Jumat, 30 November 2012

MIRACLE OF JOURNEY STORY


Seorang gadis manis terlihat sedang berjalan-jalan dengan langkah terburu-buru sambil membawa setumpuk buku di kedua tangannya. Dan tiba-tiba bruk… ada seseorang menabraknya hingga buku-buku yang ada ditangan gadis itu jatuh berserakan.
“Sory-sory gue ga sengaja, gue bantuin beresin buku-buku lo ya”, kata Rei orang yang menabrak Shilla gadis manis tersebut. Dan Rei pun membantu Shilla membereskan buku-buku yang berjatuhan tersebut. Setelah membereskan buku-buku itu Rei pun memberikan buku yang sudah dibereskannya ke Shilla tapi ketika mata mereka saling beradu pandang….
“Lo….”, kata Shilla dan Rei hampir bersamaan.
“Lo klo jalan itu pake mata dong jangan cuma pake kaki doang, lo ga ngeliat apa ada orang di depan lo. Jangan-jangan mata lo rabun lagi”, kata Shilla ketus.
“Kok lo malah marah-marah sih, lagian gue kan udah minta maaf terus juga gue juga udah bantuin lo beresin buku-buku lo yang jatuh itu bukannya bilang makasih kek, bilang apa kek malah marah-marah”, kata Rei tak kalah ketus.
“Iya terima kasih”, kata Shilla sambil berlalu pergi.
“Dasar cewek aneh”, desis Rei.
***
Shilla Aryanti adalah cewek cantik, popular, manis, supel dan baik. Dia sekarang duduk di kelas 2 SMA 1 Jakarta, dia aktif di beberapa ekskul diantaranya PMR, OSIS dan Pecinta Alam. Walaupun dia popular tapi dia tidak sombong dan bisa berteman dengan siapa saja, tapi dia mempunyai 3 sahabat baik sejak SD yaitu Keisha Amalia, Kania Anggraini dan Karen Winata.
Rei Adrian cowok keren, popular, ganteng dan pastinya disukain banyak cewek. Dia juga duduk di kelas 2 SMA 1 sama seperti Shilla. Rei punya teman sejak SD yaitu Rendi Ariyanto, Agung Nugraha dan Kevin Ali. Rei dan Shilla memang selalu sekelas sejak awal SMP tapi sejak SMP juga mereka ga pernah akur, ada aja alasan yang bikin mereka sering berantem walaupun itu masalah kecil. Sampai-sampai teman-temanpun udah bosen melihat mereka ribut, pernah suatu hari Keisha, Kania, Karen, Rendi, Agung dan Kevin bikin rencana supaya mereka ga berantem lagi tapi tetep aja ga berhasil. Ya akhirnya mereka Cuma bisa berdoa supaya suatu hari nanti mereka bisa baikan J. Tapi walaupun Shilla dan Rei suka berantem tapi ada kalanya Rei bisa baik banget sama Shilla, tapi tetep aja Rei ga pernah absen ngerjain Shilla mungkin bagi Rei ga ngerjain Shilla itu kurang asyik kali ya ;).
***
  Beberapa hari kemudian Bu Isna guru Biologi sekaligus Pembina Pecinta Alam mengumumkan kepada anggota ekskul Pecinta Alam untuk mengikuti camping di pegunungan Salak selama beberapa hari. Mendengar pengumuman itu anak-anak sangat antusias untuk mengikuti acara tersebut, tak terkecuali Shilla, Keisha, Kania dan Karen. Camping itu bukan Cuma sekedar camping biasa, acara dilakukan agar semua murid bisa lebih mengenal dan melindungi alam untuk pecegahan pemanasan global dan juga untuk memperingati ulang tahunnya organisasi Pecinta Alam.
“Anak-anak dalam rangka ulang tahun organisasi Pecinta Alam, pihak sekolah akan mengadakan camping yang akan dilaksanakan minggu depan dan bagi anggota Pecinta Alam yang ingin mengikuti acara ini silahkan daftar ke Shilla atau Keisha, sekian pemberitahuan dari ibu. Selamat siang anak-anak”, kata Bu Isna.
“Siang Bu”, jawab semua teman sekelas Shilla kompak.
“Shilla, Keisha tolong kalian data siapa saja yang ingin mengikuti acara ini khususnya anak kelas 1 yang ingin bergabung dengan organisasi Pecinta Alam”, kata Bu Isna kepada Shilla dan Keisha.
“Baik Bu”, jawab Shilla dan Keisha kompak.
***

“Wah ternyata banyak juga ya yang ikut acara ini”, ucap Keisha setelah mereka mendata semua teman-temannya dari kelas 1 sampai kelas 3.
            “Iya gue juga ga nyangkamereka pada antusias ikut acara ini”, kata Shilla.
            “Ya iyalah mereka pada antusias, acara ini kan menarik banget yang bikin mereka bisa menghargai alam yang ada di sekitar mereka dan juga dengan adanya acara ini kita bisa menghilangkan jenuh setelah berhari-hari belajar”, kata Karen sambil nyengir.
            “Bener juga kata lo Ren, tumben lo pinter”, goda Kania.
            “Ya iyalah, Karen gitu.. Tapi kok lo bilang tumben sih? Emang menurut lo gue engga  pinter gitu?”, tanya Karen sambil melotot kearah Kania.
            Kania hanya nyengir “Emang… Hehe…”. Mendengar itu Karen hanya cemberut.
            “Udah Ren, Kania Cuma becanda kok. Mending kita kasih data ini ke Rendi yuk”, ajak Shilla. Merekapun pergi menemui Rendi.
***
            “Ini Ren data peserta yang ikut camping”, kata Shilla sambil memberikan data itu.
            “Oke thanks ya Shil, nanti gue kasih ke bu Isna”, kata Rendi sambil menerima data tersebut.
            “Iya sama-sama. Ya udah kita berempat ke kelas dulu ya”, kata Keisha. Merekapun melangkah keluar ruangan tapi dari arah pintu luar ada Rei yang ingin masuk dan bruk… orang itu menabrak Shilla yang tidak melihat Rei hingga dia terjatuh.
            “Sory gue engga sengaja Shil, lo engga apa-apa kan?”, tanya Rei sambil membantu Shilla berdiri.
            “Iya gue engga apa-apa. Makanya klo jalan hati-hati”, kata Shilla.
            “Iya…”, jawab Rei lalu menghampiri Rendi. Sementara Shilla dan teman-temannya melangkah menuju kelas. Di perjalanan menuju kelas mereka mebicarakan kejadian tadi.
            “Shil, tumben lo sama Rei engga berantem. Biasanya kalian suka berantem klo udah tabrakan kaya tadi”, goda Kania.
            “Iya Shil, gue perhatiin ya udah seminggu ini lo sama Rei ga bereantem. Tapi engga apa-apa mudah-mudahan lo sama Rei selamanya kaya gini ya”, kata Karen.
            “Amin…”, kata Keisha dan Kania kompak.
            “Apaan sih kalian, kita lagi malas aja berantem jangan lebay deh. Udah ah jangan bahas itu lagi bosen…”, kata Shilla.
            “Ciyus..? Miapa?”, goda Keisha dengan tampang lebaynya.
            “Iya..”, kata Shilla sambil meninggalkan ketiga sahabatnya sedangkan Kania, Keisha dan Karen hanya tertawa melihat tingkah laku Shilla kaya gitu.
            Memang bener kata Kania, Keisha dan Karen klo akhir-akhir ini Shilla dan Rei jarang berantem. Walaupun mereka merasa aneh tapi mereka berharap selamanya Shilla dan Rei akur kaya gitu. Kadang Shilla dan Reipun merasa aneh tentang hal ini, dan mereka berduapun kadang kangen dengan suasana ketika mereka bertengkar tapi ada baiknya juga mereka kaya gini karena damai itu indah.
***

Satu minggupun telah berlalu, hari ini adalah hari dimana mereka kan melaksanakan camping. Dan ternyata ada sekolah lain yang juga melaksanakan camping di pegunungan itu. Ketika mereka telah sampai di pegunungan tanpa disadari Shilla ada seseorang yang terus memperhatikan Shilla dan kawan-kawan.
            Kayanya gue pernah lihat cewek-cewek itu tapi dimana ya?, batin cowok bernama Farel sambil mengingat-ngingat dimana dia pernah ketemu sama Shilla dan kawan-kawan. “Oh iya itu kan Shilla, Kania, Karen dan Keisha temen SD gue”, gumam Farel setelah ia mengingat dimana dia pernah bertemu dengan Shilla dan kawan-kawan.
            “Shilla…”, panggil Farel sambil menghampiri Shilla, Kania, Keisha dan Karen.
            “Iya ada apa? Terus lo tau nama gue dari mana?”, tanya Shilla bingung.
            “Lo masih inget gue engga? Gue Farel teman SD lo. Dan ini pasti Kania, Keisha dan Karen kan?”, kata Farel sambil menunjuk kearah Keisha, Kania dan Karen.
            “Farel…”, kata Keisha sambil mengingat-ngingat.
“Oh iya lo kan Farel yang pendek, putih itu kan, yang sering dipanggil cocoh”, lanjut Shilla.
            “Iya ini gue, lo kan yang klo gue godain suka nangis”, goda Farel.
            “Lo masih inget aja Rel, gimana kabar lo?”, tanya Kania.
            “Lo sendiri lihat gue gimana? Alhamdulillah kabar gue baik Ka, kabar kalian gimana?”.
            “Baik..”, jawab Shilla, Kania, Karen dan Keisha kompak.
            Mereka berlimapun saling kangen-kangenan dan cerita pengalaman mereka masing-masing setelah hampir 5 tahun engga ketemu karena kesibukan masing-masing. Tapi disisi lain ada seseorang yang terus memperhatikan keakraban Shilla dan Farel, kayanya sih dia jealous dengan ke akraban yang ditunjukan Shilla dan Farel yang ternyata adalh Rei.
            “Rei, kenapa lo melamun aja? Lo lagi ngeliatin siapa sih?”, tanya Kevin mengagetkan Rei sambil melihat kearah Farel dan Shilla.
            “Eh lo ngagetin aja, engga gue engga ngeliatin apa-apa. Udah yuk kita bikin tenda aja”, kata Rei ngeles sambil berjalan menuju Rendi dan Agung yang sedang sibuk mendirikan tenda tapi langkahnya tertahan karena tangan Rei dipegang oleh Kevin.
            “Lo cemburu kan ngeliat kedekatan Shilla sam cowok itu? Klo iya nanti gue cari info tentang cowok itu”, goda Kevin sambil nyengir.
            “Apaan sih lo siapa juga yang cemburu? Ngapain sih ngomongin itu engga penting”, kata Rei sewot dan melepas genggaman Kevin. Tapi Kevin terus menggoda Rei.
***
            Tak terasa haripun telah berganti malam, mentari telah berganti dengan cahaya bulan dan bintang yang menerangi malam di sekitar pegunungan. Cahaya api unggunpun menambah terangnya malam yang indah itu. Diiringan alunan lagu dari para siswa SMA 1 menambah meriahnya suasana malam itu. Reipun tentang hubungan Shilla dan Farel dari Kevin hanya sebatas teman tapi walaupun begitu engga merubah suasana hati Rei yang sedang gegana dan bingung dengan perasaannya sendiri terhadap Shilla. Sedangkan Shilla dan Farel malah tambah akrab.
            Keesokkan paginya ketika mereka sedang melakukan penjelajahan ada seseorang yang berteriak minta tolong dari arah barat. “Tolong…. Tolong….”, teriak orang itu.
            “Eh… Shil, lo denger ga kayanya ada orang minta tolong deh”, kata Keisha.
            “Iya Kei, kayanya dari arah sana deh. Kita cari yuk”, ajak Shilla sambil menunjuk kearah kanannya. Shilla dan Keishapun berlari mencari sumber suara itu.
            “Eh Shilla, Keisha kalian mau kemana?”, tanya Bu Isna yang melihat Shilla dan Keisha berlari berlawanan dengan teman-temannya.
            “Ada orang yang minta tolong bu, kita harus tolongin dia”, jawab Shilla.
            “Ya sudah Rei, Kevin, Rendi, Agung, Kania dan Karen bantu Shilla dan Keisha mencari sumber suara itu sedangkan yang lain kembali ke tenda kita lanjutkan penjelajahan besok”, perintah bu Isna. Reid an kawan-kawanpun mencari sumber suara itu.
            “Tolong….Tolong….”, teriak orang itu lagi. Setelah 30 menit berjalan teriakan itu semakin jelas dan orang itu adalah Anggi yang sudah ada di jurang sambil memegang akan pohon.
            “Anggi…”, kata Shilla sambil melihat kebawah.
            “Shil, tolong bantu gue. Gue udah ga tahan lagi”, kata Anggi yang masih berusaha untuk naik keatas.
            “Iya Gi, tahan gue pasti tolongin lo. Temen-temen tolong bawa tali Anggi ada di sini”, teriak Shilla. Dengan sigap Keisha mengambil tali dan menarik Anggi keatas. Setelah berada di atas Anggi di papah dan di dudukan dibawah pohon yang rindang.
            “Gi lo ga apa-apa kan?”, tanya Keisha sambil membersihkan luka-luka yang ada di tubuh Anggi.
            “Gue engga apa-apa Kei Cuma luka-luka dikit aja kok”, jawab Anggi. Setelah memberikan pertolongan pertama kepada Anggi, merekapun kembali ke tenda.
***

Setelah beberapa hari berada di pegunungan tersebut persahabatan antara Shilla dan Farel makin akrab. Keakraban tersebut membuat iri peserta yang lain dan mereka menyangka bahwa Shilla dan Farel pacaran padahal sih engga lagian Farel juga akrab sama Kania, Keisha dan Karen sahabat Shilla. Mendengar gosip itu membuat Rei makin jealous hingga pada suatu hari Farel menemui Rei yang sedang duduk sendiri.
            “Hei lo kok sendirian aja? Engga gabung sama yang lain?”, tanya Farel ramah.
            “Lo sendiri kenapa engga gabung sama yang lain?”, kata Farel balik tanya.
            “Gue lagi malas aja, lagian ada yang mau gue omongin sama lo”.
            “Mau ngomong apa?”.
            “Gini Rei, gue ngerasa lo merhatiin gue terus klo gue lagi dekat dengan Shilla. Terus tatapan lo tuh nunjukkin klo lo jealous ya ngeliat gue deket sama Shilla?”.
            “Lo ga usah sok tau deh”.
            Farel tersenyum. “Oke klo lo ga mau jujur sama gue, tapi kita sama-sama cowok Rei dan mata lo tuh nunjukin klo lo suka sama Shilla. Tapi yang gue  bingung, klo lo suka sama Shilla kenapa lo sering berantem sama dia?”.
            “Lo kok tau klo gue sering berantem sama Shilla?”.
            “Gue tau karena Shilla cerita semuanya sama gue. Dia juga bilang ke gue kenapa lo sering banget musuhin dia padahal dia engga ngerasa punya salah sama lo tapi lo kayanya benci banget sama dia. Itu juga yang mau gue tanyain sama lo, kenapa lo harus bersikap begitu padahal lo suka sama dia”.
            Rei hanya terdiam, dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri klo Rei suka sama Shilla dan semua perkataan Farel benar adanya. “Rei, kenapa lo diam? Klo lo ga mau cerita sama gue juga engga apa-apa. Tapi yang paling penting lo harus ungkapin semua perasaan lo sama Shilla sebelum Shilla di ambil orang”, saran Farel sambil berdiri hendak pergi.
            “Rel..”, panggil Rei sambil menoleh kearah Farel. “Sebenarnya hubungan lo sama Shilla….”
            “Lo pasti mikir klo kita pacaran kan?”, potong Farel. Rei hanya mengangguk.
            “Tenang Rei, gue sama Shilla Cuma temenan kok dan gue juga engga ada perasaan apa-apa sama Shilla. Jadi lo engga perlu khawatir klo gue akan merebut Shilla dari lo”, jawab Farel sambil menepuk pundak Rei dan berlalu pergi bergabung dengan lain meninggalkan Rei yang tersenyum bahagia. Peluang untuk mendapatkan Shilla terbuka lebar.
***

Hari ini adalah hari terakhir bagi mereka melakukan penjelajahan dan merasakan kebersamaan itu. Merekapun mengabadikan kebersamaan terakhir itu dengan foto bersama untuk kenang-kenangan. Shilla dan Farelpun berfoto bersama untuk kenang-kenangan karena mereka akan sibuk kembali dengan kegiatan masing-masing.
            “Shil, ada sesuatu yang ingin gue kasih sama lo”, kata Farel.
            “Lo mau ngasih apa Rei?”, tanya Shilla penasaran. Farelpun memberikan sebuah kado yang telah terbungkus rapi dengan hiasan warna biru.
            “Ini buat lo sebagai tanda persahabatan kita. Di bukanya nanti ya klo lo udah sampe di rumah”, kata Farel sambil tersenyum. Shillapun menerima kado itu.
            “Thanks ya. Ini juga buat lo. Met ultah ya, sory telat ngucapinnya”, kata Shilla sambil memberikan kado yang berisi jam tangan kepada Farel yang dibelinya beberapa waktu lalu dan selalu dibawa kemanapun dia pergi sampai suatu saat dia ketemu lagi sama Farel.
            “Terima kasih ya Shil”, kata Farel sambil menerima kado itu dan sebuah suara memanggil Farel untuk masuk ke dalam rombongan. Shilla dan Farelpun saling berpamitan dan menuju rombongan masing-masing.
***
            Ketika sampai di rumah Shillapun segera membuka kado yang diberikan oleh Farel. Kado itu berisi bunga edelweiss kesukaan Shilla yang berhasil Farel petik dalam penjelajahan itu. Shillapun segera mengambil handphonenya untuk  mengucapkan terima kasih kepada Farel.
***
            Beberapa hari kemudian Shilla mendapatkan kabar dari Ibu Ina mamah Farel klo Farel berada di rumah sakit karena Farel menderita kanker otak stadium akhir.
            “Apa tante Farel ada di rumah sakit? Dia sakit apa Tan?”, tanya Shilla cemas.
            “Iya Shil, Farel.. Farel.. sakit kanker otak stadium akhir Shil, katanya sebelum dia meninggal dia mau ketemu sama kamu dan Rei”, kata tante Ina sambil terisak.
            “Iya tante nanti sepulang sekolah aku dan Rei akan ke rumah sakit. Waalaikum salam”, kata Shilla sambil menutup teleponnya dan Shillapun menemui Rei.
            “Rei, ada yang mau gue omongin”, kata Shilla to the point.
            “Lo mau ngomong apa? Klo engga penting gue ga mau denger”, kata Rei hendak pergi.
            “Tunggu Rei, Farel ada di rumah sakit. Dia sakit kanker otak dan dia mau ketemu sama kita berdua”.
            “Farel sakit kanker otak? Waktu di pegunungan dia keliatan sehat-sehat aja kok”, kata Rei bingung.
            “Pokoknya pulang sekolah kita harus ke rumah sakit, jenguk Farel”, kata Shilla. Reipun bersedia menjenguk Farel di rumah sakit.
***

Sepulang sekolah Shilla dan Rei segera ke rumah sakit tempat Farel di rawat. Sesampainya di rumah sakit Shilla dan Rei menanyakan dimana letak kamar Farel di rawat kepada suster. Merekapun berjalan menyusuri koridor rumah sakit, ruang perawatan Rei terletak di ujung koridor. Setelah sampai di depan pintu kamar perawatan Farel, Shilla dan Rei pun langsung masuk. Di dalam sudah ada mamah, bapak dan Farel yang tergolek lemah di tempat tidur.
            “Farel..”, sapa Shilla ketika sudah berada di samping tempat tidur Farel sedangkan Rei berdiri di samping Shilla.
            Farel yang mendengar sapaan Shilla segera menoleh kearah Shilla dan Rei. Farelpun tersenyum. “Shilla, Rei makasih ya kalian udah mau jenguk gue dalama kondisi sekarat gini””.
            “Lo jangan ngomong gitu Rel, gue yakin lo pasti sembuh. Lo kenapa engga bilang ke gue klo lo sakit Rel? Waktu di pegunungan itu gue liat lo baik-baik aja”, tanya Rei.
            Farel tersenyum. “Gue engga mau ngeliat orang-orang yang di sekitar gue sedih Rei, lagian waktu di pegunungan itu gue engga apa-apa, malahan gue rasa gue udah sembuh, tapi dua hari yang lalu kondisi gue ngedrop banget dan mungkin hari ini gue akan menemui yang maha pencipta dengan tenang”.
            “Lo jangan bilang gitu Rel, lo pasti sembuh. Kemarin di pegunungan lo kan yakin lo pasti sembuh dan keyakinan itu harus lo tanam sampai hari ini Rel”, kata Shilla.
            “Tapi gue udah engga kuat Shil, gue udah engga mau ngerepotin orang yang gue sayang dan sebelum gue meninggal gue minta satu permintaan sama lo Rei. Lo harus ngomong semua perasaan lo sama Shilla Rei. Dan gue harap kalian berdua bisa bahagia”.
            “Perasaan Rei ke gue? Maksud lo apa Rel, gue engga ngerti”, tanya Shilla bingung.
            “Rei itu suka sama lo Shil, dan gue tau lo juga suka sama dia kan? Gue harap kalian bisa jadi pasangan yang serasi”, kata Farel sambil memegang tangan Shilla dengan tangannya sebelah kanan dan tangan Rei dengan tangan sebelah kirinya lalu dia meletakkan tangan Rei diatas tangan Shilla.Melihat itu Shilla dan Rei hanya saling berpandangan.
            “Gue mau kalian bahagia. Jangan salin membenci, kalian harus saling mencintai”, kata Farel sambil tersenyum. Farelpun memejamkan matanya. Melihat anaknya yang pingsan bapak Farel segera memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter yang merawat Farel datang lalu dia memeriksa keadaan Farel. Tapi sayang detak jantung Farel sudah tidak lagi berdetak. Farel meninggal dengan senyuman di bibirnya dan harapan Farel melihat Shilla bahagia dengan orang di cintainya akan segera terkabul.
            “Dok anak saya engga apa-apa kan?”, tanya bu Ina setelah melihat dokter itu selesai memeriksa Farel.
            Dengan hati-hati dokterpun membertahukan bahwa Farel sudah meninggal kepada bapak dan mamah Farel. “Maaf ibu, bapak anak bapak sudah tidak bisa di tolong lagi. Bapak dan ibu sabar ya”.
            “Engga mungkin… engga mungkin…. Farel jangan tinggalin mamah nak”, tangis ibu Ina sambil memeluk anaknya yang sudah tidak bernyawa, bapak Farel hanya bisa menenangkan istrinya itu. Sementara Shilla yang melihat sahabat kecilnya pergi untuk selamanya tidak bisa menahan tangisnya dan diapun menangis di rangkulan Rei.
***

Esok harinya Shilla dan Rei ikut ke tempat pemakaman Farel. Kania, Karen, Keisha, Kevin, Rendi dan Agung serta temen-temen sekolah Farelpun hadir di pemakaman Farel. Dengan isak tangis kesedihan teman-teman dan orang tua Farel melepas kepergian Farel. Setelah membacakan doa untuk Farel para sahabat dan orang tua Farel satu-satu pergi dari makam itu. Tinggal Kania, Karen, Keisha, Kevin, Rendi, Agung, Shilla dan Rei yang tersisa.
            “Shil, lo mau pulang bareng kita?”, tanya Keisha.
            “Kalian pulang duluan aja nanti gue nyusul”, jawab Shilla yang masih terus memandangi tempat terakhir Farel yang masih gundukkan tanah merah.
            “Iya udah kita duluan ya”, kata Kania. Kania, Karen, Keisha, Kevin, Rendipun pergi meninggalkan Shilla dan Rei.
            “Rel makasih ya lo udah ngasih kado terindah buat gue, seminggu bersama lo itu berarti banget buat gue Rel. Lo sahabat yang paling baik yang pernah gue miliki Rel. Gue kagum sama semangat lo, walaupun lo dalam keadaan sakit lo masih bisa petikin buang edelweiss favorit gue, makasih banget Rel. Bunga edelweiss yang lo kasih waktu itu gue kembaliin setengah ya, gue janji yang setengah lagi akan gue pelihara baik-baik. Semoga lo tenang ya disana”, kata Shilla sambil meletakkan sebagian bunga edelweiss yang Farel kasih di depan batu nisan Farel.
            “Amin….”, kata Rei yang masih berada disamping Shilla.
            “Lo kok masih disini?”, tanya Shilla kaget.
            “Kan nungguin kamu”, jawab Rei sambil tersenyum Shilla hanya mengernyitkan keningnya tanda tidak mengerti.
            Rei tersenyum. “Walaupun aku tau ini engga romantis, di depan pusara Farel aku mau ungkapin semua perasaan aku ke kamu. Maafin aku ya Shil, aku udah bikin kamu kesel, kamu marah, kamu BT. Emang sih awalnya aku engga suka sama kamu karena aku liat kamu itu narsis pokoknya nyebelin deh tapi lama kelamaan aku sadar klo aku suka sama kamu. Aku sering bikin marah kamu itu bukan aku benci sama kamu tapi aku engga tau gimana caranya deketin kamu karena dari awal aku udah suka ngerjain kamu ya udah aku terusin sampe sekarang”.
            “Udah deh jangan muter-muter, to the point aja”, kata Shilla.
            “Intinya aku sayang sama kamu Shil, kamu mau jadi pacar aku”.
            “Terus gue harus koprol sambil bilang maca cih?”. goda Shilla.
            “Aku serius Shil, kamu kan denger sendiri kata Farel aku tuh harus terus terang ke kamu soal perasaan aku ke kamu dan sekarang aku udah ungkapin. Terus Farel juga bilang klo kamu juga suka sama aku, bener?”
            “Gimana ya? Kasih tau engga ya?”, goda Shilla. Medengar itu Rei hanya cemberut.
            Shillapun tersenyum. “Iya aku mau jadi pacar kamu. Tapi dengan satu syarat”.
            “Bener Shil, makasih ya. Apapun syaratnya pasti aku lakuin buat kamu”.
            “Syaratnya kamu ga boleh bikin aku BT, marah, kesel pokoknya kamu harus bikin aku seneng”.
            “Iya di depan makam Farel, aku janji akan terus nyenengin kamu. Makasih ya Shil”, kata Rei sambil memeluk Shilla.
            “Eh main peluk aja. Kita pulang yuk. Farel maksih ya kamu emang sahabat terbaik aku”.
            Reipun melepas pelukannya. “Rel, gue juga terima kasih lo udah kasih saran ke gue klo gue harus ungkapin perasaan gue ke Shilla. Makasih banyak lo udah jadi sahabat terbaik buat Shilla dan gue. Lo baik-baik ya disana, Kita pulang dulu, suatu saat kita juga akan bertemu dengan lo lagi”.
            Shilla dan Reipun pergi meninggalkan makam Farel dengan membawa sejuta kenangan buat Shilla dan Rei. Kenangan indah bersama Farel dipegunungan akan menjadi kenangan termanis bagi Shilla. Reipun merasa bersyukur bertemu dengan Farel karena Farel hari ini dia jadian dengan Shilla. Disisi lain Farel tersenyum melihat kepergian kedua sahabatnya yang sedang berbahagia.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar