Sabtu, 12 Oktober 2013

RIVER OF LOVE


Seorang gadis manis yang bernama Melody sedang berjalan dipinggiran sungai Cisolok di kawasan air panas yang berada di Sukabumi Jawa Barat. Hal itu biasa dia lakukan ketika sedang berlibur bersama keluarganya. Sungai itu sudah menjadi tempat wajib di kunjungi saat liburan tiba bersama keluarganya. Selain tempatnya yang indah dan nyaman, sungai itu merupakan kenangan terindah bagi gadis itu. Dulu ketika dia masih kecil, dia selalu berlibur ke sungai ini bersama dua keluarga, keluarganya sendiri dan keluarga temannya, Rendi. Rendi merupakan temannya sejak umurnya 5 tahun, walaupun dia dan Rendi beda satu tahun dan satu tingkatan kelas, tapi mereka bisa berteman dengan baik. Kalau mereka sedang berlibur bersama di sungai ini, Melody dan Rendi langsung berendam air panas yang ada di tengah-tengah sungai ini atau berarung jeram bersama Friska, adik Melody atau sekedar berjalan-jalan dipinggiran sungai yang dia lakukan seperti hari ini. Namun saat Rendi kelas tiga SD, dia harus pindah ke Jakarta karena Rendi mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan kerjanya ke Jakarta. Sejak kepindahan Rendi ke Jakarta, Melody hanya berlibur ke sungai ini bersama keluarganya saja.
            “Kak Melody”, panggil Friska membuyarkan lamunan Melody.
            “Iya kenapa Fris?”
            “Kakak gak mau berendam air panas? Mamah dan papa sudah berendam tuh disana”, kata Friska sambil menghampiri kakaknya.
            “Enggak ah lagi malas, kalau kamu mau kamu aja gih sana. Kakak mau foto-foto aja”, kata melody sambil mengambil kamera dari tas yang sedari tadi dibawanya.
            “Oh ya sudah. Fotoin aku juga ya kak”, kata Friska sambil berlari menuju mamah dan papanya yang berada di kolam air panas. Melody hanya mengangguk dan menjadi fotographer keluarganya.
***
            Melody Nurramdani adalah nama lengkap melody. Melody merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Dia mempunyai seorang adik yang bernama Friska Laksani. Melody sekarang duduk di kelas satu SMA di Jakarta. Hari ini adalah hari pertama Melody pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya yang pindah kerja di Jakarta. Melody dan keluarganyapun sudah sampai di depan tempat tinggal mereka yang baru.
            “Mah, ini rumah kita yang baru? Bagus ya Fris?”, tanya Melody ketika mereka sudah sampai.
            “Iya sayang ini rumah kita yang baru. Yuk kita turun”, kata mamah Melody sambil membuka pintu mobil.
            “Iya benar kak, bagus banget rumahnya. Pasti aku betah deh tinggal disini”, kata Friska dan diapun turun dari mobil. Melody hanya mengangguk dan ikut turun dari mobil papanya.
            Saat dia sudah menutup pintu mobil dan ingin melangkah masuk ke rumah barunya, tiba-tiba ada sepeda datang dari arah kiri Melody. “Awas.. Awas.. Minggir.. minggir..”, kata orang yang mengendarai sepeda itu. Tapi sayang belum sempat Melody menghindar, sepeda itu dengan mulusnya menyerempet tubuh mungil Melody hingga melody terjatuh. Sedangkan sepeda yang tadi  menyerempet Melody dengan mulus juga berlari jauh meninggalkan Melody yang terjatuh.
            “Sory.. Sory… Gue gak sengaja. Gue lagi buru-buru nih”, teriak orang itu sambil melajukan sepedanya dengan kecepatan tinggi.
            “Kalau naik sepeda pake mata dong, lo lihat nih gue sampai luka kaya gini lo malah kabur. Dasar orang gak tau diri. Aww…”, teriak Melody. Tapi percuma saja Melody teriak-teriak, orang yang dia maki itu sudah pergi jauh entah dia dengar atau tidak teriakkan Melody.
            Friska yang melihat kejadian itu segera membantu Melody berdiri. Terlihat di lutut dan siku kanan Melody terluka. “Kak, kakak enggak apa-apa? Yuk kita masuk biar aku yang obatin luka kakak”. Melody hanya mengangguk dan masuk kedalam sambil dipapah Friska.
            “Melody kamu kenapa teriak-teriak kaya gitu?”, kata mamahnya panik.
            “Ini mah, tadi ada orang yang nyerempet aku pake sepeda. Bukannya minta maaf dia malah kabur”, jawab Melody sewot.
            “Oh ya sudah kalian masuk. Friska tolong obatin luka kakakmu ya”.
            “Siap mah”, jawab Friska. Melody dan Friskapun masuk ke dalam, sementara mamah dan papa mereka mengambil semua barang-barang yang ada di mobil dibantu oleh Bi Inah dan Pak Karim yang menjabat sebagai pembantu dan supir mereka.
***
            Hari ini adalah hari pertama Melody sekolah di sekolah barunya, Melody melangkahkan kakinya untuk masuk ke sekolahnya yang baru. Karena baru pertama kali ke sekolah itu, Melody tampak kebingungan dimana letak kantor kepala sekolah dan kelas barunya. Akhirnya Melody memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang gadis berkulit putih yang tak jauh dari dirinya.
            “Maaf permisi, numpang tanya. Kalau kantor kepala sekolah dimana ya?”, tanya Melody kepada gadis manis itu.
            “Iya tau.  Oh iya kenalin nama gue Nabila Azalia biasa dipanggil Nabila”, kata gadis manis yang bernama Nabila itu sambil mengulurkan tangannya.
            “Melody Nurramdani tapi panggil aja Melody”, kata Melody membalas uluran tangan Nabila.
            “Lo mau ke kantor kepala sekolah ya? Yuk gue antar”, kata Nabila sambil menggamit lengan Melody dan mengantarkan Melody ke ruang kepala sekolah. Melody hanya mengangguk dan berjalan bersama Nabila ke ruang kepsek. Baru pertama dia menginjakkan kaki di sekolah ini, dia sudah mendapatkan sahabat baru yang baik dan manis seperti Nabila.
            “Lo beruntung banget jadi anak baru disini, soalnya lo jadi enggak ikut MOS di sekolah ini”, lanjut Nabila sambil berjalan menuju ruang kepsek.
            “Loh memangnya kenapa? Justru hal yang paling mengasyikkan saat pertama kali masuk sekolah baru itu MOS, kok lo malah bilang gue beruntung enggak ikut MOS?”.
            “Iya lo beruntung banget soalnya lo enggak ketemu sama kakak kelas OSIS yang galak dan sok senior”.
            “Iya emang gitu kan kalau lagi MOS kakak-kakak kelas yang jadi anggota OSIS itu sok galak dan sok senior. Tapi gue yakin aslinya mereka gak kaya gitu”.
            “Iya sih tapi ini beda Mel, soalnya waktu kemarin gue MOS tanpa alasan jelas mereka itu sering banget marah-marahin gue, ngerjain gue. Padahal kan gue itu enggak salah apa-apa dan setiap mereka nyuruh gue, gue pasti turutin semua perintah mereka”, curhat Nabila.
            “Iya mungkin aja mereka itu sirik sama lo, karena lo cantik dan manis”.
            “Ah lo mah bisa aja. Kita sudah sampai nih,gue anter sampai sini aja ya. Soalnya sebentar lagi bel dan gue harus cepat-cepat masuk kelas. Lo enggak apa-apa kan gue tinggal?”, kata Nabila saat sudah sampai didepan ruang kepsek.
            “Iya enggak apa-apa Nab, makasih ya sudah anterin gue”.
            “Iya sama-sama. Gue tinggal dulu ya, mudah-mudahan kita sekelas dan sebangku. Bye”, kata Nabila sambil melambaikan tangannya dan berlalu dari hadapan Melody.
            “Amin..”, jawab Melody. Melodypun mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian Melodypun masuk ke ruangan kepsek. Setelah memperkenalkan diri dan melihat kelengkapan data Melody, pak kepala sekolahpun mengantarkan Melody ke kelas barunya. Dan ternyata dia sekelas dan sebangku dengan Nabila sahabat pertamanya di Jakarta.
***
            “Gue senang deh bisa sebangku sama lo Mel”, kata Nabila saat mereka sedang berjalan menuju kantin.
            “Memangnya disebelah lo dari awalnya kosong?”.
            “Enggak, tadinya gue sebangku sama Rara teman gue waktu SMP tapi karena dia harus pindah ke Jepang ikut bapaknya pindah tugas, ya jadinya bangku disebelah gue kosong. Tapi untung ada lo jadi setiap hari gue ada yang temanin dan ada yang bisa diajak ngobrol kalau gue engga ngerti sama pelajaran yang diajarin”, cerita Nabila. Melody hanya mengangguk.
            Tiba-tiba dari arah belakang, Melody dan Nabila ditabrak oleh seseorang dan hampir saja Melody terjatuh kalau saja dia tidak mempertahankan keseimbangannya. “Aduh.. kalau jalan lihat-lihat dong”, kata Melody sambil memegang bahu kirinya yang sakit.
            “Iya nih, sakit tau tangan gue gara-gara lo tabrak tadi”, gumam Nabila.
            “Sory.. sory gue gak sengaja, mana sini yang sakit gue obatin”, kata cowok itu.
            “Lo…”, kata Melody kaget melihat wajah cowok yang menabrak dia dan Nabila. Sedangkan si cowok hanya mengerutkan keningnya.
            “Lo kan orang yang enggak bertanggung jawab sudah nyerempet gue kemarin pake sepeda. Pantes aja kemarin lo nyerempet gue, jalan saja belum bisa masih nabrak-nabrak orang apalagi naik sepeda”.
            “Oh jadi lo orang yang gue serempet pake sepeda terus lo teriak-teriak kaya orang gila? Gue kan kemarin sudah minta maaf apa lo gak dengar permintaan maaf dari gue kemarin? Malah bilang gue enggak tanggung jawab lagi”.
            “Iya gue dengar tapi setidaknya lo turun dulu dari sepeda lo sambil minta maaf, terus lihat keadaan gue apa gue terluka atau enggak gara-gara diserempet sama lo. Eh lo malah minta maaf sambil terus jalan saja, apa itu namanya orang yang bertanggung jawab? Enggak kan?”.
            “Oke kalau itu mau lo, gimana keadaan lo ada yang luka enggak? Tapi kayanya lo enggak apa-apa ya?”.
            “Enak aja lo bilang gue gak apa-apa. Nih lihat siku sama lutut gue luka gara-gara diserempet lo kemarin. Terus juga bahu gue sakit gara-gara lo tabrak tadi”, kata Melody sambil memperlihatkan siku kanannya yang dibalut plester.
            “Alah luka segitu aja lo ngomel-ngomel. Lo mau ganti rugi berapa? Tinggal sebutin, sejuta, dua juta?”.
            “Eh orang sombong, lo bisa aja beli apapun yang lo mau pakai uang lo tapi enggak buat gue. Gue gak butuh uang lo, gue masih mampu kok nyembuhin luka gue sendiri. Permisi. Ayo Nabila kita pergi, ngapain kita lama-lama sama orang sombong kaya dia”, kata Melody sambil menggamit lengan Nabila menjauh pergi dari cowok itu.
            “Mel, lo kok marah-marah sama dia sih?”, tanya Nabila setelah sudah jauh dari cowok itu.
            “Iya gimana gue gak marah-marah Nab, kan lo dengar sendiri dia sudah nabrak gue terus dia malah nawarin gue uang buat ganti ruginya emangnya gue cewek murahan yang bisa diiming-imingi sama harta”.
            “Iya benar sih yang lo bilang tadi, tapi lo tau gak dia ketua OSIS disini dan dia itu kakak senior yang paling disegani di sekolah ini. Namanya kak Rendi Nugraha”.
            “Rendi Nugraha? Kayanya gue pernah dengar nama itu. Tadi lo bilang disegani? Lo gak salah orang kaya dia itu disegani sama anak-anak disini?”.
            “Enggak. Soalnya dia itu kakak kelas yang paling baik disini, selain itu dia juga pintar, banyak prestasi yang sudah dia peroleh selama sekolah disini, ketua OSIS, tajir dan paling penting dia itu ganteng”, jelas Nabila. Melody hanya mengangguk Walaupun cowok yang bernama Rendi Nugraha itu disegani di sekolah Melody, tapi bagi Melody, Rendi itu cowok paling menyebalkan yang pernah dia kenal.
            Sejak kejadian itu setiap kali Melody dan Rendi bertemu, pasti ada saja pertengkaran diantara mereka baik di rumah ataupun di sekolah. Melody dan Rendi sama-sama belum mengetahui kalau orang yang selama ini menjadi musuh mereka itu adalah teman masa kecil mereka yang mereka rindukan sampai saat ini.
***
            Hari ini adalah hari diadakannya camping bagi yang ikut ekskul pecinta alam. Melody dan Nabilapun mengikuti kegiatan tersebut. Camping itu diadakan  di taman wisata alam Situ Gunung yang berada di kaki gunung Pangrango Sukabumi Jawa Barat. Setelah dua jam di perjalanan, akhirnya tim pecinta alam sudah sampai di Situ Gunung. Suasana yang indah dan nyaman sudah dirasakan anggota tim pecinta alam saat turun dari bus.
            “Anak-anak kita sudah sampai di Taman Wisata Alam Situ Gunung, karena hari sudah mulai gelap kita bikin tenda masing-masing untuk kita istirahat. Satu tenda berisi tiga sampai lima orang. Malam harinya kita adakan api unggun, dan besok subuh jam lima kita mulai mengadakan penjelajahan di Situ Gunung ini. Ayo semua mulai mendirikan tenda”, kata Pak Indra Pembina Pecinta Alam.
            Anggota pecinta alam dan para pembinapun mendiri tenda mereka masing-masing. Sore haripun berganti dengan malam hari, merekapun bersiap-siap melaksanakan kegiatan kedua yaitu api unggun. Diacara api unggun itu, Rendi menghibur para Pembina dan anggota pecinta alam dengan menyanyikan sebuah lagu “Dia” dari Sammy Simorangkir sambil memainkan gitar.
            “Mel, kak Rendi keren ya, suaranya bagus lagi. Terus juga nyanyinya itu penuh penghayatan”, komen Nabila sambil menikmati lagu dari Rendi.
            “Biasa aja”, jawab Melody sambil melengos.
            “Sampai kapan sih Mel lo bertengkar terus sama dia? Kaya kucing sama tikus tau”.
            “Sampai dia minta maaf dan berlutut di hadapan gue”, jawab Melody. Mendengar jawaban dari Melody, Nabila hanya geleng-geleng kepala.
***
            Paginya acaranya penjelajahan dimulai, sehabis sholat subuh, sarapan dan mandi merekapun siap-siap untuk menjelajahi Situ Gunung. Merekapun  menyusuri jajaran pecahan batu yang ditata dengan apik membentuk jogging track, disekeliling hutan itu tak henti mereka melihat pohon dammar yang hijau dan menyejukkan mata, hari kedua mereka lalui dengan berkeliling Situ Gunung. Selama berkeliling Situ Gunung, Melody tak henti-hentinya mengabadikan keindahan Situ Gunung dengan kamera Cannon miliknya. Hari kedua di Situ Gunung, mereka mengunjungi keindahan Curug Sawer dan Curug Simalaracun. Sesampainya di Curug Simalaracun, Pak Indrapun menyampaikan sedikit info tentang curug itu.
            “Anak-anak ini namanya Curug Simalaracun, konon katanya disini itu ada kekuatan magis. Tapi bapak juga tidak tau kekuatan magis seperti apa yang dimaksud. Kalau yang mau foto-foto silahkan,bapak kasih waktu kalian untuk foto-foto dan istirahat selama 30 menit sebelumnya kita melanjutkan penjelajahan ke curug Sawer”, kata Pak Indra. Semua anggota pecinta alam sangat senang menikmati kebebasan itu, mereka tak menyia-nyiakan kesempatan itu ada yang foto-foto, menikmati sejuknya aliran air curug Simalaracun ataupun sekedar duduk santai di bebatuan air terjun itu.
            Setelah puas menikmati suasana indah di curug Simalaracun merekapun pergi ke curug Sawer yang berjarak sekitar 4 km dari curug Simalaracun, merekapun berjalan melalui jogging track yang berbukit-bukit untuk menuju curug Sawer. Sepanjang perjalanan menuju curug Sawer Melody tak henti-henti mengambil gambar yang ada di Situ Gunung, tempat itu memang indah jadi sayang untuk di lewatkan begitu saja, belum tentu kita bisa kembali ke tempat itu. Sekitar 30 menit berjalan mereka sudah sampai di curug Sawer.
            “Nah ini namanya curug Sawer dan di sebelah curug ini juga terdapat curug yang bernama curug Bagong, tapi curug bagong ini jauh lebih kecil dibanding curug sawer dan di curug bagong ini konon mengalirkan air bertuah. Curug sawer ini mengalirkan air ke sungai Cinumpang. Di curug Sawer ini juga ada sebuah kubangan tapi kalian jangan coba-coba untuk berenang disana ya karena kubangan itu sangat dalam akibat gerusan air dari curug ini”, jelas Pak Andi sambil menjelajahi curug Sawer sedangkan murid-muridnya hanya mengikuti pak Andi dari belakang. Setelah menjelajahi curug sawer dan curug bagong, merekapun kembali ke tenda.
            Hari terakhir di Situ Gunung, mereka habiskan di danau buatan yang ada di Situ Gunung itu sebelum sore harinya kembali ke Jakarta. Sejauh mata memandang nampak sekali keindahan danau  yang bisa dipakai untuk memacing ataupun segedar berjalan-jalan mengelilingi danau dengan perahu.
            “Nah anak-anak ini namanya Danau Situ Gunung, danau ini merupakan danau buatan yang dibuat tahun 1814 oleh “Mbah Jalun”, seorang bangsawan dari Mataram yang lari ke Sukabumi karena menjadi buronan Belanda”, jelas pak Andi.
            “Nab, perasaan dari kemarin kita ada disini pak Andi terus yang jelasin. Kayanya dia tau banget tentang Situ Gunung ini, jangan-jangan Situ Gunung ini dia yang punya?”, komen Melody sambil berbisik.
            “Gue juga gak tau Mel, tapi mungkin karena dia orang Sukabumi asli kali ya, jadi dia paham banget tentang seluk beluk Situ Gunung itu”.
            “Oh pantes”, kata Melody mengangguk-angguk.
            “Eh ngapain lo berdua bisik-bisik? Lagi ngomongin gue ya?”, samber Rendi dari arah belakang.
            “Ih… ngapain lo nyamber-nyamber kaya tiang listrik? Terus siapa juga yang ngomongin orang sombong kaya lo? Amit-amit. Ayo Nab, kita pergi dari sini, malas gue ngomong sama orang belagu kaya dia”, kata Melody sambil berlalu pergi.
            “Yeee… ngomongnya biasa aja dong jangan nyolot begitu, dasar nenek lampir”.
            Mendengar omongan Rendi, Melody menghentikan langkahnya dan kembali kehadapan Rendi. “Lo ngomong apa barusan? Nenek lampir? Lo gak salah ngomong? Orang cantik kaya gue disebut nenek lampir? Dasar banteng lo”.
            “Lo bilang apa tadi? Lo cantik? Oke gue ngakuin lo emang cantik, tapi dilihat dari monas baru lo cantik. Tapi tunggu-tunggu tadi lo bilang apa? Lo ngatain gue banteng?”.
            “Iya lo emang banteng. Lo itu kaya banteng yang kalau jalan suka nabrak-nabrak orang. Buktinya lo sudah dua kali nabrak gue bukannya itu namanya banteng. Kenapa masalah?”.
            “Eh lo tuh yang suka halangin jalan gue, so jangan salahin gue kalau gue suka nabrak lo”.
            “Terserah lo deh, gue lagi malas berdebat sama ketua OSIS sekaligus kakak kelas yang super duper nyebelin kaya lo. Yuk kita pergi saja dari hadapan kakak kelas yang sok ganteng ini”, kata Melody sambil berlalu pergi disusul oleh Nabila
***
Sore harinya semua anggota pecinta alam kembali ke Jakarta. Setelah menempuh dua jam lebih merekapun sudah sampai di Jakarta. Para anggotapun pulang ke rumah mereka masing-masing. Sekitar jam 7 malam Melody sudah sampai di rumahnya. Terlihat dari depan rumahnya sudah ada mobil yang baru dia lihat. Melodypun melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.
“Assallamu alaikum”, sapa Melody sambil membuka pintu rumahnya.
“Waalaikum salam, kamu sudah pulang sayang”, kata mamah Melody sambil menghampiri anaknya. Melodypun mencium tangan mamahnya.
“Mah ada tamu ya? Mereka siapa mah?”, bisik Melody saat melihat sepasang suami istri yang umurnya sebaya dengan papa dan mamahnya.
“Iya kamu ingat gak? Mereka itu om Dani dan tante Merry orang tuanya Rendi teman kecil kamu”.
“Jadi ini mamah papanya Rendi?’, tanya Melody kaget.
“Iya Melody. Kamu sudah besar ya sekarang tinggi, tambah cantik lagi. Apa kabar kamu?”, kata tante Merry sambil mencium pipi kanan dan kiri Melody.
“Baik tante, tante sama om sendiri apa kabar? By the way Rendinya mana tante?”.
“Rendinya lagi ikut camping ke Sukabumi. Oh iya kata mamah kamu, kamu sekolah di SMA 1 ya? Rendi juga sekolah di sana loh, apa kamu sering ketemu sama dia?”.
“Oh Rendi juga sekolah disana tante? Kayanya aku gak pernah ketemu sama dia soalnya nama Rendi di sekolah aku banyak tante, teman sekelas aku juga ada yang namanya Rendi”.
“Iya benar, Rendi juga pernah kalau teman seangkatan dia juga ada yang namanya Rendi. Ya sudah nanti kalau tante sama om main lagi kesini tante aja dia deh”.
Melody hanya tersenyum. “Om, tante, Melody permisi ke kamar dulu ya. Mau nyimpen barang-barang ini dulu”.
“Oh iya kamu istirahat aja Mel, tante sama om juga kayanya mau pulang dulu lagian sudah malam. Mbak Anissa, mas Ryan kami permisi pulang dulu ya”.
“Iya enggak terasa ya sudah malam, padahal masih banyak yang mau kita obrolin, maklum sudah lama sih gak ketemu sekitar 8 tahun ya kita gak ketemu”.
“Iya kapan-kapan kita kesini lagi deh, kalau enggak mbak Anissa sama mas Ryan yang ke rumah kita sekalian silahturahmi. Kamu juga Melody sering-sering ke rumah tante sekalian ketemu sama Rendi”
“Iya benar Mel, Rendi sering bilang ke om kalau dia kangen sama kamu”, kata om Dani menambahkan.
“Iya om, tante kapan-kapan aku sama mamah, papa dan Friska main ke rumah om dan tante”, kata Melody sambil mengantar tante Merry menuju teras rumahnya
“Iya tante tunggu ya Mel, ya sudah kita berdua pulang dulu ya. Assallamu alaikum”, kata tante Merry sambil berjalan menuju mobil lalu masuk kedalam mobil.
            “Pulang dulu ya mas Ryan, mbak Anissa, Melody. Assallamualaikum”, kata om Dani sambil masuk kedalam mobil.
            “Waalaikum salam”, jawab keluarga Melody. Mobil om Danipun keluar dari rumah Melody dan bergerak manuju rumah mereka. Setelah mobil om Dani menghilang dari pandangan mamah dan papa Melody masuk menuju ruang keluarga sementara Melody bergerak keatas menuju kamarnya.
***
            Selesai mandi, makan malam dan membereskan keperluannya sekolah, Melody merebahkan badannya di kasurnya yang empuk. Dia merasa senang karena bertemu orang tua teman masa kecilnya. Walaupun dia tidak bertemu dengan Rendi secara langsung, tapi ini jalan baginya untuk bertemu denga sahabat kecilnya itu.
            “Rendi sekarang kaya gimana ya? Duh gue kangen banget sama dia. Tadi tante Merry bilang Rendi di sekolah yang sama kaya gue? Yang mana ya? Jangan-jangan Rendi teman sekelas gue? Tapi tadi tante Merry bilang kalau Rendi gak bisa ikut kesini, karena dia ikut camping di Sukabumi, yang ikutcampingkan Rendi ketua OSIS yang sok ganteng dan belagu itu sedangkan Rendi teman sekelas gue gak ikut, jangan-jangan yang tante Merry maksud itu Rendi ketua OSIS lagi? Enggak mungkin Rendi yang nyebelin itu teman kecil gue dan anaknya tante Merry dan om Dani. Enggak mungkin, masa cowok nyebelin kaya dia teman kecil gue, gak mungkin. Pokoknya gue harus pastiin kalau Rendi anaknya tante Merry dan om Dani itu bukan Rendi yang nyebelin kaya dia”.
***
            Ternyata itu adalah awal dan akhir pertemuan Melody dan kedua orang tuanya Rendi, karena mereka sibuk dengan kerjaan mereka di luar negeri. Rasa penasaran Melody terhadap sosok Rendi teman kecilnya makin memuncak, tapi kesibukannya di sekolah dan diluar sekolah membuat dia tidak sempat untuk menyelidiki Rendi yang ada disekolahnya sendiri dan memaksa Melody meredam rasa penasarannya. Karena kesibukan itu pula membuat Melody tidak terlau memikirkan hal itu.
            Waktu cepat berlalu dan hari ini Melody, Nabila dan teman seangkatannya sudah memasuki hari terakhir ujian semester akhir kelas dua, berarti beberapa minggu lagi mereka akan naik ke kelas tiga menggantikan angkatan Rendi kakak kelas mereka.
            “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ujian semesternya. Jadi deg-degan nih kira-kira kita naik kelas gak ya?”, kata Nabila saat keluar dari ruangan ujian.
            “Iya pasti naik lah Nab, malu-maluin kalau sampai gak naik kelas”.
            “Amin.. By the way liburan semester ini mau kemana Mel?”.
            “Rencananya sih gue sama keluarga gue mau liburan ke Sukabumi, ketempat favorit keluarga gue sungai Cisolok, kalau lo Nab?”.
            “Gak tau belum ada rencana nih”.
            “Kalau gitu lo ikut aja sama keluarga gue ke Sukabumi gimana? Kalau mamah sama papa kamu gak sibuk sekalian ajak mereka juga, kan biar keluarga lo sama keluarga gue bisa lebih akrab lagi. Jarang-jarang lo ada orang tua anaknya yang akrab sama orang tua sahabat anaknya”.
            “Bagus juga ide lo Mel, tapi gue tanya dulu sama mamah, papa gue ya”.
            “Sip..”, kata Melody sambil mengacungkan jempolnya.
***
            Hari ini adalah hari pengambilan rapot untuk kelas 1 dan 2 di sekolah Melody. Alhamdulillah hasil yang diperoleh Melody sangat baik dan memuaskan begitupula dengan Nabila dan teman-teman seangkatan Melody.
            “Oh iya Mel, tadi gue sudah tanya mamah sama papa katanya mereka gak bisa ikut, soalnya mereka banyak kerjaan”.
            ‘Hmm… ya sudah enggak apa-apa, tapi lo ikut kan? Soalnya mamah dan papa gue juga gak bisa karena mereka juga banyak kerjaan yang gak bisa mereka tinggal”.
            “Sory Mel, gue gak bisa….”.
            “Yah Nab, kalau lo gak ikut masa gue sama Friska aja kesananya. Gak seru ah”, kata Melody cemberut.
            “Maksud gue, gue gak bisa nolak ajakan lo. Mel, besok gue berangkat dari rumah lo aja ya, soalnya kan gue belum tau jalan kesana lagian”.
            “Oh kirain.. Ya sudah lo besok sampai rumah gue jam 8 ya”
            “Oke siap”.
***
            Esok harinya pukul 8 pagi Nabila sudah sampai di rumah Melody, setelah Melodi dan Friska memeriksa barang-barang yang harus dibawa merekapun berangkat ke Sukabumi. Sekitar dua jam perjalanan merekapun telah sampai di sungai cisolok. Berkunjung ke sungai ini pengunjung akan melewati jembatan yang berdiri diatas sebuah sungai. Ditengah-tengah sungai terdapat semburan air panas dengan suhu yang cukup tinggi sekitar 80 derajat Celcius. Terlihat dipinggir sungai banyak wisatawan yang sedang berendam air panas atau sekedar duduk di atas batu di pinggir sungai. Melody, Friska dan Nabilapun ikut bergabung dengan pengunjung lain menikmati suasana dipinggir sungai. Disaat Melody sedang memotret keindahan tepi sungai, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari arah depan Melody hampir terjatuh kalau saja orang itu tidak menangkap tuubuhnya yang limbung. Sesaat kedua mata mereka saling berpandangan. Tapi Melody segera menjauh dari orang itu yang ternyata Rendi.
            “Lo lagi.. Lo lagi.. Kapan sih lo bisa jalan yang benar tanpa harus nabrak-nabrak hah? Untung saja kamera gue gak kenapa-kenapa karena tertabrak lo tadi”, kata Melody kesal.
            “Kan sudah gue bilang lo tuh yang selalu halangi jalan gue, jadi lo jangan nyalahin gue terus”.
            “Emang lo yang salah kok, lo sudah tiga kali nabrak gue. Pertama didepan rumah gue terus di sekolah sekarang disini. Lo masih mau bilang kalau lo gak salah?”.
            “Terserah lo saja deh, gue cape hadapi orang keras kepala kaya lo”, kata Rendi sambil pergi.
            “Melody”, panggil seseorang yang ternyata tante Merry, mamahnya Rendi sambil menghampiri Melody. Mendngar teriakan mamahnya itu, Rendi menghentikan langkahnya.
            “Eh om, tante juga ada disini ya?”, tanya Melody.
            “Iya Mel, kamu juga  lagi liburan disini ya? Mamah, papamu mana?”, tanya tante Merry sambil melihat kesekeliling.
            “Aku sama teman aku Nabila dan Friska, mamah sama papa gak ikut soalnya mereka lagi sibuk sama kerjaannya”, kata Melody sambil memperkenalkan Nabila dan Friska.
            “Mamah kenal sama Melody?”, tanya Rendi tiba-tiba.
            “Ya ampun kamu gak kenal sama Melody? Dia itu teman kamu waktu kecil”, kata tante Merry yang membuat Melody dan Rendi kaget.
            “Jadi dia Rendi yang tante ceritain waktu di rumah aku? Yang kata tante dia gak datang karena camping di Sukabumi?”, tanya Melody kaget.
            Tante Merry mengangguk. “Iya Mel, ini Rendi. Masa kamu lupa sama teman kamu sendiri?”.
            “Kan sekarang mah sudah beda waktu itu kita masih kecil sekarang kita sudah SMA, makanya kami gak saling kenal”, jawab Rendi.
            “Ya sudah, oh iya Mel kamu sama teman-teman kamu menginap dimana?”.
            “Kaya di hotel dekat-dekat sini tante”.
            “Kalau kalian mau, kalian menginap di villa tante aja ya. Daripada menginap di hotel bayarnya mahal mending di villa sekalian kamu kangen-kangenan sama Rendi”.
            Melody tersenyum. “Gak usah tante, takutnya ngerepotin. Kami menginap di hotel aja”.
            “Enggak ngerepotin kok Mel, ya sudah yuk kita langsung ke villa”, kata tante Merry. Melody hanya mengangguk. Melody bersama Nabila, Friska dan Rendipun pergi ke villa tante Merry.
***
            Sudah tiga hari Melody, Nabila dan Friska liburan di sungai Cisolok Sukabumi, banyak moment-moment indah yang diabadikan Melody dalam kameranya. Walaupun Melody dan Rendi sama-sama tau kalau mereka adalah teman sejak kecil, tapi pertengkaran-pertengkaran mereka masih berlanjut. Banyak kejahilan-kejahilan yang Rendi perbuat hingga membuat Melody kesal. Seperti kali ini Rendi memasukkan biawak di kamar Melody, Friska dan Nabila. Alhasil Nabila dan Melody menjerit ketakutan sedangkan Friska menghampiri biawak itu dan menggendongnya.
            “Ya ampun kak, ini hanya biawak. Lihat tuh lucu kan”, kata Friska sambil mendekatkan biawak yang digendongnya kepada Nabila dan Melody.
            “Eh… Eh… Fris jangan dekat-dekat, bawa keluar sana. Lo kan tau kalau gue takut sama biawak”, kata Melody.
            “Iya,,, iya aku bawa keluar”, kata Friska sambil hendak membawa jauh-jauh pergi biawak itu. Tapi tiba-tiba didepan pintu sudah ada Rendi, tante Merry dan om Dani yang melihat keadaan Melody karena teriakan itu.
            “Melody kamu kenapa? Tadi tante kaget dengar aaada yang teriak dari kamar kamu”, kata tante Merry.
            “Karena biawak ini tante, makanya Melody teriak”, jawab Friska.
            “Iya tante aku kan takut sama biawak, jadinya kaya gini deh”.
            “Cemen lo sama biawak aja takut, tuh lihat ade lo aja berani sampe biawak digendong”, ejek Rendi.
            “Hush.. kamu jangan bilang gitu Ren sama Melody. Ya sudah Melody, Nabila, Friska kalau sudah gak ada apa-apa om dan tante tinggal dulu ya. Friska kamu bawa keluar biawak itu ya, kasihan kakak kamu ketakutan begitu”, kata om Dani sambil berlalu dari hadapan Melody, Friska, Nabila dan Rendi disusul oleh tante Merry. Friskapun membawa keluar biawak itu.
            “Eh Ren, lo kan yang taruh biawak itu dikamar ini. Iya kan? Lo lup kalau gue takut sama biawak?”
            “Kalau emang gue yang taruh kenapa? Gue gak lupa kok kalau teman kecil gue ini takut sama biawak, gue sengaja taruh biawak itu buat ngasih pelajaran lo, habisnya lo nyebelin sih. Sudah lama kita gak ketemu tapi pas ketemu lo jadi orang yang super duper nyebelin”.
“Oh gitu? Dengar ya Rendi Nugraha, lo emang teman masa kecil gue tapi atas perlakuan lo semenjak gue datang ke Jakarta dan sampe sekarang lo yang benar-benar nyebelin dan kelewatan lo bukan lagi teman gue. Dan perlakuan lo sekarang gak akan gue maafin. Ngerti”, kata Melody sambil berlalu dari hadapan Rendi disusul oleh Nabila.
***
            Sejak saat itu hubungan Melodydan Rendi yang tadinya buruk  menjadi lebih buruk. Hal itu membuat Rendi merasa bersalah, teman kecil yang selalu dirindukannya malah berubah menjadi musuh karena kesalahan dia sendiri. Sejak pertengkaran terakhir dengan Rendi, Melody kembali merasakan kehilangan. Selama dua tahun sejak pertemuan kembali dengan Rendi membuat hariMelody yang dipenuhi oleh warna, makin berwarna. Walaupun hubungan mereka tidak baik dan sering diwarnai pertengkaran tapi ada kenikmatan sendiri di hidup Melody. Hari ini hari terakhir Rendi berada di Jakarta, karena dia memutuskan untuk kuliah di Melbourne, Negara kanguru Australia. Sebelum berangkat dia memutuskan untuk bertemu dengan Melody dan meminta maaf. Diapun sudah di sekolah dan menunggu Melody di depan gerbang. Setelah menemukan sosok yang dicarinya, diapun menghampiri Melody.
            “Hai Melody, Nabila apa kabar?”, sapa Rendi.
            “Baik kak Rendi tumben kakak main kesini?”, jawab Nabila.
            “Iya nih Nab, gue kesini mau ketemu sama teman lo”.
            “Lo mau ketemu sama gue? Ada apa? Mau ngerjain gue lagi atau lo bawa kejutan biawak buat  gue?”.
            “Gue mau ngajak lo jalan. Nab lo gak apa-apa kan pulang sendiri? Hari ini gue minjem teman lo ya, hanya hari ini aja kok. Gue janji gue kembaliin dia masih utuh gak ada yang kurang satupun”, kata Rendi meminta izin kepada Nabila to the point.
            “Iya boleh kak, aku percaya kalau kakak gak akan ngapa-ngapain Melody”, jawab Nabila sambil tersenyum.
            “Tuhkan Nabila sudah ngizinin jadi lo gak ada waktu untuk nolak ajakan gue. Nabila kita berangkat dulu ya, lo hati-hati di jalan”, kata Rendi sambil menarik tangan Melody lembut untuk menuju mobilnya.
            “Eh gak usah pake tarik-tarik segala kali, sakit tau. Lagian gue mau dibawa kemana sih?”, gerutu Melody.
            “Sudah lo diam dan duduk manis aja ya, silahkan masuk tuan putri”, kata Rendi sambil mendorong lembut Melody untuk masuk kedalam mobil. Melody hanya diam dan masuk kedalam mobil Rendi. Beberapa detik kemudian, mobilpun berjalan membelah jalanan ibukota. Didalam mobil Melody hanya diam saja sambil berpikir kemana Rendi akan membawanya pergi. Setelah dua jam perjalanan mobilpun berhenti di tempat yang sudah tak asing lagi bagi Melody. Ternyata Rendi membawa Melody ke sungai cisolok, tempat favorit mereka berlibur dan tempat kenangan mereka waktu kecil.
            “Lo ngapain ngajak gue kesini?”, kata Melody sambil keluar dari mobil.
            “Tempat ini merupakan tempat favorit kita kalau lagi liburan, waktu kecil kita sering berendam air panas bareng disini ataupun sekedar jalan-jalan dipinggir sungai. Lo masih ingat gak? Tempat ini juga yang ngasih tau kita kalau kita ini teman masa kecil yang sudah 9 tahun berpisah dan tempat ini juga yang bikin lo marah banget sama gue dua minggu yang lalu”.
            “Sebenarnya lo mau ngomong apa sih? Gue gak ngerti sama yang lo omongin”.
            “Mel gue minta maaf ya karena selama ini gue sudah bikin kesel lo, bikin marah lo. Lo mau kan maafin gue Mel?”.
            “Lo tulus gak minta maaf sama gue?”.
            “Iya gue tulus minta maaf sama lo masa sih lo gak percaya sama gue?”.
            “Oke gue maafin, tapi lo janji lo gak akan bikin kesel lagi”.
            “Iya gue janji. Mel, kayanya besok kita gak akan ketemu lagi deh soalnya gue mau nerusin kuliah di Melbourne tapi gue janji setahun kemudian pas lo lulus  gue bakal balik lagi kesini”.
            “Yah baru juga kita baikan lo sudah mau pergi lagi. Tapi kalau buat sekolah gue pasti dukung lo mau kuliah dimana aja. Gue nitip boneka kanguru ya”.
            “Siap.. nanti pas gue balik ke Jakarta gue bawain titipan lo”, kata Rendi.
***
            “Nab kita itu mau kemana sih? Pakai tutup mata segala”, tanya Melody. Pulang dari kuliah Nabila mengajak Melody ke suatu tempat sebagai surprise karena hari ini ulang tahun Melody.
            “Sudah lo diam aja sebentar lagi sampai kok. Yang jelas pasti lo suka”, jawab Nabila.Nabila dan Melodypun sudah sampai di jembatan sungai Cisolok dan disana pula sudah ada Rendi yang membawa sekotak kue ulang tahun dan Andre pacar Nabila.
“Nah sudah sampai Mel, gue buka ikatan penutup mata lo ya, tapi lo jangan buka mata dulu sebelum hitungan ketiga. 1.. 2… 3, sekarang lo boleh buka mata”, kata Nabila. Melodypun membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia karena didepannya sudah ada Rendi yang membawa kue ulang tahun.
Happy Birthday Melody, ayo tiup lilinnya jangan lupa make a wish ya”, kata Rendi. Melody mengangguk dan menutup matanya, setelah itu dia meniup lilin yang ada diatas kue itu. Setelah itu Melody memotong kuenya dan kue pertama dia kasih ke Nabila.
“Ren, katanya lo pulang sebulan lagi, tapi kok lo ada disini sekarang”, tanya Melody ketika dia dan Rendi sedang berjalan-jalan dipinggir sungai.
“Gue kan mau ngerayain ulang tahun lo makanya gue kesini. Mel, gue boleh tanya sesuatu?”, jawab Rendi sambil tersenyum.
“Iya boleh lah, lo mau tanya apa?”.
“Sebenarnya semenjak aku ketemu sama kamu lagi waktu SMA, aku sudah suka sama kamu dan waktu kamu marah sama aku di villa, aku merasa bersalah dan kehilangan dan sekarang aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku sayang kamu Mel, kamu mau gak jadi pacar aku?”.
“Iya aku mau jadi pacar kamu”, jawab Melody. Rendipun merasa senang dan memeluk Melody. Semenit kemudian Rendi melepaskan pelukannya dan mengajak Melody untuk bergabung bersama Nabila dan Andre menikmati indahnya sungai Cisolok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar