‘Hmm… ya sudah enggak apa-apa, tapi
lo ikut kan? Soalnya mamah dan papa gue juga gak bisa karena mereka juga banyak
kerjaan yang gak bisa mereka tinggal”.
“Sory Mel, gue gak bisa….”.
“Yah Nab, kalau lo gak ikut masa gue
sama Friska aja kesananya. Gak seru ah”, kata Melody cemberut.
“Maksud gue, gue gak bisa nolak
ajakan lo. Mel, besok gue berangkat dari rumah lo aja ya, soalnya kan gue belum
tau jalan kesana lagian”.
“Oh kirain.. Ya sudah lo besok
sampai rumah gue jam 8 ya”
“Oke siap”.
***
Esok harinya pukul 8 pagi Nabila
sudah sampai di rumah Melody, setelah Melodi dan Friska memeriksa barang-barang
yang harus dibawa merekapun berangkat ke Sukabumi. Sekitar dua jam perjalanan
merekapun telah sampai di sungai cisolok. Berkunjung ke sungai ini pengunjung
akan melewati jembatan yang berdiri diatas sebuah sungai. Ditengah-tengah sungai
terdapat semburan air panas dengan suhu yang cukup tinggi sekitar 80 derajat
Celcius. Terlihat dipinggir sungai banyak wisatawan yang sedang berendam air
panas atau sekedar duduk di atas batu di pinggir sungai. Melody, Friska dan
Nabilapun ikut bergabung dengan pengunjung lain menikmati suasana dipinggir
sungai. Disaat Melody sedang memotret keindahan tepi sungai, tiba-tiba ada
seseorang yang menabraknya dari arah depan Melody hampir terjatuh kalau saja
orang itu tidak menangkap tuubuhnya yang limbung. Sesaat kedua mata mereka
saling berpandangan. Tapi Melody segera menjauh dari orang itu yang ternyata
Rendi.
“Lo lagi.. Lo lagi.. Kapan sih lo
bisa jalan yang benar tanpa harus nabrak-nabrak hah? Untung saja kamera gue gak
kenapa-kenapa karena tertabrak lo tadi”, kata Melody kesal.
“Kan sudah gue bilang lo tuh yang
selalu halangi jalan gue, jadi lo jangan nyalahin gue terus”.
“Emang lo yang salah kok, lo sudah
tiga kali nabrak gue. Pertama didepan rumah gue terus di sekolah sekarang
disini. Lo masih mau bilang kalau lo gak salah?”.
“Terserah lo saja deh, gue cape
hadapi orang keras kepala kaya lo”, kata Rendi sambil pergi.
“Melody”, panggil seseorang yang
ternyata tante Merry, mamahnya Rendi sambil menghampiri Melody. Mendngar
teriakan mamahnya itu, Rendi menghentikan langkahnya.
“Eh om, tante juga ada disini ya?”,
tanya Melody.
“Iya Mel, kamu juga lagi liburan disini ya? Mamah, papamu mana?”,
tanya tante Merry sambil melihat kesekeliling.
“Aku sama teman aku Nabila dan
Friska, mamah sama papa gak ikut soalnya mereka lagi sibuk sama kerjaannya”,
kata Melody sambil memperkenalkan Nabila dan Friska.
“Mamah kenal sama Melody?”, tanya
Rendi tiba-tiba.
“Ya ampun kamu gak kenal sama
Melody? Dia itu teman kamu waktu kecil”, kata tante Merry yang membuat Melody
dan Rendi kaget.
“Jadi dia Rendi yang tante ceritain
waktu di rumah aku? Yang kata tante dia gak datang karena camping di
Sukabumi?”, tanya Melody kaget.
Tante Merry mengangguk. “Iya Mel,
ini Rendi. Masa kamu lupa sama teman kamu sendiri?”.
“Kan sekarang mah sudah beda waktu
itu kita masih kecil sekarang kita sudah SMA, makanya kami gak saling kenal”,
jawab Rendi.
“Ya sudah, oh iya Mel kamu sama
teman-teman kamu menginap dimana?”.
“Kaya di hotel dekat-dekat sini
tante”.
“Kalau kalian mau, kalian menginap
di villa tante aja ya. Daripada menginap di hotel bayarnya mahal mending di
villa sekalian kamu kangen-kangenan sama Rendi”.
Melody tersenyum. “Gak usah tante,
takutnya ngerepotin. Kami menginap di hotel aja”.
“Enggak ngerepotin kok Mel, ya sudah
yuk kita langsung ke villa”, kata tante Merry. Melody hanya mengangguk. Melody
bersama Nabila, Friska dan Rendipun pergi ke villa tante Merry.
***
Sudah tiga hari Melody, Nabila dan
Friska liburan di sungai Cisolok Sukabumi, banyak moment-moment indah yang
diabadikan Melody dalam kameranya. Walaupun Melody dan Rendi sama-sama tau
kalau mereka adalah teman sejak kecil, tapi pertengkaran-pertengkaran mereka
masih berlanjut. Banyak kejahilan-kejahilan yang Rendi perbuat hingga membuat
Melody kesal. Seperti kali ini Rendi memasukkan biawak di kamar Melody, Friska
dan Nabila. Alhasil Nabila dan Melody menjerit ketakutan sedangkan Friska
menghampiri biawak itu dan menggendongnya.
“Ya ampun kak, ini hanya biawak.
Lihat tuh lucu kan”, kata Friska sambil mendekatkan biawak yang digendongnya
kepada Nabila dan Melody.
“Eh… Eh… Fris jangan dekat-dekat,
bawa keluar sana. Lo kan tau kalau gue takut sama biawak”, kata Melody.
“Iya,,, iya aku bawa keluar”, kata
Friska sambil hendak membawa jauh-jauh pergi biawak itu. Tapi tiba-tiba didepan
pintu sudah ada Rendi, tante Merry dan om Dani yang melihat keadaan Melody
karena teriakan itu.
“Melody kamu kenapa? Tadi tante
kaget dengar aaada yang teriak dari kamar kamu”, kata tante Merry.
“Karena biawak ini tante, makanya Melody
teriak”, jawab Friska.
“Iya tante aku kan takut sama
biawak, jadinya kaya gini deh”.
“Cemen lo sama biawak aja takut, tuh
lihat ade lo aja berani sampe biawak digendong”, ejek Rendi.
“Hush.. kamu jangan bilang gitu Ren
sama Melody. Ya sudah Melody, Nabila, Friska kalau sudah gak ada apa-apa om dan
tante tinggal dulu ya. Friska kamu bawa keluar biawak itu ya, kasihan kakak
kamu ketakutan begitu”, kata om Dani sambil berlalu dari hadapan Melody,
Friska, Nabila dan Rendi disusul oleh tante Merry. Friskapun membawa keluar
biawak itu.
“Eh Ren, lo kan yang taruh biawak
itu dikamar ini. Iya kan? Lo lup kalau gue takut sama biawak?”
“Kalau emang gue yang taruh kenapa?
Gue gak lupa kok kalau teman kecil gue ini takut sama biawak, gue sengaja taruh
biawak itu buat ngasih pelajaran lo, habisnya lo nyebelin sih. Sudah lama kita
gak ketemu tapi pas ketemu lo jadi orang yang super duper nyebelin”.
“Oh
gitu? Dengar ya Rendi Nugraha, lo emang teman masa kecil gue tapi atas
perlakuan lo semenjak gue datang ke Jakarta dan sampe sekarang lo yang
benar-benar nyebelin dan kelewatan lo bukan lagi teman gue. Dan perlakuan lo
sekarang gak akan gue maafin. Ngerti”, kata Melody sambil berlalu dari hadapan
Rendi disusul oleh Nabila.
***
Sejak saat itu hubungan Melodydan
Rendi yang tadinya buruk menjadi lebih
buruk. Hal itu membuat Rendi merasa bersalah, teman kecil yang selalu
dirindukannya malah berubah menjadi musuh karena kesalahan dia sendiri. Sejak
pertengkaran terakhir dengan Rendi, Melody kembali merasakan kehilangan. Selama
dua tahun sejak pertemuan kembali dengan Rendi membuat hariMelody yang dipenuhi
oleh warna, makin berwarna. Walaupun hubungan mereka tidak baik dan sering
diwarnai pertengkaran tapi ada kenikmatan sendiri di hidup Melody. Hari ini
hari terakhir Rendi berada di Jakarta, karena dia memutuskan untuk kuliah di
Melbourne, Negara kanguru Australia. Sebelum berangkat dia memutuskan untuk
bertemu dengan Melody dan meminta maaf. Diapun sudah di sekolah dan menunggu
Melody di depan gerbang. Setelah menemukan sosok yang dicarinya, diapun
menghampiri Melody.
“Hai Melody, Nabila apa kabar?”,
sapa Rendi.
“Baik kak Rendi tumben kakak main
kesini?”, jawab Nabila.
“Iya nih Nab, gue kesini mau ketemu
sama teman lo”.
“Lo mau ketemu sama gue? Ada apa?
Mau ngerjain gue lagi atau lo bawa kejutan biawak buat gue?”.
“Gue mau ngajak lo jalan. Nab lo gak
apa-apa kan pulang sendiri? Hari ini gue minjem teman lo ya, hanya hari ini aja
kok. Gue janji gue kembaliin dia masih utuh gak ada yang kurang satupun”, kata Rendi
meminta izin kepada Nabila to the point.
“Iya boleh kak, aku percaya kalau
kakak gak akan ngapa-ngapain Melody”, jawab Nabila sambil tersenyum.
“Tuhkan Nabila sudah ngizinin jadi
lo gak ada waktu untuk nolak ajakan gue. Nabila kita berangkat dulu ya, lo
hati-hati di jalan”, kata Rendi sambil menarik tangan Melody lembut untuk
menuju mobilnya.
“Eh gak usah pake tarik-tarik segala
kali, sakit tau. Lagian gue mau dibawa kemana sih?”, gerutu Melody.
“Sudah lo diam dan duduk manis aja
ya, silahkan masuk tuan putri”, kata Rendi sambil mendorong lembut Melody untuk
masuk kedalam mobil. Melody hanya diam dan masuk kedalam mobil Rendi. Beberapa
detik kemudian, mobilpun berjalan membelah jalanan ibukota. Didalam mobil
Melody hanya diam saja sambil berpikir kemana Rendi akan membawanya pergi.
Setelah dua jam perjalanan mobilpun berhenti di tempat yang sudah tak asing
lagi bagi Melody. Ternyata Rendi membawa Melody ke sungai cisolok, tempat
favorit mereka berlibur dan tempat kenangan mereka waktu kecil.
“Lo ngapain ngajak gue kesini?”,
kata Melody sambil keluar dari mobil.
“Tempat ini merupakan tempat favorit
kita kalau lagi liburan, waktu kecil kita sering berendam air panas bareng
disini ataupun sekedar jalan-jalan dipinggir sungai. Lo masih ingat gak? Tempat
ini juga yang ngasih tau kita kalau kita ini teman masa kecil yang sudah 9
tahun berpisah dan tempat ini juga yang bikin lo marah banget sama gue dua
minggu yang lalu”.
“Sebenarnya lo mau ngomong apa sih?
Gue gak ngerti sama yang lo omongin”.
“Mel gue minta maaf ya karena selama
ini gue sudah bikin kesel lo, bikin marah lo. Lo mau kan maafin gue Mel?”.
“Lo tulus gak minta maaf sama gue?”.
“Iya gue tulus minta maaf sama lo
masa sih lo gak percaya sama gue?”.
“Oke gue maafin, tapi lo janji lo
gak akan bikin kesel lagi”.
“Iya gue janji. Mel, kayanya besok
kita gak akan ketemu lagi deh soalnya gue mau nerusin kuliah di Melbourne tapi
gue janji setahun kemudian pas lo lulus
gue bakal balik lagi kesini”.
“Yah baru juga kita baikan lo sudah
mau pergi lagi. Tapi kalau buat sekolah gue pasti dukung lo mau kuliah dimana
aja. Gue nitip boneka kanguru ya”.
“Siap.. nanti pas gue balik ke
Jakarta gue bawain titipan lo”, kata Rendi.
***
“Nab kita itu mau kemana sih? Pakai
tutup mata segala”, tanya Melody. Pulang dari kuliah Nabila mengajak Melody ke
suatu tempat sebagai surprise karena
hari ini ulang tahun Melody.
“Sudah lo diam aja sebentar lagi
sampai kok. Yang jelas pasti lo suka”, jawab Nabila.Nabila dan Melodypun sudah
sampai di jembatan sungai Cisolok dan disana pula sudah ada Rendi yang membawa
sekotak kue ulang tahun dan Andre pacar Nabila.
“Nah
sudah sampai Mel, gue buka ikatan penutup mata lo ya, tapi lo jangan buka mata
dulu sebelum hitungan ketiga. 1.. 2… 3, sekarang lo boleh buka mata”, kata
Nabila. Melodypun membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia karena
didepannya sudah ada Rendi yang membawa kue ulang tahun.
“Happy Birthday Melody, ayo tiup lilinnya
jangan lupa make a wish ya”, kata
Rendi. Melody mengangguk dan menutup matanya, setelah itu dia meniup lilin yang
ada diatas kue itu. Setelah itu Melody memotong kuenya dan kue pertama dia
kasih ke Nabila.
“Ren,
katanya lo pulang sebulan lagi, tapi kok lo ada disini sekarang”, tanya Melody
ketika dia dan Rendi sedang berjalan-jalan dipinggir sungai.
“Gue
kan mau ngerayain ulang tahun lo makanya gue kesini. Mel, gue boleh tanya
sesuatu?”, jawab Rendi sambil tersenyum.
“Iya
boleh lah, lo mau tanya apa?”.
“Sebenarnya
semenjak aku ketemu sama kamu lagi waktu SMA, aku sudah suka sama kamu dan
waktu kamu marah sama aku di villa, aku merasa bersalah dan kehilangan dan
sekarang aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku sayang kamu Mel, kamu mau gak
jadi pacar aku?”.
“Iya
aku mau jadi pacar kamu”, jawab Melody. Rendipun merasa senang dan memeluk
Melody. Semenit kemudian Rendi melepaskan pelukannya dan mengajak Melody untuk
bergabung bersama Nabila dan Andre menikmati indahnya sungai Cisolok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar