Selasa, 07 Januari 2014

AKU, IBUKU DAN IMPIANKU


Namaku Sita, aku adalah seorang karyawati di perusahaan swasta. Umurku 22 tahun, aku mempunyai seorang kakak yang sudah menikah. Karena kakakku sudah menikah dan mengikuti suaminya di Jakarta, aku pun tinggal bersama Ibuku di Bandung, sementara Ayahku sudah meninggal ketika aku masih berumur tujuh tahun. Ibu memiliki warung kecil-kecilan, hasilnya pun lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku sampai perguruan tinggi. Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendidikanku ke jenjang bangku kuliah, tapi karena aku tidak ingin lagi memberatkan beban biaya yang harus di tanggung oleh Ibu, akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Aku tau penghasilan dari warung itu tidak seberapa dan harus dibagi dua, sebagian dipakai untuk modal lagi jika ada salah satu dagangan yang habis dan sebagian untuk keperluan sehari-hari aku dan Ibuku. Lagipula dengan aku bekerja, aku bisa membantu Ibu untuk memperbesar warung kecil-kecilan milik Ibu dan membiayai kuliahku tahun depan.
            “Maafkan Ibu ya, Sit. Ibu belum bisa biayain kamu kuliah. Kamu sendiri kan tau penghasilan warung harus dipakai modal lagi. Belum lagi barang dagangannya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Ibu sebelum aku mendapatkan pekerjaan.
            “Iya nggak apa-apa Bu, Sita ngerti keadaan kita sekarang, makanya sekarang mah Sita cari kerja aja dulu. Ya itung-itung untuk cari pengalaman yang lain. Kan aku bosen selama dua belas tahun belajar terus, lagian uangnya untuk Ibu juga nantinya,” kataku sambil tersenyum.
            “Nanti kalau kamu sudah punya pekerjaan dan setiap bulan kamu dapat uang dari hasil kerja keras kamu, kamu tabung saja untuk bekal masa depan kamu. Lagian masih banyak kan cita-cita kamu yang belum tercapai, katanya mau kuliah, mau buka usaha kafe yang memerlukan modal yang banyak. Iya kan? Ibu mah nggak dikasih juga nggak apa-apa, lagian hasil dari warung juga cukup kok untuk keperluan Ibu sehari-hari. Ibu juga nggak mau, kamu kasih sebagian uang gaji kamu ke Ibu, tapi untuk biaya keperluan kamu, kamu masih kekurangan.”
            “Iya, Bu. Insya Allah, kalau aku bekerja dengan rajin, giat, dan dengan niat yang baik, Allah akan memberikan rezeki yang lebih untuk semua cita-citaku yang membutuhkan banyak uang itu. Insya Allah aku tidak akan kekurangan untuk memenuhi semua keperluanku. Aku juga sudah bernazar, jika aku dapat pekerjaan nanti sebagian gaji pertamaku akan aku sedekahkan untuk anak yatim dan pastinya untuk Ibuku yang cantik ini. Doain ya, Bu, mudah-mudahan aku cepat dapat pekerjaan.”
            “Amin.. Iya Ibu doakan semoga cita-citamu di kabulkan oleh Allah SWT. Tapi ingat pesan Ibu ya, kamu jangan pernah meninggalkan sholat dan walaupun kamu sudah sukses kamu harus selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, dan kalau ada waktu kamu harus sempatkan sholat duha supaya rezekimu dilancarkan dan ditambah oleh Allah SWT. Itu yang paling penting. Percuma kalau kita berusaha terus tapi ibadah di tinggalkan. Hidup itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Kamu harus ingat pepatah, kejarlah duniamu seakan kamu hidup seribu tahun dan kejarlah akhiratmu seakan kamu mati besok. Satu lagi, jangan lupa sama nazar kamu ya.”
            “Siap, Bu,” kataku sambil merangkul Ibu.
            Setelah kurang dari sebulan aku menganggur dan membantu Ibu mengurus warung, aku pun mendapatkan panggilan dari sebuah perusahaan swasta, setelah di wawancara dan di test, Alhamdulillah aku diterima menjadi karyawati bagian Administrasi di perusahaan itu. Alhamdulillah sudah hampir setahun aku bekerja di perusahaan itu, aku juga sudah melaksanakan nazarku untuk memberikan sebagian gaji pertamaku kepada anak yatim. Uang dari gaji yang aku peroleh setiap bulan, sebagian aku sisihkan untuk di tabung seperti kata Ibuku, dan tahun ini aku juga sudah masuk kuliah, walaupun hanya kuliah malam karena pagi harinya aku harus bekerja. Tetapi aku bersyukur masih diberikan rezeki untuk biaya kuliah dari hasil keringatku sendiri.
            “Ya Allah, terima kasih kau telah memberikan rezeki dan mengabulkan keinginan anakku. Ya allah berilah kelancaran dalam pekerjaan dan pendidikan anakku, lancarkanlah rezeki untukku dan anakku. Mudahkanlah semua urusanku dan anakku ya Allah. Dan jika Engkau menghendaki, panggillah aku untuk menuju rumahMu. Aku ingin menyempurnakan ibadahku dengan menunaikan ibadah haji sesuai perintahMu. Kabulkan doa hambaMu ini ya Allah. Amin,” itulah sebagian doa yang aku dengar ketika aku pulang dari kuliah. Aku tidak menyangka kalau Ibuku ingin menunaikan ibadah haji. Setelah mendengar doa Ibuku, tanpa sepengetahuan Ibuku, setiap bulannya aku menyisihkan sebagian gaji bulananku untuk di tabung di bank Syariah atas nama Ibuku. Alhamdulillah atas doa Ibuku juga, pekerjaan dan kuliahku lancar dan setiap aku lembur tanpa mengganggu waktu kuliah, aku selalu diberi tambahan bonus dari bosku. Uang itu yang aku tabung untuk biaya naik haji Ibuku. Walaupun uang yang aku sisihkan tidak besar jumlahnya, tapi aku berharap lima tahun yang akan datang uang itu cukup untuk menaikan haji Ibuku. Itulah salah satu impian yang aku ingin capai dalam waktu lima tahun selain memiliki usaha kafe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar