Jumat, 27 Desember 2013

TEROR ANGGOTA PMR


Seorang gadis menatap nanar ke arah pemakaman Lina, temannya, yang masih merah itu. Dia tak percaya Lina yang merupakan teman satu angkatan dan sama-sama masuk dalam ekskul PMR, bisa meninggal dengan cara tragis. Syahnaz Mutiara adalah nama gadis itu. Syahnaz sekarang duduk di bangku kelas dua SMA dan merupakan bendahara PMR. Karena pribadi Syahnaz yang cantik, baik, dan supel banyak teman-teman yang menyukainya.
Tapi selama beberapa hari terakhir ini dia dan teman-teman anggota PMR, sering mendapatkan teror dari orang yang tak dikenal. Puncaknya adalah kemarin salah satu anggota PMR yang bernama Lina meninggal secara tragis di ruang PMR. Syahnaz dan temannya, Anisa menemukan Lina dalam keadaan mengenaskan. Lina di temukan dengan kondisi tubuh menggantung di atas tempat tidur yang biasa di pakai saat ada siswa yang sakit. Sprai tempat tidur yang berwarna putih pun di penuhi oleh darah yang mengalir dari tubuh Lina. Dengan di bantu oleh Rendi dan Bu Nina, akhirnya tubuh Lina bisa di lepaskan dari gantungan yang menjeratnya. Setelah Lina di lepaskan dari gantungannya, terlihat banyak sekali luka goresan benda tajam yang ada di tubuh dan wajahnya, dan Bu Nina masih dapat merasakan denyut jantung Lina yang masih berdetak walaupun detak jantung itu lemah. Dan diketahui darah yang memenuhi tempat tidur di ruang PMR itu berasal dari luka di sekitar tubuhnya. Tak lama kemudian ambulance yang di panggil oleh Bu Nina pun datang, dan Lina pun segera di rawat ke rumah sakit tapi sayang, nyawa Lina tidak selamat, Lina meninggal saat di bawa ke rumah sakit.
                “Naz, pulang yuk. Gue tau elo sedih karena Lina meninggal, tapi mungkin ini takdirnya Lina. Kita semua udah berusaha untuk menolong Lina kan? tapi Allah juga yang menentukan, mungkin ini yang terbaik buat Lina,” kata Anisa, teman Syahnaz sejak SD.
                “Iya gue tau, Nis. Yang gue sedih kenapa Lina meninggal dengan cara tragis kayak gitu? Orang yang bunuh dia, benar-benar gak punya perasaan,” kata Syahnaz sambil melangkah bersama Anisa meninggalkan pemakaman.
                “Iya sih. Oh, iya elo udah tau belum siapa yang neror kita? Gue masih penasaran sama orang yang neror kita itu, jangan-jangan meninggalnya Lina ada hubungannya sama orang yang neror kita?” kata Anisa menebak-nebak.
                Syahnaz hanya menggeleng. “Gak tau Nis, yang gue heran ya kenapa dia bisa tau nomor semua anggota PMR? Kenapa juga harus anak-anak yang ekskul di PMR aja yang dia teror?”
                “Gue juga enggak tau Naz, ya mudah-mudahan aja ini enggak ada yang neror anak-anak PMR lagi dan ini yang pertama dan terakhir.”
                “Mudah-mudahan aja ya Nis,” kata Syahnaz sambil masuk ke dalam mobil Anisa. Tiba-tiba BB nya berbunyi tanda ada sms masuk. Syahnaz pun membaca isi pesan itu.
                From : 0856917xxxxx
                Siang, kasihan ya teman kamu masih muda tapi harus meninggal dengan cara tragis? Kamu jangan sedih ya karena ini baru awal permainan, masih ada permainan-permainan lain yang lebih menyenangkan dari ini. Aku yakin, kalian pasti menyukai permainan ini. Karena kalian semua harus mati.
                Syahnaz membelalakkan matanya, dia terkejut melihat isi sms dari nomor tak di kenalnya itu. “Awal permainan?”, gumam Syahnaz.
                “Kenapa Naz? Kok muka elo shock gitu?” tanya Anisa. Belum sempat Syahnaz menjawab, BB Anisa bebunyi tanda sms masuk. Anisa kaget melihat isi sms itu yang ternyata sama dengan sms yang di baca Syahnaz.
                “Gila, tuh orang benar-benar Psyco,” lanjut Anisa sambil memperlihatkan isi sms itu kepada Syahnaz.
                “Dia juga sms gitu ke gue? Gue yakin dia pasti sms ke semua pengurus PMR.”
                “Gila ya tuh orang, maunya apa sih dia? Kayaknya dia benci banget sama pengurus PMR yang sekarang, perasaan tahun lalu aman-aman aja deh. Gak ada teror kayak gini,” kata Anisa kesal.
                “Gak tau, kita lihat perkembangan besok. Ya udah kita pulang Nis,” kata Syahnaz. Anisa hanya mengangguk dan menyalakan mesin mobilnya.
***
Keesokkan harinya sms itu jadi topic hangat bagi semua pengurus PMR. Ternyata benar kata Syahnaz orang itu mengirim sms ke semua pengurus PMR.
                “Ada apa sih, kok ribut-ribuk kayak gini?” tanya Syahnaz ketika dia dan Anisa masuk ruang PMR.
                “Ini Naz, kita semua dapat sms sama orang gak di kenal. Katanya kita semua harus mati ini smsnya,” kata Bella sambil memperlihatkan sms dari orang tak di kenal itu.
                “Iya nih Naz, gue takut nanti nasib gue sama kayak nasib si Lina,” kata Bunga takut.
                “Ah,  udahlah kalian gak usah takut Insya Allah kita gak akan kenapa-kenapa. Mulai sekarang kita harus kompak sebagai pengurus PMR, kalau ada apa-apa segera kasih tau gue, Syahnaz, Anisa atau teman lain supaya kita bisa cepat membantu kalian dan menangkap siapa orang yang neror kita,” kata Rafi.
                “Iya gue setuju sama Rafi, kalau kita kompak dan saling kasih informasi kita bisa meminimalisir aksi mereka. Soalnya feeling gue bilang, Lina meninggal karena ada hubungannya sama orang yang sering neror kita,” kata Maria. Semuanya mengangguk menyetujui idenya Rafi, termasuk Syahnaz dan Anisa.
***
                “Naz, anter gue ke kamar mandi yuk,” ajak Anisa ketika bel istirahat sudah berbunyi.
                “Iya udah ayo, tapi habis ke kamar mandi kita ke kantin, ya. Gue lapar banget nih,” kata Syahnaz sambil memegang perutnya yang sudah lapar. Anisa hanya mengangguk, mereka pun berjalan menuju kamar mandi. Saat sudah dekat kamar mandi, mereka melihat Maria dan beberapa anak cewek lainnya yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
                “Siapa sih di dalam? Buka dong gue mau pipis nih, emang kamar mandi ini punya nenek moyang elo?” kata Maria kesal diiringi dengan ketukan ke pintu kamar mandi. Cewek-cewek yang ada di belakang Maria membenarkan dan semuanya mengetuk-ngetuk pintu agar penghuni yang ada di dalam kamar mandi membukakan pintu kamar mandinya.
                “Ada apa sih Mar? kok pada antri di sini, toiletnya rusak ya?” tanya Syahnaz.
                “Gak kok Naz, toiletnya gak rusak. Kalau rusak pasti ada tulisan, toilet rusak. Pas gue mau ke sini toiletnya udah ke kunci dan gue sama anak-anak udah 30 menit gedor-gedor, gak ada yang buka. Gak tau nih orang yang ada di dalam ketiduran kali ya,” jawab Maria.
                “Ya udah gue minta kunci serepnya dulu ya sama Mang Udin, lo, Anisa dan yang lainnya tunggu di sini. Ketok-ketok aja terus siapa tau pas gue sama Mang Udin belum datang, pintunya udah di buka,” kata Syahnaz sambil berlari menemui Mang Udin.
Tak lama kemudian, Syahnaz dan Mang Udin pun datang membawa kunci serep toilet perempuan. Tanpa banyak basa basi, Mang Udin pun membuka pintu toilet perempuan dengan kunci serep itu. Alangkah terkejutnya mereka ketika pintu itu di buka, mereka melihat Bella, Bunga, Indah, Icha, dan Shania sudah tergeletak di lantai kamar mandi dengan pisau yang menancap tepat di jantung mereka masing-masing.
                “Naz, gue panggil Bu Nina dan ambulance. Tolong elo sama Maria periksa, mereka masih hidup atau enggak,” kata Anisa sambil berlari ke ruang guru. Tak lama kemudian Bu Nina, Pak Hendro dan Bu Maia selaku wali kelas Syahnaz dan Anisa datang. Bu Nina pun segera memeriksa keadaan Bella, Bunga, Indah, Icha dan Shania.
                “Pak, mereka masih hidup,” kata Bu Nina  kepada Pak Hendro kepala sekolah SMA.
                “Mang Udin dan anak-anak tolong bantu angkat Bella, Bunga, Indah, Icha dan Shania ke ruang UKS untk diberikan pertolongan pertama sebelum ambulance datang. Syahnaz, Anisa, dan Maria setelah ke membantu Bu Nina dan teman-temanmu, tolong kalian ke ruangan saya untuk menjelaskan tentang kejadian ini,” kata Pak Hendro. Syahnaz, Anisa dan Maria hanya mengangguk.
                Setelah Syahnaz, Anisa dan Maria membantu mengangkat ke lima temannya ke ruang PMR, mereka pun menuju ruang kepala sekolah dan memberikan keterangan sesuai dengan yang mereka lihat. Setelah menjelaskan semuanya, Pak Hendro mengizinkan mereka kembali ke ruang kelas.
                ***
                Sejak kejadian itu teror makin berlanjut, para pengurus PMR makin ketakutan dengan adanya teror itu. Apalagi teror yang mereka anggap sebagai ancaman biasa, kini sudah memberikan bukti yaitu meninggalnya Lina dan kelima teman mereka Bunga, Bella, Indah, Icha dan Shania harus di rawat di rumah sakit.
                “Kita gak bisa diam begini terus Raf, ini udah mencoreng nama ekskul PMR. Lama-lama anak baru yang minat terhadap ekskul ini berkurang dan gak ada lagi yang mau jadi pengurus ekskul ini,” kata Maria.
                “Benar kata Maria Raf, apalagi besok kita mau ngadain pelantikan pengurus PMR yang baru,” kata Syahnaz.
                “Soal pelantikan kita tetap adain, gue yakin yang neror kita pasti masih ada di sekitar sini. Kalau gak ada di sekitar sini, mana mungkin dia tau tentang meninggalnya Lina dan bisa masuk ke toilet sekolah, toilet cewek lagi,” kata Rafa ketua OSIS.
                “Maksud lo pelakunya itu diantara kita?” tanya Anisa.
                “Bisa jadi, tapi gue gak yakin kalau pelakunya warga di sekolah ini. Gue rasa sih orang luar yang mengenal sekolah ini,” kata Rafi.
                “Gue setuju apa yang dibilang Rafi. Besok adalah saat yang tepat untuk menjebak si pelaku. Karena yang dia incar kan semua pengurus PMR, dan kemungkinan besok semua pengurus PMR akan datang di acara pelantikan. Kalau semua pengurus PMR besok hadir, kita makin mudah menjebak si pelaku, gimana?” kata Rafa.
                “Oke gue setuju,” kata Maria. Semua anggota PMR pun setuju dengan rancana Rafa.
***
Keesokkan harinya pelantikan pengurus PMR yang baru pun di laksanakan. Semua acara di laksanakan sesuai rencana, termasuk penjelajahan di malam hari. Penjelajahan di lakukan di sekitar sekolah SMA 1, jam 8 malam penjelajahan malam pun di mulai. Penjelajahan itu di lakukan dengan tujuan agar para anggota PMR yang baru dapat mengenal lingkungan yang ada di sekitar sekolah. Awal penjelajahan tidak ada yang aneh, tapi lama kelamaan para peserta dan anggota yang mengikuti penjelajahan itu berkurang.
                “Rafa, elo ada yang aneh gak? Kok anak-anak yang ikut pelantikannya berkurang ya?” kata Syahnaz.
                “Mungkin ada yang kesasar kali,” jawab Rafa cuek.
                “Kesasar? Gak mungkin ah, daritadi juga mereka ikutin kita kan? kalau sampai kesasar pasti anak-anak yang di belakang pada ngeliat. Terus juga anggota PMRnya makin sedikit sih? Tadi kan banyak, ya kan Nis?” kata Syahnaz sambil melihat kesampingnya dan Anisa ternyata gak ada. “Loh, Rafa elo lihat Anisa gak? Perasaan tadi dia ada di samping gue?” kata Syahnaz sambil menghadap ke belakang.
                “Ada di belakang kali,” kata Rafa.
                “Raf, kok kita hanya berdua di sini? Yang lain kemana? Di belakang gak ada siapa-siapa Raf,” kata Syahnaz sambil membalikkan tubuh Rafa.
                “Iya, iya gue baru nyadar. Perasaan di belakang ada anak-anak deh, atau mungkin kita kesasar?” kata Rafa baru sadar kalau mereka hanya berdua di tempat itu.
                “Raf, mending kita balik ke sekolah yuk. Feeling gue gak enak, gue takut ada apa-apa sama Anisa dan anak-anak,” kata Syahnaz sambil menggamit lengan Rafa. Rafa hanya mengangguk dan mereka pun kembali ke sekolah.
***
Di sekolah, Anisa baru terbangun dari pingsannya setelah beberapa menit yang lalu dia di bius oleh seseorang. Anisa berada di ruangan kelas dengan tangan dan kakinya di ikat serta mulutnya di tutup lakban, dan di sekelilingnya sudah ada teman-teman pengurus PMR, anak-anak baru dan Pak Hendro, Bapak kepala sekolah.
                “Halo Anisa, kamu sudah sadar? Selamat berkumpul bersama teman-temanmu,” kata seseorang yang ternyata Bu Nani, Pembina ekskul PMR. Anisa hanya meronta-ronta sambil menatap tajam kearah Pembina ekskul PMRnya itu. “Kenapa kamu? Kamu mau ngomong? Oke Ibu kasih kesempatan kamu ngomong,” lanjut Bu Nani membuka lakban yang menempel di mulut Anisa.
                “Ibu kenapa kami semua diikat kayak gini Bu? Jangan-jangan Ibu yang neror kami? Kenapa Ibu tega melakukan ini sama kami?” tanya Anisa.
                “Iya, Ibu yang mengirim teror itu kepada semua pengurus PMR, kamu mau tau kenapa Ibu melakukan ini? Karena Ibu benci ekskul ini, karena ekskul PMR ini juga anak Ibu, Sisca meninggal saat penjelajahan pelantikan PMR. Sisca meninggal karena asmanya kambuh saat melakukan penjelajahan, dan dia lupa membawa obat asmanya. Hal itu di ketahui oleh Lina, Bella, Bunga, Indah, Icha dan Shania. Sebagai teman, mereka harusnya menolong Sisca, tapi mereka sengaja membiarkan Sisca dalam keadaan sesak nafas, sedangkan anggota PMR yang lain pun pura-pura tidak peduli dengan kondisi Sisca yang parah dan memerlukan bantuan. Makanya pas ada pemilihan Pembina PMR yang baru menggantikan Pak Sastro yang bertugas di luar daerah, Ibu pura-pura mendaftarkan diri sebagai Pembina ekskul PMR yang baru untuk membalaskan dendam Sisca. Dan hari ini kalian berkumpul di sini untuk menikmati hidup kalian yang tidak lama lagi. Kalian semua harus mati,” kata Bu Nina sambil mengeluarkan pistol yang dia simpan di sakunya.  Tanpa belas kasihan, Bu Nina menembak satu persatu anggota PMR dan anak baru yang ada di ruangan itu, pas dia mau menembak Pak Hendro, Syahnaz dan Rafa datang menghentikan kekejaman Bu Nina.
                “STOP, BU. Ibu tak seharusnya melakukan hal itu, mereka tak bersalah Bu. Di sana, pasti Sisca sedih melihat ibunya seperti ini,” kata Syahnaz sambil melangkah kearah Bu Nina.
                “Diam kamu, tau apa kamu tentang saya dan anak saya?” tanya Bu Nina sambil mengarahkan pistolnya kearah Syahnaz.
                “Saya tau, Bu. Saya ngerti gimana rasanya kehilangan seorang yang kita sayang. Kalau Sisca melihat ini. Sisca pasti kecewa dan sedih, Bu,” kata Syahnaz.
                “Jangan mendekat kamu, atau peluru ini akan tembus ke jantung kamu,” kata Bu Nina siap menembak Syahnaz. Syahnaz diam dan dia terus berjalan mengahampiri Bu Nina. “Ibu bilang berhenti, ancaman Ibu tidak main-main,” kata Bu Nina sambil melepaskan tembakan kearah Syahnaz.
                “Syahnaz awas,” teriak Rafa dan peluru pun menembus perut Rafa.
                “Rafa…,” teriak Syahnaz sambil menangkap tubuh Rafa yang penuh darah di perutnya. “Kenapa kamu melakukan ini Raf?” lanjut Syahnaz.
                “Ka.. Ka.. Karena.. aku… sayang sama kamu,” kata Rafa kemudian Rafa tak sadarkan diri di pangkuan Syahnaz. Tak lama kemudian polisi pun datang bersama ambulance dan para susternya. Akhirnya polisi pun menangkap Bu Nina. Tapi sebelum Bu Nina di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, Bu Nina berbicara kepada Syahnaz dan Anisa.
                “Lo enggak apa-apa Naz?” tanya Anisa ketika ikatannya sudah di lepas.
                “Enggak apa-apa kok,” jawab Syahnaz. Sementara Rafa sudah berada di mobil ambulance.
                “Ingat ya, Syahnaz, Anisa ada seseorang di balik semua ini dan permainan belum berakhir,” bisik Bu Nina kepada Anisa dan Syahnaz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar