Namaku Sita, aku adalah seorang
karyawati di perusahaan swasta. Umurku 22 tahun, aku mempunyai seorang kakak
yang sudah menikah. Karena kakakku sudah menikah dan mengikuti suaminya di
Jakarta, aku pun tinggal bersama Ibuku di Bandung, sementara Ayahku sudah
meninggal ketika aku masih berumur tujuh tahun. Ibu memiliki warung
kecil-kecilan, hasilnya pun lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Setelah
lulus SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku sampai perguruan tinggi.
Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendidikanku ke jenjang bangku kuliah, tapi karena
aku tidak ingin lagi memberatkan beban biaya yang harus di tanggung oleh Ibu,
akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Aku tau penghasilan dari
warung itu tidak seberapa dan harus dibagi dua, sebagian dipakai untuk modal
lagi jika ada salah satu dagangan yang habis dan sebagian untuk keperluan
sehari-hari aku dan Ibuku. Lagipula dengan aku bekerja, aku bisa membantu Ibu
untuk memperbesar warung kecil-kecilan milik Ibu dan membiayai kuliahku tahun
depan.
“Maafkan
Ibu ya, Sit. Ibu belum bisa biayain kamu kuliah. Kamu sendiri kan tau
penghasilan warung harus dipakai modal lagi. Belum lagi barang dagangannya dipakai
untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Ibu sebelum aku mendapatkan pekerjaan.
“Iya
nggak apa-apa Bu, Sita ngerti keadaan kita sekarang, makanya sekarang mah Sita
cari kerja aja dulu. Ya itung-itung untuk cari pengalaman yang lain. Kan aku bosen
selama dua belas tahun belajar terus, lagian uangnya untuk Ibu juga nantinya,”
kataku sambil tersenyum.
“Nanti
kalau kamu sudah punya pekerjaan dan setiap bulan kamu dapat uang dari hasil
kerja keras kamu, kamu tabung saja untuk bekal masa depan kamu. Lagian masih
banyak kan cita-cita kamu yang belum tercapai, katanya mau kuliah, mau buka
usaha kafe yang memerlukan modal yang banyak. Iya kan? Ibu mah nggak dikasih
juga nggak apa-apa, lagian hasil dari warung juga cukup kok untuk keperluan Ibu
sehari-hari. Ibu juga nggak mau, kamu kasih sebagian uang gaji kamu ke Ibu, tapi
untuk biaya keperluan kamu, kamu masih kekurangan.”
“Iya,
Bu. Insya Allah, kalau aku bekerja dengan rajin, giat, dan dengan niat yang
baik, Allah akan memberikan rezeki yang lebih untuk semua cita-citaku yang
membutuhkan banyak uang itu. Insya Allah aku tidak akan kekurangan untuk
memenuhi semua keperluanku. Aku juga sudah bernazar, jika aku dapat pekerjaan
nanti sebagian gaji pertamaku akan aku sedekahkan untuk anak yatim dan pastinya
untuk Ibuku yang cantik ini. Doain ya, Bu, mudah-mudahan aku cepat dapat
pekerjaan.”
“Amin..
Iya Ibu doakan semoga cita-citamu di kabulkan oleh Allah SWT. Tapi ingat pesan
Ibu ya, kamu jangan pernah meninggalkan sholat dan walaupun kamu sudah sukses
kamu harus selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, dan kalau ada waktu
kamu harus sempatkan sholat duha supaya rezekimu dilancarkan dan ditambah oleh
Allah SWT. Itu yang paling penting. Percuma kalau kita berusaha terus tapi
ibadah di tinggalkan. Hidup itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Kamu
harus ingat pepatah, kejarlah duniamu seakan kamu hidup seribu tahun dan
kejarlah akhiratmu seakan kamu mati besok. Satu lagi, jangan lupa sama nazar
kamu ya.”
“Siap,
Bu,” kataku sambil merangkul Ibu.
Setelah
kurang dari sebulan aku menganggur dan membantu Ibu mengurus warung, aku pun
mendapatkan panggilan dari sebuah perusahaan swasta, setelah di wawancara dan
di test, Alhamdulillah aku diterima menjadi karyawati bagian Administrasi di
perusahaan itu. Alhamdulillah sudah hampir setahun aku bekerja di perusahaan
itu, aku juga sudah melaksanakan nazarku untuk memberikan sebagian gaji
pertamaku kepada anak yatim. Uang dari gaji yang aku peroleh setiap bulan,
sebagian aku sisihkan untuk di tabung seperti kata Ibuku, dan tahun ini aku
juga sudah masuk kuliah, walaupun hanya kuliah malam karena pagi harinya aku
harus bekerja. Tetapi aku bersyukur masih diberikan rezeki untuk biaya kuliah
dari hasil keringatku sendiri.
“Ya
Allah, terima kasih kau telah memberikan rezeki dan mengabulkan keinginan
anakku. Ya allah berilah kelancaran dalam pekerjaan dan pendidikan anakku,
lancarkanlah rezeki untukku dan anakku. Mudahkanlah semua urusanku dan anakku
ya Allah. Dan jika Engkau menghendaki, panggillah aku untuk menuju rumahMu. Aku
ingin menyempurnakan ibadahku dengan menunaikan ibadah haji sesuai perintahMu.
Kabulkan doa hambaMu ini ya Allah. Amin,” itulah sebagian doa yang aku dengar
ketika aku pulang dari kuliah. Aku tidak menyangka kalau Ibuku ingin menunaikan
ibadah haji. Setelah mendengar doa Ibuku, tanpa sepengetahuan Ibuku, setiap
bulannya aku menyisihkan sebagian gaji bulananku untuk di tabung di bank
Syariah atas nama Ibuku. Alhamdulillah atas doa Ibuku juga, pekerjaan dan
kuliahku lancar dan setiap aku lembur tanpa mengganggu waktu kuliah, aku selalu
diberi tambahan bonus dari bosku. Uang itu yang aku tabung untuk biaya naik
haji Ibuku. Walaupun uang yang aku sisihkan tidak besar jumlahnya, tapi aku
berharap lima tahun yang akan datang uang itu cukup untuk menaikan haji Ibuku.
Itulah salah satu impian yang aku ingin capai dalam waktu lima tahun selain
memiliki usaha kafe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar