Seorang gadis manis sedang termenung
melihat butiran air yang membasahi bumi. Hujan, dia sangat menyukai hujan.
Hujan pula membawa cerita sendiri untuknya. Hujan itu pula mengingatkannya saat
dia kecil, dia suka sekali bermain hujan-hujanan bersama kakak dan adiknya. Walaupun
akhirnya gadis manis itu selalu dimarahi oleh kedua orang tuanya karena selalu
bermain hujan-hujanan, tapi dia tetap tidak takut untuk bermain hujan-hujanan
lagi.
“Hei,
ngelamun aja nanti kesambet loh,” kata Jingga, teman gadis manis itu.
“Eh,
elo ngagetin aja. gue lagi nikmati sejuknya hujan nih, elo belum pulang?” tanya
Pelangi, nama gadis itu.
“Ya
gimana gue mau pulang, lihat tuh hujannya masih deras. Kalau gue pulang
sekarang, nanti yang ada gue malah sakit karena kehujanan. Lagian lo kan tau
gue takut sama hujan,” jawab Jingga.
“Uh,
payah loh. Takut kok sama air, dasar kucing. Jangan-jangan elo mandi gak pakai
air lagi,” sindir Pelangi sambil tertawa.
Jingga
memanyunkan bibir manisnya, “Enak aja gue mandi pakai air tau, masa pakai
lumpur? Aneh kalau gue mandinya pakai lumpur. Elo sendiri kok belum pulang?”
“Kirain
elo kalau mandi gak pakai air. Gue lagi nunggu Ridho, gue mau pulang bareng
sama dia.”
“Cie..
ada yang lagi pedekate nih,” goda Jingga.
“Enggak,
gue sama Ridho hanya temanan aja. Lagian gue pulang bareng dia soalnya gue mau ke
toko buku untuk ngerjain tugas kelompok. Udah deh, pikiran lo jangan ngaco.”
“Ngerjain
tugas, atau ngerjain tugas?” goda Jingga menjadi-jadi.
“Terserah
elo deh, mau percaya atau enggak,” kata Pelagi sambil cemberut. Tak lama
kemudian Ridho pun datang.
“Sory
ya Ngi, gue tadi ada rapat OSIS makanya lama,” kata Ridho.
“Enggak
apa-apa kok Dho,” kata Pelangi.
“Oh,
ya udah kita berangkat sekarang atau mau nunggu hujan reda?” tanya Ridho.
“Sekarang
aja Dho, lagian hujan kayak gini mah suka lama redanya. Bisa-bisa kita sampai
nginap di sini,” jawab Pelangi.
“Oh,
ya udah yuk. Jingga elo mau bareng gak pulangnya?” ajak Ridho kepada Jingga.
“Enggak
usah deh, tadi gue udah telepon supir gue suruh jemput. Sebentar lagi supir gue
datang,” tolak Jingga.
“Oh,
ya udah. Pelangi elo tunggu di sini ya, gue mau ambil mobil dulu di parkiran,”
kata Ridho sambil berlari ke arah parkiran dengan di payungi jaketnya. Pelangi
hanya mengangguk
“Benar nih, elo gak mau
bareng kita?” tanya Pelangi meyakinkan.
Jingga mengangguk. “Gue
enggak mau ngerusak pedekate elo sama Ridho, ” bisiknya.
“Apaan sih elo? Gue
udah bilang, gue sama Ridho hanya teman, lagian gue sama Ridho udah temanan
dari SMP,” kata Pelangi mencubit pipi Jingga.
“Oke, mungkin elo emang
enggak suka sama dia. Tapi feeling
gue bilang, Ridho yang suka sama elo deh. Benar nih elo hanya anggap dia teman?
Emang elo gak suka sama dia?” tanya Jingga
“Kalau suka sih, gue
jujur gue suka sama dia. Siapa sih cewek yang enggak suka sama Ridho? Ridho itu
ganteng, baik, pokonya dia perfect
banget. Tapi gue hanya anggap dia sebagai teman sama kayak teman cowok gue
lainnya,” jawab Pelangi.
“Yakin?” tanya Jingga
memastikan. Pelangi hanya mengangguk.
“Kalau emang hanya
anggap dia teman, berarti cinta Ridho bertepuk sebelah tangan dong? Kasihan
Ridho,” kata Jingga memasang tampang sedih.
“Apaan sih elo?
Berlebihan deh,” kata Pelangi tertawa melihat ekspresi wajah Jingga. Tak lama
mobil Ridho pun datang dan Ridho segera keluar dari mobilnya.
“Yuk. Jingga kita
duluan ya,” kata Ridho kepada Jingga. Jingga hanya mengangguk. Ridho pun
memayungkan jaketnya kepada Pelangi, agar Pelangi tidak kehujanan. Mereka pun
masuk ke dalam mobil Ridho dan tak lama kemudian mobil Ridho pun meninggalkan
halaman kampus.
***
Pelangi Senja Kinara
adalah nama asli Pelangi. Pelangi adalah seorang gadis yang ceria, baik,
cantik, dan sangat menyukai hujan. Orang tuanya memberi dia nama Pelangi karena
orang tuanya sangat menyukai pelangi. Pelangi mempunyai dua orang teman yaitu
Jingga dan Ridho. Jingga adalah teman Pelangi sejak dia duduk di bangku Sekolah
Dasar. Sedangkan Ridho, mereka mulai berteman sejak masuk SMA. Pelangi, Jingga
dan Ridho saat ini sama-sama masuk universitas ternama di Jakarta. Pelangi
sangat dekat dengan Ridho, hingga tak jarang baik kuliah, belajar ataupun
jalan-jalan mereka selalu bersama. Hingga pada akhirnya ada perasaan aneh yang
menyelimuti hati Pelangi. Ada perasaan deg-degan setiap kali dia bertemu dengan
Ridho. Apalagi sejak Jingga menggoda dia habis-habisan tentang Ridho beberapa
hari yang lalu. Hampir setiap malam dia enggak bisa konsentrasi menyelesaikan
tugasnya karena kepikiran Ridho.
“Ya ampun, kok gue jadi
kepikiran sama Ridho ya? Gara-gara Jingga nih, godain gue terus. Tapi apakah
yang dikatakan Jingga kemarin benar ya, kalau Ridho suka sama gue? Ayo dong
Pelangi, elo harus fokus sama tugas elo. Jangan mikirin Ridho terus, masih
banyak tugas elo yang belum selesai. Ayo, semangat Pelangi,” gumam Pelangi sambil
mengetuk-ngetuk dahi dengan pulpen.
***
Keesokkan harinya,
pagi-pagi Jingga sudah heboh karena dia baru saja jadian sama Ari. Sampai
setiap orang yang dia temui, dia selalu kasih senyum manisnya.
“Heh, elo kenapa sih
aneh kayak gini. Lagi kesambet ye? Atau jangan-jangan elo sakit karena kemarin
elo kehujanan sampai kayak gini?” tanya Pelangi bingung melihat tingkah laku
aneh sahabatnya.
“Enak aja elo bilang
gue kesambet. Tapi ada benarnya juga sih kata elo, gue lagi kesambet, tapi
kesambet cinta. Dan ngomong-ngomong soal kehujanan nih, iya gue kemarin
kehujanan tapi untung juga gue kehujanan kemarin,” cerita Jingga terpotong.
“Untung gimana maksud
elo? Bukannya elo enggak suka kehujanan ya? Kok malah untung?” tanya Jingga tak
mengerti.
“Makanya kalau orang
cerita, dengerin dulu jangan main potong aja. Iya untung gue kehujanan kemarin,
soalnya gue di antar pulang sama Ari pakai mobilnya dan sampai di rumah elo tau
gak dia bilang apa?”
“Pasti dia bilang
kapan-kapan gue main ke rumah elo lagi. Benar kan?” tebak Pelangi asal.
“Tapi elo benar juga
sih, tumben tebakan elo tepat. Tapi yang bikin gue senyum-senyum terus
sekarang, karena dia kemarin nembak gue,”
“Hah.. Ari nembak elo?
Pantas daritadi elo senyum-senyum gak jelas kayak orang gila, tapi selamat ya akhirnya
elo jadian juga sama Ari. Setelah sekian lama elo menunggu dan memendam cinta
elo sama dia, selamat ya. Traktirannya nih.”
“Siap, elo mau makan apa pun gue yang bayar. Tapi
jangan yang mahal-mahal. By the way
gimana hubungan elo sama Ridho?”
“Hubungan apaan
maksudnya? Elo kan tau, gue sama Ridho hanya teman, gak lebih.”
“Oh, masih teman? Tapi
gue selalu berdoa supaya elo sama Ridho bisa jadian.”
“Mulai deh. Udah yuk,
traktir gue makan. Musim hujan gini bawaannya lapar mulu,” kata Pelangi
cemberut. Jingga hanya tertawa melihat sahabatnya yang cemberut, mereka pun
berjalan ke kantin.
***
Hari ini, Ridho
mengajak Jingga, Ari, dan Pelangi pergi ke Situ Patengan yang berada di
Ciwidey, Bandung. Sekitar jam delapan pagi, mereka sudah berangkat dari Jakarta
menuju Ciwidey, Bandung.
“Kita mau kemana sih
Dho? Situ Patengan? Situ Patengan itu apa sih? Gue baru dengar, kalau di
Bandung ada Situ, yang namanya Situ Patengan,” tanya Jingga bingung.
“Gue juga baru dengar,
makanya gue penasaran pengen ke sana. Tapi menurut info yang gue dapat, Situ
Patengan itu berupa telaga atau Situ seluas 65 Ha yang terletak di desa
Atengan, Ciwidey. Telaga ini terletak pada ketinggian kurang lebih 1600 meter,
diatas permukaan air laut dan di kelilingi perkebunan teh dan cagar alam
Patengan,” jelas Ridho.
“Wah, kayanya tempatnya
bagus tuh,” kata Pelangi semangat.
“Iya, makanya gue ajak
elo, Jingga sama Ari ke Situ Patengan.”
“Oh, iya gue juga
pernah dengar kalau di sana itu ada batu cinta dan pulau Asmara dan ada mitos
apabila ada orang yang singgah ke batu cinta dan mengelilingi pulau Asmara,
maka cintanya akan abadi. Tapi ini hanya mitos ya, boleh percaya, boleh
enggak,” tambah Ari.
“Wah, denger cerita
kamu sama Ridho, jadi pengen cepat-cepat sampai di sana. Kayaknya petualangan kali
ini pasti seru banget,” kata Jingga tak sabar.
Setelah dua jam
perjalanan, Ari, Jingga, Pelangi, dan Ridho pun sampai di wisata alam Situ
Patengan. Setelah membeli empat buah tiket masuk, mereka pun siap menikmati
keindahan Situ Patengan. Benar apa yang di katakan Ridho, sekeliling danau Situ Patengan sangat indah.
Di sekeliling situ terdapat area perkebunan teh Rancabali dan kawasan hutan pinus dan cagar alam
Patenggang yang masih asri dan sejuk. Di sekitar kawasan Situ Patenggang, juga terdapat jajaran
kios pedagang yang menyediakan jajanan khas ciwidey seperti strawbery dan juga
terdapat berbagai macam fasilitas lainnya seperti area parkir, mushola,
MCK dan rumah makan. Ari, Pelangi, Jingga, dan Ridho pun mengeliling
danau dengan genjot bebek yang di sewakan di sekitar area danau. Tapi baru tiga
puluh menit, mereka menikmati indahnya danau, rintik-rintik air hujan mulai berjatuhan
membasahi bumi.
“Eh, kayaknya mau hujan
deh, kita berteduh dulu yuk. Nanti keburu hujannya tambah gede,” ajak Pelangi.
Ari, Jingga, dan Ridho hanya mengangguk dan mereka pun segera meminggirkan
genjot bebek yang di sewa mereka ke pinggir, dan mereka pun buru-buru berlari
ke rumah makan yang ada di sekitar danau untuk berteduh. Benar saja, sedetik
setelah mereka sampai di rumah makan, hujan pun mulai turun dengan deras.
Mereka pun segera
memesan makanan sambil menunggu hujan reda. Mereka pun memakan makanan mereka
dengan di selingi obrolan dan canda tawa. Sampai mereka selesai makan pun hujan
tak kunjung reda, hingga mereka memutuskan untuk sholat zuhur terlebih dahulu
karena sudah memasuki waktu zuhur. Setelah sholat zuhur, hujan pun mulai reda.
Dengan riang, Jingga dan Ari melanjutkan penjelajahan mereka di Situ Patengang
itu. Mereka pun segera menuju batu cinta yang ada di tengah danau situ
Patengang.
“Pelangi, Ridho, ayo
sini,” teriak Jingga.
“Iya, kalian saja
duluan nanti kita nyusul,” kata Jingga sambil memakai sepatu ketsnya. “Ayo,
Dho, kita gabung sama Ari dan Jingga,” lanjut Pelangi sambil hendak menghampiri
Ari dan Jingga, tapi lengannya di tarik
oleh Ridho.
“Pelangi, ada yang gue
pengen omongin sama elo,” kata Ridho sambil menggenggam tangan Pelangi.
“Mau ngomong apa Dho?”
“Aku sebenarnya dari
dulu mau bilang ini sama kamu. Tapi maaf baru sekarang aku berani ungkapin
perasaanku sama kamu. Aku sayang sama kamu Pelangi, kamu mau jadi pacar aku?”
kata Ridho sambil menatap manik mata Pelangi.
Pelangi tersenyum. “Aku
juga sayang sama kamu, Dho. Aku mau jadi pacar kamu.”
“Aku senang banget kamu
mau terima cinta aku, makasih ya. Aku janji, aku enggak akan nyakitin kamu,”
kata Ridho sambil memeluk Pelangi.
“Ridho, Pelangi sini.
Lihat tuh ada pelangi yang keluar dari sarangnya. Cepat kesini,” teriak Jingga.
Ridho pun melepas pelukannya, dan dia bersama Pelangi berlari menuju Jingga dan
Ari yang sudah berada di batu cinta. Benar saja di batu cinta itu mereka bisa
melihat keindahan pelangi, setelah hujan pergi membasahi bumi.
Hujan kali ini
memberikan kesan sendiri di kehidupan Pelangi. Di atas batu cinta dan di bawah
keindahan pelangi, Pelangi mempunyai seorang kekasih dan juga sahabat yang bisa
berbagi suka maupun duka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar