Seorang
gadis menatap nanar ke arah pemakaman Lina, temannya, yang masih merah itu. Dia
tak percaya Lina yang merupakan teman satu angkatan dan sama-sama masuk dalam
ekskul PMR, bisa meninggal dengan cara tragis. Syahnaz Mutiara adalah nama
gadis itu. Syahnaz sekarang duduk di bangku kelas dua SMA dan merupakan
bendahara PMR. Karena pribadi Syahnaz yang cantik, baik, dan supel banyak
teman-teman yang menyukainya.
Tapi
selama beberapa hari terakhir ini dia dan teman-teman anggota PMR, sering mendapatkan
teror dari orang yang tak dikenal. Puncaknya adalah kemarin salah satu anggota
PMR yang bernama Lina meninggal secara tragis di ruang PMR. Syahnaz dan
temannya, Anisa menemukan Lina dalam keadaan mengenaskan. Lina di temukan
dengan kondisi tubuh menggantung di atas tempat tidur yang biasa di pakai saat
ada siswa yang sakit. Sprai tempat tidur yang berwarna putih pun di penuhi oleh
darah yang mengalir dari tubuh Lina. Dengan di bantu oleh Rendi dan Bu Nina,
akhirnya tubuh Lina bisa di lepaskan dari gantungan yang menjeratnya. Setelah
Lina di lepaskan dari gantungannya, terlihat banyak sekali luka goresan benda
tajam yang ada di tubuh dan wajahnya, dan Bu Nina masih dapat merasakan denyut
jantung Lina yang masih berdetak walaupun detak jantung itu lemah. Dan
diketahui darah yang memenuhi tempat tidur di ruang PMR itu berasal dari luka
di sekitar tubuhnya. Tak lama kemudian ambulance yang di panggil oleh Bu Nina
pun datang, dan Lina pun segera di rawat ke rumah sakit tapi sayang, nyawa Lina
tidak selamat, Lina meninggal saat di bawa ke rumah sakit.
“Naz, pulang yuk. Gue tau elo
sedih karena Lina meninggal, tapi mungkin ini takdirnya Lina. Kita semua udah
berusaha untuk menolong Lina kan? tapi Allah juga yang menentukan, mungkin ini
yang terbaik buat Lina,” kata Anisa, teman Syahnaz sejak SD.
“Iya gue tau, Nis. Yang gue
sedih kenapa Lina meninggal dengan cara tragis kayak gitu? Orang yang bunuh
dia, benar-benar gak punya perasaan,” kata Syahnaz sambil melangkah bersama
Anisa meninggalkan pemakaman.
“Iya sih. Oh, iya elo udah tau
belum siapa yang neror kita? Gue masih penasaran sama orang yang neror kita
itu, jangan-jangan meninggalnya Lina ada hubungannya sama orang yang neror
kita?” kata Anisa menebak-nebak.
Syahnaz hanya menggeleng. “Gak
tau Nis, yang gue heran ya kenapa dia bisa tau nomor semua anggota PMR? Kenapa
juga harus anak-anak yang ekskul di PMR aja yang dia teror?”
“Gue juga enggak tau Naz, ya
mudah-mudahan aja ini enggak ada yang neror anak-anak PMR lagi dan ini yang
pertama dan terakhir.”
“Mudah-mudahan aja ya Nis,” kata
Syahnaz sambil masuk ke dalam mobil Anisa. Tiba-tiba BB nya berbunyi tanda ada
sms masuk. Syahnaz pun membaca isi pesan itu.
From : 0856917xxxxx
Siang, kasihan ya teman kamu masih muda tapi harus meninggal dengan
cara tragis? Kamu jangan sedih ya karena ini baru awal permainan, masih ada
permainan-permainan lain yang lebih menyenangkan dari ini. Aku yakin, kalian
pasti menyukai permainan ini. Karena kalian semua harus mati.
Syahnaz membelalakkan matanya,
dia terkejut melihat isi sms dari nomor tak di kenalnya itu. “Awal permainan?”,
gumam Syahnaz.
“Kenapa Naz? Kok muka elo shock
gitu?” tanya Anisa. Belum sempat Syahnaz menjawab, BB Anisa bebunyi tanda sms
masuk. Anisa kaget melihat isi sms itu yang ternyata sama dengan sms yang di
baca Syahnaz.
“Gila, tuh orang benar-benar
Psyco,” lanjut Anisa sambil memperlihatkan isi sms itu kepada Syahnaz.
“Dia juga sms gitu ke gue? Gue
yakin dia pasti sms ke semua pengurus PMR.”
“Gila ya tuh orang, maunya apa
sih dia? Kayaknya dia benci banget sama pengurus PMR yang sekarang, perasaan
tahun lalu aman-aman aja deh. Gak ada teror kayak gini,” kata Anisa kesal.
“Gak tau, kita lihat
perkembangan besok. Ya udah kita pulang Nis,” kata Syahnaz. Anisa hanya
mengangguk dan menyalakan mesin mobilnya.
***
Keesokkan
harinya sms itu jadi topic hangat bagi semua pengurus PMR. Ternyata benar kata
Syahnaz orang itu mengirim sms ke semua pengurus PMR.
“Ada apa sih, kok ribut-ribuk
kayak gini?” tanya Syahnaz ketika dia dan Anisa masuk ruang PMR.
“Ini Naz, kita semua dapat sms
sama orang gak di kenal. Katanya kita semua harus mati ini smsnya,” kata Bella
sambil memperlihatkan sms dari orang tak di kenal itu.
“Iya nih Naz, gue takut nanti
nasib gue sama kayak nasib si Lina,” kata Bunga takut.
“Ah, udahlah kalian gak usah takut Insya Allah
kita gak akan kenapa-kenapa. Mulai sekarang kita harus kompak sebagai pengurus
PMR, kalau ada apa-apa segera kasih tau gue, Syahnaz, Anisa atau teman lain
supaya kita bisa cepat membantu kalian dan menangkap siapa orang yang neror
kita,” kata Rafi.
“Iya gue setuju sama Rafi, kalau
kita kompak dan saling kasih informasi kita bisa meminimalisir aksi mereka. Soalnya
feeling gue bilang, Lina meninggal
karena ada hubungannya sama orang yang sering neror kita,” kata Maria. Semuanya
mengangguk menyetujui idenya Rafi, termasuk Syahnaz dan Anisa.
***
“Naz, anter gue ke kamar mandi
yuk,” ajak Anisa ketika bel istirahat sudah berbunyi.
“Iya udah ayo, tapi habis ke
kamar mandi kita ke kantin, ya. Gue lapar banget nih,” kata Syahnaz sambil
memegang perutnya yang sudah lapar. Anisa hanya mengangguk, mereka pun berjalan
menuju kamar mandi. Saat sudah dekat kamar mandi, mereka melihat Maria dan
beberapa anak cewek lainnya yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
“Siapa sih di dalam? Buka dong
gue mau pipis nih, emang kamar mandi ini punya nenek moyang elo?” kata Maria
kesal diiringi dengan ketukan ke pintu kamar mandi. Cewek-cewek yang ada di
belakang Maria membenarkan dan semuanya mengetuk-ngetuk pintu agar penghuni yang
ada di dalam kamar mandi membukakan pintu kamar mandinya.
“Ada apa sih Mar? kok pada antri
di sini, toiletnya rusak ya?” tanya Syahnaz.
“Gak kok Naz, toiletnya gak
rusak. Kalau rusak pasti ada tulisan, toilet rusak. Pas gue mau ke sini
toiletnya udah ke kunci dan gue sama anak-anak udah 30 menit gedor-gedor, gak
ada yang buka. Gak tau nih orang yang ada di dalam ketiduran kali ya,” jawab
Maria.
“Ya udah gue minta kunci
serepnya dulu ya sama Mang Udin, lo, Anisa dan yang lainnya tunggu di sini.
Ketok-ketok aja terus siapa tau pas gue sama Mang Udin belum datang, pintunya
udah di buka,” kata Syahnaz sambil berlari menemui Mang Udin.
Tak
lama kemudian, Syahnaz dan Mang Udin pun datang membawa kunci serep toilet
perempuan. Tanpa banyak basa basi, Mang Udin pun membuka pintu toilet perempuan
dengan kunci serep itu. Alangkah terkejutnya mereka ketika pintu itu di buka,
mereka melihat Bella, Bunga, Indah, Icha, dan Shania sudah tergeletak di lantai
kamar mandi dengan pisau yang menancap tepat di jantung mereka masing-masing.
“Naz, gue panggil Bu Nina dan
ambulance. Tolong elo sama Maria periksa, mereka masih hidup atau enggak,” kata
Anisa sambil berlari ke ruang guru. Tak lama kemudian Bu Nina, Pak Hendro dan
Bu Maia selaku wali kelas Syahnaz dan Anisa datang. Bu Nina pun segera
memeriksa keadaan Bella, Bunga, Indah, Icha dan Shania.
“Pak, mereka masih hidup,” kata
Bu Nina kepada Pak Hendro kepala sekolah
SMA.
“Mang Udin dan anak-anak tolong
bantu angkat Bella, Bunga, Indah, Icha dan Shania ke ruang UKS untk diberikan
pertolongan pertama sebelum ambulance datang. Syahnaz, Anisa, dan Maria setelah
ke membantu Bu Nina dan teman-temanmu, tolong kalian ke ruangan saya untuk
menjelaskan tentang kejadian ini,” kata Pak Hendro. Syahnaz, Anisa dan Maria
hanya mengangguk.
Setelah Syahnaz, Anisa dan Maria
membantu mengangkat ke lima temannya ke ruang PMR, mereka pun menuju ruang
kepala sekolah dan memberikan keterangan sesuai dengan yang mereka lihat.
Setelah menjelaskan semuanya, Pak Hendro mengizinkan mereka kembali ke ruang
kelas.
***
Sejak kejadian itu teror makin
berlanjut, para pengurus PMR makin ketakutan dengan adanya teror itu. Apalagi
teror yang mereka anggap sebagai ancaman biasa, kini sudah memberikan bukti
yaitu meninggalnya Lina dan kelima teman mereka Bunga, Bella, Indah, Icha dan
Shania harus di rawat di rumah sakit.
“Kita gak bisa diam begini terus
Raf, ini udah mencoreng nama ekskul PMR. Lama-lama anak baru yang minat
terhadap ekskul ini berkurang dan gak ada lagi yang mau jadi pengurus ekskul
ini,” kata Maria.
“Benar kata Maria Raf, apalagi
besok kita mau ngadain pelantikan pengurus PMR yang baru,” kata Syahnaz.
“Soal pelantikan kita tetap
adain, gue yakin yang neror kita pasti masih ada di sekitar sini. Kalau gak ada
di sekitar sini, mana mungkin dia tau tentang meninggalnya Lina dan bisa masuk
ke toilet sekolah, toilet cewek lagi,” kata Rafa ketua OSIS.
“Maksud lo pelakunya itu
diantara kita?” tanya Anisa.
“Bisa jadi, tapi gue gak yakin
kalau pelakunya warga di sekolah ini. Gue rasa sih orang luar yang mengenal
sekolah ini,” kata Rafi.
“Gue setuju apa yang dibilang
Rafi. Besok adalah saat yang tepat untuk menjebak si pelaku. Karena yang dia
incar kan semua pengurus PMR, dan kemungkinan besok semua pengurus PMR akan
datang di acara pelantikan. Kalau semua pengurus PMR besok hadir, kita makin
mudah menjebak si pelaku, gimana?” kata Rafa.
“Oke gue setuju,” kata Maria.
Semua anggota PMR pun setuju dengan rancana Rafa.
***
Keesokkan
harinya pelantikan pengurus PMR yang baru pun di laksanakan. Semua acara di
laksanakan sesuai rencana, termasuk penjelajahan di malam hari. Penjelajahan di
lakukan di sekitar sekolah SMA 1, jam 8 malam penjelajahan malam pun di mulai.
Penjelajahan itu di lakukan dengan tujuan agar para anggota PMR yang baru dapat
mengenal lingkungan yang ada di sekitar sekolah. Awal penjelajahan tidak ada
yang aneh, tapi lama kelamaan para peserta dan anggota yang mengikuti
penjelajahan itu berkurang.
“Rafa, elo ada yang aneh gak?
Kok anak-anak yang ikut pelantikannya berkurang ya?” kata Syahnaz.
“Mungkin ada yang kesasar kali,”
jawab Rafa cuek.
“Kesasar? Gak mungkin ah,
daritadi juga mereka ikutin kita kan? kalau sampai kesasar pasti anak-anak yang
di belakang pada ngeliat. Terus juga anggota PMRnya makin sedikit sih? Tadi kan
banyak, ya kan Nis?” kata Syahnaz sambil melihat kesampingnya dan Anisa
ternyata gak ada. “Loh, Rafa elo lihat Anisa gak? Perasaan tadi dia ada di
samping gue?” kata Syahnaz sambil menghadap ke belakang.
“Ada di belakang kali,” kata
Rafa.
“Raf, kok kita hanya berdua di
sini? Yang lain kemana? Di belakang gak ada siapa-siapa Raf,” kata Syahnaz
sambil membalikkan tubuh Rafa.
“Iya, iya gue baru nyadar.
Perasaan di belakang ada anak-anak deh, atau mungkin kita kesasar?” kata Rafa
baru sadar kalau mereka hanya berdua di tempat itu.
“Raf, mending kita balik ke
sekolah yuk. Feeling gue gak enak,
gue takut ada apa-apa sama Anisa dan anak-anak,” kata Syahnaz sambil menggamit
lengan Rafa. Rafa hanya mengangguk dan mereka pun kembali ke sekolah.
***
Di
sekolah, Anisa baru terbangun dari pingsannya setelah beberapa menit yang lalu
dia di bius oleh seseorang. Anisa berada di ruangan kelas dengan tangan dan
kakinya di ikat serta mulutnya di tutup lakban, dan di sekelilingnya sudah ada
teman-teman pengurus PMR, anak-anak baru dan Pak Hendro, Bapak kepala sekolah.
“Halo Anisa, kamu sudah sadar?
Selamat berkumpul bersama teman-temanmu,” kata seseorang yang ternyata Bu Nani,
Pembina ekskul PMR. Anisa hanya meronta-ronta sambil menatap tajam kearah
Pembina ekskul PMRnya itu. “Kenapa kamu? Kamu mau ngomong? Oke Ibu kasih
kesempatan kamu ngomong,” lanjut Bu Nani membuka lakban yang menempel di mulut
Anisa.
“Ibu kenapa kami semua diikat
kayak gini Bu? Jangan-jangan Ibu yang neror kami? Kenapa Ibu tega melakukan ini
sama kami?” tanya Anisa.
“Iya, Ibu yang mengirim teror
itu kepada semua pengurus PMR, kamu mau tau kenapa Ibu melakukan ini? Karena
Ibu benci ekskul ini, karena ekskul PMR ini juga anak Ibu, Sisca meninggal saat
penjelajahan pelantikan PMR. Sisca meninggal karena asmanya kambuh saat
melakukan penjelajahan, dan dia lupa membawa obat asmanya. Hal itu di ketahui
oleh Lina, Bella, Bunga, Indah, Icha dan Shania. Sebagai teman, mereka harusnya
menolong Sisca, tapi mereka sengaja membiarkan Sisca dalam keadaan sesak nafas,
sedangkan anggota PMR yang lain pun pura-pura tidak peduli dengan kondisi Sisca
yang parah dan memerlukan bantuan. Makanya pas ada pemilihan Pembina PMR yang
baru menggantikan Pak Sastro yang bertugas di luar daerah, Ibu pura-pura
mendaftarkan diri sebagai Pembina ekskul PMR yang baru untuk membalaskan dendam
Sisca. Dan hari ini kalian berkumpul di sini untuk menikmati hidup kalian yang
tidak lama lagi. Kalian semua harus mati,” kata Bu Nina sambil mengeluarkan
pistol yang dia simpan di sakunya. Tanpa
belas kasihan, Bu Nina menembak satu persatu anggota PMR dan anak baru yang ada
di ruangan itu, pas dia mau menembak Pak Hendro, Syahnaz dan Rafa datang
menghentikan kekejaman Bu Nina.
“STOP, BU. Ibu tak seharusnya
melakukan hal itu, mereka tak bersalah Bu. Di sana, pasti Sisca sedih melihat
ibunya seperti ini,” kata Syahnaz sambil melangkah kearah Bu Nina.
“Diam kamu, tau apa kamu tentang
saya dan anak saya?” tanya Bu Nina sambil mengarahkan pistolnya kearah Syahnaz.
“Saya tau, Bu. Saya ngerti
gimana rasanya kehilangan seorang yang kita sayang. Kalau Sisca melihat ini.
Sisca pasti kecewa dan sedih, Bu,” kata Syahnaz.
“Jangan mendekat kamu, atau
peluru ini akan tembus ke jantung kamu,” kata Bu Nina siap menembak Syahnaz.
Syahnaz diam dan dia terus berjalan mengahampiri Bu Nina. “Ibu bilang berhenti,
ancaman Ibu tidak main-main,” kata Bu Nina sambil melepaskan tembakan kearah
Syahnaz.
“Syahnaz awas,” teriak Rafa dan
peluru pun menembus perut Rafa.
“Rafa…,” teriak Syahnaz sambil
menangkap tubuh Rafa yang penuh darah di perutnya. “Kenapa kamu melakukan ini
Raf?” lanjut Syahnaz.
“Ka.. Ka.. Karena.. aku… sayang
sama kamu,” kata Rafa kemudian Rafa tak sadarkan diri di pangkuan Syahnaz. Tak
lama kemudian polisi pun datang bersama ambulance dan para susternya. Akhirnya
polisi pun menangkap Bu Nina. Tapi sebelum Bu Nina di bawa ke kantor polisi
untuk dimintai keterangan, Bu Nina berbicara kepada Syahnaz dan Anisa.
“Lo enggak apa-apa Naz?” tanya
Anisa ketika ikatannya sudah di lepas.
“Enggak apa-apa kok,” jawab
Syahnaz. Sementara Rafa sudah berada di mobil ambulance.
“Ingat ya, Syahnaz, Anisa ada seseorang di balik
semua ini dan permainan belum berakhir,” bisik Bu Nina kepada Anisa dan
Syahnaz.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar